
Dengan berlari kecil Crystal menuju ruang kerja Andrean. Ia ditemani oleh pengasuhnya, Toby. Tiba di depan ruang kerja Andrean, Crystal mematung sejenak.
"Ada apa, Nona Muda? Mengapa Anda berhenti?"tanya Toby dengan mengernyit. Wajah Crystal yang tadi bersemangat berubah menjadi ragu.
Crystal mendongak, menatap pengasuhnya. "Aku takut mengganggu ayah, Paman. Sejak pulang, ayah terus berada di dalam ruang kerjanya. Apa nanti saja ya?"tanya Crystal. Toby tersenyum simpul. Ia paham apa yang Nona kecilnya itu takutnya.
"Kita lihat dulu, kalau Tuan sibuk kita kembali lagi nanti," ujar Toby, memberi saran.
Crystal, bocah itu mengangguk kemudian dengan pelan mendorong pintu. Crystal menjulurkan kepalanya masuk. Didapatinya sang ayah tengah fokus bekerja, begitu juga dengan Hans.
"Ayah kelihatanya sangat sibuk, Paman," ucap Crsytal pada Toby. Dengan mata kembali meredup.
"Kalau begitu kita kembali lagi nanti, Nona Muda," jawab Toby sesuai dengan ucapannya tadi. Crystal mengangguk pelan. Ia membalikan badannya, bersiap untuk pergi.
"Nona Muda." Namun, belum lagi Crystal meninggalkan tempat, ada yang memanggilnya.
Itu Hans.
Rupanya pria itu menyadari kehadiran Crystal. Crystal berbalik dan pintu terbuka lebar. Menampilkan sosok tinggi berkacamata yang tersenyum padanya.
"Ingin menemui Tuan?"tanya Hans, dengan tersenyum lembut
"I-iya." Crystal mengangguk ragu. "Tapi, ayah kelihatannya sangat sibuk. Aku akan kembali lagi nanti, Paman Hans," lanjut Crystal.
"Ah … begitu rupanya." Hans tetap tersenyum dengan ekor mata melirik Andrean. Merasakan tatapan padanya, Andrean mendongak.
"Kemarilah, Crystal." Andrean memanggil.
"Tuan memanggil Anda, Nona. Artinya Tuan sedang tidak sibuk," imbuh Hans.
Crystal menatap Toby meminta pendapat. Toby mengangguk. Dengan langkah kecil, Crystal masuk.
__ADS_1
"Rindu Ayah?" Andrean menyambut Crystal dengan senyum lembutnya.
"Iya!" Crystal mengangguk cepat dan langsung meminta Andrean untuk menggendongnya. Crystal bukan takut pada Andrean, melainkan takut mengganggu ayahnya itu. Ayahnya orang yang sibuk. Juga seorang pimpinan yang memegang posisi tertinggi.
"Bagaimana harimu?"tanya Andrean setelah memangku Crystal. Mengusap pucuk kepala Crystal. Bocah perempuan itu tampak menikmatinya.
"Seperti biasa, ayah," jawab Crsytal, tersenyum. Namun, tidak dapat menyembunyikan rasa jenuh di matanya. Andrean menyadari hal itu. Andrean menghela nafasnya.
"Hans, lakukan yang kita bicarakan tadi," ucap Andrean yang disambut dengan anggukan Hans. Hans meninggalkan ruang kerja Andrean.
"Ayah, kapan ayah ada waktu senggang? Crystal ingin pergi piknik dengan ayah," tanya Crystal kemudian. Wajahnya begitu berharap.
"Piknik ya?"sahut Andrean, dengan masih mengusap pucuk rambut Crystal.
"Hm bagaimana ya? Ayah juga ingin sekali piknik dengan Crystal. Ah begini saja, secepatnya. Ayah janji," jawab Andrean. Ia tidak menolak namun tidak juga memastikan kapan.
"Janji?" Namun, bagi Crystal itu sudah cukup. Ayahnya orang yang menepati janji. Kepercayaannya pada Andrean sangat besar.
"Sembari menunggu, bagaimana jika Crystal menghabiskan waktu dengan belajar jadi model? Ayah akan undang guru untuk Crystal. Belajar di istana, bagaimana?" Andrean tahu bahwa Crystal merasa kesepian. Dan ia rasa ini adalah waktu untuk menepati janji sebelumnya. Janji saat dulu Crystal meminta menjadi model.
"Sungguh. Kapan ayah pernah berbohong?"balas Andrean dengar mencubit gemas pipi Crystal.
"Yeah! Terima kasih, ayah!"seru Crystal.
"Kau senang?"
"Sangat!"jawab Crsytal. Wajahnya berseri dan sangat antusias.
Ketidakhadiran Rose di istana ini tidak begitu berdampak pada Crystal. Anak itu hanya beranggapan ibunya tengah di luar. Atau bisa saja pergi sebelum ia bangun dan pulang setelah ia tidur. Dan apa yang Andrean lakukan adalah untuk semakin mengikis hal itu.
"Kalau begitu pergilah bermain. Mulai besok waktu bermainmu tidak akan sebanyak sebelumnya," tutur Andrean.
__ADS_1
Crystal mengangguk. Sebelum pergi Crystal mencium pipi Andrean, "sampai nanti, ayah." Kemudian meninggalkan ruangan Andrean dengan berlari riang.
Andrean menghela nafasnya. Ia kemudian meraih ponsel dan menghubungi seseorang. "Halo," jawab seseorang di seberang sana. Suara seorang wanita dan itu familiar. Camelia.
"Aku berubah pikiran," ujar Andrean dengan menyunggingkan senyum.
"Apa maksudmu?" Camelia terkejut di ujung sana.
"Ya, aku berubah pikiran," ulang Andrean dengan menyeringai.
*
*
*
Camelia mengalihkan pandangannya dari laptop saat mendengar bel apartemennya berbunyi. Camelia menggerakkan bola matanya berpikir, siapa gerangan itu?
Andrean?
Nama itu yang pertama terlintas di benaknya. Camelia melihat jam tangannya. Ini pukul 21.00.
Mengapa dia kemari? Sebentar lagi kan mau gerak? batin Camelia, dengan kesal ia meninggalkan kursinya untuk membuka pintu.
Sebelum membuka pintu, Camelia melihat siapa yang membunyikan bel apartemennya.
"Dia? Mau apa dia kemari?"gumam Camelia, kaget melihat wajah yang ia dapati.
"Hm? Apapun itu, mari kita lihat," putus Camelia.
Camelia membuka pintu.
__ADS_1
"Ahh, aku kira Anda tidak ada di dalam," ucap seseorang itu setelah Camelia membuka pintu. Camelia tersenyum, senyum sinis.
"Hal penting apa sehingga ada berpakaian sperti ini, Mr. Jordan?"tanya Camelia, dengan memicingkan matanya.