
Keesokan paginya, Kak Abi dan juga Evelin menuju meja makan dengan bantuan pelayan. Istananya terlalu besar, sulit untuk mengingat arah ruangan. Di ruang makan sudah anggota keluarga kecuali Camelia dan juga Liam. Segera lebih dulu menyapa Andrean sebagai kepala keluarga Gong.
"Aku senang kalian ada di sini. Aku harap kalian dapat membantu Lia. Kondisinya sangat tidak baik belakangan ini, terutama emosi," ucap Andrean dalam bahasa Inggris pada Kak Abi.
"Ya, aku melihatnya," sahut Kak Abi.
"Tenang saja, Mr. Gong. Lia adalah adikku, aku pasti akan melakukan yang terbaik!"
"Saya juga, Mr. Gong."
Tak berselang lama Camelia bergabung setelah kembali dari kamar Liam. Sedikit perbincangan di sela-sela sarapan kemudian Andrean dan Crystal berangkat untuk hari mereka.
"Kondisi Liam?"
Camelia menggeleng lemah. "Ah, bagaimana jika aku ceritakan hal apa saja yang terjadi di Kanada setelah kau pindah. Aku tahu kau pasti sudah mendengar banyak dari keluarga Shane dan juga adikmu, Dion. Dan juga Lina. Tapi, akan aku ceritakan ulang," ucap Kak Abi, memecah suasana sunyi.
"Sepertinya seru. Aunty, Kak Evelin, mari mengobrol di gazebo saja. Sinar matahari pagi sangat bagus," ajak Lucas.
"Ide bagus."
Camelia mengikut. Kak Abi menceritakan banyak hal. Beberapa hal sebelumnya sudah pernah diberitahu, baik oleh Kak Abi sendiri ataupun oleh keluarga Shane, Dion, dan juga Lina. Dan sesekali Evelin menambahkan. Wanita muda itu, tidak lagi dianggap asing. Sudah bagian dari keluarga ini.
Kehamilan Lina sudah memasuki fase hamil tua. Kemungkinan sebentar lagi akan melahirkan. Tuan dan Nyonya Shane, masih sibuk dengan perusahaan. Di bawah kepemimpinan Dion, semakin berkembang pesat.
Dan juga, sangat banyak yang menantikan kabar baik Liam. Dan juga Camelia. Banyak pula penggemar di Kanada yang menantikan Camelia, Lucas, dan Liam comeback meskipun dengan drama atau film di negara yang berbeda.
Keluarga Shane sedang menjadi waktu untuk bisa terbang ke Beijing. Kak Abi dan Evelin secara pribadi dan dipercaya untuk menemani Camelia.
Ya, meskipun Camelia memiliki keluarga yang lengkap, ada Andrean dan juga anak-anak, serta Tuan dan Nyonya Liang, bukan berarti ia bebas berkeluh kesah pada mereka. Pada Andrean, pria itu sudah terlalu banyak memikul tanggung jawab. Pada Lucas, meskipun mengerti, mana mungkin memberikan beban pikiran yang berat, dan Crystal, anak itu masih terlalu polos. Tuan dan Nyonya Liang? Mereka sudah paruh banyak dan juga memiliki banyak kepentingan.
Meskipun sering didapati penuh dengan kesedihan, Camelia menyembunyikan kesedihan terdalamnya. Tangis tanpa air mata adalah yang paling menyakitkan.
"Nona, hiks … hiks, Tuan Muda Liam, hiks … hiks, pasti sangat sakit, hiks …."
"Lia, Liam sudah bertahan sampai saat ini. Jadi, kita tidak boleh mengecewakannya!"tegas Kak Abi.
Jujur saja, mana mungkin hati Kak Abi tidak sakit dan hancur mendengar dan melihat kondisi Liam. Ia, menemani Lucas dan Liam sejak dalam kandungan. Melihat perkembangan mereka dari hari ke hari.
"Kau benar, Kak! Aku tidak akan bertele-tele lagi!" Camelia menghapus kasar air matanya.
*
*
*
Hari terus berlalu. Tak terasa sudah tiga hari berlalu. Dan Liam juga tak kunjung sadar. Kedua dokter semakin bekerja keras untuk menemukan antibiotik yang cocok, yang mampu menyembuhkan Liam sekaligus memantau kondisi Liam agar tetap stabil.
Pagi itu, Camelia dengan wajah lesu keluar dari kamar mandi. "Lia?"panggil Andrean serak. Mereka baru bangun dan ini adalah hari weekend.
"Tamuku datang," ucap Camelia lesu seraya menggelengkan kepalanya. Matanya sudah merah.
Andrean segera menghampiri Camelia dan memeluknya. "Tidak apa … tidak apa. Jangan kecewa."
"Bagaimana ini? Semakin lama aku hamil semakin lama Liam menderita. Rean, hiks …."
"Kita coba lagi, bukankah setelah ini adalah masa suburmu?"ujar Andrean menenangkan..
"Tapi…."
Andrean segera membungkam Camelia dengan ciuman. "Bukankah kau selalu optimis, Lia? Mengapa jadi tidak percaya diri seperti ini? Ini tidak seperti Lia yang aku kenal." Andrean menangkupkan kedua tangannya pada wajah Camelia. Menatap dalam sang istri. Semenjak Liam sakit, perlahan Camelia seperti kehilangan kontrol akan dirinya. Awalnya Andrean menganggap wajar. Namun, jika terus terpaku seperti itu, bukankah akan membawa dampak negatif? Baik untuk Camelia sendiri dan keluarga.
"Tolong, kembalilah seperti Lia yang aku kenal dulu, sebelum Liam sakit. Kembalilah, Lia. Liam butuh sosok ibu yang kuat. Lucas juga. Bagaimana bisa mereka kuat jika kau terus dihantui keputusaan?" Sedikit memberi guncangan pada bahu Camelia.
"Rean … aku …."
Uhpp…
Andrean kembali mencium Camelia. "Jika kau membantah lagi aku akan menciummu lagi."
"Tersenyumlah, Lia. Kembalilah seperti yang dulu. Tolong …," pinta Andrean penuh harap. Menyandangkan kepalanya pada bahu Camelia.
__ADS_1
Camelia terdiam beberapa saat. Ia tengah mencerna. Benarkah sebesar itu perubahan dirinya? Apa yang selama ini ia lakukan? Berusaha namun membuat keluarganya khawatir. Bagaimana bisa ia lupa!
"Rean, maafkan aku …." Langsung memeluk erat Andrean. Berjanji tidak akan terpuruk lagi. Semua ada jalannya walaupun tidak tahu kapan kabar baik itu akan datang.
*
*
*
"Uh, sakit sekali," gumam Camelia.
"Mom, kata Aunty Abi minuman ini bagus untuk Mom," ucap Lucas. Ia masuk ke kamar Camelia dengan membawa nampan, di atasnya terdapat cangkir berisi air jahe yang sudah dicampur dengan sedikit gula dan perasan lemon.
"Terima kasih, Lucas." Ini hari kedua, dan sakitnya semakin menjadi. Camelia terbaring lemah dengan wajah pucat. Tadi, Andrean ingin memanggil dokter untuk memeriksa Camelia. Namun, Camelia tolak karena hanya menstruasi saja. Tapi, mengapa menstruasinya separah ini? Seperti awal-awal ia mendapatkannya.
"Apakah sangat sakit, Mom?"tanya Lucas.
"Sudah tidak terlalu."
"Apa Mom perlu sesuatu?"tanya Lucas lagi.
Camelia menggeleng. "Temani Mom saja di sini," jawab Camelia.
"Baiklah, Mom."
*
*
*
"Saat tidur seperti itu, Tuan Muda Liam terlihat lebih tampan," ucap Evelin pada Kak Abi. Mereka tengah mengunjungi kamar Liam.
"Alangkah senangnya jika Liam hanya tidur, Eve," sahut Kak Abi.
"Mungkinkah ini suatu kesempatan untuk mereka meninggalkan keseharian sejenak?"tanya Evelin.
Kak Abi menghela nafasnya kasar. "Semoga kabar baik segera datang," harap Evelin.
*
*
*
"Hei, Liam. Kapan kau akan bangun? Apa kau tidak bosan tidur terus?"tanya Lucas dengan wajah heran. Tangannya memegang ponsel, tengah bermain ponsel.
"Aku bosan bermain solo. Mom juga tidak bisa diajak main bersama. Crystal tidak bisa main. Aunty Abi apalagi." Lucas mengeluh dan juga mengadu. Matanya sesekali melirik Liam yang nyenyak dalam peraduannya.
"Peringkatku bahkan menurun. Sangat membosankan, Liam."
"CK, lihat, aku kalah lagi!"ketus Lucas. Berdecak kesal."
"Setidaknya beri pertanda kapan kau akan bangun. Kasihan Mom, kau tahu, Mom terlihat lebih kurus. Itu karena memikirkanmu," ujar Lucas, ia menyimpan ponselnya. Menyangga dagu dengan kedua tangannya.
"Aku tahu itu sakit tapi bukankah lebih baik jika kamu membuka mata daripada seperti ini? Meskipun kau tampak damai, di sini …." Lucas menyentuh dadanya. "Aku merasakannya."
"Liam, please, wake up … aku akan memberikan apapun yang kau mau asalkan kau bangun. Bangun dan bicara padaku. Bangun dan ceritanya apa yang kau rasakan. Di sana, kau sendirian, bukan? Apakah kau tidak takut?"
Lucas mencurahkan isi hatinya. Sampai kapan saudaranya seperti itu? Kapan keluarganya kembali berkumpul dengan senyum yang mengembang? Lucas merindukan semua itu.
Tetes air mata membasahi pipi Lucas, mengalir turun dan semakin deras. Isaknya terdengar semakin keras. Lucas meraung. "Sakit, Liam! Sakit! Semakin lama kau tertidur semakin sakit yang kurasakan!" Menepuk dadanya.
"Sampai kapan? Sampai kapan? Wake up, Liam! Wake up!!!"teriak Lucas, ia memukul ranjang Liam. Putus asa, kesedihan, dan rasa takut, semua bercampur dan tatapannya sama seperti Camelia.
Kosong, ia mungkin cerdas, tapi ia juga masih anak-anak. Ia mungkin cerdas tapi ia juga bukan dokter spesialis. Kuasa keluarganya juga besar, dokter terbaik sudah didatangkan, mengapa tidak kunjung sembuh?
Penyakit itu … menguji kesabarannya mereka atau merampas kebahagiaan mereka?
Lucas membenci situasi ini.
__ADS_1
Nafas Liam terengah. Air mata tetap mengalir, bercucuran. Kamar ini kedap suara. Jadi, teriak Lucas tidak terdengar keluar.
"Padahal aku kira setelah Mom dan Ayah menikah, disanalah puncak kebahagiaan kita. Namun, mengapa …. Jika … jika saja pernikahan itu tidak terjadi apakah akhirnya akan berbeda? Apakah ini ujian atau apa? Answer me, Liam!"
Lucas menundukkan kepalanya. Kedua tangannya terkepal erat. Anak itu tengah memikirkan di mana salahnya dan membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
"Jangan berpikir seperti itu, Kak …." Ada suara yang membalasnya, suara yang lemah.
"Lantas aku harus berpikir bagaimana? Ini sudah bukan satu dua hari lagi. Ini berbeda dengan harapanku," balas Lucas, dengan ketus tanpa mengangkat pandangannya.
"Entahlah. Aku berpikir ini adalah gelap sebelum terang. Lagipula aku yang sakit tapi mengapa kau yang tertekan, kak?" Suara lemah itu kembali membalas.
"Kau? Crystal suaramu semakin aneh," sahut Lucas.
"Apa suaraku berubah? Atau pendengaranmu yang bermasalah?"tanya pemilik suara lemah itu, dan itu terdengar dingin.
Lucas sontak mengangkat wajahnya.
"Liam!!"
"Jangan teriak seperti itu. Aku masih hidup," balas Liam. Anak itu, akhirnya sadar dari komanya. Matanya mengerjap pelan dan wajahnya masih pucat.
"Kau bangun? Syukurlah! Syukurlah! Aku akan memanggil dokter."
Lucas bergegas keluar kamar. Liam tersenyum tipis.
"Padahal aku sudah menjawabnya tapi dia malah menolak jawabanku," gumam Liam.
Ia mencoba untuk duduk. Namun, tidak bisa. Liam merasa tubuhnya tidak bertenaga. Membuatnya berdecak pelan.
"Berapa lama aku tidur? Sepertinya banyak hal yang terjadi selama itu." Kembali bergumam.
"Ah … sedikit lega. Tapi, aku merasa septicaemia ini semakin menjadi."
"Tuan Muda Liam, Anda sudah sadar?" Dokter Leo dan Dokter Adam tiba.
Liam mengangguk pelan. Kedua dokter segera mengecek kondisi Liam. Liam mengamati interaksi kedua dokter itu, terutama saat keduanya kontak mata. "Tidak ada peningkatan atau semakin parah?"tanya Liam dengan menaikkan satu alisnya.
"Anda tenang saja, Tuan Muda. Anda akan sembuh. Yang terpenting Anda sudah sadar," ujar Dokter Adam dan itu bukan jawaban yang memuaskan.
"Ya, aku merasakannya. Itu semakin parah," gumam Liam.
Kedua dokter kembali saling pandang. Sesaat kemudian mereka membungkukkan badan. "Ada apa dengan kedua Paman Dokter?"tanya Liam lemah, mengernyit heran.
"Maafkan kami, Tuan Muda. Ini karena kami yang tidak kompeten … kami …."
"Sudahlah, katakan saja pada Mom kalau kondisiku stabil dan ada perkembangan," sahut Liam, dengan tersenyum tipis sembari mengedipkan matanya. Berharap kedua dokter dapat diajak kerja sama.
"Tapi …."
"Liam!!" Sebelum itu selesai, Camelia dan yang lainnya sudah tiba.
"Liam, syukurlah." Camelia langsung memeluk putra bungsunya itu. Menciumnya penuh kasih. Terpancar kelegaan dari wajah Camelia, meskipun tidak seluruhnya.
"Liam, syukurlah … semua akan baik-baik saja. Mom senang kau sudah bangun." Mencium dahi Liam.
"Katakan pada Mom, apa yang kau rasakan saat ini?" Menatap dalam Liam.
Liam tersenyum. "I'm fine, Mom. Aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Benarkan Paman Dokter?" Liam menoleh ke arah kedua dokter.
Camelia juga ikut menoleh. "Benarkah itu?" Terpancar harapan yang besar. Membuat kedua dokter merasa bimbang.
"Paman dokter? Benar, kan?"
"B-benar, Nyonya. Kondisi Tuan Muda Liam stabil dan ada peningkatan," jawab dokter Adam.
"Sungguh?" Harapan yang bercampur dengan rasa curiga. Kedua dokter bak mendapat tekanan dan kesulitan.
Lucas melihatnya.
"Benar, Nyonya!"
__ADS_1
Tuhan, maafkan aku, ratap dokter Adam dalam hati.