Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 98


__ADS_3

Jika di Kanada ini masih sore hari, maka di China ini adalah dini hari. Selepas memposting surat klarifikasinya, Andrean tidak bisa tidur.


Ancaman Camelia dan juga jangan mempublikasikan hubungan terlalu cepat membuatnya gundah.


Dalam benaknya meruntuk, mengapa Camelia dan Chris menampilkan citra keluarga yang bahagia? Yang sekarang menyulitkan Camelia untuk memulai hubungan baru. Ditambah lagi, Camelia adalah publik figur yang tersohor dan menantu dari keluarga tersohor pula.


Ahh … Andrean memijat pelipisnya. Dinginnya malam tak mampu menenangkan hatinya. Sekarang ia tengah duduk di balkon kamar, ditemani sebotol wine dan rembulan yang kelabu, sama seperti hatinya.


"Lia oh Lia mengapa begitu sulit untuk kita menjalin hubungan? Jarak ini begitu menyiksaku."


*


*


*


Keesokan paginya, Andrean telah bersikap seperti biasanya, dingin dan datar.


"Selamat pagi, Ayah," sapa riang Crystal saat di meja makan. Andrean mengangguk singkat.


"Bagaimana belajarmu?"tanya Andrean.


"Melelahkan, Ayah! Ternyata belajar model tidak semudah yang aku pikirkan. Salah sedikit salah, guru langsung mengomel," jawab Crystal dengan nada kesal yang menggemaskan.


Andrean tersenyum simpul. "Mau berhenti?"tanya Andrean.


"Tidak!" Crystal menolak dengan menggeleng keras.


"Crystal tetap ingin belajar! Sampai jadi seperti mereka. Ini melelahkan tapi menyenangkan," lanjut Crystal. Ya, jika sudah keinginan dan sesuai dengan passion, maka sesulit apapun pasti akan tetap dilalui.


"Baguslah."


"Ayah akan ke kantor?"tanya Crystal.


"Hm."


"Ayah…." Memanggil pelan. Menunduk dan mencuri tatap pada Andrean. Andrean menaikkan alisnya, bertanya.


"Kapan ayah ada waktu luang? Hari itu ia sudah berjanji akan membawaku pergi piknik," tanya Crystal dengan memainkan jemarinya.


"Ah …." Andrean tampaknya lupa.


"Sebentar … ayah cek jadwal dulu," jawab Andrean, meraih tabletnya untuk mengecek jadwalnya hari ini.


"Ayah, kalau sibuk tidak apa. Tidak hari ini pun tidak apa. Bisa di lain hari karena Crystal yakin ayah pasti akan menepatinya," ucap Crystal cepat dengan menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri. Wajahnya meyakinkan.


Andrean berhenti menatap layar tablet. Mengalihkan pandang pada Crystal. Menatap rumit putrinya itu.


Mengapa kau berbeda sekali dengan ibumu? gumam Andrean dalam hati.


Mungkin karena sejak dini, tidak terkontaminasi dengan sifat buruk ibunya, tumbuh di bawah pengasuhan Andrean, makanya karakter Crystal tidak menuruni ibunya.


"Tidak. Ayah sudah memutuskannya. Tunggu ayah sore nanti, kita akan pergi piknik," ucap Andrean, memutuskan. Kemudian bangkit dan mendekati Crystal.


"Belajar dengan baik. Ayah pergi dulu," pesan Andrean lalu mencium kening Crystal.


Crystal mengangguk penuh semangat. "Sampai nanti, ayah!"


Cara meninggalkan istananya menuju Starlight Entertainment untuk bekerja. "Nona Muda, waktunya berangkat sekolah," ujar Toby, mengingatkan nona mudanya itu.


"Ayo, Paman!"


*


*


*


Setiba di ruangan kerjanya, Andrean disambut Hans yang sudah siap dengan laporannya.


"Kami sudah menangkap paparazzi yang menyebarkan foto Anda dan Nona Camelia."


"Dilihat dari komentar, sebagian besar publik menerima klarifikasi Anda. Namun, banyak yang mendukung hubungan Anda dan Nona Camelia dan hal ini dapat menimbulkan rumor baru," lanjut Hans.

__ADS_1


"Apakah kita perlu menciptakan topik panas untuk mengganti trending topic?"tanya Hans. Andrean menggeleng.


"Biarkan saja. Kita satu mereka banyak, manusia punya pemikiran yang berbeda-beda. Yang penting kita sudah menyampaikan klarifikasi. Diterima atau tidaknya itu urusan mereka."


Andrean tahu jelas. Jadi, tidak perlu terlalu memikirkan dan memusingkannya. Itu akan hilang seiring berjalannya waktu.


"Pengacara sudah menyelesaikan pembayaran denda untuk Rose Liang. Dan kita sudah tidak ada hubungan lagi dengannya," lanjut Hans. Tampaknya ada banyak hal yang harus ia laporkan.


"Namun, ada satu hal penting yang harus Anda ketahui, Tuan." Terdengar sangat serius.


Andrean melirik sekilas.


"Rose Liang mencoba mengakhiri hidupnya dengan memotong nadi." Andrean berhenti mengetik. Menoleh dengan alis menaut pada Hans.


"Lantas?" Kemudian berubah acuh. Kembali pada kegiatannya yang tertunda.


"Apa Anda tidak ingin menjenguknya? Biar bagaimanapun Rose Liang adalah ibu dari Nona Muda." Menjawab dengan takut, lebih kepada cicit. Hans menciut melihat tatapan tajam Andrean.


"Lain kali, jangan laporkan apapun padaku tentang wanita itu. Bagiku ataupun anakku, wanita itu sudah mati!"tegas Andrean. Nadanya terdengar dingin. Dan terdapat ancaman di dalamnya.


Hans menelan ludah takut. "B-baik, Tuan."


"Semakin hari kau semakin lalai. Tampaknya kau ingin pensiun cepat," sinis Andrean kemudian.


"T-tidak, Tuan. Saya jangan dipensiunkan muda. Masih banyak yang harus saya pelajari. Selain itu, saya juga masih belum menikah. Jika saya pengangguran, siapa yang mau menikah dengan saya?"


Terdengar dramatis di telinga Andrean. Tatapannya semakin sinis pada Hans. Hans menunjukkan wajah memelas.


"Umur sudah hampir kepala empat, harusnya sudah beristri dan beranak. Kau pengangguran pun banyak yang mau menampungmu," sahut Andrean dengan ketus namun itu real.


Hans itu berasal dari keluarga berada. Belum lagi aset yang ia kumpulkan selama bekerja. Ditambah lagi wajahnya yang tampan. Dalam urutan di Starlight Entertainment, Hans menduduki posisi keduanya pria yang ingin dinikahi. Sementara posisi pertamanya jelas Andrean.


Andai kata itu pengangguran, ia pengangguran dengan segudang aset.


"Saya masih banyak kekurangan, Tuan. Saya belum mau menikah," ringis Hans.


"Terserah. Itu urusanmu."


"Hentikan! Kau membuatku mual!"ketus Andrean lagi.


"Ada lagi yang ingin kau laporkan? Jika tidak keluarlah!"titah Andrean kemudian.


"Masih ada, Tuan." Hans menjawab cepat. Wajah memelasnya sudah berganti. Bersiap untuk kembali melanjutkan laporannya.


*


*


*


Pagi ini pula, Lina terbang ke Kanada. Sebelum pergi, Lina menyempatkan diri untuk berpamitan pada Tuan dan Nyonya Liang. Tuan Liang masih dirawat di rumah sakit. Sekaligus ingin melihat kondisi kedua orang itu setelah mendengar gosip Camelia yang sudah dikonfirmasi tidak benar.


"Bibi," sapa Lina saat Nyonya Liang membuka pintu.


"Lina, kau datang?" Nyonya Liang masih mengenali Lina.


Lina mengangguk. "Ayo masuk."


"Selamat pagi, Paman,” sapa Lina pada Tuan Liang.


Tuan Liang yang tengah menikmati sarapannya mengangguk pelan.


"Sudah lama kita tidak bertemu ya, Lina. Apa kau begitu sibuk belakang ini?"tanya Nyonya Liang. Jujur saja, lima tahun yang lalu mereka cukup dekat.


Lina tersenyum, "Iya, Bibi."


"Ada banyak hal yang ingin Bibi ceritakan padamu."


Nyonya Liang bercerita cukup banyak. Termasuk mengenai Camelia yang adalah Jasmine. Lina yang sudah tahu, tidak begitu terkejut. Ia pun turut menceritakan bahwa ia sudah tahu bahwa Camelia adalah Jasmine.


"Bibi, mengenai gosip itu apa Bibi percaya bahwa mereka ada hubungan?"tanya Lina.


Nyonya Liang tampak terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Kami percaya pada putri kami. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama karena tidak mempercayainya." Ternyata Tuan Liang mendengarnya.


"Paman?"


"Putriku sudah dewasa dan punya popularitas. Terkena gosip seperti ini agaknya bukan hal baru. Kami, percaya padanya."


Oleh karenanya, Tuan dan Nyonya Liang tidak begitu cemas. Karena mereka yakin Camelia akan menyelesaikannya dengan baik.


Lina tersenyum lega. Kekhawatirannya hilang sudah.


"Jadi, apa kesibukanmu sekarang, Lina?"tanya Tuan Liang.


"Ehm … Lina mau ke luar negeri, Paman," jawab Lina.


"Luar negeri?" Nyonya Liang mengulang dua kata itu.


"Ke mana, Lina?"tanya Nyonya Liang kemudian.


"Kanada. Aku akan ikut dengan Lia," jawab Lina yang membuat Nyonya dan Tuan Liang membulatkan mata.


"Sungguh?!"


Lina mengangguk. "Benar, Paman, Bibi. Aku akan berangkat pukul 10.00 nanti," jawab Lina.


Tuan dan Nyonya Liang sungguh tidak menyangka. "Aku kemari sekalian ingin berpamitan," lanjut Lina.


Lina kemudian melihat jam tangannya. Sekitar satu jam lagi sebelum keberangkatannya. "Paman, Bibi, aku pamit sekarang, ya."


Lina kemudian memeluk Nyonya Liang.


"Iya, Nak. Hati-hati," jawab Nyonya Liang.


Lina mengangguk. "Lina," panggil Tuan Liang sebelum Lina pergi.


"Jaga Lia ya."


"Pasti, Paman!"jawab Lina mantap.


Lina kemudian melanjutkan langkahnya.


"Aku tidak menyangka. Namun, rupanya ini jalannya." Tuan Liang menghela nafas lega.


"Sudahlah. Fokus saja pada penyembuhanmu. Setelah itu, kita bisa mengunjungi Lia di sana," ujar Nyonya Liang.


"Hm … aku tahu, Susan."


"Lekaslah minum obatmu," titah Nyonya Liang kemudian.


"Setelah ini, aku akan pergi sebentar mengecek restoran."


"Baiklah."


*


*


*


Kini, Lina berada di ruang tunggu. Sebentar lagi akan masuk ke dalam pesawat. Selagi menunggu keberangkatan, Lina mengirim pesan pada Camelia bahwa ia sebentar lagi akan berangkat.


Tak lama kemudian, terdengar pengumuman bahwa penumpang pesawat dengan tujuan Kanada diharapkan untuk segera masuk ke dalam pesawat. Lina bergegas menuju ke pesawatnya.


Setelah semua penumpang masuk, pesawat lepas landas, meninggalkan bandara internasional Beijing menuju Ottawa, Kanada.


Lina yang posisi duduknya dekat dengan jendela, memandang keluar jendela. Pemandangan kota terlihat indah dari atas.


Menghela nafas pelan. Menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Penerbangan panjang ini akan menjadi awal perjalanan hidupnya yang baru.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2