Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 149


__ADS_3

Keluarga Ling, adalah salah satu keluarga yang cukup berpengaruh namun sangat tertutup di Xian. Keluarga itu memiliki usaha di bidang perhotelan serta restoran. Yang mana pada bidang restoran bersaing dengan restoran Liang.


Yang bertebaran di media hanya mengenai bisnis mereka. Tidak dengan kehidupan dan anggota keluarga mereka. Hal itu sedikit merepotkan untuk Dion. Yang harus membuat Dion mengirim salah satu orangnya untuk menyelidiki langsung ke Xian.


Mencari orang yang cukup dekat dengan keluarga Ling. Untuk mengorek informasi mengenai anggota keluarga mereka.


Dan ini sudah tiga hari sejak Dion mengutus orangnya. Namun, informasi yang diterima sangat minim. Keluarga itu benar-benar tertutup. Tidak membuka cela untuk orang lain mengorek informasi mengenai keluarga mereka.


"Hello, Tuan Muda."


"Bagaimana?"tanya Dion langsung, saat orangnya menghubungi dirinya, melaporkan hasil penyelidikan sementara.


"Saya mendapat informasi baru. Keluarga Ling, mereka berhubungan dengan gangster."


"Gangster?" Dion terdiam beberapa saat. Sebelumnya saja sudah rumit, apalagi saat berhubungan dengan gangster. Sebenarnya apa latar belakang keluarga Ling ini?


Dion mengetukkan jarinya. Dahinya mengernyit berpikir. Resiko akan bertambah. Dan nyawa adalah taruhan jika berhubungan dengan gangster. Apakah ia harus mundur?


Tidak!


Dion menggeleng cepat. Ia tidak boleh mundur. Gangster memang berbahaya dan lebih mendahulukan fisik daripada logika. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa diajak bicara.


"Kau lanjutkan penyelidikan. Tapi, jangan melakukan pergerakan apapun. Dan yang paling penting adalah cari tahu seberapa kuat mereka," titah Dion. Dalam suatu pertempuran, sangat penting untuk mengetahui kekuatan lawan.


"Baik, Tuan Muda."


Dion kemudian mengetikkan kata kunci di pencarian. Keluarga Ling. Tidak ada perubahan. Sama seperti yang ia sebelumnya ia cari.


Dion mendesah pelan. "Hal ini harus selesai sebelum aku kembali ke Kanada."


Dion kemudian melihat jam. Ia menimang sejenak sebelum akhirnya menghubungi seseorang.


"Daddy," sapa Dion, setelah panggilannya dijawab.


"Ya, Dion? Ada hal apa?"jawab Tuan Shane.


"Aku izin menggunakan tim X," ujar Dion, serius.


"Hal penting apa hingga kau ingin menggunakan mereka?"tanya Tuan Shane, ingin tahu alasannya agar izin bisa diberikan.


"Ini berkaitan dengan Kakak yang menyelidiki latar belakangnya. Dan dari informasi yang aku dapatkan, keluarga yang ingin kakak selidiki berkaitan dengan gangster. Oleh karenanya, aku izin menggunakan tim X untuk mengantisipasi serta menanganinya," jelas Dion, memberitahu maksud dan tujuannya.


Tuan Shane tidak menjawab. Dion berdebar ragu.


Tim X, adalah satu tim elite Shane Group, yang tugasnya adalah menjadi penjaga dan pengawal untuk Group Shane serta keluarga Shane. Tim X terdiri atas orang-orang terlatih yang kebanyakan adalah lulusan akademi kemiliteran yang kembali dibentuk di dalam Shane Group.


"Daddy?"


"Padahal kakakmu itu sibuk. Tapi, bisa melakukan hal sejauh ini. Daddy tidak mengerti dengan itu. Jika kau ingin menggunakan tim X, silakan saja. Latar belakang kakakmu adalah hal yang sangat penting. Lia dan kau sendiri harus tahu titik terangnya," jawab Tuan Shane, setuju dengan permintaan Dion.


Dion mengembangkan senyumnya. "Thank you, Dad."


"Tapi, ingatlah! Tetap waspada dan hindari jatuh korban yang banyak!"pesan Tuan Shane.


"Pasti, Dad!"jawab Dion pasti.


Dion kembali meletakkan ponselnya. Ia menghela nafasnya. "Jika tidak ada kemajuan, maka negosiasi langsung adalah jalannya," gumam Dion, menatap lurus ke depan.


*


*


*


"Mom!"


Camelia yang tengah melakukan yoga sebelum berangkat bekerja, dikejutkan oleh Lucas dan Liam yang masuk ke ruang gym dengan berseru.


"Ada apa, Lucas, Liam?"tanya Camelia, sembari merubah posisinya menjadi duduk.


"Lihat ini, Mom!"ucap Lucas, menunjukkan sebuah foto pada Camelia. Camelia menatap kedua anaknya. Mata Lucas berkaca-kaca sementara Liam sangat dingin.


Kemudian menatap foto yang Lucas tunjukkan. Itu adalah foto Andrean dan Crystal. Yang berfoto dengan latar belakang akuarium besar. Dari foto, terlihat mereka sangat bahagia.


"Ya? Ada apa dengan foto itu?"tanya Camelia. Rasanya wajar. Apa yang aneh dan membuat kedua anaknya berekspresi tidak senang begitu?


"Kami cemburu, Mom!"ucap Lucas. Dan kali ini, tangisnya pecah.


"Cemburu?" Camelia mengernyitkan dahinya. Hanya sebentar. Kemudian gegas membawa Lucas dalam peluknya. Hatinya tidak nyaman mendengar kata cemburu keluar dari bibir Lucas.


"Aku rindu Daddy, Mom. Aku rindu saat kita bersama. Melakukannya bersama tanpa terpisah-pisah." Mengadu dalam pelukan Camelia. Lucas mulai terisak. Bahunya gemetar.


"Dia seharusnya tidak memposting foto itu! Apakah dia tidak ingat ada dua anak lagi di sini? Di saat kami merindukan kasih sayang seorang ayah, dia malah menunjukkan kasih sayangnya pada salah satu anak. Apakah itu adil, Mom?" Liam berkata dengan nada dingin. Namun, tidak menyembunyikan rasa sedihnya.

__ADS_1


Camelia menelan ludahnya. Inilah yang cukup Camelia takutkan. Ketika kedua anaknya merasa tidak ayah mereka tidak berlaku adil. Padahal, jika ditilik Lucas dan Liam lah anak kandung dari Andrean.


"Mom sebenarnya juga kesal melihat foto itu," ucap Camelia.


"Namun, Mom juga tidak bisa menyalahkan ayah kalian sepenuhnya," lanjut Camelia.


"M-mengapa?"tanya Lucas, dengan terbata.


"Mom tidak memihak?"tanya Liam, seraya menyipitkan matanya. Camelia menghela nafasnya pelan. Membawa Liam dalam pelukannya juga.


"Begini, Crystal itu sejak lahir sudah bersama dengan ayah kalian. Selain itu, mereka juga satu atap," ucap Camelia, memberikan pengertian kepada kedua anaknya.


"Tapi, keadaannya sudah berubah, Mom," ucap Lucas, lirih.


Andrean!


Camelia mengeram dalam hati. Kedua anaknya ini, punya hati yang sangat rapuh kalau sudah menyangkut kasih sayang. Mengapa harus memamerkan kasih sayang seperti itu? Simpan saja, tidak perlu dipublikasikan!


"Baiklah. Nanti Mom akan bicara dengan ayah kalian," putus Camelia. Mencium bergantian kedua pipi anaknya.


"Sudah, ya? Jangan bersedih seperti ini. Kalian punya Mom, yang selalu menyayangi kalian," tutur Camelia lembut.


"Kalian punya Grandpa dan Grandma, punya Uncle Dion. Jangan memikirkan hal yang akan membuat kalian sakit."


"Aku merindukan Daddy, Mom." Lucas berbisik pelan.


Liam menyeka sudut matanya. "Bagaimana jika kita keluar, Mom? Tadi malam Mom sudah dengan Aunty Lina, malam Mom harus dengan kami!"ucap Liam, dengan mata penuh binar.


"Benar! Mereka bisa, kita juga bisa! Toh, sejak dulu kita selalu bahagia," tambah Lucas. Mata sedihnya berubah menjadi wajah penuh semangat.


"Nanti malam?"


"Iya!" Keduanya mengangguk. "Mom bisa, kan?"


"Tentu saja," jawab Camelia.


"Hore!!"


"Kalian ada jadwal hari ini?"tanya Camelia, melihat jam tangannya.


"Ahh … ada! Sebentar lagi! Liam ayo! Aunty Abi akan segera datang!" Lucas menarik tangan Liam. Liam yang tak siap langsung tertarik.


Camelia menggeleng pelan. Kemudian ia bergegas kembali ke kamarnya.


Mencabut ponselnya yang tengah diisi daya. Membuka pesan. Ada pesan dari Andrean.


Begitu isi pesan Andrean.


Membahas rindu usai membuat kedua anaknya sedih?


Jangan hanya omong kosong. Jika kau ingin, segeralah lakukan!


Rindu itu tak bisa ditahan. Semakin ditahan, rasanya semakin lama dan semakin sesak.


Serius?


Dibalas demikian oleh Andrean. Balasan itu membuat Camelia kesal. Segera ia menekan icon telepon.


"Jika kau ingin datang, datang saja! Jika tidak ingin, jangan mengatakan hal apapun!"


"Hah! Apa maksudmu, Lia? Kau kesal? Mengapa? Apa kau melakukan kesalahan?"


Andrean tampaknya bingung di sana.


"Ku tanya padamu, kau itu pria dengan berapa anak?!"tanya Camelia. Tidak menggubris pertanyaan Andrean.


"Tiga!"jawab Andrean pasti.


"Ada dengan hal itu?"


"Aku tidak ingin membuatnya rumit. Aku minta padamu, jangan mempublikasikan kasih sayangmu pada anak jika hanya ada salah satu dari mereka!"tegas Camelia.


"Apa maksudmu, Lia? Tolong katakan dengan jelas. Di mana kesalahanku. Aku tidak mengerti. Please," pinta Andrean. Dari nadanya, memang kebingungan. Bercampur dengan panik dan cemas.


Camelia melangkah mendekati jendela. Melihat pemandangan pagi mansion. Menyentuh kaca jendela yang masih terasa dinginnya.


"Ke depannya, jangan memposting kebersamaanmu dengan Crsytal. Hal itu membuat Lucas dan Liam tidak senang. Kau sebagai seorang ayah, harus memperhatikan dan mengingat dua anak lagi di sini," ucap Camelia. Ia dengan jelas mengatakannya.


"Bagaimana bisa itu bisa?"


"Jadi, tidak bisa? Kalau begitu lupakan saja kami. Anggap kita tidak pernah bertemu!"jawab Camelia. Sorot matanya datar. Tidak ada keraguan di dalam kata-katanya. Dibandingkan kekasih, buah hatinya yang paling penting.


Dan yang, memang hal seperti ini akan menjadi kendala. Menyatukan dua keluarga bukanlah yang mudah.

__ADS_1


"Bukan! Bukan seperti itu." Andrean berseru panik.


"Bisa?"tanya Camelia, ingin mendapat kejelasan secepatnya.


"Hanya tidak mempostingnya, apakah itu begitu berat?"tanya Camelia lagi, nadanya berat, kecewa. Itu hanya hal kecil, bukan? Menjaga jejak digital untuk menjaga hubungan.


"Jika kau berat ke salah satu, maaf. Aku tidak meneruskan hubungan ini! Aku hanya meminta hal itu, bukan memintamu mengembalikan anak itu pada tempat yang seharusnya!"lanjut Camelia. Dibandingkan anak orang lain, jelas anaknya yang paling penting.


"Baik! Aku akan melakukan!"jawab Andrean, setelah hening beberapa saat.


Camelia menarik senyum tipis.


"Tapi, tolong jangan katakan hal yang berkaitan dengan perpisahan," pinta Andrean.


"Baiklah," jawab Camelia. Ia hanya butuh itu.


"Lia, maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu jika hal itu akan menyakiti Lucas dan Liam. Maafkan aku."


"Minta maaflah pada Lucas dan Liam. Mereka sangat sensitif dengan kasih sayang. Apalagi setelah Daddy mereka pergi. Kau sebagai ayah kandung mereka harus menjaga perasaan mereka. Jika tidak, persetujuan mereka akan berubah menjadi kebencian. Ya, mungkin ini kau anggap tidak masuk akal. Tapi, begitulah adanya," ujar Camelia.


"Tidak. Ini masuk akal. Aku yang memang kurang perhatian dan menjaga perasaan mereka. Tapi, ketahuilah, Lia. Aku sangat menyayangi kalian."


Camelia mengangguk kecil mendengarnya.


"Aku akan sibuk hari ini. Sampai nanti," ujar Camelia.


"Ya, sampai nanti."


Panggilan berakhir.


Mungkin yang aku katakan tadi agak keterlaluan. Tapi, demi kebahagiaan kedua anakku. Aku harus egois.


*


*


*


Di sisi lain, Andrean melonggarkan dasi dan membuka kancing atas kemejanya. Ini sudah sore. Baru saja ia menghela nafas karena pekerjaannya selesai. Kemudian senang karena Camelia membahas pesannya. Dan berujung pada percakapan serius, malah membuat Andrean sakit kepala.


Apalagi pada saat kata mengembalikan Crystal pada tempatnya. Anak itu, biar bagaimanapun tak bisa lepas darinya ataupun Camelia. Malah akan semakin rumit jika demikian.


Satu-satunya cara agar tidak begitu rumit adalah menyetujui apa yang Camelia minta.


"Ahh! Aku tidak menduga akan menjadi rumit. Padahal hanya foto tapi berdampak serius. Mereka tidak senang, astaga!"


Andrean memijat pelipisnya.


Hah!


Ia kemudian menghela nafasnya.


"Tuan." Hans masuk dengan membawa nampan. Di atasnya ada cangkir dan teko teh.


"Anda tampak memiliki banyak beban, Tuan. Silakan Anda minum untuk meredakannya," ucap Hans.


"Aku memang banyak beban, Hans!"sahut Andrean. Dibalas kekehan Hans.


Andrean kemudian minum. "Akan lebih baik jika kau bawakan aku wine," cetus Andrean, setelah minum.


"Anda punya banyak beban. Akan bertambah lagi jika Anda mabuk," jawab Hans, dengan melengkungkan senyum. Andrean berdecak.


"Oh iya, di mana Crystal?"tanya Andrean.


"Nona Muda tengah berlatih, Tuan."


Andrean meraih kalender meja, mengambil pena dan melingkari beberapa tanggal. "Kosongkan jadwalku di tanggal itu," ujar Andrean pada Hans. Hans menerimanya kalender meja yang Andrean sodorkan.


"Satu Minggu? Apa Anda ingin ke Kanada, Tuan?"terka Hans.


"Hm. Juga kosongkan jadwal Crsytal. Dia akan ikut denganku."


"Bagaimana dengan saya, Tuan?"tanya Hans, dengan mata memelas. Mengisyaratkan bahwa ia ingin ikut, atau setidaknya cuti.


"Tentu saja di ruanganmu," jawab Hans. Hans mendesah pelan.


Jelas!


Mana mungkin ia akan cuti juga. Dasar bos kejam! gerutu Hans dalam hati.


"Barang yang ku suruh kirim, apakah sudah tiba?"


Dengan sedikit bersungut, Hans mengecek tabletnya.

__ADS_1


"Seharusnya akan tiba pagi ini. Dan kemungkinan pagi ini juga akan diterima di kediaman Shane," jawab Hans. Andrean mengangguk mengerti.


Aku berharap mereka senang dengan hadiah yang aku kirimkan. Juga semoga rasa kesal mereka akan berkurang dengan itu. Aku tahu, itu tidak sebanding dengan kasih sayang langsung. Akan tetapi, untuk saat ini itulah yang dapat aku lakukan. Aku akan minta maaf saat mereka menghubungiku nanti.


__ADS_2