Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 121


__ADS_3

Setelah menempuh penerbangan panjang, akhirnya pesawat pribadi keluarga Shane mendarat di Korea Selatan, lebih tepatnya Seoul. 


Mereka tiba sekitar pukul 09.00 waktu Korea Selatan. Perbedaan waktu juga signifikan. 1 jam lebih lama ketimbang di China yakni 13 jam. Korea Selatan lebih cepat 13 jam daripada waktu Kanada. 


Mereka segera menuju hotel yang telah direservasi lebih dulu. 


Tiba di hotel, langsung mengistirahatkan tubuh mereka. 


Rencananya, besok baru akan bertemu dengan dokter yang telah dipilih oleh keluarga Shane. 


*


*


*


Cahaya matahari tidak begitu terik. Dan mulai condong ke barat. Camelia membuka matanya setelah tidur berjam-jam. 


Merenggangkan tubuh dan juga menguap. Rasanya lebih baik setelah tidur. Camelia kemudian bangkit dan menuju jendela. Membuka gorden yang menutup jendela besar itu. Begitu dibuka, terpampang jelas pemandangan kota Seoul. Dan yang lebih menawan lagi karena dari tempatnya berada, dapat melihat salah satu icon Seoul yakni sungai Han. Hotel ini, terletak dekat dengan sungai Han. 


Jembatan yang membentang, menghubungkan dua sisi sungai tampak ramai dengan kendaraan. Air yang kebiruan dari tempatnya berada, terlihat sangat indah dan menyejukkan. 


Krucuk!


Sayang, waktu menikmati pemandangan itu dihancurkan oleh suara perut. 


Camelia menyentuh perutnya. Apalagi kalau bukan lapar. 


"Aku dengar makanan Korea enak-enak." Camelia menatap perutnya. "Itu harus dibuktikan!"


Gegas, wanita itu menuju kamar mandi.


"Lucas, Liam, wake up!" Camelia memanggil Lucas dan Liam seraya menggoyahkan bahu kedua putranya. 


"Hm, Mom." Lucas menjawab dengan mata yang masih menutup. Mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke kanan. 


"Masih ngantuk, Mom," rengek Liam yang bahunya terus digoyahkan. Bocah itu duduk dengan wajah kusut dan mata masih terpejam. Sangat tidak bersemangat. 


"Lucas, wake up. Sudah sore." Kembali menggoyahkan bahu Lucas. 


"Mom…." Lucas merengek saat dibangunkan oleh Camelia. Kini ia duduk dan sama seperti Liam, juga tidak bersemangat. Keduanya saling bersandar sebelum akhirnya kembali berbaring. 


Camelia mendengus. "Mengapa susah sekali membangunkan kalian?"heran Camelia. 


"Ngantuk, Mom," sahut Liam, masih dengan mata terpejam dan tampaknya kembali meneruskan tidurnya. 


"Hmhp!"


"Ya sudah. Kalian tidur saja. Mom keluar sendiri," kesal Camelia, kemudian beralih ke meja rias untuk memoles wajahnya. 


"Mari pikirkan apa yang akan aku makan."


"Tteokbokki?"


"Jajangmyeon?"


"Bibimbap?"


"Kimchi?'


"Hm … apa lagi?"


Camelia memikirkan itu seraya merias. Telinga Lucas bergerak mendengar apa yang Camelia gumamkan. 


"Ah makanan penutup, bungeo ppang dengan ice cream sepertinya lezat. Atau tambah dengan jajanan pasar. Ehmm membayangkan membuatku semakin lapar." Camelia berkata dengan begitu excited. 


"Mom." Lucas memanggil. Posisinya sudah duduk sembari mengucek matanya. 


"Eh, kau bangun?" Camelia terheran. 


"Mau makan malam?" Camelia mengangguk. 


"Ikut," seru Lucas, segera turun. 


"Bukannya masih ngantuk?"


"Lapar," jawab Lucas, dengan menunjukan deretan gigi putihnya. Dan tanpa menunggu jawaban Camelia lagi, Lucas segera menuju ke kamar mandi. 


"Tunggu, Lucas!" Liam juga bangun dan mengejar saudaranya. Camelia menggeleng pelan seraya tersenyum puas. Cara ampuh membangunkan kedua anaknya, makanan!


Selagi menunggu Lucas dan Liam, Camelia menghubungi Kak Abi dan juga melanjutkan memoles wajahnya. 


"Mom, outfitmu sedikit berbeda," celetuk Liam saat matanya benar-benar terbuka, sudah mandi dan bersiap untuk pergi. 


Camelia melihat dressnya, Luce dress. Tipe ini sering digunakan di sini, juga oleh para artis seperti dirinya. Dress nya hampir menyentuh lutut, berwarna putih cerah, dan sedikit Payet. Desainnya, sesuai untuk Camelia kenakan.


"Lia, aku sudah siap!" Kak Abi masuk dan berseru. Wanita itu mengenakan celana dan baju oversize yang juga salah satu style di sini. Penampilannya siap untuk menjelajah kota Seoul di malam hari. 


"Ayo pergi, Mom!"ajak Lucas dan Liam. 


"Sebentar, kita foto dulu."


"Mom?!"


*


*


*


Setelah mengambil beberapa take, akhirnya mereka meninggalkan hotel untuk mencari makan malam. Tentu saja, setelah Lucas dan Liam misrah misruh kesal. Rasanya puas menjahili kedua anak itu. 


Tempat yang pertama mereka tuju adalah restoran, untuk makan berat lebih dulu. 


Nama makanan yang Camelia sebutkan tadi, bibimbap, Jajangmyeon, tteokbokki, dan juga kimchi dipesan. Ditambah dengan ramyeon. 

__ADS_1


Jajangmyeon adalah pasta khas korea. Dengan pasta atau kuahnya terbuat dari kedelai hitam. Oleh karenanya, warna Jajangmyeon cenderung gelap. 


Tteokbokki, itu adalah makanan yang terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan bumbu yang rasanya pedas juga manis. Sementara bibimbap, itu adalah nasi campur khas Korea. Dan yang terakhir kimchi, adalah sawi putih yang diasinkan. 


Satu ragi, ramyeon, itu adalah mie kuah ada Korea. Ya, semua ala Korea. Hidangan itu, begitu menggugah selera. Apalagi warnanya yang menantang dan menarik. 


"Em! Ini sangat enak!" Kali pertama Kak Abi mencoba makanan itu, ia langsung menyukainya. 


"Aku kira negara ini hanya KPop dan k drama saja yang berkembang pesat, ternyata makanannya sangat enak!"ucap Kak Abi lagi, dengan mulut menggembung dengan tteokbokki.


Camelia tertawa. Lucas dan Liam fokus makan. "Setiap negara punya ciri khasnya masing-masing, Kak," ujar Camelia. 


"Ini ada yang instan, kan? Aku mau beli banyak."


"Ada." Camelia menggeleng. Ternyata Kak Abi lebih excited darinya. 


"Setelah ini kita ke mana, Mom?"tanya Liam. 


"Street food," jawab Camelia. 


"Ice cream?" Lucas sepertinya menagih. 


Camelia mendengus. "Iya, itu juga."


"Horee!"


Kepergian kali ini, meskipun tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan bekas luka di wajahnya. Namun, jalan-jalan juga termasuk di dalamnya. 


Setelah selesai makan, mereka meninggalkan restoran. Berjalan santai menyusuri jalanan kota Seoul di malam hari. 


Dan berhenti di depan sebuah minimarket. Mereka masuk untuk membeli ice cream dan beberapa camilan ringan. Menikmatinya di meja depan toko, yang memang biasanya selalu ada.


"Em … Mom, apa Mom tidak ada kenalan di sini?"tanya Lucas, penasaran. 


"Kalau kenalan, tidak ada. Tapi, aku banyak kenal mereka," jawab Camelia, dengan terkekeh. 


"Sama seperti kalian, dikenal luas namun kalian pasti mustahil mengenal semuanya. Dunia ini begitu luas dengan milyaran manusia," tambah Kak Abi. Ice cream miliknya tinggal setengah lagi. 


"Ayo cari street food!"ucap Liam, setelah menghabiskan ice creamnya. 


"Apa perut kecilmu itu tidak meledak?"tanya Camelia dengan menyangga dagu. 


"Aku hanya makan sedikit, Mom," sahut Liam, dengan tersenyum lebar. 


"Really?"


"Sedikit tapi banyak," celetuk Kak Abi. 


"Hehehe." Liam tersenyum malu. "Tapi, masih sanggup kok Mom!"kekeh Liam. 


"Heh?" Camelia menarik senyum miring. Menatap Liam tak percaya. 


"Mom?!" Bocah itu merengek. Dan juga cemberut. 


"Kakakmu saja tidak ribut," cetus Camelia, melihat satu putranya lagi. 


"Panggil aku kakak, maka kita akan pergi." Liam semakin cemberut. Menatap sinis Lucas. 


Kak Abi memicingkan matanya, "kalian sedang bertengkar karena perihal kecil?"tanya Kak Abi, heran. Ini kali pertama melihat Lucas dan Liam tidak satu kata, perihal siapa yang lebih tua, padahal sudah jelas. 


"Adikku ini keras kepala, Aunty," ucap Lucas.


"Adik apanya? Kita sama! Tidak, akulah yang seharusnya menjadi kakak!"tolak Liam.


"Kau bersikeras tidak ingin menjadi adik, mengapa Liam?"tanya Camelia penasaran. 


"Karena aku ingin menjadi pelindung!"jawab Liam, lugas. 


"Hm?" Menanti penjelasan lebih rinci. 


"Aku lebih pintar darinya, fisikku juga lebih baik, aku ingin menjadi kakak agar bisa melindungi Lucas, juga Mommy," jawab Liam mantap. Tidak ada keraguan sama sekali.


Camelia tertegun. Begitu juga dengan Lucas dan Kak Abi. Sudah ada pemikiran demikian?


"Jadi, kau mau jadi kakak karena menurutmu, seorang kakak adalah pelindung?" Liam mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Camelia. 


"Ahh!" Liam terperanjat kala Lucas melompat ke arahnya. Memeluknya dengan erat. "Apa-apan kau ini? Membuatku kaget!"kesal Liam. 


"Xie Xie," ucap Lucas, dari nadanya, terharu. 


"Namun, kita akan saling melindungi. Aku, tidak akan bersembunyi di bawah ketiakmu, meskipun kau jadi kakakku!"ucap Lucas kemudian. Liam mencerna sesaat. Kemudian mendengus. Saudara kembar itu saling berpelukan. 


"Sudah? Begitu saja?"


"Lalu?"


"Kurang seru."


"Hahaha. Sudah-sudah, ayo jalan," lerai Camelia, bangkit yang otomatis membuat Kak Abi juga berdiri. Mereka kembali melanjutkan langkah. 


Di street food, mereka membeli aneka sate-satean di antaranya sosis, gurita, oden, dan banyak lagi, semuanya dipanggang. Tak lupa membeli bungeoppang, kue atau jajanan wafer berbentuk ikan mas, dengan isian saus kacang merah. Ada juga beberapa variasi isian lainnya. 


Puas berburu makanan, mereka kembali ke hotel dengan hasil buruan mereka. Tidak makan di tempat, makan di hotel sembari mengkondisikan perut. 


Nikmat. Makan di balkon dengan pemandangan kota Seoul di malam hari. Jembatan sungai Han begitu terang. Pancaran cahayanya membias di air. Serta menyaksikan rainbow fountain, atau pertunjukan air mancur diiringi dengan musik. Meskipun musiknya tidak terdengar, namun pertunjukan air mancur itu benar-benar indah. 


 Benar-benar nikmat dunia. 


*


*


*


Keesokan paginya, sekitar pukul 10.00 waktu Korea Selatan, Camelia, Lucas, Liam, dan Kak Abi meninggalkan hotel menuju rumah sakit. 

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit, menuju meja resepsionis untuk menanyakan ruangan dokter yang dipilih oleh keluarga Shane. 


"Excuse me." Kak Abi menyapa resepsionis. 


"Can anyone help, Madam?"


"We want to meet  doctor Kim Jae Hyun," jawab Kak Abi. 


"Have you made an appointment?"


"Sure."


"Alright. I will first confirm with doctor Kim Jae Hyun."


"Okay. On behalf of the Shane Family." Resepsionis itu mengangguk paham. Dan tidak butuh waktu lama, mereka diarahkan menuju ruangan dokter Kim Jae Hyun. 


"Welcome, Miss Camelia," sambut seorang pria, mengenakan jas putih dokter. Dari posisi duduknya, dokter itu pasti tinggi, wajahnya dibingkai sempurna dengan kacamata, dan potongan rambut yang lebih ke style idol. Usianya sekitar kepala 3. 


"Doctor Kim Jae Hyun?"saja balik Camelia. 


"Benar," jawabnya dengan tersenyum. Tangannya bergerak menunjuk sofa, meminta Camelia dan lainnya untuk duduk. 


"Saya sudah melihat catatan luka Anda. Boleh saya lihat bagaimana luka aslinya?"tanya dokter Kim Jae Hyun. 


"Ya harus dilihat dong, Dok. Kalau tidak bagaimana cara mengobatinya?"cetus Liam. Membuat tawa dokter Kim Jae Hyun pecah seketika. 


"Benar-benar."


Camelia mengangguk. Kemudian membuka maskernya. Dokter Kim Jae Hyun mendekat, duduk di samping Camelia untuk memeriksa luka itu. Luka kering. 


"Setelah dilihat dari dekat, tidak separah yang difoto."


"Itukan foto beberapa hari yang lalu." Liam kembali mencetus. Gemas dengan dokter itu. 


"Syut!" Lucas menutup mulut Liam saat hendak protes lagi. 


"Jadi, apakah bisa hilang sepenuhnya, dokter?"tanya Camelia. Dokter Kim Jae Hyun kembali ke tempat duduknya semula. 


"Tentu ada. Negeri ini terkenal dengan perawatan kulitnya."


"Untuk menghilangkan bekas luka Anda ini, saya merekomendasikan beberapa cara. Silahkan dibaca dulu, kalau ada yang kurang paham bisa ditanyakan," ucap dokter Kim Jae Hyun, menyodorkan sebuah buku mirip majalah pada Camelia. 


Di dalamnya tertera beberapa cara, lengkap dengan penjelasannya. Ada juga fotonya. Kak Abi, Lucas, dan Liam ikut melihat. 


Lima belas menit kemudian, Camelia meletakkan majalah itu. "Sudah memilih?"tanya Dokter Kim Jae Hyun. 


"Saya memilih metode peeling. Apakah Anda ada tanggapan atau rekomendasi lain, dokter?"


"Metode peeling, saya memang hendak merekomendasikan itu jika Anda memilih yang lain," balas dokter Kim Jae Hyun, tersenyum puas. 


"Lantas, kapan kira-kira pengobatan atau perawatannya dapat dimulai?"tanya Kak Abi. 


"Kita periksa lebih dulu. Baru ditentukan harinya."


"Baiklah." Camelia kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan. Dan metode yang ia pilih cocok dengan kulitnya. 


"Kita bisa lakukan penghilangan bekas luka esok pagi," ucap dokter Kim Jae Hyun setelah selesai memeriksa. 


"Apa Anda siap?"


"Tentu."


Setelah itu, Camelia dan lainnya berpamitan. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih. 


Dan waktu sudah menunjukan waktu makan siang. Mereka menuju restoran untuk makan. Menu - menu khas Korea lainnya pun mereka pesan. Dan kali ini memesan kimbab atau sushi khas Korea. 


Selesai makan siang, mereka menghabiskan waktu mengunjungi beberapa tempat wisata. Salah satunya adalah Istana Gyeongbokgung, yang mana merupakan istana pertama dinasti Joseon yang paling megah dan populer untuk dikunjungi. Di dalamnya mereka bisa mengunjungi taman juga museum.


Dan tak lupa pula, mereka mencoba mengenakan pakaian tradisional Korea, yakni hanbok. 


Sesi foto pun menarik perhatian. Apalagi Camelia mengenakan cadar, alhasil menimbulkan kesan misterius. Acara fotonya pun lebih mirip pemotretan. 


Setelah dari istana, mereka mengunjungi beberapa tempat lagi dan ditutup dengan berbelanja. 


Sungguh! Hari yang menyenangkan. Bebas menikmati waktu tanpa jadwal apapun. 


Dan mereka kembali ke hotel saat hari sudah gelap. Sudah makan malam, alhasil setibanya di kamar langsung terlelap dengan senyum mengembang. Namun, tidak dengan Camelia.


Ia duduk di dekat jendela dan mengeluarkan ponselnya. 


"Tiba-tiba kau gugup," gumam Camelia. 


"Hallo, Lia." Dari ponselnya terdengar suara pria, Andrean. 


"Eh?!" Camelia terkejut. Apa tanpa sengaja ia memanggil Andrean?pikir Camelia. 


"Lia? Kau di sana?"


"Ah … iya."


"Ada apa? Suaramu terdengar gugup."


"Ya, aku sedikit gugup karena besok akan melakukan penghilangan bekas luka," jawab Camelia, menyentuh lengan kirinya. 


"Kau sudah di Korea Selatan?"


"Iya."


"Mau aku temani?"tawar Andrean. 


"Eh! Tidak perlu."


"Lagipula kau kan di China."


"Tidak masalah."

__ADS_1


"Tidak perlu, bicara denganmu seperti ini sudah cukup."


"Hm … baiklah kalau begitu."


__ADS_2