Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 146


__ADS_3

Hmph!


Hmph!


Ahh!


Hah …


Hah …


"Stop. Wait!" Lina berkata dengan terengah-engah. Bibirnya basah dengan air liur yang terlihat jelas.


Tangannya menahan dada David yang hendak kembali mencium bibirnya. "Ergghh!"


"Tidak. Hentikan." Lina memekik, badannya gemetar saat tangan David masuk dan meremas dadanya.


David seakan tidak mendengarnya. Hanya menatap sayu Lina sejenak sebelum akhirnya kembali menyerang bibir Lina.


Lina kewalahan. Satu sisi sensasi aneh ia rasakan. Satu sisi lagi, ada ketakutan yang membayangi. Tangan David begitu aktif. Bermain di dadanya. Dan lidahnya, juga tak kalah aktif. Melilit dan menjelajahi setiap jengkal rongga mulut sang istri.


Mata Lina terbelalak. Saat merasakan sesuatu menempel di pahanya yang masih terbalut kain. Keras dan semakin membesar. Otaknya segera memprosesnya.


"Tidak! Hentikan! Jangan lakukan ini!" Wanita itu gegas mendorong David.


David terdorong. Otomatis remasan di dada Lina juga berhenti. "Mengapa?" Satu kata, kecewa. Menatap Lina sayu.


"Tidak ada hubungan fisik!" Lina menjawabnya dengan kontrak.


"Lantas, apa kau boleh berhubungan dengan pria lain?"tanya David, dengan sengit. Matanya berubah tajam. Pancaran emosi terlihat jelas.


"Kami hanya menari bersama. Tidak ada hubungan apapun!"


"Ahh!"


Lina berteriak saat David kembali mendekati dan menahannya dengan kedua tangan. "Apa kau tahu jika menatapmu dengan lapar? Lina, aku tidak bisa menerimanya! Selain itu, aku cemburu! Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain! Aku suamimu, tidak menyukainya!!"


Lina terperanjat. Pria yang tak lain adalah suaminya ini, menyatakan kecemburuannya?


"Lina, aku menyukaimu. Jangan tolak aku. Izinkan aku memilikimu sepenuhnya." Berbisik. Dan pria itu menundukkan kepalanya pada di depan Lina.


Sudah lebih satu bulan mereka menikah. Sejujurnya, ini bukannya ciuman kedua atau ketiga mereka. David, sering mencuri kesempatan untuk mencium. Meskipun wanita itu sering memberontak, juga tak membuat David jera. Bahkan semakin berani. Lagipula, Lina istrinya.


"Jangan menyalahi kontrak, David!"


"Lupakan kontrak itu, Lina!! Aku sudah mengatakannya berulang kali!!" David menurunkan tangannya, memeluk Lina.


Kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak Lina. "Aku mohon. Jangan ragu padaku. Aku serius, Lina." Kembali meminta.


Lina menjadi dilema. "Jangan terpaku pada kontrak. Itu hanya formalitas. Setelah kontrak, hubungan kita akan tetap berlanjut. Atau, kita akhiri kontrak itu?"


David kembali mengangkat wajahnya. Menatap Lina penuh harap. Lina termenung. Memikirkannya.


"Lina, kau ada perasaan untukku, bukan?" Kembali bertanya.


Hening. Keduanya hanya saling menatap. Lina masih dengan keraguannya. "Kau serius?"


"Aku serius!"


"Tidak akan mencampakkanku?"


"Apa itu?!" David malah memekik. "Mana mungkin aku melakukannya! Aku bersumpah!"


"Kau berjanji? Kau tidak akan mengkhianatiku, kan?"


"Aku mencintaimu, Lina."


"A-aku juga mencintaimu."


Ya!


Perasaan itu telah datang.


Aku pikir tidak masalah. Dia adalah suamiku. Lagipula, di usiaku ini, hubungan intim adalah hal yang wajar, bukan?


"Lina." David menangkup wajah Lina. "Malam ini, milik kita." Lalu kembali mencium bibir sang istri.


Tangannya kembali bermain. Perlahan, satu persatu kain di tubuh mereka lepas. David terus memberi rangsangan pada sang istri. Sebelum akhirnya akan melakukan hal inti.


"A-aku masih virgin. Aku takut." Lina memalingkan wajahnya. Tepat saat David memposisikan dirinya di antara kedua pahanya. Bersiap untuk masuk.


David terkesiap. "Apa yang kau katakan?"


"Pelan-pelan. Aku belum pernah melakukannya. Dan milikmu sangat besar, apakah akan muat?" Lina mengernyitkan dahinya. Kali ini menatap milik sang suami yang sudah siap tempur.


David menyunggingkan senyum. "Milikmu akan menyesuaikan dengan milikku. Tidak perlu tegang. Relaks, Lina. Pertama aku rasa memang akan sakit. Tapi, setelah itu tidak akan terasa sakit lagi. Hanya sebentar."


"Kau berkata seolah kau sering melakukannya," ketus Lina.


"Sebelum bersama denganmu."


David tak memungkirinya. Setiap wanita yang pernah menjadi kekasihnya, pasti pernah merasakan kejantanannya.

__ADS_1


"Sekarang dan untuk selamanya, aku adalah milikmu."


David kembali memberikan ciuman. Setelah itu, mulai memasuki Lina.


Lina memejamkan matanya. Di sana, di bawah rasanya aneh. Sesuatu yang besar mencoba untuk masuk. David juga berusaha keras.


Sesak dan ….


"Sakitt!!"


Apa aku sudah menabrak selaput daranya?


Aku harus merobeknya!


Berusaha menerobos dengan menghentak. Lina terbelalak. Rasanya sangat sakit!!


Ia merengkuh David. Kedua tangannya memeluk dengan sesekali mencakar.


"Uhhh!"


"Ahhh!"


"Hentikan! Sakit!"


Tepat setelah itu, David menghela nafasnya. Itu sudah masuk sepenuhnya. Merobek selaput dara yang membuat darah mengalir, menodai seprai.


Lina terengah. David diam, tidak melakukan apapun. Membiarkan Lina terbiasa.


"Lina, are you okay?"


"Emm … yeah … di sana … rasanya aneh."


Apakah ini terlalu dalam? Harusnya aku keluar? David berpikir.


Ia menarik kemudian kembali memasukkannya. Membuat Lina terbelalak. Suara pekikan dan ******* juga tak lepas untuknya.


David tersenyum. Senang melihat sang istri menggeliat di bawah tubuhnya. Tangannya kembali bermain. Diikuti dengan bibirnya.


Sungguh. Lina merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan. Membawanya terbang.


David terus memacu. "Hah … hah …." Lina terengah-engah. Keringat mengucur deras. Baik dari tubuhnya sendiri maupun dari tubuh David yang belum mendapat puncaknya.


"Hah!"


"Aku akan dapat!" Disertai dengan erangan. Lina merasakan bagian perutnya hangat. Apakah itu rahimnya? David menyemburkannya di dalam?


David ambruk.


Beringsut. Tanpa melepaskan dirinya dari Lina. Keduanya berbaring berhadapan.


"K-kau mau memiliki seorang anak?"


"Aku mengeluarkannya di dalamnya. Apa kau tahu, Lina. Di dalam sana, rasanya hangat."


"Jangan mengatakan itu! Aku malu!"


"Sttt!"


"Jangan bergerak. Jika tidak, kau tidak akan bisa tidur!" Memperingati.


"Apa kau tidak lelah?"


"Tidak."


"Ahh … Lina, kau kembali membangunkannya!"racau David.


Lina terbelalak. Di sana. Ia merasakannya.


"Tidak! Tidak mau! Aku lelah! Keluar!" Sayang, penolakannya tidak digubris. David kembali melakukannya.


Malam itu, kamar itu diwarnai dan dipenuhi dengan erang kenikmatan David dan Lina.


*


*


*


Shittt!!!


Joseph mengumpat saat bangun. Menemukan spreinya basah.


"Mimpi sialan!" Kembali mengumpat.


"Kau begitu kesepian kah? Joseph, kau bisa memiliki wanita manapun. Mengapa dia yang harus masuk dalam mimpimu?!"


"Apa-apaan itu?!"


"Camelia oh Camelia. Kau membuatku gila tanpa menyentuhku!"


*

__ADS_1


*


*


"Ada apa denganmu, Joseph?!"teriak sutradara kesal. Ini sudah take kesekian kali. Namun, Joseph selalu membuat kesalahan. Adegannya adalah ciuman dengan Camelia.


Camelia juga menatapnya heran. Bukanlah waktu adegan ciuman yang pertama, Joseph melakukannya dengan sangat baik. Mengapa hari tampak begitu tidak fokus?


"Sekali take lagi," jawab Joseph, membuat angka satu di jarinya.


"Sekali lagi!"tegas Sutradara.


Calm down, Joseph. Jangan gugup, bayangkan saja seperti mimpi itu. Cium dia dengan penuh perasaan dan juga gairah.


Ya, itu kesempatan juga, Joseph.


"Action!"teriak Sutradara.


Grep!


"Katakan! Aku butuh kejujuranmu! Kau mencintaiku, bukan?!" Joseph masuk dalam perannya. Menarik lengan Camelia yang menjadi pemeran utama wanita. Membuat wanita yang menunjukkan ekspresi dingin itu menoleh.


"Lepas!" Sang wanita berkata dingin.


"Tidak! Sebelum kau mengatakannya!"


"Aku tidak mencintaimu! Lepaskan!"


Pria itu membawa wanita itu dalam pelukannya. "Mengapa? Mengapa kau begitu dingin. Mengapa kau tidak membalas cintaku? Apa kau tidak melihat ketulusanku?!"


"Pergilah! Sebelum aku membunuhmu!"


"Tidak! Aku tidak akan pergi. Katakanlah, kau mencintaiku." Meniup telinga wanita itu.


Wanita itu tampak menegang. Sang pria memegang pipi, kemudian menatapnya dalam.


"Aku akan menciummu. Tiga detik, jika kau tidak suka, silakan pukul aku, tendang aku, atau bunuh aku!"


Sebelum sempat menjawab, pria itu sudah menciumnya. Tiga detik, itu waktu yang singkat. Namun, sang wanita tidak mendorong ataupun memukulnya. Malah memejamkan matanya dan di sudut mata, ada air mata yang jatuh.


"Cut!"


Sutradara berteriak lantang. "Good!"pujinya kemudian.


Ciuman itu selesai. Camelia menyeka bibirnya. Menatap Joseph dengan aneh. Namun, melihat wajah lega Joseph, Camelia menggelengkan kepalanya.


"Setelah ini ada adegan ranjang. Kalian berdua bersiaplah."


Camelia dan Joseph mengangguk.


"Apa Anda merasa gugup dengan adegan selanjutnya?"tanya Joseph.


"Tidak begitu," jawab Camelia. Di naskah memang cukup vulgar. Camelia sudah membacanya berulang kali untukmu menemukan perasaan yang pas untuk itu.


Sementara Joseph, menyatukan kedua tangannya.


Pasti karena adegan ini aku mimpi yang tidak-tidak!


"Posisi ini cukup vulgar, apa Anda tidak keberatan?"


Camelia menggeleng. Ia sudah mengambil peran ini, naskah apapun yang ada di dalamnya, harus ia jalani.


Dan kini masuk waktunya untuk pengambilan adegan. Di lanjutkan di ranjang. Adegan yang diambil saat Joseph membuka bajunya, disusul dengan mencium bibir dan leher Camelia.


Kemudian di adegan selanjutnya, adalah adegan bangun. Sepasang manusia tidur berpelukan dengan selimut menutupi mereka. Sang wanita lebih dulu bangun.


Menarik selimut untuk menutup tubuhnya kemudian menatap sang pria yang masih pula. Pria itu menggunakan celana pendek.


"Malam ini akan aku ingat!" Wanita itu berkata dengan dingin sebelum meninggalkan tempat.


"Cut!"


"Bagus! Sangat bagus!" Ia bertepuk tangan. Sesuai dengan harapan. Joseph bangun.


Hampir saja, menyeka pelipisnya.


"Lia, aktingmu sungguh luar biasa. Menunjukan sisi intim tanpa menunjukkan banyak bagian tubuh," puji Sutradara.


Camelia tersenyum. "Terima kasih. Itu juga karena arahan Anda."


"Haha … jangan merendah."


"Joseph, kau juga hebat. Usahakan jangan hilang fokus lagi!"tegas Sutradara pada Joseph. Diangguki oleh pria itu.


"Lia, kau sudah selesai. Hari ini boleh pulang lebih awal."


"Kalau begitu saya pulang duluan. Sampai nanti semuanya." Tentu saja tidak melewatkan kesempatan.


Sementara Joseph, menuju ruangannya. Ia masih ada satu adegan lagi. Dan itu sebentar lagi karena masuk break.


"Astaga! Aku bisa merasakannya! Mengapa baru sekarang?"

__ADS_1


"Hentikan! Hentikan! Jangan bangun. Nanti malam aku akan memuaskanmu!!"


Di sana bisa ditahan. Namun, di sini tidak. Astaga! Malah semakin menjadi. Membuat pria itu mengumpat kesal dan gegas menuju kamar mandi.


__ADS_2