
Waktu yang tenang Camelia lewati sebelum akhirnya kembali sibuk dengan pekerjaannya. Waktu libur itu Camelia habiskan untuk quality time bersama dengan Lucas dan Liam. Ya, meskipun kebanyakan mereka tetap berada di dalam kediaman.
"Wow … bukankah ini terlalu cepat?"ucap Camelia takjub. Saat membaca artikel di pagi hari, sebelum ia berangkat syuting.
Bekerja sama dalam drama Split Love, Joseph dan Alice dirumorkan berpacaran.
Begitulah judul artikel itu. Membuat Camelia berdecak. Bahkan syuting drama belum rampung, sudah ada rumor cinta lokasi.
"Tampaknya suasana di lokasi syuting akan bertambah menarik," gumam Camelia. Ia menarik senyum, tak sabar untuk kembali berakting.
"Hm?" Camelia mengerutkan dahinya. Saat melihat ada artikel yang menyinggung dirinya.
Syuting drama Split Love dijeda, Camelia Shane menjadi alasannya.
Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Siangnya tidak ada hal mencurigakan apapun dari Camelia Shane. Tapi, tiba-tiba, malamnya sutradara mengumumkan bahwa syuting dijeda karena Camelia Shane ada urusan mendadak.
Jujur saja, saya agak kecewa dengan tindakan tiba-tiba Camelia Shane. Itu menyebabkan perubahan jadwal besar-besaran. Juga mempengaruhi jadwal aktor dan aktris lainnya!
Camelia tak bisa menahan tawanya membaca pertanyaan yang diberikan oleh Alice dalam artikel tersebut.
"Fufu … jelas ini kritikan langsung terhadapku. Jelas sekali kau tidak suka padaku."
Saya merasa Camelia Shane ada urusan yang sangat penting yang tidak bisa ditunda. Jika Camelia sudah kembali aktif, kita bisa mengetahuinya.
"Wow. Benar-benar cocok." Camelia menggelengkan kepalanya. Itu adalah pernyataan dari Joseph.
Membela namun menjerumuskan. Intinya sama saja, meletakkan penyebab syuting dijeda seluruhnya pada Camelia.
"Seharusnya mereka diam saja! Sialan!"umpat Camelia kesal. Di lokasi syuting, pasti sudah banyak wartawan yang menanti. Secara, berita syuting kembali dimulai hari ini sudah tersebar luas. Membayangkan dikerumuni wartawan dan diajukan banyak pertanyaan saja sudah menyebalkan.
Walaupun banyak pertanyaan yang muncul. Pihak agensi mengeluarkan pernyataan bahwa Camelia Shane mengambil cuti dalam sepengetahuan agensi dan alasannya adalah urusan keluarga.
"Padahal dulu aku bebas berita seperti ini," gumam Camelia. Mengingat saat masih bersama dengan Chris. Berita yang keluar pasti selalu positif dan tak jauh bahasannya dari keharmonisan rumah tangga dan kesuksesan mereka.
"Aku jadi merasa bersalah pada Kak David dan Kak Abi." Kedua orang itu jelas bertambah tugasnya. Terlebih lagi Kak Abi yang harus kembali menyusun jadwal Camelia. Juga David yang harus memberi pernyataan dan menekan berita yang ada.
*
*
*
"Sepertinya kau jadi pembicaraan lagi, Lia," ucap Nyonya Shane, tak kala mereka sedang sarapan.
"Setidaknya bukan rumor pacaran, Mom," sahut Camelia, mengoleskan selai coklat pada roti kemudian memberikannya pada Lucas. Dan selai kacang untuk Liam.
Dipikir-pikir, memang lebih baik daripada rumor menjalin hubungan. Jika rumor pacaran, akan semakin menjadi sensasi panas, yang tentunya akan terus menjadi perhatian. Akan ada banyak pasang mata yang mengawasinya.
Jika diingat kembali, aku merasa sangat beruntung tinggal di tempat dengan penjagaan ketat seperti ini, batin Camelia, menorehkan senyum.
Di vila dulu, untuk masuk ke area vila saja sudah ketat. Belum lagi penjagaan gerbang. Begitu pula di mansion ini. Jika wartawan datang, maka mereka hanya bisa menunggunya di luar gerbang yang letaknya jauh dari kediaman.
Jika ada penyusup, mustahil untuk bisa masuk.
"Aku berangkat," pamit Camelia. Ia sudah selesai sarapan. Bangkit dan mencium pipi Lucas dan Liam.
"Sampai nanti, Mom," ujar Lucas.
"Hati-hati di jalan, Mom," timpal Liam.
"Waspada dengan lawan mainmu," pesan Tuan Shane.
Camelia terkesiap sesaat.
Apa maksudnya Joseph? Atau Alice?
Tapi, siapapun yang dimaksud, Camelia yakin dua orang itu ada di dalamnya.
"Tentu, Dad."
Camelia kemudian melangkah pergi.
"Suamiku, mengapa kau berkata demikian? Apa lawan mainnya ada yang tidak beres?"tanya Nyonya Shane penasaran.
"Kurang lebih seperti itu," jawab Tuan Shane, meminum tehnya.
"Sudah lama tidak ada lawan main yang tidak beres. Tapi, aku rasa Mom sudah tahu hal itu sebelumnya," celetuk Lucas.
"Aku akan menyelidikinya untuk mendapatkan kartu," ucap Liam, nadanya dingin dan anak itu bergegas meninggalkan ruang makan.
"Aku ikut!" Lucas menyusul.
"Sepertinya mereka sangat serius dengan ucapanmu," ujar Nyonya Shane, menatap suaminya yang tampak santai, menikmati tehnya.
__ADS_1
"Tapi, sungguh aku penasaran. Siapa yang kau maksud? Aku tidak akan tinggal diam jika mereka macam-macam dengan putri kita!"ucap Nyonya Shane, berapi-api.
Huh! Beberapa hari yang lalu ia baru saja menundukkan satu keluarga. Jika hanya menyingkirkan aktor, itu hal yang sangat mudah. Ia dan keluarga Shane punya kekuatan lebih untuk itu.
"Aku akan membuatnya hilang tampak jejak!"
"Kau mengerikan belakangan ini, Lily." Tuan Shane memposisikan duduknya menghadap Nyonya Shane. Mengulurkan tangannya, mengecup punggung tangan sang istri.
"Tenanglah. Aku akan mengatasi semuanya," ujar Tuan Shane, tersenyum lembut.
"Entahlah. Mungkin ini refleks seorang ibu," jawab Nyonya Shane, memalingkan wajahnya. Ia tersipu. Ah, tidak. Jantungnya juga berdegup kencang.
Ini sudah puluhan tahun mereka menikah. Namun, keharmonisan di antara mereka terjaga. Cinta mereka juga tidak luntur. Tuan Shane selalu memanjakannya.
"Hahaha … kau mengemaskan, Lily." Tuan Shane tertawa lepas.
"Jangan berbohong. Mana mungkin seperti itu! Keriputku semakin banyak dan terlihat jelas!"ketus Nyonya Shane.
Namun, hatinya berdendang ria. Siapa yang tidak malu dan senang jika menerima pujian dari pasangan?
"Di mataku … kau terlihat seperti saat kita menikah, Lily."
"Aku sangat ingin …."
"Hentikan!" Nyonya Shane meletakkan telapak tangannya, menutup bibir Tuan Shane.
"Pergilah ke kantor. Kau sudah terlambat," ucap Nyonya Shane. Ia bangkit. Hendak melangkah pergi.
"Eh!"
"Aku hanya ingin ini."
Mendaratkan kecupan di bibir Nyonya Shane. "Aku berangkat. Sampai nanti."
"Hmph!" Mendengus kesal. "Padahal semakin tua. Bagaimana bisa bibirnya semakin manis?"
*
*
*
"Ekspresimu sangat buruk, Lia. Apa ada yang mengusikmu?"tanya Kak Abi, dalam perjalanan menuju lokasi syuting.
"Hm … dan aku akan bertemu dengan mereka nanti," jawab malas Camelia.
"Who? Kau ada masalah dengan lawan mainmu? Atau jangan-jangan dengan kru?"selidik Kak Abi. Secara, ia sibuk menemani Lucas dan Liam. Melepaskan Camelia sendirian dengan asistennya, Evelin.
"Mereka yang mengusikku," ralat Camelia. Menyangga dagunya melihat keluar.
"Ah … beraninya mereka!"
Camelia terus melihat keluar jendela selama perjalanan. Hingga, akhirnya mereka tiba di tempat parkir lokasi syuting.
Tak jauh dari prediksi, para wartawan memang sudah menunggu di sana. Begitu mobil Camelia datang dan berhenti, mereka langsung menghampiri. Bersiap untuk melayangkan banyak pertanyaan.
"Ini salah satunya," dengus Camelia.
"Oh, kau sudah baca artikelnya? Jika kau tidak mau menjawab, kita akan langsung masuk."
"Tidak perlu. Aku akan menjawabnya."
"Okay."
Begitu Camelia turun, sorot lampu kamera langsung pecah. Kak Abi langsung berdiri di samping Camelia. Amelia langsung dibanjiri pertanyaan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Anda tiba-tiba mengajukan cuti hingga membuat syuting dijeda?"
"Sebelumnya saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak yang terkena imbas akibat cuti saya yang mendadak. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Benar, satu minggu yang lalu saya mengambil cuti mendadak hingga menyebabkan penundaan syuting. Hal itu saya lakukan karena urusan pribadi yang berkaitan dengan keluarga," jawab Camelia. Ia memberi penekanan pada kata pribadi dan keluarga. Pertanda bahwa Camelia tidak ingin itu diperdalam lagi karena hal itu adalah privasi.
"Saya akan bekerja keras untuk mengefektifkan waktu. Semoga rekan-rekan sekalian dapat memakluminya," ucap Camelia lagi.
"Wawancara cukup sampai di sini. Permisi," ucap Kak Abi, menuntaskan wawancara itu, menarik Camelia meninggalkan kerumunan wartawan dan masuk ke area syuting.
"Selamat datang kembali, Camelia," sapa Sutradara ramah.
"Maaf, Sutradara. Saya menyebabkan Anda dalam masalah. Saya berjanji hal ini tidak akan terulang lagi," ucap Camelia, sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Haha … tidak apa. Keluarga memang lebih penting daripada pekerjaan. Jika saya berada di posisi Anda, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama," jawab Sutradara.
"Terima kasih."
"Ayo, segeralah bersiap. Adegan pertama adalah milikmu," ujar Sutradara. Camelia mengangguk dan segera menuju ruangannya untuk bersiap.
__ADS_1
"Lumayan," komentar Kak Abi setelah menilik lekat ruangan Camelia.
"Evelin akan datang nanti siang," ujar Kak Abi, duduk di sofa tunggal.
Sementara Camelia sedang dalam tahap dirias. "Tolong katakan untuk membeli permen buah," ujar Camelia.
"Tidak biasanya?" Kak Abi bertanya dengan mengetikan pesan kemudian dikirim pada Evelin.
"Aku merasa lidahku sedikit pahit." Kak Abi ber-oh-ria.
*
*
*
"Ini toh yang ditunggu-tunggu? Sangat berani membuat banyak orang menunggunya. CK!" Baru saja keluar dari ruangannya, Camelia sudah disambut dengan kata-kata pedas.
"Oh." Wajahnya berubah malas saat tahu siapa yang mengatakan hal itu.
Kak Abi menunjukkan wajah datarnya. "Bukankah selama libur, Anda menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang? Mengapa merasa paling rugi?"balas Camelia.
Kak Abi mengangkat satu alisnya. Dari kata-kata Camelia, sepertinya sudah memegang kartu.
"Apa maksudmu?"
Camelia mendekat, berbisik pada Alice.
"Aku tidak ingin mengganggumu. Jadi, jangan ganggu aku. Oh iya, selamat untukmu, semoga hubungan kalian bertahan lama dan aku harap bukan sekadar teman tidur," bisik Camelia. Alice melebarkan matanya.
"Apa maksudmu, hah?"
Camelia tidak menjawab. Meninggalkan Alice pergi. "Hei! Jawab aku!"
"Apa dia tahu sesuatu?"
*
*
*
"Wajahnya merah sekali. Apa yang kau bisikkan padanya, Lia?"
"Hanya hal biasa. Reaksinya saja yang berlebihan," jawab Camelia.
"Sepertinya tidak seperti itu." Camelia hanya tersenyum.
Persiapan syuting dengan selesai. Adegan kelanjutan dari syuting satu minggu yang lalu akan segera dimulai.
"And action!!"
Huft!
"Rupanya aku belum melupakannya! Menyebalkan!"gerutu Camelia. Ia sedang dalam mode akting.
"Bagaimana ini? Kau sangat berani terus menggangguku!"
Camelia menyembunyikan wajahnya yang frustasi. Adegan demi adegan terus berlanjut. Hingga akhirnya bagian Camelia sebagai pembukaan selesai.
"Emosi Anda sangat bagus," puji Joseph.
"Terima kasih."
"Hem … selamat datang kembali, Lia. Sepertinya urusan Anda sangat penting."
"Saya jenuh mendengar bahasan itu," sahut Camelia.
"Sejujurnya saya penasaran. Jika Anda butuh teman cerita, saya siap menemani Anda," tawar Joseph.
Kak Abi sedikit memiringkan kepalanya.
Kepercayaan diri dari mana itu?
"Maaf, kita tidak sedekat itu. Permisi."
"Eh?"
"Tuan Joseph, Anda hanya sekadar teman. Tidak lebih. Jangan berharap jadi sosok yang spesial baginya!"bisik Kak Abi.
Huh!
Camelia sudah ada pawangnya!
__ADS_1