Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 67


__ADS_3

"Camelia. Nama yang begitu indah. Sebuah nama bunga yang memiliki makna kesetiaan, cinta, dan keabadian. Banyak yang percaya, helai mahkota bunganya yang halus dan berlapis melambangkan seorang wanita. Kemudian kelopaknya melambangkan seorang pria yang akan selalu melindungi sang wanita. Mahkota dan kelopak bunga akan terus bersama sama mereka layu, mengering, dan mati. Makna yang luar biasa dalam. Nama Anda memiliki arti yang begitu kompleks, Nona Camelia." 


Seseorang berpuisi, berhasil menghentikan langkah Camelia dan membuatnya berbalik mencari sumber suara yang menyinggung namanya itu.


Seorang pria. Wajahnya rupawan. Dengan tubuh yang mendukung pula.  Penampilan rapi. Juga tinggi. Melemparkan senyum termanisnya pada Camelia.


Camelia mengernyit. Mencoba mengenali pria itu. Namun, sepertinya Camelia tidak ingat. 


"Maaf? Anda membicarakan saya?"tanya Camelia dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Off course," jawab pria itu ringan. 


"Apa kita saling kenal? Maksudku apa kita bertemu? Jujur saya tidak mengenal ataupun mengingat Anda," ucap Camelia jujur. Nadanya sopan, berusaha untuk tidak membuat pria di depannya itu tersinggung. 


Wajah pria itu tampak kecewa. Akan tetapi, hanya sebentar. Senyum lebar kembali tercetak di bibirnya. 


"Sejujurnya saya kecewa dengan jawaban Anda, Nona. Itu seperti mematahkan hatiku. Tapi, tidak masalah. Mungkin karena pertemuan kita terlalu singkat. Mungkin juga karena Anda bertemu dengan banyak orang penting hingga pertemuan dengan saya tidak berarti." Sok puitis lagi. Jujur saja itu membuat Camelia kesal. 


"Perkenalkan, saya adalah cucu dari nenek Jiang. Nenek saya pernah Anda tolong sewaktu di Shanghai. Saya, Allen Gong sekaligus sepupu dari Presdir Starlight Entertainment, Andrean Gong," ucap pria itu memperkenalkan namanya.


Camelia sedikit terpana dengan pengenalan diri dari pria itu yang tidak lain adalah Allen. 


Allen. 


Allen Gong. Sepupu Andrean? 


Nenek Jiang?


Ah Camelia mengingatnya. "Anda rupanya." Camelia tersenyum tipis. 


"Anda di Beijing? Urusan pekerjaan? Menginap di apartemen Presdir Gong?"tanya Camelia, sekadar basa-basi. Tidak etis juga ia bersikap terlalu ketus pada Allen.


"Eh? Kak Andrean memiliki apartemen di sini?" Allen tampaknya tidak tahu. Camelia mengangguk. Tidak terlalu heran.


Sial! Aku kalah langkah rupanya, gerutu Allen dalam hati. Camelia menganggap senyum Allen aneh. Kaget bercampur kesal. Ia memilih mengedikkan bahunya.


"Ah Kak Andrean tidak memberitahu kalau tidak membeli unit di sini."


"Jadi, untuk apa Anda di sini?" Tatapan Camelia berubah menjadi menyelidik. Jika tidak untuk menginap ke  apartemen Andrean untuk apa Allen ada di sini? 


Bertemu teman? Atau apa? 


"Menemui Anda," jawab Allen.


"Hah?"


"Pertemuan pertama dengan Anda. Jantung saya berdebar kencang dan saya selalu memikirkan Anda setiap malam. Saya menyadari bahwa saya jatuh hati pada Anda."


"Apa?" Camelia tambah terkejut. Camelia tidak habis pikir. Apa yang menarik darinya? Mengapa dua Tuan Muda Gong tertarik padanya? Yang satu diam-diam tapi terlihat jelas. Dan yang satu lain terang-terangan dan langsung menyatakan cinta. Daebak!


"Saya tahu terlalu cepat meminta Anda menjadi kekasih saya. Namun, tidak ada salahnya jika kita saling berteman. Nona Camelia, bisakah saya menjadi teman Anda?" Pria itu membungkuk seraya mengulurkan tangannya pada Camelia. 


Camelia menyentuh dahinya.


Hal konyol apa ini? 


"Maaf, Tuan Allen." 


"Ada apa? Anda tidak mau menjadi teman saya?" Lagi, menampilkan raut wajah sedih.


"Bukan begitu," ucap Camelia. 


"Untuk sekadar teman mungkin bisa. Namun, kekasih. Maaf, saya tidak bisa. Saya tidak ada niatan untuk mencari kekasih ataupun menikah lagi," jawab Camelia. 


Allen seperti terpatahkan mendengar jawaban Camelia. Dan dia kembali ditolak bukan sekali, akan tetapi dua kali terhitung sejak awal pertemuan kalian.


Tapi, tidak masalah. Dari sekadar teman biasa bisa menjadi teman hidup, batin Allen menyemangati dirinya sendiri. 


Aku tidak akan menyerah secepat ini. Fighting, Allen.


"Baiklah. Berteman biasa pun tidak masalah," ujar Allen dengan kembali menyodorkan tangan pada Camelia, mengajaknya berjabat tangan.


"Just friend," ucap Camelia, menekankan mereka hanya sekadar teman lalu membalas jabatan tangan Allen. 


Allen mengangguk.

__ADS_1


"Anda bisa tahu saya tinggal di sini artinya Anda mencari tahu tentang saya, bukan?


"Sejauh mana Anda stalking saya?" Camelia sengaja mengeratkan jabatan tangannya. Allen merasakan sakitnya. 


Tenaganya kuat sekali, meringis dalam hati. 


Allen tertawa cengengesan. "Hanya sebatas hal umum saja kok."


Ah. Sepertinya tempat tinggalnya ini sudah menjadi rahasia umum. Wartawan di luar sana pasti sudah menulis berita tentang tempat tinggalnya. Namun, mungkin hanya sekadar alamat bukan spesifiknya. Misalnya di lantai mana dan apartemen nomor berapa ia tinggal. 


Keduanya kemudian melepas jabatan tangan. Allen menjadi salah tingkah menerima tatapan Camelia. Tatapan itu menyatakan bahwa Camelia tidak suka dengan tindakan Allen. Siapa juga yang suka di stalking kecuali memang suka cari perhatian.


"Ngomong-ngomong nama Anda Camelia namun Anda menyukai bunga lily," celetuk Allen mencoba mencairkan suasana. 


"Terserah dong," jawab Camelia. 


"Hahaha." Allen tertawa canggung. 


Aku ajak atau tidak ya? Aku merasa canggung dan takut ditolak, gelisah Allen dalam hati. 


"Maaf, Tuan Allen. Saya masih ada urusan," ucap Camelia.


Sigh! Terlambat. 


"Ah begitu ya? Kalau begitu kita bisa bertemu di lain hari," sahut Allen. 


Camelia mengangguk kecil. "Saya permisi," ujar Camelia.


"Ya. See you next time," balas Allen, melambaikan tangannya. Camelia melangkah pergi dan masuk ke dalam lift. 


Dingin. Memang susah didekati. Aku harus berusaha lebih keras! Allen mengepalkan tangannya kemudian masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan basement. Pertanyaannya bagaimana bisa ia masuk membawa mobil ke dalam area apartemen ini? Padahal apartemen ini bisa dikatakan kawasan pribadi. Ya, tentu saja mengandalkan identitasnya yakni sebagai sepupu Andrean, tuan muda kedua keluarga Gong. 


"Bagaimana, Tuan?"tanya Lie.


"Ah sepertinya kurang berhasil," jawab Lie sendiri melihat raut wajah Tuannya. 


"Setengah aku berhasil. Setengah tidak," jawab Allen.


"Aku ditolak menjadi kekasih. Tapi, diterima menjadi teman," imbuh Allen lagi.


"Apa kau tahu, Lie?" Entahlah. Lie merasa merinding mendengarnya.


"Kakakku juga tidak di sini! Kesempatan dia lebih banyak. Aku harus bagaimana?"


Tuan Andrean tinggal di sini? Gawat! Lie menjerit dalam hati. 


"Hehehe, kita pikirkan caranya nanti ya, Tuan. Sekarang, Tuan harus melaksanakan jadwal yang saya buat." Allen mendengus. 


*


*


*


"Sering-seringlah pulang, Rean," ucap Kakek Gong dengan memeluk Andrean.


"Jika aku tidak sibuk, Kakek," jawab Andrean. Kakek Gong menepuk pundak Andrean beberapa kali.


"Dengar Crystal, kau juga harus membujuk ayahmu agar sering pulang ke kediaman lama," bisik Nenek Jiang yang diangguki oleh Crystal.


"Tentu saja, Nenek," balas Crystal, berbisik pula. 


"Hati-hati di jalan! Jalan lupa hubungi adikmu, Rean," ujar Nenek Jiang.


Andrean menjawabnya dengan mengangguk singkat. Andrean kemudian menggendong Crystal yang awalnya berada di sisi Nenek Jiang. Dalam sehari, hubungan keduanya menjadi sangat baik.


"Kami pulang," pamit Andrean, kemudian masuk ke dalam mobil. 


"Dadah Kakek, dadah Nenek." Crystal melambaikan tangannya dari jendela yang dibuka. 


"Dadah," balas Kakek Gong dan Nenek Jiang. 


Mobil Andrean tumpangi meninggalkan halaman kediaman lama menuju bandara. 


"Sepertinya cucu-cucu kita akan bersaing," ujar Kakek Gong ke arah gerbang masuk kediaman. 

__ADS_1


Nenek Jiang mengernyit, menatap bingung Kakek Gong.


"Maksud Kakak Ipar apa?"tanya Nenek Jiang. 


Kakek Gong tersenyum tipis. "Kau akan segera tahu," jawab Kakek Gong kemudian masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Nenek Jiang yang berpikir. 


Dalam hal warisan, bukankah Andrean sudah dengan perusahaannya? Apakah Andrean menuntut bagiannya? Atau bagaimana?


 Gelisah, Nenek Jiang masuk ke dalam rumah. "Akan aku tanyakan pada Allen nanti."


*


*


*


Setelah mengudara selama kurang lebih 2 jam Andrean dan Crystal tiba di Beijing. Keduanya segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara. 


Andrean tidak langsung pulang ke apartemen melainkan menuju ke perusahaan. Hans sudah ribut menghubunginya karena begitu banyak pekerjaan yang harus Andrean selesaikan.


Meskipun hatinya merindu, ingin segera bertemu dengan melihat Camelia, namun pekerjaannya juga sangat penting.


"Ayah, tadi Ayah berjanji pada Nenek akan menghubungi Paman. Mengapa Ayah belum menghubungi Paman juga?"tanya Crystal dengan menatap  Andrean yang sibuk dengan tabletnya. 


"Pamanmu tidak perlu dihubungi juga pasti akan muncul sendiri, Crystal," jawab Andrean tanpa memalingkan wajahnya menatap Crystal. 


"Tapi, Ayah sudah berjanji. Harus ditepati dong. Apa orang dewasa suka mengingkari janji?" Pertanyaan Crystal itu seakan menohok Andrean.


Bocah ini, darimana dia belajar kata-kata itu? 


Hah.


Andrean menghela nafas. "Baiklah. Aku akan menghubunginya." Andrean mengeluarkan ponselnya kemudian mencari kontak Allen.


"Hm?"


Aku lupa. Aku tidak punya kontaknya. 


"Hallo, Hans."


"Loh kok Paman Hans?"heran Crystal. 


"Kirimkan nomor Allen padaku," titah Andrean pada Hans.


Crystal menepuk dahinya. "Astaga, Ayah!"


*


*


*


"Untuk apa Tuan meminta nomor Tuan Allen? Apa mereka akan bertengkar?"tanya Hans pada dirinya sendiri setelah mengirimkan nomor Allen pada Andrean. Ia sendiri tengah berada di ruangan Andrean. Ditemani dengan dua tumpuk berkas. Satu tumpuk yang sudah ia periksa dan tinggal ditandangani oleh Andrean. Satu tumpuk lagi yang akan ia periksa.


Tunggu! Apa Tuan tidak bertemu dengan Tuan Allen di kediaman lama? Masa' sudah menginap tidak bertemu?


Di saat Hans berpikir, ponselnya berdering. Dari Allen.


"Hallo, Tuan Allen." Segera Hans menjawabnya. 


"Hai, Tuan Hans," balas Allen.


"Apa kakakku sudah pulang? Aku ingin berkunjung ke istananya," tanya Allen sekaligus menyampaikan keinginannya.


"Anda ada di Beijing, Tuan Allen?"tanya Hans.


"Yeah. Aku tiba kemarin dan menginap di hotel," jawab Allen.


"Ah, Tuan baru saja mendarat dan dalam perjalanan ke perusahaan. Jika Anda senggang, silahkan mampir ke perusahaan," ujar Hans. 


"Hm, baiklah. Makan siang aku akan ke sana. Terimakasih, Tuan Hans."


"Baiklah, Tuan Allen." Panggilan ditutup.


"Ya, sepertinya makan siang nanti akan ramai," gumam Hans. 

__ADS_1


__ADS_2