Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Menjemput Kak Lina


__ADS_3

Mercedes Benz S-Class Maybach 560 berwarna hitam berhenti mulus di depan gedung Sunrise Entertainment. Berhentinya mobil yang dibandrol dengan harga kurang lebih enam milyar rupiah  itu jelas menarik perhatian sekitar.


Beberapa orang bahkan menantikan pemilik mobil itu keluar. Jendela pengemudi terbuka separuh. Pengemudinya seorang wanita yang menggunakan kacamata hitam, juga masker, menoleh ke arah gedung Sunrise Entertainment.


Rambutnya disanggul asal, wanita itu lalu menurunkan sedikit kacamatanya. Ia sedang mencari seseorang. Ia begitu lekat melihat siapa yang keluar dan masuk dari dan ke gedung.


Lima menit sudah ia menunggu. Wajahnya menunjukkan kebosanan. Ia kembali menyalakan mesin mobil dan membawanya masuk ke parkiran gedung. 


Pintu terbuka. Sepasang kaki yang dibalut alas kaki berhak sedang turun dari mobil. 


Begitu ia turun, semua perhatian seakan tertuju padanya. Tanpa membuka masker dan kacamatanya, aura bintang seakan menyebar, membuat siapa saja terpesona. 


Dia, Camelia begitu tenang melangkahkan kakinya masuk di bawah tatapan aneka ragam tatapan sekitar. Kagum dan terpesona sangat mendominasi.


Suara alas kaki Camelia beradu dengan lantai lobby gedung Sunrise Entertainment. Langkahnya tegas memasuki lobby gedung itu. 


"Excuse me," sapa Camelia, seraya membuka kacamatanya.


"Is there anything I can help you with, Miss?"jawab Resepsionis dengan sopan.


"I want to meet Lina," balas Camelia. 


"Lina?"


"Yes. Artist Lina," jelas Camelia. 


"Why? Can not?"tanya Camelia saat melihat ekspresi kaget resepsionis itu. 


"It's not like that, Miss. It's just that Miss Lina is not in the building. Miss Lina is filming a drama in Xian," jawab Resepsionis itu. 


"In Xian?"tanya Camelia memastikan. 


"Oh thank you," ucap Camelia, memakai kacamatanya kembali dan berbalik meninggalkan meja resepsionis. 


Setibanya di mobil, Camelia mengecek jarak antara Beijing dan Xian. Lalu melihat jam tangannya. Okay, Xian I'm coming!


*


*


*


Mayback 560 Camelia melaju keluar dari bandara Xian. Berhenti mencari tempat untuk makan siang sekaligus memberi kabar pada Lucas, Liam, Dion, dan Kak Abi bahwa ia berada di Xian mengurus suatu hal. Camelia menghubungi Liam sebelum turun dari mobil. 


"Mom kau di mana sekarang?"tanya Liam langsung setelah panggilan dijawab.


"Mom ada di Xian. Ada urusan penting yang harus Mom selesaikan."


"Xian? Sendiri?"


"Tidak dengan mobil yang baru Mom beli," jawab Camelia.


"Mom kau sungguh boros!"cetus Liam yang disambut tawa Camelia, "untuk berperang tentu butuh kendaraan yang cocok bukan?"


"Hmhp!"


"Ah Liam boleh Mom minta tolong suatu hal?"


"Apa itu?"


"Tolong carikan nomor ponsel artis bernama Lina," pinta Camelia.


"Mom mau menemuinya?"


"Hm. Tapi, Mom tidak tahu nomor ponselnya."


"Ckckck dasar kau ini, Mom! Baiklah, tunggu sebentar nanti akan ku kirimkan," putus Liam.


"Thank you so much, Xiao Liam."


*


*


*


Sebelum pesanan Camelia datang, Liam sudah mengirimkan nomor ponsel Kak Lina. 

__ADS_1


"Ini?" Camelia tertegun melihat nomor ponsel yang Liam kirim padanya. Masih nomor yang sama artinya Kak Lina? Rasa bersalah menyelimuti hati Camelia. Ia tidak menepati janjinya saat meninggalkan China lima tahun silam.


"Apa Kakak tetap menunggu kabar dariku sampai saat ini?"gumam Camelia. Matanya mulai mengembun namun secepat kilat pula ia mengusapnya. 


"Silakan, Nona." Pelayan restoran datang dengan membawa semangkuk mie soba pesanan Camelia. Camelia mengangguk, "terima kasih."


"Anda baik- baik saja?"tanyanya melihat mata Camelia yang sedikit memerah. 


"Aku teringat sesuatu yang sedih. Tapi, aku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian Anda," jawab Camelia.


"Ah jangan bersedih. Cepat makan dan habiskan mie Anda. Setelahnya semua rasa sedih Anda akan hilang," ujarnya dengan tersenyum. 


"Pasti!"sahut Camelia.


Setelah pelayan itu pergi, Camelia kembali fokus pada ponselnya. Dengan sedikit gemetar, Camelia memasukkan nomor ponsel Kak Lina ke kontaknya, di detik selanjutnya Camelia menghubungi pemilik nomor ponsel itu.


Cukup lama namun belum diangkat, mungkin tengah melakukan adegan atau menimang untuk menjawab telepon dari nomor tidak dikenal. Panggilan pertama tidak dijawab, Camelia kembali menelepon. Di dering ketiga, panggilannya diangkat. "Halo … dengan siapa saya bicara?" 


Camelia sontak menutup mulutnya sendiri. Suara yang cukup ia rindukan akhirnya ia dengar kembali. 


"Halo?"


"Halo?"


"Halo … Anda masih di sana?" Camelia yang kunjung menjawab membuat Kak Lina terdengar bingung.


"Anda baik-baik saja?" Nadanya berubah cemas saat mendengar Camelia terisak pelan. Pendengaran Kak Lina masih sama, tajam.


Camelia menghela nafasnya, menetralkan perasaannya sendiri. "Hallo, Kak," jawab Camelia pelan.


"Jasmine?!" Camelia tertegun sesaat. Bahkan Kak Lina masih mengenali suaranya. Tapi, yang merawatnya selama dua puluh tahun lebih dan Jordan, yang menjadi kekasihnya selama tiga tahunan, sudah tidak mengenali dirinya lagi?!


Bahkan saat skandal buruk menimpanya, Kak Lina percaya padanya tanpa banyak pertanyaan. Sedangkan keluarganya, balik badan dan mengusir dirinya. Camelia tersenyum kecut mengingat hal itu. 


"Ya. Ini aku Kak, Jasmine," jawab Camelia gemetar menahan tangis. Sudah cukup lama ia tidak menyebutkan nama lamanya itu. Semua ingatan saat masih menyandang nama itu hadir dalam ingatan Jasmine. Jasmine memejamkan matanya sembari menepuk-nepuk dada bagian kanannya. 


"Jasmine kemana saja kau selama ini?!" Itu mirip sebuah pekikan.


"Kak jangan teriak!"ucap Camelia.


Pertanyaan beruntun yang membuat Camelia menarik senyum tipis.


"Kakak ada di mana sekarang?"


"Aku? Kau jangan coba mengalihkan pembicaraan! Kau yang di mana? Katakan padaku aku akan ke sana menemuimu!"


"Siapa yang mencoba mengalihkan pembicaraan, Kak? Aku menanyakan lokasimu sekarang, kau tidak sedang di tempat umum, kan?"


"Aku ada di kamar, kenapa?"


"Aku di Xian, sekarang share lock padaku di mana kau berada. Aku akan menjemputmu," titah Camelia.


Tadinya ia ingin mengajak Kak Lina bertemu di sini. Namun, terlalu terbuka untuk profesi Kak Lina yang sudah menjadi seorang artis. 


"Xian?! Selama ini kau di Xian?!"


"Akan aku jelaskan nanti. Sekarang share lock padaku," ucap Camelia.


"Baiklah." Beberapa saat kemudian Camelia sudah mendapatkan lokasi pasti Kak Lina.


"Dalam setengah jam aku akan tiba di depan hotel tempatmu menginap."


Setelah itu Camelia mengakhiri panggilan. Mienya sudah hampir dingin, dengan cepat Camelia menghabiskan. Setelah habis Camelia meletakkan yang di bawah mangkuk mie sebagai bill. Bergegas Camelia kembali ke mobilnya.


Dua puluh menit lagi, Camelia mengemudi sesuai dengan kondisi lalu lintas. Kurang dari satu menit lagi, Camelia tiba di depan hotel tempat Kak Lina menginap. 


Tak jauh dari mobilnya terlihat seorang wanita dengan mengenakan jaket tebal berwarna hitam dan masker, beberapa kali mengecek ponselnya seperti tengah menunggu seseorang.


Wanita itu Camelia kenali sebagai Kak Lina. Kak Lina sempat beberapa detik melihat ke arah mobilnya lalu melihat kanan dan kiri jalan. Camelia masih masih belum ambil tindakan memanggil Kak Lina. Beberapa saat kemudian Kak Lina mendekatkan ponsel ke telinganya. Disusul dengan ponselnya yang berderi. 


"Aku sudah di depan. Kau sudah sampai mana?"tanya Kak Lina, ia sangat tidak sabar.


"Di depanmu," jawab Camelia.


"Di depanku? Jangan bercanda, Jasmine! Hanya ada kendaraan lalu lalang di depanku!"kesal Kak Lina.


"Aku serius. Perhatikan lagi!" Kak Lina sontak kembali menatap lekat mobil mewah hitam yang parkir di seberang jalan. Camelia tersenyum melihat Kak Lina yang kebingungan.

__ADS_1


"Jasmine, tolong jangan bercanda! Di mana kau sekarang?!"


"Menyeberanglah maka kita akan bertemu."


Kak Lina terpaku sesaat di tempatnya. Walau ragu ia menyeberang jalan. Kini posisinya berada di depan mobil Camelia. "Aku sudah menyeberang, di mana kau sekarang?" Kaca mobil Camelia gelap. Jadi, Kak Lina tak bisa melihat Camelia namun Camelia bisa melihat Kak Lina.


"Di sampingmu."


"Jasmine!! Di sampingku hanya ada mobil!"


"Maka masuklah ke dalam mobil itu!"


Kak Lina menoleh pada mobil di sebelahnya. Dengan ragu-ragu, Kak Lina tetap mengikuti intruksi Camelia. Ia terkejut sendiri saat pintu mobil bisa ia buka. 


"Lama tidak bertemu, Kak Lina!"sapa Camelia saat Kak Lina sudah masuk.


"Jasmine?!" Mata Kak Lina sontak terbelalak. Di bangku kemudi, seorang wanita cantik dan elegan tersenyum lembut padanya. 


"Kau! Kau sungguh Jasmine? My Jasmine?"


"Lalu?"


"A-apa yang sebenarnya terjadi? I-ini mobil siapa? D-dan kau … kau sangat cantik, Jasmine!"


Kak Lina pusing dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Apa yang ia lihat ini nyata? Kak Lina sampai mengucek matanya, bahkan memukul kepalanya sendiri.


Namun, apa yang ia lihat tidak berubah. Sosok cantik dan mempesona tetap tersenyum lembut padanya. Ia duduk di mobil mewah seharga enam milyar. 


"A-apa saja yang kau lalui selama lima tahu ini, Jasmine?"


Tidak didapatinya lagi Jasmine yang polos, lugu. Jasmine yang sederhana, tidak ada lagi pada Camelia yang mengenakan barang branded dan mobil mewah. 


"Syutingmu sudah selesai?"tanya Camelia.


"Kau tahu aku jadi artis?" Kak Lina kembali terkejut. Bahkan keterkejutan dan kebingungannya sendiri belum surut.


"Baru-baru saja. Bagaimana?" Camelia menoleh pada ponselnya, di mana ada panggilan masuk atas nama Dion.


"Sudah. Peranku sebagai pendukung sudah selesai tadi pagi. Aku berniat untuk kembali ke Beijing sore nanti," jawab Kak Lina yang diangguki oleh Camelia.


"Hallo, Dion," jawab Camelia.


"Aku akan pulang sekarang."


"Sudah. Aku akan membawanya pulang bersamaku."


"Baiklah." Panggilan berakhir. Camelia kembali menoleh pada Kak Lina yang juga menatapnya.


"Itu tadi … Dion?"


"Benar."


"Tapi, tunggu pulang? Kita akan ke rumahmu?"


"Lalu?"


"Baiklah. Mendengar penjelasan di tempat pribadi memang lebih aman. Tapi, Jasmine barang-barangku masih di hotel."


"Bukankah kau punya asisten?" 


"Jasmine aku ini hanya artis kecil. Aku tidak punya manager apalagi asisten."


Camelia diam tidak menjawabnya. Ia memilih melajukan mobil meninggalkan depan hotel. Kak Lina tidak lagi bertanya atau berbicara. Ia diam menunggu Camelia memulai pembicaraan.


Kak Lina jelas merasakan perbedaan Camelia dan Jasmine. Di balik semua itu, Kak Lina bersyukur dan senang melihat perubahan Camelia yang sekarang. 


"Loh ngapain ke bandara?" Kak Lina kembali bertanya saat tahu mereka menuju bandara Xian.


"Tentu saja pulang. Kak aku kemari untuk menjemputmu pulang. Mengenai barang-barangmu apa itu penting?"


"Tidak juga sih, hanya pakaian."


"Baguslah."


"Tapi, kita pulang ke mana? Beijing?"


"All right!"

__ADS_1


__ADS_2