
Dion tiba di Xian sekitar pukul 20.30. Mereka langsung bergegas meninggalkan bandara menuju kediaman keluarga Ling.
Perjalanan menuju kediaman Ling menempuh waktu yang cukup lama, sekitar 1 jam perjalanan. Dan kini mereka tiba di depan gerbang kediaman Ling. Keluarga ini memiliki corak yang hampir sama dengan keluarga Gong.
Dion lalu menghubungi nomor orangnya yang telah ditahan oleh keluarga Ling.
"Aku sudah di depan," ucap Dion.
"Kalau begitu masuklah, anak muda!"
Tak lama setelah itu, gerbang kediaman itu terbuka. Mobil melaju masuk.
Kediaman dengan bangunan yang masih kuno. Sangat terjaga keasriannya. Bahkan, pelayan juga menggunakan busana pelayan zaman kerajaan. Hanfu sederhana. Dengan gaya rambut yang ditatap sama untuk perempuan.
Juga terdapat arena latihan. Ya, tidak mengherankan karena keluarga ini berkaitan dengan gangster. Dalam artinya, keluarga ini adalah gangster.
"Anda pasti orang yang dimaksud Tuan Muda Pertama." Saat turun dari mobil, Dion disambut oleh seorang pria paruh baya. Menggunakan kacamata dan dilihat dari pakaiannya yang berbeda dengan pelayan lain, Dion menerka ia adalah kepala pengurus.
Tim X turun mengikuti Dion, berbaris di belakang Dion. "Wah, Anda membawa orang. Mari silahkan masuk. Tapi, sebelumnya, mohon kerjasamanya," ucap pria paruh dengan tersenyum dan mengangkat tangannya. Beberapa orang pelayan maju dan berdiri di samping Dion dan Tim X.
"Harap tenang Tuan-Tuan sekalian. Ini hanya pemeriksaan singkat sebelum masuk ke dalam!"ucap pria paruh baya itu.
"Oh, okay?" Dion merentangkan tangannya, membiarkan pelayan memeriksa dirinya. Itu juga dengan Tim X yang mengikuti tindakan Dion.
Pria baru payah itu menarik senyum, matanya seperti menemukan sesuatu yang menarik. Dion dan Tim X tidak membawa senjata apapun selain ponsel. Dan yang mana ponsel itu juga disita sementara. "Tidak boleh membawa alat komunikasi. Mohon dimengerti," ucap pria paruh baya itu sebelum memimpin jalan.
"Keluarga Ling sangat ketat terhadap orang asing yang masuk. Jangan tersinggung karena hal ini."
"Alright," jawab Dion.
Tim X mengikut tanpa bicara. Dan kini, mereka tiba di sebuah ruangan. Luas dan ada sofa di sana. Sepertinya ini ruang keluarga atau ruang pertemuan.
Di sofa itu, duduk beberapa orang pria dan wanita. Pria memakai jas. Sementara wanita menggunakan cheongsam. Duduk mereka elegan. Dan memiliki tatapan yang tajam.
"Jadi, kau Tuan dari tikus kecil itu?" Seseorang bicara. Dion mengenali suara itu. Yang berbicara dengannya di telepon tadi. Dion mengangguk membenarkan.
Pria itu, memiliki wajah yang sangar. Ada bekas luka di pipinya dan ada tato di lehernya.
"Kau benar-benar masih muda. Berapa usiamu? Ah … aku suka tatapanmu. Anak dari keluarga mana kau? Di Xian ini, aku belum pernah melihat wajahmu!"
"Tidak perlu basa basi, Ling Lei!" Wanita yang paling tua di antara mereka angkat bicara.
"Anda benar, Nyonya. Mari, langsung pada intinya saja," imbuh Dion, tersenyum.
"Hahaha! Kau benar, Kak! Anak muda ini menarik! Atau apa mungkin dia tidak sadar diri tengah berada di mana?" Yang lebih muda dari Ling Lie. Dengan perawakan yang hampir mirip, berkomentar.
"Kita lihat sampai mana keberaniannya!"tandas Ling Lie. Kemudian menyuruh orang untuk membawa orangnya Dion yang mereka tahan.
"Duduklah, Tuan Muda." Wanita yang berbicara tadi mengulurkan tangannya.
"Xie-xie." Dion duduk. Tim X berdiri di belakang Dion. Mereka tetap diam. Tidak bicara, hanya mata saja yang fokus membaca keadaan.
"Tuan Muda!" Dion menoleh. Itu adalah orangnya. Wajahnya … ya babak belur.
"Kau beruntung memiliki Tuan seperti anak muda ini." Ling Lie, ia tak bisa untuk tidak kagum pada keberanian Dion. Tenang, tidak impulsif, bahkan berani melakukan kontak mata. Sungguh menggelitik hatinya.
"Jadi, apa tujuanmu mengirim orang mematai-matai keluarga Ling?!" Wanita tua itu langsung bertanya. Dilihat dari posisinya, wanita itu pasti kepala keluarga. Melihat pula, ialah yang paling tua.
"Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Dion," ucap Dion.
"Namamu terdengar asing. Apa kau berasal dari luar negeri. Tapi, wajahmu jelas menunjukkan kau orang China," celetuk Ling Lie.
__ADS_1
"Sekarang saya menatap di luar negeri."
"Hentikan omong kosongmu, Ling Lie!"
"Baik, Nenek!"
Nenek?
Dion menyipitkan matanya. Jika benar bahwa Ling Xiayu adalah bagian dari keluarga Ling, wanita ini pasti tahu! Dion harus mendapatkan informasi itu.
"Katakan apa yang kau inginkan!"
"Saya menginginkan informasi mengenai seseorang."
"Anak muda, kau salah tempat! Di sini bukan tempat menjual informasi!"
"Tapi, di sini saya bisa mendapatkan informasi yang akurat."
"Wow! Dia sangat berani! Apakah perlu kita hancurkan lidahnya?" Yang memanggil Ling Lie kakak tadi begitu bersemangat. Dion hanya melirik sekilas.
"Tampaknya kau sudah bertekad. Baiklah, informasi apa yang kau butuhkan?" Wanita tua itu kembali berbicara.
Dion diam sejenak. Memperhatikan satu persatu ekspresi keluarga Ling yang ada di ruangan ini. Dalam benaknya berpikir bahwa tidak mungkin mudah mendapatkan informasi dari keluarga yang sangat tertutup ini. Pasti ada harga yang harus dibayar. Dion tidak boleh terburu-buru.
"Saya butuh informasi yang akurat. Apa Anda dapat bersumpah bahwa informasi yang Anda berikan benar?"
"Jangan keterlaluan kau, cecunguk kecil!"hardik adik Ling Lie.
"Kau akan mati jika membawa kesombonganmu kemari!"kecamnya lagi.
"Maaf. Tapi, karakter sulit untuk dikondisikan. Saya yakin Anda sekalian adalah orang yang tidak suka dengan orang munafik," jawab Dion dengan tenang.
"Kau!"
"Tampaknya kau berasal dari keluarga yang hebat," pujinya pada Dion.
"Saya rasa cukup basa basinya. Mari langsung ke intinya."
Keluarga Ling terhenyak. Jadi, setelah pembicaraan yang cukup panjang, hanya Dion anggap sebagai basa basi?
Wajah mereka menggelap. "Tuan, Anda suka sekali memprovokasi," bisik salah seorang Tim X.
"Aku akan membayar untuk informasi itu. Aku hanya ingin tahu, apa di keluarga ini ada yang bernama Ling Xiayu?"tanya Dion, masuk pada inti kedatangannya ke kediaman ini.
"Ling Xiayu?" Ling Lie mengernyitkan dahi.
"Siapa itu Ling Xiayu? Seseorang yang menyamar menjadi salah satu keluarga Ling? Beraninya dia menggunakan marga keluarga ini! Aku akan membunuhnya!" Tampaknya Ling Rui adalah tipe yang impulsif dan berapi-api. Lain dengan Ling Lie yang cukup tenang, menunjukkan wibawanya sebagai calon penerus kepemimpinan.
Namun, tatapan Dion fokus pada Nyonya Besar Ling. Di mana wanita itu tampak terpaku beberapa saat. Juga keluarga Ling yang Dion perkirakan usianya hampir sama dengan usia Nyonya Liang. Ekspresi mereka tampak berat.
"Maaf. Akan tetapi, tidak ada nama yang Anda sebutkan di dalam keluarga ini. Mungkin, dia bukan keluarga Ling di Xian," ucap Nyonya Besar Ling. Ekspresinya datar. Meyakinkan Dion dengan ketenangannya.
"Really?"
"Silakan Anda cari sendiri."
"Cari di mana? Mungkin yang saya cari sudah tiada."
"Apa kau bodoh?!" Ling Rui kembali mengumpat pada Dion.
"Keluar kau, Rui!"titah Nyonya Besar Ling.
__ADS_1
"Hah?" Ling Rui terkejut. Namun, segera beranjak saat melihat tatapan tajam Nyonya Besar Ling.
"Anak muda, pergilah. Bawa orangmu. Orang yang kau cari tidak ada di dalam keluarga ini!"ucap Nyonya Besar Ling setelah Ling Rui keluar.
Dion menggeleng pelan. "Informasi ini sangat penting untuk saya. Tolong kerja samanya!"kekeh Dion.
"Jangan keras kepala!"desis Nyonya Besar Ling.
Dion diam. Ia kembali menimbang. Jika ia keluar, akan sulit mendapat kesempatan lagi. Harus diselesaikan secepatnya. Apapun resikonya.
"Jika ditilik, usai orang yang saya cari informasi sesuai jika menjadi anak Anda. Saya yakin, Anda mengetahuinya. Mungkin, Anda berpura-pura tidak tahu karena merasa Ling Xiayu adalah aib bagi keluarga Ling." Cara sederhana dalam memancing seseorang mengatakan kebenaran adalah dengan memprovokasinya. Memancing batas kesabarannya.
"Jangan omong kosong, Tuan Muda! Lekaslah pergi selagi saya memberi kesempatan!"ucap Nyonya Besar Ling.
Hm, jelas tidak mudah merobohkan karang. Apalagi yang sudah berpengalaman.
"Ling Xiayu, saya sudah mencari tahu tentangnya lebih dulu. Kekasihnya bernama Alexander. Diperkirakan karena terhalang restu keluarga, mereka berpisah padahal sudah memiliki seorang anak. Anaknya dibuang ke panti asuhan sementara Ling Xiayu ataupun Alexander tidak diketahui nasibnya."
"Jangan mendongeng di sini, Tuan Muda!" Nyonya Besar Ling mengangkat tangannya. Beberapa pelayan maju. Tim X memasang posisi siap tempur.
Di lain sisi, Dion tetap tenang. Ling Lie menatap Nyonya Besar Ling dengan rumit.
"Seret mereka keluar!" Nyonya Besar Ling memberi titah. Kemudian berdiri dan meninggalkan tempat. Diikuti oleh yang lainnya, kecuali Ling Lir. Dan para pelayan yang bersiap mendepak Dion dan Tim X.
"Saya akan menunggunya!"teriak Dion.
"Saya bisa jalan sendiri!"ucap Dion, mengibaskan tangan pelayan yang memegangnya. Dion keluar diikuti oleh Tim X. Namun, mereka hanya keluar dari gerbang.
"Kita tunggu di sini!"titah Dion. Mereka menunggu di dalam mobil.
Aku dengan gamblang menyebut nama keduanya. Aku yakin, dibalik ketenangannya ada keresahan. Dan pasti ada rasa penasaran mengapa aku mencari informasi tentang mereka! batin Dion. Ia sangat yakin.
*
*
*
Bagaimana bisa anak muda itu tahu mengenai Ling Xiayu dan Alexander? Siapa dia? Dion? Sial! Dia tidak menyebutkan dari keluarga mana!
Nyonya Besar Ling tiba di ruangannya. Ekspresinya gusar.
Tok
Tok
"Nenek." Ling Lie masuk. Nyonya Besar Ling memperbaiki ekspresinya.
"Apakah ada yang tidak aku ketahui tentang keluarga Ling, Nenek?" Ling Lie menatap Neneknya serius.
"Anak muda tadi sangat yakin dengan apa yang ia katakan. Nenek juga bereaksi dengan apa yang ia katakan. Nenek tidak seperti biasanya."
"Itu hanya omong kosong, Ling Lei."
"Tapi, aku tidak yakin, Nenek. Tolong katakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Aku adalah calon pemimpin seterusnya. Aku akan merasa seperti cecunguk jika tidak mengetahui seluk beluk keluarga yang aku pimpin, Nenek."
Nyonya Besar Ling menahap Ling Lie datar. Ia menghela nafasnya pelan.
"Jika benar ada yang bernama Ling Xiayu di keluarga, siapa dia? Apa posisinya di sini? Lalu Alexander, pasti orang asing. Nenek, jangan perlakukan aku seperti orang bodoh. Aku mendengar dan melihatnya!"
Ling Lie terus membujuk. Ya, begitu. Badan kekar wajah sangar pasti akan melunak di hadapan pemimpin.
__ADS_1
"Nama itu …." Nyonya Besar Ling menjeda ucapannya. Terlihat sangat berat untuk mengatakannya.