Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 125


__ADS_3

"Besok pagi, bawakan aku delima dan plum," ucap Andrean pada Hans saat jam pulang kerja.


"Delima dan plum?" Hans mengulanginya. Andrean mengangguk.


"Baik, Tuan."


*


*


*


Sejak Allen menerima teguran keras dari Kakek Gong dan Para petinggi lainnya, pria itu tidak melakukan tindakan apapun pada Andrean. Entah takut atau apa, yang pasti Allen hanya bisa gigit jari setiap mengingatnya. Ancaman para petinggi bukan hal sepele.


"Minumlah. Kau tampak tertekan selama beberapa hari ini. Apa kau sedang dalam masalah, Allen?"


Nenek Jiang menuangkan dan menyodorkan segelas teh pada Allen. Pria itu tengah berada di ruang tamu kediamannya dengan raut wajah yang muram.


Allen segera meminumnya tandas. "Lagi, Nek?"pinta Allen. Nenek Jiang memenuhinya.


"Apa pekerjanmu begitu berat?"tanya Nenek Jiang lagi.


Allen tersenyum simpul. "Bisa dikatakan begitu, Nek," jawab Allen.


"Astaga. Ya ampun! Pantas saja kau kelihatan semakin kurus. Apa di kantor mau makan tepat waktu? Selain itu, istirahatmu cukup, kan?"tanya Nenek Jiang, cemas dengan cucu tunggalnya itu.


"Nenek tenang saja. Allen baik-baik saja. Sebentar lagi juga akan terbiasa," tutur Allen lembut.


"Astaga! Astaga! Wanita tua ini sudah tidak bisa full memperhatikanmu! Kau harus segera mencari istri, Allen!"


"Ah?"


Ujungnya membahas pasangan?


"Nenek sudah setua ini, kau juga belum menikah. Jika Nenek sudah tidak ada, siapa yang akan memperhatikanmu?!" Nenek Jiang mengomel.


"Nenek?"


Tidak bisakah bahas nanti saja?


"Nenek tidak mau tahu, pokoknya secepatnya kau harus menikah!"putus Nenek Jiang.


"Nenek?!" Allen memberikan protes.


"Apa lagi alasanmu? Kau sudah jadi Presdir Group Gong. Jika tidak menikah dan punya keturunan, bagaimana bisa melanjutkan estafet kepemimpinan?!"lanjut Nenek Jiang. Sama sekali tidak mendengarkan protes Allen.


Allen tertegun. Tampaknya tidak berpikir sampai ke sana.


"Belum tadi tuntutan para tetua," imbuh Nenek Jiang.


Allen memejamkan matanya. Lupa dengan hal tersebut.


Benar!


Lebih baik aku semakin memantapkan posisiku!


Hais! Dasar bodoh, Allen!


Pada akhirnya Allen menyesali tindakannya pada Andrean.


"Ehem. Masalah cucu menantu bukankah Nenek menginginkan Camelia Shane sebagai cucu menantu Nenek?"


Huh!


Nenek Jiang membuang nafas kasar. "Kepala keluarga mengatakan padaku bahwa itu sangat sulit. Kau akan mati lajang jika menunggunya."


Allen sedikit membeku. Keinginan sang Nenek sudah pudar. "Lalu Nenek, mencari seorang istri bukan seperti membeli barang!" Artinya, Allen butuh waktu untuk bisa mendapatkan seorang istri.


"Nenek akan lakukan perjodohan untukmu. Kali ini, tidak ada penolakan apapun!"pukas Nenek Jiang.


"Nenek?!" Allen kembali protes.


Bukankah itu artinya akan menjadi pernikahan bisnis?


*


*


*


CK!


Allen memukul kemudi mobil saat mengingat pembicaraan dengan Nenek Jiang.


Tidak ada bantahan!


Belum lepas dari akibat teguran tetua, ia akan di hadapankan pada perjodohan.


"Sialan!"


Allen kembali mengumpat. Dia tidak bisa lari ataupun sembunyi.


Allen memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah mall. Entah mengapa, ia ingin membeli sesuatu untuk mengurangi stresnya.


Melangkah turun, menatap bangunan mall di depannya. Berkunjung di malam hari, mall ini semakin bersinar.


Melangkah masuk dan masuk ke bagian toko sepatu. Salah satu seorang pegawai menemani Allen. Allen memilih, dan pilihannya jatuh pada sepatu berwarna sepatu berwarna hitam.


Saat membayar, Allen menyodorkan debit cardnya.


"Maaf, Tuan. Debit Anda tidak bisa digunakan," ujar kasir. Allen mengeryit bingung.


"Coba lagi," ujar Allen. Dan kasir itu kembali mencoba.


"Tetap tidak bisa, Tuan," ucap kasir.


"Bagaimana bisa tidak bisa?" Allen heran kemudian mengeluarkan debit juga kredit card lagi dari dompetnya.


"Terima kasih atas kunjungannya, Tuan," ujar kasir setelah pembayaran berhasil menggunakan kredit card Allen.


Allen mengangguk. Setibanya di mobil, Allen gegas mengecek ponselnya. Bagaimana bisa debit card nya tidak bisa digunakan? Padahal, saldonya sangat banyak. Apa yang terjadi?


Saldo Anda 100 yuan


Mata Allen melebar. Apa-apaan itu?


Saldo debitnya tinggal 100 Yuan? Mengecek rekening lainnya. Sama, tinggal seratus Yuan.

__ADS_1


Kemana semua uangnya?


Jantung Allen terasa berhenti berdetak.


Uangnya hilang!!


Uangnya yang milyaran hilang?!


Hah….


Hah….


Dadanya terasa sesak. Jelas! Kehilangan uang yang jumlahnya sangat banyak, siapa yang tidak akan sesak?


Hahahaha!


Allen tertawa terbahak. Tawanya bagai orang kehilangan akal.


Hahahaha!


"Lucu sekali! Lucu sekali!


"Siapa yang berani mencuri uangku?!"


*


*


*


"Ya? Saya Tuan. Ada hal apa?" Lie yang belum terlelap terbangun karena suara ponselnya.


Allen menghubunginya. "Uangku hilang!"teriak Allen.


"Hilang kemana, Tuan?"tanya Lie, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.


"Mana aku tahu!"bentak Allen di seberang sana.


"Hah?!" Lie tersadar begitu dibentak.


"Uangku hilang! Rekeningku kosong!"teriak Allen.


Lie mengernyit. Suara Allen panik juga seperti orang gila.


"Calm down, Tuan. Anda di mana sekarang?"tanya Lie. Jujur, ia bingung. Uang hilang? Rekening kosong? Bagaimana bisa?


"Di mall xxxxx," jawab Allen.


"Saya akan segera ke sana," tukas Lie. Daripada mendengar teriakkan tak jelas, lebih baik mendatangi langsung.


Tak butuh waktu lama, Lie tiba di mall yang Allen katakan. Mendapati Allen duduk lemas dengan bersandar pada body mobil.


Wajahnya muram, pucat, juga kebingungan.


"Tuan," panggil Lie, menepuk pundak Allen.


"Uangku hilang!" Allen langsung mencengkram kerah baju Lie.


"I-iya, Tuan. Saya sudah mendengarnya. Bagaimana bisa uang Tuan hilang?"tanya Lie, Allen mencengkram erat kerah lehernya.


"Uangku sangat banyak. Bagaimana bisa hilang? Kemana uangku?!" Malah melemparkan pertanyaan yang tidak dapat Lie jawab.


"Lapor ke mana? Uangku tinggal 300 Yuan!"seru Allen.


Ia berdiri, goyah.


"Tuan…." Lie semakin bingung.


"Huhuhu. Uangku hilang. Uangku hilang, huhuhu!"


Menangis bak anak kecil. Dengan memukul kap mobil bagian depan.


Jelas, hal itu menarik perhatian orang yang lalu lalang.


Gegas, Lie menarik Allen masuk ke dalam mobil. "Uangku hilang, Lie! Aku akan menghabisi penculiknya!"desis Allen saat sudah berada di dalam mobil.


"Iya-iya, Tuan. Sekarang kita lapor dulu," jawab Lie, melajukan mobil meninggalkan area mall.


Dalam perjalanan menuju kantor polisi terdekat, ponsel Allen berbunyi. Pria itu enggan menjawabnya.


Tatapannya begitu kosong. Uang tabungannya raib entah kemana. Siapa pencurinya?


"Akhhgh!" Allen berteriak frustasi karena ponselnya tak kunjung berhenti berdering.


Dengan kasar, ia menjawab panggilan itu.


"Hallo," jawabnya kasar, tidak dapat mengontrol emosi.


"Bagaimana kabarmu?"tanya seseorang di ujung sana.


"Andrean?!" Allen terhenyak. Ia melihat nama pemanggil.


"Andrean? Hm, sejak kapan kita satu kelas?"sindir Andrean.


"Ah … maksudku Kakak sepupu."


Mengapa Andrean menghubunginya malam-malam begini? Mau apa kakak sepupunya itu?!


"Harimu tampaknya begitu tenang ya, hm?"


"A-apa maksudmu, Kak?"


"Hm … bagaimana rasanya jadi direktur miskin?"tanya Andrean.


"Hah?"


"Tampaknya kau mengantuk. Ya sudah."


Panggilan diakhiri. Allen menatap rumit layar ponselnya.


"Bagaimana rasanya menjadi direktur miskin?" Mengulang kembali kalimat itu.


Mata Allen melebar seketika setelah mendengarnya.


"ANDREAN GONG!"


Cittt!

__ADS_1


Lie yang kaget langsung menginjak rem mendadak.


"DASAR BRENGS*EK KAU ANDRAN GONG!"maki Allen.


"DASAR PENCURI! SIALAN KAU PENCURI!"


HAH….


HAH….


HAH….


Lie menyentuh dahinya. Memang ia tidak percaya bahwa Andrean akan diam saja. Tapi, tidak menduga balasan Andrean akan sebesar ini.


Tuan, Anda bermain dengan orang yang salah, batin Lie, kembali menyesali tindakan Allen.


*


*


*


Keesokan paginya, tidak, pagi-pagi sekali, Hans sudah datang ke istana dengan membawa delima dan plum yang Andrean inginkan.


Saat menemui Andrean, Tuannya itu sudah berpakaian rapi. "Tuan, Anda hendak kemana?"tanya Hans, mengingat ini hari libur.


"Seoul," jawab Andrean seraya merapikan dasinya.


"Menemui Nona Camelia?"terka Hans yang diangguki oleh Andrean.


"Hari ini dia kembali ke Kanada, aku harus menemuinya," sahut Andrean, berbalik dan menatap Hans.


"Jika ada tamu tidak diundang datang, usir saja," lanjut Andrean kemudian.


Hans mengangguk.


"Ayah?" Dari balik pintu, Crystal mengintip dan memanggil ragu.


"Sudah siap?"


Crystal mengangguk.


"Ayo berangkat."


"Selamat jalan, Tuan."


Andrean dan Crystal kemudian meninggalkan istana, dengan membawa delima dan plum yang Hans bawa tadi.


Tamu tidak diundang? Siapa kiranya?


Hans membatin.


*


*


*


"Tuan Hans." Penjaga gerbang datang pada Hans, sekitar dua jam setelah Andrean pergi.


"Ada apa?" Hans yang tengah membaca majalah di ruang tengah, mendongak.


"Tuan Allen," jawabnya.


"Allen?" Hans menggumam.


"Istana tidak menerima tamu!"tegas Andrean, mengingat pesan Andrean.


"Saya sudah mengatakan bahwa Tuan tidak ada di istana. Tapi, beliau ngotot ingin bertemu dengan Tuan Andrean."


"CK!"


"Apa dia tidak punya telinga?"kesal Hans.


Apakah ini maksud Tuan? Tamu tidak diundang?


"Baiklah." Hans bangkit, berniat untuk menemui Allen di luar gerbang istana.


"Kakak sepupu! Aku ingin bertemu denganmu! Buka gerbang ini!" Terdengar teriakan Allen di luar gerbang.


"ANDREAN GONG! KELUAR KAU! APA MAKSUDMU HAH?!" Tak berselang lama, terdengar teriakan yang lebih besar lagi dan tanpa sapaan lagi.


"Mengapa Anda ribut di sini, Tuan Allen?!"sahut Hans dingin.


"Hans!"


"Mana Tuanmu! Suruh dia datang menemuiku!"ucap Allen, kedua tangannya mencengkram erat jeruji gerbang.


"Tuan tidak ada di istana."


"Ke mana dia? Aku akan menunggunya!"


"Percuma menunggu! Dia tidak akan menemuimu!"


Allen menunduk. Menghembuskan nafas kasar.


"Pergilah. Jangan buat keributan di sini!"tegas Hans.


"Kau! Kau pasti tahu kan!" Allen menuding Hans.


"Katakan! Mengapa dia mengambil saldoku?! Katakan padaku!" Tangan Allen menjangkau kerah baju Hans.


"Katakan! Mengapa dia mencuri uangku?!"teriak Allen di depan Hans.


Ahah


Rupanya ini alasan dia datang…


Hans menarik senyum miring. "Alasannya? Bukankah Anda sendiri tahu?"balas Hans santai.


"Tindakan Anda beberapa hari yang lalu mengakibatkan kerugian besar untuk Starlight Entertainment. Uang yang Tuan ambil, anggap saja membayar kerugian tersebut!"tegas Hans, menjawab semua pertanyaan Allen.


Allen membelalakkan matanya.


"Untuk ganti rugi?" Kemudian tawanya pecah.


Allen melepas cengkramannya pada Hans. Hans memperbaiki kerah bajunya.

__ADS_1


"Lain kali, berpikirlah sebelum bertindak!"ucap Hans, kemudian melangkah meninggalkan Allen yang masih tertawa.


Berpikir bahwa dirinya menang. Nyatanya, dirinya begitu jatuh ketika diserang balik. Ckckck, malang sekali dirimu, kekhawatiran membuatmu jadi bodoh!


__ADS_2