Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 195


__ADS_3

Acara perhargaan itu adalah acara perhargaan yang diadakan setiap 2 tahun sekali, merupakan ajang perhargaan tertua dalam industri entertainment.


Andrean menghadiri acara itu didampingi oleh Hans, seperti biasanya.


Ada banyak artis di bawah naungan entertainment yang masuk nominasi. Andrean duduk di kursi yang telah disediakan oleh penyelenggara.


Acara penghargaan itu dimulai sore hari dan kemungkinan besar akan berakhir saat tengah malam. Seperti kebanyakan acara penghargaan, acara itu juga diselingi dengan penampilan dari artis yang masuk nominasi. Kebanyakan adalah menyanyi.


"Tuan, saatnya berangkat untuk pertemuan selanjutnya," bisik Hans. Acara penghargaan itu baru berlangsung sebentar. Baru beberapa nominasi penghargaan yang keluar.


"Tuan, foto Mr. Gu Yunxi sudah saya kirimkan pada Anda. Mohon jangan salah mengenali orang," bisik Hans lagi.


"Lalu apa gunakan Lie di sampingku?"balas Andrean, berbisik pula. Hans tersenyum simpul. Mengingatkan Andrean untuk mengingat wajah seseorang memang sudah menjadi kebiasaan Hans. Tidak mudah bagi Hans untuk menghilangkan kebiasaan itu.


"Besok berikan rekapan siapa saja yang menang nominasi," ucap Andrean, bangkit dan membenani jasnya. Hans mengangguk.


Sebelum pergi Andrean berpamitan pada orang di sekelilingnya.


Sementara Hans tinggal. Ia akan menyaksikan acara penghargaan itu sampai akhir sebagai perwakilan Andrean.


Andrean mengemudi sendiri menuju restoran Liang. Waktu menunjukkan pukul 08.00.


Meeting sekaligus makan malam. Lie sudah menunggu Andrean di parkiran.


"Tuan," sapa Lie.


"Hm." Andrean langsung mengenali Lie lewat suara dan wajah yang mudah membekas di ingatannya.


"Mr. Gu Yunxi sudah menunggu Anda," ucap Lie.


"Apa pria itu bertingkah?"tanya Andrean.


Lie mengernyit. Tidak paham maksud Andrean. Andrean berdecak. Tidak menjawab keheranan Lie.


"Selamat malam, Presdir Gong. Apa kabar?"tanya seorang pria, usianya setara dengan Andrean. Ramah menyambut Andrean dengan merentangkan tangannya.


Andrean tidak mengindahkan sapaan itu. Ia mengedarkan pandangnya. Di meja makan sudah terdapat banyak makanan dan juga minuman beralkohol.


"Ah … sepertinya pertemuan kita akan panjang. Jadi, saya buat sedikit persiapan. Semoga Presdir Gong bersedia," ucap Gu Yunxi dengan senyum mengembang lebar. Andrean menatap datar Gu Yunxi sekilas.


"Saya benci membuang waktu. Mari mulai pertemuan kita," ucap Andrean, secara tidak langsung menolak ucapan Gu Yunxi yang mengatakan pertemuan mereka akan panjang.


"Ahaha … Anda kaku sekali, Mr. Gong. Mari, silakan duduk. Pertemuan ini saya yang traktir," ucap Gu Yunxi


Andrean duduk. Lie duduk di samping Andrean dan segera mengeluarkan bahan meeting.


Gu Yunxi tersenyum kecut saat keramahannya tidak ditanggapi oleh Andrean.


Meeting itu tidak dilakukan serius oleh Gu Yunxi. Ia mendengarkan penjelasan Lie sembari makan dan minum padahal sudah diperingatkan oleh sekretarisnya. Dan ditambah dengan tatapan Andrean lagi.


"Hentikan, Lie!"ucap Andrean.


"T-Tuan?"


"Mr. Gu ini tidak tertarik dengan meeting ini. Katakan pada Presdir Gu jika Gong Group menolak kerja sama ini," tegas Andrean, ia berdiri. Ekspresi tidak bersahabat. Kesal.


"Presdir Gong, mohon jangan tersinggung dengan sifat Mr. Gu. Beliau tertarik dengan penjelasan sekretaris Lie," ucap Sekretaris Gu Yunxi dengan panik. Ia berusaha menenangkan Andrean dan mengingatkan atasannya.


"Tuan, tolong serius. Jika kerja sama ini batal, Anda akan terkenal masalah," bisik sekretarisnya Gu Yunxi.


Gu Yunxi tersenyum. Ia sangat santai. Bahkan menyodorkan gelas berisi wine pada Andrean. Andrean menatapnya dingin. Pria di depannya ini benar-benar menguji kesabaran.


"Presdir Gong, saya yakin pertemuan dengan saya ini pertemuan terakhir Anda hari ini. Jadi, untuk apa terburu-buru? Mari berbicara dengan santai dan menikmati hidangan," ujar Gu Yunxi.


"Anda buru-buru seperti ini seakan ada yang marah jika Anda pulang larut," ucap Gu Yunxi lagi. Ia tertawa renyah. "Anda kan tidak punya istri," imbuh Gu Yunxi lagi.


Lie mengernyit bingung. Sebenarnya maksud Mr. Gu ini apa? Seperti memprovokasi Tuan.

__ADS_1


"Meskipun saya tidak punya istri, saya sangat sibuk. Terima kasih atas perhatian Anda," tegas Andrean. Ia tetap pada keputusannya.


"Presdir Gong. Mohon jangan seperti ini. Presdir Gu pasti akan kecewa dan sedih jika kerja sama ini batal karena hal ini. Mohon dimaklumi, Presdir Gong!" Sekretaris Gu Yunxi kembali mencegah.


"Tuan Muda, saya serius. Jika Anda tidak bisa mengikuti rapat ini, silakan Anda tunggu di luar. Keberhasilan meeting ini adalah tanggung jawab saya." Gu Yunxi menatap sekretarisnya. Wajahnya cemberut.


"Tidak asyik!"keluhnya.


"Jika demikian, silahkan atur jadwal lagi!"jawab Andrean. Ia sudah lelah, ditambah berhadapan dengan hal seperti ini.


"Astaga! Anda kaku sekali! Hm sebelumnya masuk ke pekerjaan, bagaimana jika basa basi sedikit. Saya dengar Anda dekat dengan artis luar negeri. Bukankah itu hal yang menarik?"


Entah memang Gu Yunxi tidak punya rasa bersalah atau memang tebal muka plus provokatif, yang pasti ia tidak takut dengan tatapan Andrean. Malah senyumnya semakin mengembang lebar.


"Oh."


"Anda memang sangat senggang," sahut Andrean berkomentar. Ia lantas melihat jam tangannya. Ia sudah membuang waktunya untuk hal yang tidak penting.


"Lie, bayar semua tagihannya. Aku pergi," ucap Andrean, melangkah pergi tanpa menghiraukan sekretaris Gu Yunxi yang memohon dan mencoba menjelaskan.


Gu Yunxi berdecak. Ia menyesap winenya. "Tidak asyik! Kolot sekali!"


"Silakan hubungi saya untuk menjadwalkan ulang pertemuan," ucap Lie pada kedua orang itu. "Ah ya, bill sudah saya bayar," tambah Lie. Kemudian melangkah meninggalkan ruangan.


"Tuan Muda, apa yang Anda lakukan? Saya kan sudah bilang, Presdir Gong bukan orang yang bisa Anda ajak main-main! Jika begini, saya dan Anda akan mendapat 'hadiah' dari Presdir!!"keluh dan omel sekretaris Gu Yunxi.


Gu Yunxi kembali berdecak. "Anda benar-benar!!"gemas sekretaris Gu Yunxi. Rasanya ingin melihat isi kepala atasannya itu.


"Sudahlah. Toh akan ada pertemuan lagi. Ayo makan, ini ditraktir oleh orang kolot tadi," ajak Gu Yunxi. Ia acuh dengan gagalnya pertemuan itu. Malah dengan wajah berseri bersiap untuk menikmati hidangan yang ada.


Sekretarisnya menepuk dahi. Bisa-bisanya!!! Memang segampang itu menjadwalkan pertemuan? Terlebih dengan Presdir dari dua perusahaan raksasa?


"Terserah Anda saja. Yang pasti, Anda harus bersiap menghadapi amarah Presdir!"ucap sekretarisnya, menyusun bahan meeting dan memasukkannya ke dalam tas.


"Untuk itu kau harus makan. Dimarahi juga butuh energi," sahut santai Gu Yunxi.


Sekretarisnya tidak menjawabnya. Menggeleng pelan sebelum meninggalkan Gu Yunxi yang asyik makan.


"Tapi, menarik." Gu Yunxi menarik senyum.


*


*


*


Sementara di sisi lain, Camelia berlatih di panggung besar bersama dengan para dance. Sebelum Natal, akan diadakan acara penghargaan tahunan.


Camelia akan tampil dalam acara dengan membawakan lagunya, yang tak lain adalah salah satu soundtrack dari drama Split Love.


Dan ia juga masuk ke beberapa nominasi penghargaan. Diantaranya adalah aktris terbaik, pemeran utama wanita terpopuler, dan lainnya.


"Acaranya dua hari lagi, aku rasa latihanmu hari ini sudah sempurna, Lia," ucap Kak Abi, menyodorkan handuk untuk Camelia mengelap keringatnya. Kak Abi juga menyodorkan air minum. Meskipun hanya bernyanyi, latihan tidak cukup satu kali. Apalagi ada tambahan dance.


"Masih ada yang kurang, Kak. Ini adalah penampilan live perdanaku. Aku tidak ingin ada kesalahan. Apalagi ada beberapa nada tingginya," ujar Camelia, minum setelah menyeka keringatnya.


Selama ini Camelia memang kerap menunjukkan bakat menyanyi. Namun, hanya sebatas dalam postingan di media sosialnya. Atau saat ia menjadi bintang tamu. Itupun hanya penggalan lagu saja. Tidak seluruhnya.


"Kalau begitu istirahat lebih lama. Pita suaramu akan rusak jika dipaksakan," ucap Kak Abi.


Camelia mengangguk. Acara penghargaan itu akan jadi live perdananya. Meskipun ini single pertamanya, dengan hasil rekaman yang bagus, namun jika ada kesalahan sedikit saja di atas panggung akan menjadi hujatan.


Camelia menuruti ucapan Kak Abi. "Kau harus menghindari makanan atau minuman yang berpotensi mempengaruhi pita suaramu, Lia," pesan Kak Abi.


"Iya, Kak," jawab Camelia.


"Setelah pulang nanti banyak minum air mineral. Istirahat yang cukup," pesan Kak Abi lagi. Jika dalam urusan seperti ini, Kak Abi akan sangat cerewet. Camelia terkadang jengah mendengar. Ya, meskipun itu untuk kebaikannya sendiri.

__ADS_1


"Gaun yang akan kau gunakan sudah ada? Jika belum, aku akan menghubungi butik langganan," ujar Kak Abi lagi.


Camelia mengangguk. "Aku sudah ada gaunny, Kak," jawab Camelia. Membeli gaun lagi? Mau menambah lemari, kah?


*


*


*


Camelia tiba di kediaman Shane sekitar pukul 19.00. Masih sore. Masih ada waktu sekitar satu jam lebih sebelum matahari tenggelam.


"Mom!"


"Kak."


Disambut oleh Lucas dan Liam dan juga Dion yang tampaknya tengah bermain di ruang keluarga. Tuan dan Nyonya Shane tengah berada di luar.


"Apa kalian tidak bosan bermain itu?"tanya Camelia. Lucas dan Liam bermain balok susun.


"Tidak." Keduanya menjawab hampir serentak.


"Karena ada taruhannya, jadi seru, Mom!"jawab Lucas. Matanya dipenuhi dengan semangat.


"Aku tidak pernah menang dari tadi, Kak," keluh Dion.


"Kalian ini, taruhan apa yang kalian lakukan? Jangan macam-macam!!"peringat Camelia.


"Dompetku akan menangis akhir pekan ini, Kak," aduh Dion lagi.


"Tidak macam-macam kok, Mom. Hanya ditraktir full akhir pekan nanti, bebas mau ke mana saja," jawab Lucas, tersenyum menunjukkan deretan giginya. Anak itu sangat senang sementara Dion tertunduk lemas.


"Permainan itu membutuhkan konsentrasi dan strategi, Mom. Jadi, cocok melatih motorik. Apalagi aku akan menjadi Presdir di masa depan. Harus pandai melihat sesuatu, bukan?"jawab Liam. Sudah Camelia duga. Jawaban Liam akan berbeda.


"Baiklah." Camelia kembali mengangguk.


"Kakak …." Dion merengek. Matanya memelas, berharap Camelia dapat membatalkan taruhan itu atau membantu dirinya.


"Semua atas persetujuan ketiga pihak. Jika kau kalah berarti bukan keberuntunganmu. Dan kau harus berusaha akan tidak kalah di permainan berikutnya, Dion. Ingat, ini permainan strategi!"jawab Camelia.


"Kakak …."


"Uncle cengeng. Kami tidak akan menguras rekening Uncle kok," celetuk Lucas, ia bersedikap kesal.


"Bukan cengeng. Tapi, pelit!"ucap Liam.


"Ugh! Ucapanmu sangat menusuk, Liam!" Dion memegang dadanya. Ekspresinya sedih. Liam mendengus.


"Itu urusan kalian, aku tidak akan ikut campur," ucap Camelia, berlalu menuju kamarnya.


"Huh! Uncle pelit," ucap Lucas.


"Astaga. Kalian kejam sekali!" Dion masih memegang dadanya.


"Pelit! Pelit!!" Lucas malah dengan semangat mengulang kata itu.


"Uncle tidak pelit!"seru Dion. Ia tidak tahan lagi. Dion berdiri, dan mengeluarkan dompetnya.


"Demi kalian, andai isi kartu ini habis Uncle tidak apa-apa!"ucap Dion, menunjukkan kartu debitnya.


Lucas dan Liam saling lirik. Keduanya menyeringai. "Uncle yang mengatakannya, ya?"


Liam menunjukkan layar ponselnya.


Demi kalian, andai isi kartu ini habis Uncle tidak apa-apa.


Dion membulatkan matanya.

__ADS_1


Sial! Aku tertipu.


Tapi, dari mana mereka belajar hal seperti ini?


__ADS_2