Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Episode 78


__ADS_3

Hai semua....


Di sini Author menyapa.


Maaf yaa, sudah hampir satu bulan Author tidak update novel Kesayangan Presdir ini.


Bukannya Author tidak mau lanjut atau bagaimana, tapi selama tidak update, Author memang tidak ada waktu untuk up. Kesibukan real memang menyita banyak waktu Author. Tapi, mulai hari ini dan seterusnya, author akan update rutin.


Nah, untuk alur ceritanya yang dianggap lambat, bertele-tele, dan juga tidak sesuai dengan judul, Author paham, Readers mau yang cepat, sat set gitu bahasanya sekarang. Namun, untuk cerita ini memang begini alurnya. Tahap pertama adalah tahap pembalasan dendam. Dan dendam itu tidak bisa langsung sekaligus.


Untuk kesayangan Presdir, yang kesayangan itu jelas adalah tokoh utama wanita dan kedua anaknya. Rasa sayang Andrean telah terlihat sejak pertama kali melihat Lucas dan Liam. Ada getaran aneh, rasa yang tak biasa. Dan sejak bertemu dengan Camelia, ada rasa tertarik dan ingin memiliki. Setelah balas dendam selesai, maka akan dimulai bagian Andrean mengejar Camelia.


Jadi, Author harap Readers sabar dan tetap mengikuti kisah ini.


Sekian sedikit dari Author, terima kasih semuanya


🥰🥰


*


*


*


Kini, di sinilah Camelia berada. Di depan kediaman Liang. Ia turun dari mobilnya, mendekati gerbang dan penjaga gerbang. "Excuse me."


"Ada yang bisa dibantu, Nona?"tanya penjaga itu sopan. 


"Aku Camelia. Ingin bertemu dengan Nyonya Liang," jawab Camelia, memperkenalkan dirinya dan menyampaikan tujuannya. 


"Baik. Tunggu sebentar, Nona," balas penjaga itu. Agaknya meminta persetujuan Nyonya Liang lebih dulu. 


Tak menunggu lama, gerbang itu terbuka. Camelia kembali ke mobil dan menjalankan mobilnya masuk ke dalam gerbang. Di teras, Nyonya Liang menunggunya. "Lia, kau datang," sapanya dengan senang, memeluk Camelia. 


"Iya, Ibu. Aku datang," jawab Camelia. 


"Ayo masuk. Kebetulan ibu baru buat kue," ajak Nyonya Liang dengan menggenggam tangan Camelia. Camelia tersenyum dan mengangguk. 


"Duduklah. Ibu akan mengambilkan kuenya." Nyonya Liang begitu antusias. Camelia duduk di sofa ruang tamu. Tak lama setelah Nyonya Liang ke dapur, Rose pulang entah dari mana. 


Matanya langsung melotot melihat Camelia yang duduk manis di sofa, melemparkan senyum padanya. "Kau! Untuk apa kau di sini?!"


"Menemuimu," jawab Camelia santai, seraya meniup kukunya. 

__ADS_1


Wajah Rose seketika menjadi tegang mendengar nada bicara Camelia yang santai. Apalagi kala Camelia menatap dirinya, tajam. Rose menjadi cemas dan panik. 


"Mengapa begitu panik? Aku hanya bercanda," ujar Camelia, dengan terkekeh. 


"M-mau apa kau? Cepat pergi dari sini!!"ucap Rose, dengan mengeram, menyembunyikan rasa takutnya. Kakaknya ini semakin berani. 


"Tenanglah, Rose. Aku hanya berkunjung untuk ibu. Kau tahu, aku sangat merindukannya," jawab Camelia. Namun, Rose tidak percaya dengan itu. 


"Camelia ayo makan kue buatan ibu." Nyonya Liang akhirnya kembali dari dapur dengan membawa piring berisi kue buatannya. Juga ada teh. 


"Iya, Ibu," jawab Camelia, dengan melempar senyum pada Rose. 


"Rose? Kau sudah pulang?" Nyonya Liang sedikit terhenyak. Tidak! Lebih tepatnya ia merasa cemas. Rose dan Camelia ini dirumorkan berseteru, bukan?


"I-iya, Ibu," jawab Rose, gagap. 


"Ah…." Nyonya Liang malah canggung sekarang. Namun, bagi Rose ini adalah kesempatan. 


"Aku mau ke kamar, Ibu," ucap Rose, kemudian berlalu. 


"Ya," jawab Nyonya Liang. Cukup lega karena Rose tidak mencari masalah. 


Tapi …. "Nak Lia, tadi kalian tidak bertengkar, kan?"tanya Nyonya Liang, dengan ragu. Camelia tersenyum. 


"Tidak, Ibu. Kami hanya saling menyapa," jawab Camelia, memalingkan wajahnya pada kue yang dibawa oleh Nyonya Liang. Melihat senyum Camelia, Nyonya Liang merasa lebih lega lagi. 


Bukankah sejak dulu kelakuannya memang begitu?gumam Camelia dalam hati. Bukannya berubah malah semakin menjadi. Camelia mencibir dalam hati. 


"Mungkin dia masih butuh waktu untuk menerima semuanya, Ibu," jawab Camelia sekenanya. 


"Mungkin." Nyonya Liang menghela nafas kasar. 


"Ah … ya sudah, ayo dimakan kuenya," ujar Nyonya Liang. Camelia mengangguk.


"Enak," ucap Camelia setelah menikmati kue yang disajikan Nyonya Liang. 


Enak, kue buatan itu tidak pernah berubah, batin Camelia.


"Ah benar …." Camelia menepuk dahinya pelan. 


"Ada apa, Lia?"tanya Nyonya Liang, tampak cemas. 


"Bagaimana keadaan Paman, Ibu? Maksudku suami ibu," tanya Camelia. Teringat akan Tuan Liang yang beberapa hari yang lalu masuk rumah sakit. Dan sejak kejadian di rumah sakit di hari yang sama pula, Camelia tidak lagi mengunjungi Tuan Liang. Sekali berkunjung ke kediaman Liang. Untunglah bertemu dengan Nyonya Liang. 

__ADS_1


Nyonya Liang menghela nafasnya. "Ayahmu sudah membaik. Hari ini ibu pulang karena ayahmu minta dibuatkan kue. Sekalian ibu mengecek restoran," jelas Nyonya Liang. 


"Begitu rupanya." Camelia tersenyum lega. 


Ting. 


Ada notifikasi di ponsel Camelia. Camelia mengecek ponselnya. Ada pesan masuk. Nomornya tidak dikenal. 


(Aku akan membantumu)


Camelia mengernyit membaca pesan tersebut. 


(?)


Camelia membalasnya dengan tanda tanya. Apa maksudnya? 


"Kamu kenapa, Lia?"tanya Nyonya Liang yang melihat Camelia tampak bingung. 


"Eh tidak ada, Ibu," jawab Camelia. "Ada sedikit urusan, Bu," tambahnya. 


(Aku Andrean. Aku akan membantumu)


Uhuk!


"Astaga! Minum, Lia!"ucap Nyonya Liang cemas saat Camelia tersedak. Dengan sedikit terbatuk, Camelia menerima minum dari Nyonya Liang. 


Apa-apaan dia?!tanya Camelia dalam hati. 


(Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri!)


Camelia menolaknya. Tidak! Ia tidak mau mengandalkan orang lain. Dan ini urusannya bukan urusan Andrean. 


"Ibu, Lia masih ada urusan. Lia pamit dulu, ya," pamit Camelia. Ia tidak mungkin menunjukkan kekesalannya di depan Nyonya Liang. 


"Ah, baiklah." Ada setitik raut sedih di wajahnya. Namun, apa daya wanita itu tidak bisa menahan langkah Camelia untuk pergi. Lagipula ia harus segera ke rumah sakit. 


"Ahh … tunggu Camelia," tahan nyonya liang saat Camelia hendak melangkah pergi. "Iya, Ibu?"Camelia menoleh pada nyonya Liang.


"Ini, bawalah untuk Dion dan kedua putramu," ujar Nyonya Liang, menyodorkan sebuah paper bag pada Camelia. Rupanya itu sudah disediakan sejak awal. Oleh karenanya, Nyonya Liang cukup lama berada di dapur tadi. 


"Terima kasih, Ibu," ujar Camelia, tersenyum dan menerima dengan senang hati. Meskipun dalam hatinya gusar. Camelia memang tidak memberitahu pada ibunya itu bahwa yang lain sudah kembali ke Kanada. 


"Kalau sempat, sebelum kau pulang ke Kanada, nanti mampir ke rumah sakit, jenguk ayahmu," tambah Nyonya Liang. Camelia terhenyak beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. 

__ADS_1


Ah … mengingat sebentar lagi ia akan kembali ke Kanada, Camelia menjadi sangat sedih. 


Maaf, Ibu, ucap Camelia dalam hati. 


__ADS_2