
Rose melangkah masuk ke kediaman Liang dengan aura tidak mengenakkan.
Ya bagaimana tidak?
Setelah diputuskan oleh Andrean, Rose bisa dikatakan kehilangan hak atas Crystal. Selain itu, ia juga di skors selama satu bulan dan itu artinya ia tidak akan memiliki pemasukan. Sementara itu, keuangannya juga berkurang cukup signifikan akibat membayar sejumlah denda.
Rose, selama menjadi tunangan Andrean, sama sekali tidak menyisihkan uang untuk antisipasi di masa depan. Ia berpikir, dengan menjadi tunangan Andrean, hidupnya akan aman untuk selamanya.
Namun, siapa sangka?
Ya, kehidupan memang seperti itu.
Nyonya Liang yang berada di rumah, mengurungkan niatnya untuk menyapa Rose. Bahkan para pelayan yang bertemu dengan Nona mereka itu memilih menghindar daripada terkena semburan amarah Rose.
Nyonya Liang duduk termenung di ruang tengah. Ia tengah merenungi bagaimana keadaan keluarga Liang selama lima tahun belakangan ini. Seperti tidak ada gairah, hambar.
Tuan Liang yang berubah, tidak sehangat seperti dahulu. Rose apalagi, ia semakin menjadi setelah Jasmine keluar dari kediaman Liang.
Reaksi Tuan dan Nyonya Liang saat Andrean mengumumkan akan bertunangan dengan Rose?
Tentu saja kaget.
Tidak terbayang di benak mereka jika putri kandung mereka punya hubungan sedekat itu pada Andrean sampai hamil. Di satu sisi, Tuan Liang juga tidak habis pikir.
Bagaimana bisa, kedua putrinya melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah?
Meskipun Tuan Liang mengatakan bahwa ia tidak menganggap Jasmine sebagai putrinya lagi. Namun, di dalam hatinya, Jasmine tetaplah putri sulung keluarga Liang.
Kecewa, terkejut, sedih, marah, bercampur menjadi satu. Namun, kedua orang itu juga tidak bisa menolak. Sebenarnya, berulang kali Rose meminta pada kedua orang tuanya untuk meminta Andrean segera menggelar pernikahan dikarenakan usia pertunangan yang sudah cukup lama berikut usia Crystal yang terus bertambah.
Dan endingnya adalah Andrean dan Rose putus dengan hak asuh Crystal jatuh pada Andrean.
"Mengapa aku jadi ingin bertemu dengan Camelia dan Dion Shane?"gumam Tuan Liang sembari mengusap wajahnya.
*
*
*
__ADS_1
Bagaimana dengan kelanjutan kasus Jordan?
Kasusnya masih dalam penyelidikan dan Jordan dalam pengawasan. Semua jadwalnya otomatis diundur dan ada yang dibatalkan. Sama seperti Rose, Jordan juga kehilangan cukup banyak kontrak. Dan ia dikeluarkan dari pemeran utama dalam drama yang direncanakan akan syuting dua minggu mendatang. Sudah jatuh tertimpa tangga. Namun, itulah dia yang disebut dengan karma! Karma, it's real.
Sementara di sisi lain, Camelia baru selesai memasak untuk makan malam. Menu masakan hanya hampir sama persis dengan menu yang tersedia di restoran Liang yang menjadi menu terbaik. Hidup sebagai putri dari keluarga yang berbisnis di dunia kuliner, tak mengherankan Camelia bisa memasak menu tersebut, juga menu lainnya. Akan terasa aneh jika ia tidak bisa memasak.
Camelia menepuk kedua tangannya dengan senyum mengembang lembar ketika ia telah selesai menata makan malam di meja makan. Tinggal menunggu Kak Abi dan kedua putranya pulang, maka makan malam bisa dimulai.
Camelia melihat ke arah jam dinding. Sudah hampir pukul 20.00. Lucas dan Liam sudah mengatakan akan pulang telat karena mereka menuntaskan pemotretan sesi kedua yang memang cukup padat. Besok, atau jika diundur lusa, akan melakukan pemotretan sesi ketiga.
Menunggu mereka pulang, Camelia melangkah menuju kamarnya setelah melepas apron. Ia menuju nakas di mana terdapat ponselnya yang tengah diisi daya. Sudah hampir mendekati 100 persen. Camelia mencabut charger dan keluar kamar dengan membawa ponselnya.
Sebelum Camelia duduk, ada yang menekan bel pintu. Camelia mengernyit, siapa yang datang?
Pasti bukan Kak Abi dan kedua anaknya. Mereka kan punya kartu akses. Camelia melihat siapa itu tanpa membuka pintu. "What?" Camelia berseru pelan.
Siapa itu?
Yang membunyikan bel adalah Andrean! Yups Andrean dan seorang gadis kecil dalam gendongannya.
"Sedang apa dia di sini? Tidak! Untuk apa dia ke apartemenku?"gumam Camelia.
"Tidak! Biarkan saja. Dia akan menyerah." Camelia enggan berurusan dengan Andrean. Memutuskan untuk tidak membuka pintu.
"Apakah itu Anda, Presdir Gong?" Camelia melihat Kak Abi sudah pulang bersama Lucas dan Liam.
"Oh hai, manager Abi, Lucas, Liam, kalian baru kembali?"balas Andrean ramah, lengkap dengan senyum ramahnya. Ya, Andrean yang berbeda.
"Untuk apa Anda datang ke sini, Paman?"tanya Liam dengan tatapan menyelidik. Crystal yang ada dalam gendongan Andrean, menyembunyikan wajahnya saat berbenturan pandang dengan mata dingin Lucas dan Liam.
"Mengunjungi tetangga," jawab Andrean.
"Tetangga? Sejak kapan aku dan dia jadi tetangga?"gumam Camelia yang mendengar jawaban Andrean itu. Dahi Camelia mengernyit. Ia berpikir, dasar apa yang membuat Andrean berkata demikian.
"Oh, begitu. Semoga betah," balas Liam, tampak acuh.
"Oh ya, mana Mommy kalian?" Andrean bertanya.
"Mommy ada di dalam," jawab Lucas.
__ADS_1
"Ah! ****! Bagaimana bisa aku lupa? Apartemen itu kan pasti dibeli dengan uangnya. Otomatis saat putus itu jadi miliknya!" Camelia merutuki dirinya sendiri.
"Tapi, mengapa dia pindah ke apartemen padahal istananya begitu megah?" Camelia kembali bertanya-tanya. Namun, ia segera menggeleng dan kembali ke dapur.
"Tapi, mengapa tidak kunjung membuka pintu?"heran Andrean, sembari melihat pintu.
Kak Abi tersenyum tipis, ia bisa menebak apa yang dilakukan oleh Camelia. Tidak ingin membuka pintu, "mungkin tertidur. Oh iya, apa itu untuk kami?"tanya Kak Abi menatap keranjang parcel berisi buah-buahan dan juga biskuit.
"Ah benar. Hadiah dari tetangga baru. Di ujung sana adalah apartemen saya," ujar Andrean.
"Silahkan." Andrean menyodorkan keranjang itu pada kak Abi.
"Thank you," ucap Kak Abi, menerimanya dengan senang hati. Tentu, itu hadiah dan bentuk etiket baik. Tidak cocok juga bukan jika ditolak?
"Putri Paman kenapa? Apa kami terlihat menakutkan?"tanya Liam, dengan nada sedikit ketus.
"Tidak. Kami … hanya lapar."
Eh? Lucas dan Liam saling pandang.
Jawaban apa itu?
Lapar?
Terus?
Keduanya menatap Andrean yang tersenyum.
Kak Abi menghela nafas. Ia tahu maksud jawaban Andrean. "Sebagai bentuk hubungan baik, saya mengundang Anda untuk makan malam. Apa Anda bersedia, Presdir Gong?"tawar Kak Abi.
Ya, sudah tertebak, kecil kemungkinan Andrean menolak. Ia langsung mengangguk. Kak Abi membuka pintu.
Begitu masuk, aroma makanan langsung tercium dan membuat perut semakin meronta lapar. "Ah … sepertinya Lia sibuk di dapur jadi tidak mendengar suara bel pintu," ujar Kak Abi.
"Ya, saya percaya."
"Anda silahkan menunggu di sini dulu," ujar Kak Abi, mempersilahkan Andrean duduk di ruang tamu. Lucas dan Liam sendiri menuju kamar. Andrean menurut. Kak Abi bergegas ke dapur.
"Crystal, bagaimana menurutmu rasa masakan itu nanti?"tanya Andrean.
__ADS_1
"Dari aromanya, pasti sangat lezat, Ayah," jawab Crystal.
"Ayah rasa juga begitu." Andrean tersenyum penuh arti. Apakah pintu ke kawasan apartemen yang sama adalah salah satu cara Andrean mengejar Camelia?