
Di belahan benua lainnya, benua Amerika tepatnya di Ottawa, Kanada, waktu menunjukkan pukul 00.00.
Suasana di mansion keluarga Shane tampak sepi karena memang waktunya istirahat. Hanya terlihat beberapa penjaga yang bergiliran menjaga seluruh area luar mansion.
Semakin jauh benua atau negara, maka semakin jauh pula perbedaan waktunya. Kanada dan China memiliki perbedaan waktu sekitar 12 jam yang mana China lebih cepat 12 jam dibandingkan Kanada.
Lampu bagian dalam mansion tampak mati, hanya bagian luar saja yang menyala terang.
Di kamarnya, kamar yang biasa Camelia dan Chris tempati, sang pemilik kamar sekarang tengah duduk memandang keluar jendela.
Langit tampak cerah, dengan taburan bintang. Camelia tampak begitu cantik. Terlebih saat cahaya membias wajahnya. Rambutnya berkibar diterpa angin malam.
Sorot matanya tampak sayu. Dan saat menghela nafas, helaiannya tampak berat.
"Padahal selama di sana, aku sudah mulai melupakanmu. Namun, saat kembali ke sini, semua tentang dirimu kembali teringat, Chris. Bahkan, dari awal mula pertemuan kita." Camelia bergumam. Rupanya ia tengah bernostalgia saat-saat bersama dengan Chris.
Awal pertemuan yang sebenarnya cukup manis. Pelayan cafe dan pengunjung cafe yang menghabiskan waktu dari sore sampai dengan cafe yang hendak tutup. Duduk di sudut cafe dengan topi dan kepala tertunduk. Tangan memegang buku dan selalu memesan latte. Baru pergi saat pelayan mendatanginya dan mengatakan bahwa cafe akan tutup. Namun, bukannya tidak mengulanginya lagi, Chris malah sering datang dan pulang menjelang cafe tutup. Camelia mengulas senyum mengingat kenangan itu.
Ini sudah sekitar kurang lebih tiga bulan setelah kepergian Chris. Pria yang membuatnya kembali mengenal cinta setelah dipatahkan. Namun, siapa sangka? Kisah cintanya tak semulus harapan.
Hah … sudahlah. Itu semua sudah masa lalunya. Hanya bisa dikenang tanpa dapat diulang kembali.
"Hei, Chris. Aku tidak tahu kau ada dimana sekarang. Namun, yang pasti besok orang-orang yang mengadakan peringatan 100 hari kepergianmu."
Camelia kembali bergumam. Berbisik pada malam. Besok adalah hari ke 100 kepergian Chris. Dan penggemarnya pasti melakukan suatu acara peringatan. Tak terasa, rupanya ia sudah dua bulan di China. Dan dalam dua bulan itu sudah banyak yang terjadi.
Camelia kemudian mendongak.
"Jujur aku sedikit penasaran. Apakah di sana kau melihat semua hal terjadi setelah kepergianmu atau kau benar-benar melepaskan diri dari hingar bingar dunia ini dan hidup damai dengannya?"
Lagi, Camelia masih memikirkan Chris.
Hah …
Apa yang aku lakukan? Begadang dan bernostalgia?
"Ini sudah tiga bulan dan tidak pernah ada kabar tentangmu. Jelas kau sudah mengasingkan diri entah di mana. Jauh dari jangkauan dunia yang super modern ini. Untuk apa lagi aku memikirkanmu? Bukankah harusnya aku memikirkan dirinya sendiri, dan juga anak-anak?"keluh Camelia pada dirinya sendiri. Ia memukul pelan kepalanya.
"Tapi … ah memikirkan tentangku malah bertambah pusing!"erang Camelia, frustasi.
"Malah aku sudah memberi lampu hijau lagi! Menurut karakternya, ia pasti akan menjawab tantanganku. Ahh … apa benar ini semua tidak bisa dihindari?!"
Mengingat percakapan terakhir dengan Andrean di bandara. Mata Camelia memejam. Mengingat kembali kejadian itu.
Adegan berputar dan Andrean menciumnya terngiang. Cepat, Camelia membuka matanya. Wajahnya tampak memerah.
"Apa ini? Jantungku berdebar saat mengingatnya?"
Ting!
__ADS_1
Camelia tersadar saat mendengar denting notifikasi di ponselnya. Segera ia meraih ponselnya.
Lia, aku sudah mendatangi panti asuhan yang kau katakan. Namun, tidak ada tambahan informasi yang aku dapatkan. Selain karena sudah lama sekali, juga panti asuhan itu sudah mengalami renovasi dan saat renovasi ada insiden yang menghancurkan banyak dokumen penting.
Itu sebuah pesan. Pengirimnya adalah Lina. Camelia menghela nafas pelan. Seperti yang ia pikirkan, mungkin hasilnya akan mengecewakan. Namun, setidaknya ia sudah berusaha.
Ya sudah kalau begitu, Kak. Tidak apa. Oh iya, kakak secepatnya menyusulku.
Maafkan aku, Lia. Aku tidak bisa membantumu.
Kak Lina membalas cepat disertai dengan emoji sedih. Camelia mendengus senyum. Wanita itu sudah banyak membantunya.
Iya, aku maafkan, segera lah ke Kanada, aku butuh manajer baru untuk mengurusku.
Ya, memang itu rencananya. Kak Abi akan jadi manager Lucas dan Liam. Sementara Lina, akan menjadi managernya. Lina memang tidak berangkat bersama dengan Camelia dan Dion, karena Camelia meminta wanita itu mengecek panti asuhan yang Nyonya Liang katakan.
Visaku keluar besok pagi. Setelah itu aku akan berangkat ke
Kanada.
Kalau begitu hati-hati. Kabari aku jika sudah mau berangkat.
Lina membalas pesan tersebut dengan stiker.
Selesai berbalas pesan, Camelia tidak meletakkan ponselnya, melainkan menimang ponsel tersebut. Dahinya mengernyit, "sepertinya ada yang aku lupakan."
Ting!
Apa kau sudah sampai?
"Astaga! Rupanya ini yang aku lupakan!"
Lupa mengabari Andrean. Camelia menimang.
Kemudian jarinya bergerak menyentuh icon telepon di sudut atas layar. Andrean, calling.
"Hello … Camelia apa kau sudah sampai?" Suara Andrean yang khas ditambah dengan nada gelisah menyapa pendengaran Camelia. Akan tetapi, bukannya lekas menjawab, Camelia malah tertegun.
"Camelia? Apa kau di sana? Kau baik-baik saja, kan?" Nada penuh cemas karena tak kunjung dijawab.
"Camelia?!" Kembali memanggil.
"Ahh …." Empunya nama terkejut sendiri.
"Iya. Aku di sini," jawab Camelia kik-kuk.
"Hah … syukurlah. Aku lega mendengar suaranya." Ucapan yang sama dengan nada bicaranya, lega.
"Hehe." Tertawa canggung. Kemudian memejamkan matanya.
__ADS_1
Apa yang aku lakukan?! Mau bicara apa aku padanya?! Meruntuk dalam hati.
"Apa kau terkena jetlag?"tanya Andrean, mengingat penerbangan yang jauh, hampir 13 jam.
"T-tidak."
"Lalu mengapa kau tidak memberiku kabar? Apa kau lupa? Padahal kau berjanji untuk memberi kabar setelah mendarat."
"I-itu … ya awalnya aku mau menghubungimu. Namun, kau tahu bukan, perbedaan waktu Kanada dan China? Waktu aku tiba, di sana pukul sekitar pukul 02.00. Aku takut mengganggumu, jadi memutuskan menghubungimu pagi hari. Sayangnya, aku kelupaan," jelas Camelia.
"Setidaknya pesan?" Agaknya pria di benua sana menuntut.
Mendengar itu, rasa bersalah Camelia berangsur menghilang berubah menjadi kesal.
"Hei, Tuan Gong!" Dengan nada kesal dan menyentak.
"Anda kira saya tidak lelah perjalanan jauh? Turun dari pesawat juga dijemput oleh anak-anakku. Mana sempat lagi aku memikirkan ataupun mengingat untuk menghubungimu? Kau kira urusanku di sini cuma kau saja, hah?!"
"A-apa?" Tampaknya Andrean terkejut dengan perubahan gaya bicara Camelia, seperti biasanya.
"Kau seakan menuntutku untuk memberimu kabar. Aku sudah menjelaskannya pun kau menuntut! Padahal kau bukan …." Ucapan Camelia terhenti.
"Bukan apa?" Andrean malah menanti.
"Ahh … lupakan saja! Intinya aku sudah menepati janjiku!"tegas Camelia. Meskipun terlambat.
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku tutup. Di sini sudah tengah malam. Aku butuh istirahat!"lanjut Camelia ketus.
"Ahh … baiklah. Kalau begitu selamat malam dan semoga mimpi indah. Satu, lagi … aku merindukanmu," jawab Andrean, dengan lembut.
Kata merindukan itu menyeruak masuk.
Rindu? Apa tadi aku merindukannya?
"Hei, katanya mau tidur? Mengapa belum dimatikan? Atau mau aku temani dari sini?"tanya Andrean, membuat Camelia tersadar.
"Tidak perlu!" Langsung memutuskan panggilan.
"Pria ini … harus aku akui dia memang sangat percaya diri," gerutu Camelia.
Namun, setelah berbicara dengan Andrean, perasaan gusar yang sempat melanda hatinya mendadak menghilang. Rasanya benar-benar ringan. Dan pikirannya yang kalut mulai menjernih.
Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Camelia memutuskan untuk beranjak, menutup rapat jendela dan duduk di tepi ranjang. Meletakkan ponselnya dan bersiap untuk tidur. Akan tetapi, pandanganya tertuju pada laci meja.
Tangannya bergerak membuka salah satu laci meja. Mengambil sebuah kotak dengan desain China. Membuka isinya, sebuah kalung dengan liontin lotus. Sekilas tidak ada yang spesial dari kalung tersebut. Namun, kalung itu memiliki desain dan bahan khusus.
"Liontin ini dan tanda lahir di tubuhku sama, apakah ini satu-satunya petunjuk akan keluarga kandungku?"
Entahlah. Ia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Namun, dari yang sering ia dengar, tanda lahir dan liontin ini mungkin berasal dari keluarga yang cukup terpandang.
__ADS_1
Camelia tidak berharap itu benar. Ia hanya ingin bertemu dengan keluarga kandungnya.
Puas memandangi kalung itu, Camelia menyimpannya. Kemudian beralih berbaring. "Besok, akan menjadi hari yang cukup melelahkan."