
"MOM!!" Camelia yang tengah berbincang dengan dua dokter Liam terkejut dengan teriakan Lucas itu.
Wajah Lucas panik. Dengan tangan menunjuk ke arah kamar Liam. "Ada apa?" Camelia menghampiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan Lucas.
"LIAM! LIAM, MOM! DIA MUNTAH DAN PINGSAN!"
"SAKIT, MOM! SAKIT!" Lucas mengaduh dengan memukul dadanya.
"Cepat!" Camelia langsung berlari menuju kamar Liam diikuti oleh dokter.
Benar, Liam pingsan di lantai dan ada noda muntahan. Dokter segera mengambil tindakan. Camelia menggigit jarinya. Mimik wajahnya sangat khawatir pada Liam.
"Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba muntah dan pingsan? Bukankah kondisinya stabil? Liam, apa yang terjadi padamu, Nak? Bertahan, Liam. Mom mohon. Tuhan, tolong, tolong sembuhkan putraku."
Ini sudah satu bulan sejak pembicaraan Camelia dengan Kak Abi itu. Kondisi Liam yang dianggap sudah sembuh, membuatnya dua minggu belakang sudah bisa keluar kamar meskipun belum bebas sepenuhnya. Ia bisa berinteraksi tanpa halangan meskipun hanya dalam waktu singkat.
Tapi, tiba-tiba muntah dan pingsan?
Lucas wajahnya benar-benar pucat sembari memukul-mukul dadanya.
"Jangan lakukan itu, Lucas!" Camelia menghentikan Lucas, memeluk putra sulungnya itu.
"Ayah, hubungi Ayah, Mom!"ucap Lucas.
Camelia mengangguk.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Tekan 1 untuk meninggalkan pesan.
Kembali mencoba.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Tekan 1 untuk meninggalkan pesan.
"Ayahmu pasti sedang meeting."
"Mari, fokus pada Liam saja," ajak Camelia.
Saat ini, Andrean tidak berada di rumah ataupun perusahaan. Andrean tengah berada di USA dalam rangka pertemuan dengan salah satu perusahaan mitra.
Dan Crystal, anak itu sudah tidur sebab kelelahan. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 08.00 malam.
"Jangan cemas. Liam baik-baik saja." Mencium pipi Lucas. Air mata Lucas sudah mengalir deras.
Padahal sudah lega tapi seakan mereka dijatuhkan dari ketinggian. Camelia mempersiapkan hatinya.
"Bagaimana?"
"Tuan Muda Liam … septicaemia-nya … bertambah parah," jawab dokter dengan menundukkan kepalanya.
Camelia membulatkan matanya. "Apa katamu?!"
"Bukankah kata kalian selama ini kondisinya stabil? Mengapa bisa bertambah parah?"berang Camelia.
Itu menghancurkan hatinya. Bagaimana bisa? Dokter terbaik sudah ditugaskan untuk merawat Liam. Mengapa? Mengapa tidak bisa mendeteksi bahwa penyakit itu semakin parah?
"Kalian berdua mengatakan kondisi stabil dan stabil bahwa kalian memvonisnya hampir sembuh! Apa-apaan kalian ini, hah?!"
"Nyonya … itu … di luar kendali kami! Kami akan berusaha semaksimal mungkin! Tolong, percaya pada kami, Nyonya!"q Kedua dokter itu membungkuk pada Camelia.
__ADS_1
Camelia tidak menggubrisnya. Lebih memilih melihat Liam yang terbaik dalam kondisi tak sadarkan diri. Wajahnya pucat.
"Apakah tali pusat saudara kandungnya bisa mengobati penyakit ini?"tanya Camelia. Kembali menanyakan pertanyaan yang sempat dibahas. Namun, mereka lebih kepada pengobatan medis dengan antibiotik dan sejenisnya.
"Meskipun belum bisa dibuktikan dengan medis, cara itu patut dicoba, Nyonya!"jawab Dokter setelah diam sejenak, menimang kata-kata untuk menjawab pertanyaan itu.
"Lakukan yang terbaik. Kalian adalah yang lolos seleksi itu! Jangan kecewakan aku lagi!"titah Camelia, ia kemudian melangkah keluar diikuti oleh Lucas yang masih menangis.
"Semakin sakit, Mom. Lebih sakit dari yang pertama," aduh Lucas.
"Bersabarlah!"jawab Camelia. Karena jujur, ia tidak tahu harus bagaimana.
Camelia menuju kamarnya. Lucas ikut. Malam ini akan tidur bersama dengan Camelia.
Camelia kembali menghubungi Andrean. Masih tidak aktif. Pada akhirnya memutuskan untuk mengetikkan pesan.
Sampai kapan?! Sampai kapan anakku harus menahan rasa sakit itu? Dan kapan? Kapan harapan itu datang? Mengapa lama sekali? Seharusnya sudah bukan? Tuhan, tolong dengarkan permintaan ibu yang malang ini. Tolong, sembuhkan putraku….
Camelia mengharap dengan mengusap perutnya. Ya, sampai detik ini ia belum juga hamil. Entah mengapa lama sekali. Padahal sebelumnya satu malam saja langsung jadi dua.
*
*
*
Musim dingin hampir tiba di Beijing. Musim gugur yang hangat akan segera berakhir. Meninggalkan pohon-pohon yang telah kehilangan daunnya. Musim dingin yang akan segera tiba menandakan bahwa Natal dan juga tahun baru akan segera datang. Biasanya, itu disambut dengan suka cita. Bahkan, ada beberapa perayaan yang ditujukan untuk menyambut natal dan tahun baru. Namun, sepertinya tahun ini, Camelia tidak akan terlalu bersemangat untuk hal itu.
Kondisi Liam yang semakin memburuk seakan membuat Camelia kehilangan semangat. Terlebih lagi kondisi yang semakin memburuk itu diketahui setelah ada vonis hampir sembuh. Bukankah itu seperti menerbangkannya tinggi kemudian menjatuhkan dirinya dengan keras?
Pagi telah tiba. Camelia mendapati Lucas masih tertidur lelap, memeluk erat dirinya. Meskipun lelap, Camelia dapat melihat jelas kernyitan dahi Lucas, seakan menahan sakit di dalamnya. Pagi itu, Camelia awali dengan helaan nafas berat.
Sedikit kelegaan karena Andrean sudah membalas pesan-pesannya darinya. Camelia bergegas untuk mengecek kondisi Liam.
"Mom …." Langkah Camelia terhenti karena panggilan serak itu.
"Liam …."
"Jangan menangis. Liam akan sembuh!"ucap Camelia. Ya, anaknya akan sembuh! Camelia tidak boleh kehilangan harapan!
Melihat kepercayaan Camelia kembali, Lucas menganggukkan kepalanya. Ia segera bangun dari ranjang dan bergegas mencuci wajah.
"Ayo, Mom!"
Keduanya menuju ke kamar Liam. Di mana di sana kedua dokter stand by memantau kondisi Liam. Alat bantu di tubuh Liam bertambah. Camelia mengernyitkan dahinya. Apakah kondisi Liam semakin memburuk?
"Nyonya, tadi Tuan Muda Liam sempat sadarkan diri. Namun, tiba-tiba kejang dan kembali tidak sadarkan diri," ungkap Dokter memberitahu, dengan keringat dingin, tidak berani menatap mata Camelia.
Deg!
Apalagi ini?
"Mom?" Lucas semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Camelia. Camelia merasa kepalanya berkunang-kunang.
"Mengapa?" Bertanya dengan nada rendah. "Mengapa tidak ada yang memberitahuku tadi?!" Dengan nada yang sama. Dan itu terasa lebih mencekam.
"Kami …." Alasannya sederhana, karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat Camelia. Akan tetapi … tetap saja, Camelia tidak akan menerima hal ini.
__ADS_1
"Ini bukan yang pertama kali! Aku sudah cukup sabar dengan kalian! Jika memang tidak mampu, silahkan angkat kaki dari rumahku!" Amarah yang terucapkan dengan nada rendah. Kedua dokter itu membelalakkan matanya.
"Nyonya, Anda …."
"KELUAR!!" Camelia berteriak. Lucas terkejut. Bukan hanya Lucas, bahkan para pelayan yang tidak sengaja mendengar ikut terkejut.
"Setiap saat kalian berkata akan melakukan yang terbaik! Inikah hal yang terbaik? Penderitaan putraku tidak kunjung selesai?! Ini maksudnya, hah?!" Tatapan Camelia benar-benar dipenuhi dengan emosi.
"Nyonya, kami benar-benar melakukan yang terbaik. Namun, kami bukanlah Tuhan yang bisa menentukan kesembuhan seseorang. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Takdir, kami tidak bisa melawannya, Nyonya." Salah seorang Dokter meminta pengertian Camelia. Ya, itu benar. Tapi, bagi seorang ibu, kata-kata itu, seakan tidak berefek. Kesedihan telah menggerogoti hati Camelia. Harapan yang semula kembali meninggi kini kembali dipatahkan.
"Nyonya, Tuan Muda Liam anak yang kuat. Kami yakin beliau bisa melewatinya. Saya, Adam Carlton, mohon maaf jika tidak bisa memenuhi harapan Anda untuk bisa menyembuhkan Tuan Muda Liam. Saya pamit, Nyonya." Dokter yang bernama Adam itu membungkukkan tubuhnya sebelum meninggalkan tempat.
"Dokter Adam," panggil Dokter yang satunya lagi.
"Dokter Leo, senang bisa bekerja sama dengan Anda," balas Dokter Adam, tersenyum simpul.
Camelia tidak peduli itu. Ia memilih untuk duduk dan menatap sendu Liam.
Lucas melihat raut kecewa kedua dokter sebelum akhirnya keluar dari kamar Liam. Biar bagaimanapun mereka sudah bekerja keras.
"Tidak, ini bukan keputusan Mom. Ini keputusan karena putus asa! Tidak!" Lucas mengejar.
"Paman Dokter, Wait!"tahan Lucas.
"Ya, Tuan Muda Lucas?"
"Tolong jangan pergi. Mom, Mom sedang kalut. Aku yakin, Mom tidak sungguh-sungguh dengan kata-katanya. Tolong, tinggallah dan rawat adikku, Liam," harap Lucas.
Kedua dokter saling pandang dan kemudian menggeleng. "Nyonya Camelia benar, Tuan Muda Liam. Kami tidak memiliki kemampuan untuk menyembuhkan adik Anda. Pasti akan ada dokter yang lebih baik daripada kami. Kami tidak bisa lagi merawatnya, hanya bisa mendoakan kesembuhannya," jawab dokter Adam, mensejajarkan tubuhnya dengan Lucas. Mengusap rambut Lucas dengan tatapan meyakinkan.
Lucas menggeleng. "Tidak! Anda berdua sangat mampu. Hanya saja, penyakit itu … terlalu ganas." Berbisik di akhir. "Mom mungkin merasakan sakitnya. Tapi, aku, aku jelas lebih merasakannya. Tolong, tinggallah, demi Liam dan juga aku," pinta Lucas lagi. Matanya berkaca-kaca. Dalam hati berharap Andrean cepat kembali untuk meredakan amarah dan juga kekalutan Camelia.
Hah
Di hadapan pada kata-kata Lucas, kedua Dokter itu bimbang.
"Tidak, Tuan Muda Lucas. Nyonya sudah meminta kami keluar. Kami hanya bisa keluar," jawab dokter Adam, dengan hati yang berat. Namun, mereka sudah dipecat atau diusir.
"Siapa yang akan keluar?" Tiba-tiba suara bariton menyapa pendengaran ketiganya.
"AYAH!"
"Tuan."
Andrean telah kembali. Menatap ketiga orang itu dengan serius. "Aku tidak mendengarnya secara keseluruhan. Siapa yang akan keluar dan apa alasannya? Apakah kalian berdua?"selidik Andrean.
"Ayah! Liam tiba-tiba kejang dan pingsan lagi. Mom sangat kalut hingga menyuruh kedua paman dokter untuk keluar dari sini," jelas Lucas, menarik tangan Andrean meminta untuk menunduk.
Andrean mencerna penjelasan Lucas. "Liam …."
Lucas mengangguk. "Kalian berdua tinggallah dulu. Istriku tengah kalut. Ucapannya jangan dianggap serius. Aku yang mempekerjakan kalian, maka hanya aku yang bisa menentukan keputusan kalian keluar atau tidak!"tegas Andrean pada dokter Adam dan dokter Leo, kemudian melangkah menuju kamar Liam.
"Paman dokter, dengarkan? Tolong tinggallah!" Setelah itu, Lucas menyusul Andrean.
Kedua dokter menghela nafas. "Tuan ada benarnya juga."
*
__ADS_1
*
*