Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 156


__ADS_3

Dan hal itu dalam pengamatan keluarga Ling. Terdengar bisik-bisik. Namun, tidak menganggu adik dan kakak itu.


"Syukurlah kau baik-baik saja."


"Aku takut sekali saat Daddy memberitahu bahwa kau melibatkan Tim X dalam hal ini. Juga mengapa ponselmu mati?" Camelia melepas pelukannya. Menatap Dion, meminta penjelasan darinya.


"Nona." Namun, sebelum Dion menjawab, Tim X menyapanya. Camelia menoleh sekilas, mengangguk menjawabnya. Camelia kembali menatap Dion.


"X-Xiayu?!" Belum lagi Dion menjawab, terdengar suara Nyonya Besar Ling. Tercekat dengan mata melebar. Selain generasi mudanya, yang sepantaran dengan Nyonya Besar Ling turut terkejut.


"Bagaimana bisa? Benar-benar mirip dengannya."


"Dion, bisa kau jelaskan apa yang terjadi di sini? Mengapa mereka mengucapkan nama Xiayu dengan menatapku?"tanya Camelia. Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi sebelum kehadirannya. Menatap satu persatu wajah keluarga Ling yang ada di sana.


"Duduk!" Tiba-tiba Nyonya Besar Ling memberikan perintah. Keluarga Ling langsung duduk. Sementara Camelia menyipitkan matanya.


"Baguslah kau datang!"


"Anda berkata pada saya?"tanya Camelia, setelah melihat tatapan Nyonya Besar Ling lekat padanya.


"Anda tadi juga memanggil saya Xiayu, artinya, Xiayu merupakan bagian dari keluarga Ling?"tanya Camelia lagi.


"Syarat pertama telah terpenuhi. Saatnya syarat kedua. Kalian harus menang saat sparing nanti!" Ling Lie angkat bicara.


"Hah? Sparing apa? Dion, answer me!"


"Kak, duduklah dulu," ujar Dion, menekan bahu Camelia untuk duduk. Dion berdiri di samping Camelia. Sementara di belakang keduanya ada Tim X.


"Jangan katakan kalian akan berkelahi? Aku tidak setuju!"ucap Camelia.


"Tenanglah, Kak," tutur Dion.


"Hei, Nona Muda. Ini adalah wilayah kami, kalian harus mengikuti cara kami. Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung!"seru Ling Rui. Wajahnya yang sangat menatap garang Camelia.


Camelia membalas tatapan itu, tak kalah tajam. "Dibandingkan dengan masa lalu yang tidak jelas, saya memilih untuk meninggalkan bumi ini jika adik saya terluka karena masa lalu saya!"tegas Camelia.


"Kakak…."


"Bahkan sama sepertinya," gumam Nyonya Besar Ling.


"Dion, ayo pergi. Cukup sudah penyelidikanmu!"ajak Camelia. Ia bangkit, memegang tangan Dion.


Namun, Dion menggeleng. Ia maju, menjadikan Camelia berada di belakangnya.


"Kita tidak boleh setengah-setengah, Kak. Kebenarannya sudah ada di depan mata. Kita keluarga Shane, tidak takut pada hal apapun. Harus mendapatkan apa yang diinginkan!!"


"Dion…." Camelia menyentuh bahu Dion. Rasa hangat memenuhi hatinya.


"Percayalah padaku, Kak!"pinta Dion, tanpa membalikkan tubuhnya menghadap Camelia.


Camelia menghela nafasnya. Dion sudah bertekad. Biarpun dia mengatakan tidak ingin, Dion akan tetap tidak puas. "Lakukan yang terbaik," putus Camelia.


Dion melirik sekilas. Kemudian tersenyum. "Ayo, kita lakukan sparingnya!"ucap Dion, dengan lantang. Dan di telinga keluarga Ling, itu seperti menantang balik.


Ling Rui melengkungkan senyum. Kedua tangannya bersatu dan terdengar bunyi sendi, seakan ia melakukan persiapan dan memberi peringatan.


"Nenek." Ling Lie meminta izin pada Nyonya Besar Ling.


"Lakukanlah!"


Setelah mendapat persetujuan itu, mereka meninggalkan ruangan itu. Menuju keluar ruangan. Di sana ada lapangan yang cukup luas. Berbentuk lingkaran dengan lampu bundar di pinggirannya.


Di suasana yang sudah malam, lapangan itu terlihat terang. Setelah membuat kesempatan, maka akan dilakukan sebanyak lima kali. Artinya, masing-masing mengirimkan lima jagoan mereka.


Di mana Ling Lie dan Ling Rui turun di dalamnya. Camelia dan Dion masih berunding, siapa yang turun. Dan Dion ikut di dalamnya.


Setelah berembuk, maka dua orang lagi Tim X yang Dion bawa dan dua orang lagi dari pengawal yang Camelia bawa. "Aku tidak memaksakan kalian untuk menang. Yang terpenting adalah kalian tidak terluka parah," ucap Camelia pada Dion dan empat lainnya.


"Percayalah pada kami, Kak!"jawab Dion, sorot matanya penuh dengan keyakinan bahwa mereka akan menang.


Yang turun ke lapangan, berdiri di pinggir lapangan. Dan wasit berdiri di tengah lapangan untuk memberikan aba-aba. Sementara Camelia dan keluarga Ling yang lain menjadi penonton. Mereka duduk di tempat yang telah disediakan. Di mana, Camelia merasa risih akibat Nyonya Besar Ling yang masih menatapnya lekat.


Pertarungan demi pertarungan berlangsung. Dan saat ini, pertarungan kedua baru selesai. Hasilnya imbang.


Pertarungan ketiga dimulai. Ling Rui turun pada yang ketiga ini. Dengan percaya diri menunjuk satu dari tiga orang menjadi lawannya.


Yang ditunjuk maju. Keduanya bertarung sengit. Katanya saja sparing. Ini adalah pertarungan nyata. Tendangan, pukulan, hantaman, semuanya maksimal. Bukan hanya untuk menguji. Namun, hasrat menjatuhkan.


Camelia kembali mengernyit. Raut wajahnya tidak senang. Melihat pertarungan di depannya. Saling pukul, tendang, dan hantam. Ling Rui unggul pada pertarungan ketiga. Pria itu mengangkat keduanya tangannya, kemudian tersenyum mengejek pada Dion.

__ADS_1


Dion menghela nafasnya. Tidak memusingkan hal itu. Dalam benaknya menerka bahwa lawannya adalah Ling Lie. Dua banding satu. Keluarga Ling unggul skor.


Pertarungan keempat, membuat skor menjadi imbang. Dan yang kelima adalah penentu. Di mana Dion dan Ling Lie berhadapan.


Keluarga Ling tersenyum lebar. Menatap remeh Dion. Di mana, saat keduanya berdiri berhadapan sudah terlihat perbedaan yang mencolok. Ling Lie dengan tubuh tinggi tegap, berotot nan sangar. Sementara Dion, dengan postur yang tinggi namun kecil. Juga wajahnya tidaklah sangar. Membuat keluarga Ling berasumsi bahwa mereka menang.


"Kau tidak takut padaku, hm?"tanya Ling Lie. Tatapan Dion begitu tenang. Itu membuat Ling Lie penasaran.


"Memangnya Anda siapa?"balas Dion.


Ling Lie terpancing. Keduanya mulai bertarung. Tubuh kecil Dion gesit menghindar serangan dari Ling Lie. Dion masih pada posisi bertahan. Ia belum menyerang. Ling Lie semakin kesal karenanya.


"Pecundang!!" Tiba-tiba Ling Rui berseru. Camelia yakin, itu ditujukan untuk Dion.


"Lawan aku!"ucap Ling Lie. Malam yang dingin terasa panas karena pertarungan keduanya. Camelia begitu intens melihatnya.


Dion hanya tersenyum. Ia masih bertahan. Seolah mencari waktu yang pas untuk menyerang.


Mengapa Dion tetap bertahan? Dia mengulur waktu atau apa? Camelia bertanya-tanya.


Dulu, aku merasa tidak perlu belajar bela diri karena kami keluarga yang bahagia tanpa musuh. Kemudian, Rose datang. Aku dan kakak pergi meninggalkan China. Di negeri yang asing, hanya aku dan kakak. Kami hidup pas-pasan.


Aku mulai menyadarinya di sana. Untuk bisa bertahan hidup di sana, aku harus punya kekuatan. Untuk melindungi kakak.


Kemudian kami masuk dalam keluarga Shane. Keluarga bisnis terbesar di Kanada. Yang memiliki banyak musuh. Pengawal berjaga di setiap sudut. Hal itu semakin membuatku bertekad untuk bisa bela diri, menjadi ahli untuk melindungi keluargaku. Melindungi kakak dan aku sendiri.


Aku terus berlatih. Bahkan, kakak saja tidak tahu. Aku ingin menjadi kuat. Terlebih lagi, saat kakak sering mengalami penculikan. Tekad itu semakin kuat.


Dan hari ini, aku akan membuktikannya! Bahwa aku mampu dan dapat diandalkan oleh kakak!


Dalam perang, bukan hanya perlu kekuatan fisik atau senjata. Namun, strategi adalah yang utama.


Menyerang tanpa strategi, maka kekalahan ada di depan mata.


Kau kira, karena kau lebih besar dariku, kau akan menang dengan mudah?


Semakin kesal, maka akan semakin lengah. Tubuh yang besar, akan kehilangan kelincahan saat sudah terlalu lama menyerang. Di sanalah kesempatan akan datang. Maka, ini saatnya aku menyerang!!


"Apa?!" Ling Lie terkejut saat tiba-tiba Dion menyerangnya balik. Dan siapa sangka, Dion langsung menyerang titik vital Ling Lie.


Uh!


Bahkan Ling Lie belum sempat mengerti apa yang terjadi. Dan ia kini sudah jatuh. Itu begitu cepat.


"Anda kalah!"


"APA?!" Ling Rui berteriak kaget.


Apa-apaan ini?! Ling Lie kalah dari Tuan Muda bertubuh kecil itu? Tercoreng wajah keluarga Ling.


Wajah Ling Lie merah padam. Ia kalah? Calon kepala keluarga Ling kalah?!


Tidak bisa diterima!!!


"Sialan! Matilah!!" Ling Lie meledak. Ia bangkit. Dan menyerang Dion dengan lebih intens dari sebelumnya. Namun, karena sudah bercampur dengan emosi, serangannya agak serampangan. Akan tetapi itu mampu membuat Dion kewalahan.


"STOP! HENTIKAN! APA-APAAN KALIAN INI?!"hardik Camelia, bangkit dan berlari menuju lapangan. Tim X, dan pengawal Camelia mengikuti.


"HEI, KAU! BERHENTI!"


Tim X dan pengawal Camelia, tanpa menunggu titah langsung memisahkan Ling Lie dan Dion. Namun, hal itu tidak berlangsung lancar.


Karena Keluarga Ling tidak menerima dipisahkan. Bahkan Ling Rui kembali ikut. Alhasil, mereka bertarung bebas. Dan Camelia juga tak lepas darinya.


"KAKAK!!"


"KALIAN! APA INI MAKSUDNYA?"hardik Camelia lagi.


Ia berhasil menyingkir. Menatap Nyonya Besar Ling yang menatap pertarungan itu dengan datar.


"NYONYA! MASALAHNYA ADALAH AKU! HENTIKAN SEMUA INI!!"teriak Camelia lagi, pada Nyonya Besar Ling.


"Ini adalah cara kerja gangster," jawab dingin Nyonya Besar Ling.


"HEH?!" Camelia berdecih.


"UHUK!"


"DION!" Camelia terbelalak.

__ADS_1


"CK!"


Sialan! Apa yang harus aku lakukan?gumam Camelia dalam hati. Pertarungan itu semakin sengit. Satu persatu korban berjatuhan dari kedua belah pihak.


"JIKA KAMI MATI DI SINI, KALIAN AKAN IKUT MATI BERSAMA KAMI!!"teriak Camelia. Ia kembali turun dalam pertarungan itu.


"Nyonya Besar, keluarga mereka adalah keluarga Shane. Keluarga bisnis terbesar di Kanada. Saya takut, jika dua orang bermarga Shane itu mati di sini, keluarga kita juga akan tamat," ucap salah seorang pada Nyonya Besar Ling.


Wanita tua itu menoleh sekilas. "Mereka tidak akan bisa menyentuh tanah ini!"


"Nyonya Besar, mohon pikirkan lagi. Sekarang, bukan lagi zaman kerajaan yang butuh waktu lama, sekarang adalah zaman modern dengan banyak kemudahan! Harap Nyonya mempertimbangkannya lagi."


Nyonya Besar Ling hanya bergumam. Kembali memperhatikan Camelia dan Dion.


Ibu, jangan pisahkan aku dengan anakku. Ku mohon, jaga dia dengan, Bu. Ibu, aku mohon….


"Ssttt!"


"TIDAK! JANGAN LUKAI XIAYU!! HENTIKAN!"


Tiba-tiba Nyonya Besar Ling berhenti dan berteriak lantang. Nafasnya terengah. Ia berkata sembari memukulkan tongkatnya ke lantai.


Camelia menoleh sekilas. Ia masih bertarung. Namun, tidak ada yang berhenti.


"HENTIKAN!"


DOR!!


DOR!!


DOR!!


Tiba-tiba ada suara tembakan. Seketika pertarungan itu berhenti.


Siapa yang menembak?


Serangan mendadak?


Itu senjata api!!


Belum hilang kebingungan mereka, segerombolan orang datang. Mengelilingi lapangan itu dengan menodongkan senjata api.


"APA-APAAN INI?!"


"SIAPA KALIAN?!"


"Beraninya menyerang anak-anakku!!" Suara berat menjawab pertanyaan Ling Lie dan Ling Rui.


"DADDY!"


Camelia dan Dion berlari menghampiri pemilik suara itu. Dia adalah Tuan Shane. Berdiri tegak dengan mengangkat senjata tatapannya begitu tajam.


"Daddy, bagaimana bisa kau ada di sini?"tanya Camelia langsung.


"Nanti saja kita bahas. Syukurlah kalian tidak terluka parah!"jawab Tuan Shane.


"Namun, wajahmu tampak buruk, Dion," kekeh Tuan Shane kemudian.


"Ah?" Dion terkesiap. Pasti wajahnya babak belur.


"Datang dari mana Pak Tua ini?!"hardik Ling Rui.


"Kalian mengobarkan perang dengan keluarga Shane! Terimalah akibatnya!!" Tuan Shane memberi perintah.


Segerombolan orang tadi melangkah maju. Memaksa petarung keluarga Ling mundur dan berlutut. Termasuk Ling Rui dan Ling Lie. Tim X dan pengawal Camelia yang masih berdiri juga ikut melangkah maju.


"HENTIKAN!"teriak Nyonya Besar Ling.


"Kami mengaku kalah! Tolong jangan diperpanjang!"ucap Nyonya Besar Ling. Ia segera melangkah maju, menghampiri Tuan Shane.


"Benarkah? Tapi, saya lihat Anda tadi diam saja melihat pertarungan yang sangat membahayakan nyawa kedua anak saya. Kami datang mencari kebenaran, bukan mencari kematian!!"


Dua kepala keluarga saling berhadapan.


"Ling Lie!"


"Kemari, Kau!"


"Minta maaf pada mereka! Kau sudah kalah tadi tapi kembali menyerangnya lagi!"titah Nyonya Besar Ling, membuat Ling Lie membelalakkan matanya.

__ADS_1


Bagi gangster, meminta maaf dan mengaku salah sama dengan mengambil nyawa mereka. Akan tetapi, melihat kekuatan keluarga Shane dan saat ini mereka berada di posisi yang tidak menguntungkan. Merendahkan harga diri adalah jalannya.


Ling Lie mengigit bibirnya. Ia menundukkan kepalanya. "Maaf."


__ADS_2