Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 136


__ADS_3

"Aku takut, Lia," ucap Lina, sesaat setelah Camelia selesai merias wajahnya. Mematut dirinya di depan cermin dengan tatapan takut bercampur tegang.


"Ku beritahu cara untuk sukses, Kak. Kau harus percaya diri. Jangan merendahkan dirimu sendiri. You're diamond." Camelia berkata dengan memegang kedua pundak Lina. Sorot matanya penuh percaya diri. Berbanding terbalik dengan sorot mata Lina.


"Kau orang yang kompetitif, Kak. Bekerja samalah dengan baik."


Lina menelan ludahnya. Kata-kata Camelia memang mendongkrak semangatnya. Namun … tetap saja.


"Mom, Autny, Uncle David sudah datang!" Lucas memanggil seraya mengetuk pintu.


"Calon suamimu sudah datang. Ayo," ajak Camelia.


"Baik! Aku akan menyanggupinya!" Lina berdiri. Sorot matanya menjadi percaya diri.


"Ini baru Xioa Lina yang aku kenal!"tandas Camelia dengan menorehkan senyum lebar.


*


*


*


"David, apa kau serius akan menikahi Lina?" Tuan Shane bertanya setelah masuk ke kediaman Shane.


"Aku serius, Paman," jawab Tuan David. Tuan Shane mengangguk kecil.


"Jujur saja aku terkejut. Kau dan Lina baru kenal. Tapi, sudah memutuskan untuk menikah. Apa tidak terlalu cepat, David? Aku tahu kau didesak untuk menikah," ucap Tuan Shane. Nadanya khawatir.


"Aku yakin, Paman!" Tuan David menjawab tegas.


"David, Lina itu sudah kami anggap bagian dari keluarga Shane. Aku harap kau tidak gegabah mengambil keputusan dan mengecewakan banyak orang, terutama Lina!" Nyonya Shane angkat bicara. Tuan David tertegun sesaat.


Lina datang ke Kanada, bekerja di Glory Entertainment dan tinggal di kediaman Shane. Lina juga adalah sahabat Camelia. Maka, Lina adalah bagian dari kediaman Shane.


"Percayalah padaku, Paman, Tante," ucap Tuan David.


"Kami tahu dirimu. Dan kami berharap demikian," ucap Tuan Shane, tersenyum tipis.


"Kak," sapa Camelia. "Calonmu sudah siap," ujar Camelia, menatap ke arah Lina yang berjalan pelan.


Deg!


Jantung Tuan David berdegup kencang melihat Lina. Kecantikan Asia khas negeri tirai bambu terpancar jelas darinya. Ditambah dengan balutan dress berwarna putih, kadar kecantikannya semakin bertambah.


"Selamat malam, Tuan David," sapa Lina. Ia menyunggingkan senyum. Belajar untuk percaya diri. Meskipun jantungnya berdegup kencang.


Lia menyenggol bahu Tuan David, untuk menyadarkan pria itu dari kekagumannya.


"Ah."


"Ayo berangkat."


"Cie ada yang salah tingkah!" Lucas berseru.


"A-apa?" Lina dan Tuan David menatap Lucas. "Jangan bereaksi seperti itu," cetus Liam.


"Lebih baik kalian segera berangkat," ujar Nyonya Shane.


Tuan David kembali sadar. Ia mengangguk kemudian melangkah keluar. "Eh … calonnya kok ditinggal?"seru Camelia.


"L-Lia, jangan begitu," pinta Lina, gegas menyusul Tuan David. Camelia terkekeh, rasanya geli dan menyenangkan melihat ekspresi Lina dan Tuan David.


Semoga sesuai dengan harapanku.


"Duduk, Lia!"titah Tuan Shane.


Camelia menoleh pada Tuan Shane. Kemudian mengangguk kecil. "Apa hal ini adalah hal yang baik?"tanya Tuan Shane.


"Daddy tenang saja, aku yakin semuanya akan berlangsung lancar," ujar Camelia.


"Yakin?" Tuan Shane masih ragu, meskipun Tuan David sudah mengatakan bahwa ia serius dengan rencana pernikahannya.

__ADS_1


"Kemarin, waktu kami makan di restoran, Mom menanyakan bagaimana perasaan Aunty Lina pada Uncle David. Jawabannya sih tidak. Tapi, mata tajamku ini menangkap keraguan di matanya. Makanya, kami sependapat dengan Mom untuk menjodohkan mereka," papar Liam.


"Keraguan?" Tuan Shane mengeryitkan dahinya.


"Mom, Lina berasal dari negara yang berbeda. Selain itu, latar belakangnya juga tidak setinggi Kak David. Itu lah yang menjadi keraguan. Tadi, aku memberinya pengertian. Aku yakin … Kak Lina akan melakukannya dengan sungguh-sungguh," jelas Camelia. Ya, meskipun masih ada keraguan di dalamnya. Tapi, lebih banyak pada keyakinannya.


"Ah … Mom paham sekarang. Lina anak yang baik, Nyonya Smith pasti akan menyukainya." Nyonya Shane menghela nafasnya, lega.


"Baikah kalau begitu," ujar Tuan Shane.


*


*


*


Pertemuan dengan keluarga David berlangsung dengan lancar. Meskipun awalnya kaku, Lina sudah beradaptasi dengan baik karena pembawaan Nyonya Smith yang ramah dan mudah diajak bicara, meskipun penampilannya tegas.


David hanya memiliki seorang ibu kini. Ayahnya meninggal saat usianya masih remaja. Semenjak ia memegang perusahaan, Ibunya hanya mengawasi dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah atau acara sosialita.


Nyonya Smith menanyakan mengenai latar belakangnya. Lina menjelaskannya dengan rinci. Kemudian berbincang mengenai keseharian. Ditutup dengan penentuan tanggal pernikahan.


Lina tak begitu terkejut lagi dengan kecepatan itu. Camelia sudah memberitahunya tadi.


"Ini adalah yang dibutuhkan untuk perubahan kewarganegaraan," ucap Lina, menyodorkan map pada Tuan David.


"Aku akan segera mengurusnya."


"Besok saat makan siang, datanglah ke ruanganku untuk mengukur gaun pengantin."


"Apa itu perlu?"tanya Lina. Bukankah yang kontrak? Bisa beli langsung jadi saja, bukan? Lagipula tanpa resepsi, hanya perayaan dengan orang terdekat saja.


"Pernikahan itu sekali seumur hidup. Jangan menganggapnya remeh. Harus dilakukan dengan sungguh-sungguh."


"Itu berlainan dengan kontrak, Tuan!"


"Apa kau lupa? Panggil aku David saat di luar jam kerja! Apalagi saat berdua seperti ini!"ketus David.


"Itu berlainan dengan kontrak. Anda tidak konsisten!"kritik Lina. David tersenyum, lebih pada menyeringai.


"Hati saja bisa berubah, mengapa kontrak tidak bisa? Bagaimana jika kelak kau jatuh cinta padaku dan tidak mau melepaskanku? Ah … sebaliknya, bagaimana jika aku yang jatuh cinta padamu? Aku katakan dari sekarang bahwa aku tidak akan melepaskanmu!!" David berkata dengan mendekatkan wajahnya pada Lina. Keduanya saling tatap.


Lina terkejut.


Pria di depannya ini …. Yang tadi pagi menyodorkan kontrak pernikahan padanya, kontrak 18 bulan pernikahan dengan poin dan kesepakatan yang telah ditandangani, dan malamnya menunjukkan tanda akan mengubah kontrak?


Kata-katanya …. Apa maksudnya ini? Pria di depannya itu memberinya harapan. Namun, memberinya kontrak. Sungguh, Lina tidak mengerti maksudnya.


"Masuklah. Di sini dingin," suruh David.


Lina mengerjap. "Ayo masuk." David gemas dengan Lina yang lama masih diam. Memutar tubuh Lina dan mendorongnya pelan.


"Masuk sana!"titahnya, dengan mengibaskan tangan saat Lina menoleh ke belakang.


Lina menurut. Dengan masih banyak pertanyaan dalam benaknya. Ia benar-benar tidak pernah mengerti. Apakah ini permainan tarik ulur atau tanya sekadar permainan?


Hanya saja … kata-katanya?


Pembawaan Ibunya yang tegas namun hangat, tidak mudah untuk jatuh cinta pada David. Bahkan jika hanya dari sisi penampilan.


Masalahnya ada di hati. Apakah ia bisa menerima dan melakukannya dengan baik?


Selain itu, Lina juga akan mengubah kewarganegaraannya. Menjadi warga negara Kanada. Hal itu diputuskan setelah pertimbangan. Lina akan menikah dengan David. Dan akan berkarir di Glory Entertainment. Ditambah lagi, Lina tidak punya keluarga lagi di China. Jadi, rasanya keputusan yang tepat untuk pindah kewarganegaraan.


Pindah bukan berarti tak cinta tanah air. Karena, tanah kelahiran itu tidak akan pernah dilupakan. Meskipun pergi entah kemana, tidak akan pernah menghilangkannya.


"Bagaimana pertemuannya?" Saat tiba di depan pintu kamarnya, Lina dikejutkan untuk Camelia yang menunggu di sana dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Tampaknya lancar. Kapan tanggal pernikahan?"


"Aku masih ragu, Lia." Bukannya menjawab pertanyaan Camelia, Lina malah kembali mengaduh.

__ADS_1


Camelia tersenyum simpul. "Aku tahu. Namun, jangan sampai ada penyesalan di dalamnya," sahut Camelia, menepuk pundak Lina.


"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku, Kak!"


"Satu minggu dari sekarang," jawab Lina.


"Wow, lebih cepat dari waktu aku menikah dengan Chris," cetus Camelia.


"Memangnya berapa lama?"tanya Lina, penasaran.


"Hm … apa kau sudah mengantuk, Kak?"tanya Camelia. Lina menggeleng. Ia sangat pusing memikirkan masa depannya. Kantuk rasanya pergi jauh-jauh.


"Ayo bicara di kamarku saja," ajak Camelia.


"Tidur di kamarmu?" Camelia menganggukinya.


"Minum, Kak." Camelia menyodorkan minuman soda pada Lina.


Mereka berdua duduk di sofa jendela. Gorden yang dibuka lebar, memperlihatkan pemandangan langit malam kota Ottawa.


"Dari ia melamarku sampai menikah terhitung sekitar 1 bulan 2 minggu," ujar Camelia setelah minum.


"Pasti banyak persiapan untuk pernikahan kalian."


"Saat ini, pernikahanku dan Chris menjadi pernikahan spektakuler. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan janji pernikahan itu masih terekam jelas di ingatanku."


"Kau masih mengingatnya? Wow!"


"Menjadi artis harus punya ingatan kuat, Kak," sahut Camelia. Lina tertawa, mengangguk membenarkan ucapan Camelia.


"Tapi, Lia … pernikahan…."


"Syut!" Camelia meletakkan jari di bibirnya. "Yakin saja. Keraguan ada kesalahan besar. Keraguan adalah awal kekalahan."


"Mengapa tidak membicarakan hal lain saja?" Camelia mengangkat alisnya.


"Haha … baiklah." Bosan juga membicarakan tentang pernikahan.


"Pekerjaanmu lancar kan, Kak?"


"Ya begitulah." Lina mengangguk. "Bagaimana denganmu? Beberapa hari yang lalu kau masuk berita dan aku lihat di media sosial, itu masih jadi perbincangan, apa kau aman dengan hal itu, Lia?" Sorot matanya sendu. Mengkhawatirkan Camelia. Yang dikhawatirkan malah tersenyum lebar.


"Mungkin, dulu aku akan pusing dengan hal itu. Dan malah aku yang akan didesak untuk memberi pernyataan. Namun, Kak! Ini bukan masa lalu. Aku bukan lagi yang dulu. Dan hal seperti itu, sudah biasa dengan itu. Justru rasanya aneh kalau tidak ada gosip atau berita panas jika menjadi seorang artis," ujar Camelia. Ia sudah cukup lama berkarir di dunia hiburan. Hal demikian layaknya makanan sehari-hari.


"Yayaya … kau adalah Camelia Shane!"


Keduanya lantas tertawa. Kembali bercerita. Dan bahkan di saat mereka pindah ke ranjang, mereka masih bertukar cerita. Waktu sudah tengah malam.


"Hei, Lia."


"Hm."


"Bagaimana hubunganmu dengan Mr. Gong."


"Ya begitulah. Cukup sulit karena ada perbedaan waktu. Jadi, waktu ngobrol kami tidak begitu banyak."


"Long Distance Relationship, beda benua, bena zona waktu. Hahaha…." Lina tertawa, menertawakan Camelia. Camelia mendengus sebal.


"Dia orang yang seperti apa?"tanya Lina, kembali penasaran. Karena, yang ia lihat sewaktu Andrean bersama dengan Rose adalah Andrean dingin dan cuek.


"Hm … bagaimana ya? Yang pasti tidak seperti yang dikatakan orang di luar sana. Dia itu narsis," jawab Camelia.


"Really?"


"Iya. Dia sangat narsis dan terkadang juga pura-pura bodoh. Itu membuatku sangat kesal!"


"Tapi, kau menyukainya, Kak?"


"Hm…." Camelia bergumam. "Jika aku katakan dia dan Chris mirip, apa kau akan percaya?"


"Jika kau merasa begitu, aku pasti percaya."

__ADS_1


__ADS_2