
Dion tiba lebih dulu menuju meja makan. Hidungnya mengendus aroma yang familiar. Mendapati sang kakak baru saja menghidangkan pangsit rebus dan goreng di meja makan.
"Kau yang memasak semua ini, Kak?"tanya Dion, seraya menarik kursi dan duduk di sana.
"Iya," jawab Camelia. Lucas dan Liam sudah tidak kelihatan batang hidungnya di dapur, mungkin sudah ke kamar untuk mandi dan bersiap untuk makan malam.
"Dalam rangka apa?"tanya Dion, tidak biasanya sang kakak memasak masakan China, kecuali saat waktu-waktu tertentu saja, semisal hari raya China atau pada saat hari ulang tahun keluarga.
"Tidak ada. Ini permintaan Liam," jawab Camelia.
"Ah … begitu rupanya." Dion mengangguk mengerti.
"Bagaimana pekerjaanmu?"tanya Camelia.
"Lancar untuk hari ini," sahut Dion.
"Em … aku tak sabar memakannya." Mata Dion begitu berbinar, menatap penuh minat makanan di atas meja.
"Tadinya aku kira kakak masak begini karena besok aku akan pergi ke China," ujar Dion kemudian.
"Besok?" Camelia membeo seraya membuka apronnya.
"Hm."
Tidak terasa, rupanya sudah hampir seminggu mereka pulang dari China.
"Lantas kapan kau akan kembali?"
"Kata Daddy sih, kalau sudah ditemukan pengganti yang pas, aku langsung kembali ke Kanada," jelas Dion.
Camelia mengangguk mengerti. "Kalau begitu jangan lupa kunjungi Ayah dan Ibu," pesan Camelia.
"Sampaikan juga pesanku. Ah, setelah makan malam bagaimana menghubungi ayah dan ibu?"saran Camelia yang langsung disetujui oleh Dion.
Tak lama kemudian, Tuan dan Nyonya Shane bergabung ke meja makan. Begitu juga dengan Lucas dan Liam. Mereka menggunakan pakaian santai.
Camelia tidak mandi, nanti setelah makan baru ia mandi. Hanya membersihkan wajah, dan gosok gigi.
Sama seperti Dion, Tuan Shane menanyakan apa gerangan yang membuat Camelia membuat pangsit. Dan jawaban yang sama pun diberikan. Kedua orang tua itu hanya mengangguk mengerti.
"Mungkin ini sulit, namun sering-seringlah memasak untuk kami, Lia. Sudah lama kita tidak memasak bersama." Itu sebuah permintaan dan ajakan.
"Jika Mom ingin, Lia akan cari waktu yang pas," jawab Camelia.
"Kita juga sudah lama tidak liburan," celetuk Tuan Shane. Biar sudah lansia begitu, traveling adalah hobi mereka. Sayang, kesibukan akan pekerjaan, membuat hobby itu jarang dilakukan.
"Tapi, Dion besok berangkat ke Kanada. Kak Lia juga akan sibuk dengan syutingnya. Sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat ini," ujar Dion. Tidak mungkin kan jika ia ditinggal?
"Kalau begitu bagaimana pada saat pergantian presdir?"saran Nyonya Shane.
"Pas pensiunku?" Nyonya Shane mengangguk.
"Setuju!"seru Lucas dan Liam kompak.
"Fix, sekitar dua bulan lagi kita liburan." Dion menaikkan kedua tangannya.
Camelia tersenyum lebar. Ia juga setuju dengan itu.
*
*
*
"Lia, Dion," sapa Nyonya Liang antusias, saat Dion melakukan video call dengannya, juga dengan Tuan Liang.
"Em … bingung mau menyapa apa. Selamat malam atau siang, Bu?"tanya Dion dengan raut wajah bingung.
"Apa saja, sama saja itu," sahut Tuan Liang.
"Ayah sudah pulang?"tanya Camelia yang melihat background Tuan dan Nyonya Liang tidak asing.
"Kemarin sore ayahmu pulang. Terpaksa karena ayahmu merengek pulang," jawab Nyonya Liang dengan melirik sinis Tuan Liang.
"Merengek apa? Sudah diizinkan lebih baik aku pulang, kan?"ketus Tuan Liang.
"Hmph!"
"Eh-eh, kok malah bertengkar?" Dion dan Camelia saling pandang dengan tersenyum geli.
"Bagaimana kabar ayah?"tanya Camelia kemudian.
"Seperti yang dilihat, ayah sehat, sangat sehat."
"Asal tidak ada yang memicunya, ayah akan baik-baik saja," tambah Tuan Liang dengan kembali melirik istrinya.
"Maksudmu aku yang membuatmu sakit jantung?" Mata Nyonya Liang mendelik.
"Kau tahu maksudku," balas Tuan Liang.
__ADS_1
"Lia, Dion, lihatlah ayah kalian ini. Sudah tua masih seperti anak-anak," aduh Nyonya Liang pada kedua anaknya.
"Hei-hei!"
"Hahaha, energik sekali ayah dan ibu." Dion menggoda.
"Hmph!" Pada akhirnya saling memunggungi. Camelia tertawa renyah dengan tingkah orang tuanya. Inilah yang ia rindukan. Inilah masa-masa yang indah. Yang selalu ada sebelum kehadiran Rose. Penuh dengan tawa.
"Ibu, Ayah, besok Dion akan ke Shanghai," ujar Dion.
"Benarkah?" Kompak, mata keduanya berbinar.
"Iya."
"Lia?"
"Aku tidak Ibu. Besok sudah mulai pembacaan naskah dan beberapa bulan ke depan Lia juga sibuk."
Kecewa?
Tapi, seperti itu keadaannya. "Berapa lama kau di Shanghai, Dion?" Tuan Liang memecah suasana yang tiba-tiba hening itu.
"Sekitar dua bulan."
"Kalau begitu, ayah dan ibu akan sering mengunjungimu. Atau beberapa selama dua bulan tinggal di sana."
"Hah?" Dion terhenyak. "Apa tidak merepotkan dan melelahkan? Lebih baik Dion saja yang sering mengunjungi ayah dan ibu," tolak dan tawar Dion.
"Ibu setuju dengan ayahmu. Ibu dengar Shane Group adalah perusahaan Internasional. Pasti sangat sibuk untuk dirimu. Melelahkan pula jika kau bolak balik, belum lagi ongkosnya. Lain dengan ayah dan ibu, kami sudah tidak punya tanggungan lagi. Hidup hanya berdua, tinggal mencari kebahagiaan dan ketenangan di hari tua. Dua bulan, itu cukup lama tapi sebenarnya sangat cepat."
Ya, benar juga. Sudah hampir memasuki usia pensiun. Melepaskan diri dari pekerjaan dan menikmati hari tua.
"Di Shanghai juga ada cabang restoran. Kalian tidak lupa dengan itu, bukan? Sama sekali tidak merepotkan," imbuh Tuan Liang.
"Lalu restoran di Beijing?"
"Ada kepercayaan ayah."
"Bagaimana menurutmu, Kak?" Meminta pendapat sang kakak.
"Jika ayah dan ibu tidak merasa terbebani atau merepotkan, tidak masalah." Artinya Camelia setuju.
"Sama sekali tidak merepotkan!"tegas Nyonya Liang kemudian.
Mendengar persetujuan Camelia, juga orang tuanya, Dion mengangguk menyetujui hal tersebut.
Tuan dan Nyonya Liang tersenyum puas.
"Kami di balkon, Ibu. Dan ini sudah hampir pukul 23.00."
"Hah? sudah selarut itu? Kalau begitu kita lanjutkan besok saja. Kalian lekaslah istirahat," titah Nyonya Liang cepat.
"Baiklah, Ibu."
"Selamat siang, Ayah, Ibu," pamit Dion kemudian.
"Selamat malam dan tidur untuk kalian berdua."
Panggilan berakhir. "Kau sudah packing untuk besok?"
"Malam ini." Dion menyengir. Camelia berdecak.
"Ya sudah, sana lekas packing lalu tidur. Jangan sampai besok kau gelagapan dan terburu-buru. Ingat, besok kau naik pesawat komersial!"tegas Camelia, mengingatkan Dion.
"Siap, my boss!" Dion bersikap hormat kemudian segera menuju kamarnya.
Camelia menggeleng pelan namun juga mencelos.
Di usia yang belum genap 20 tahun, Dion telah menanggung tanggung jawab yang besar.
Takdir tidak ada yang tahu. Terkadang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Terkadang umur sudah dewasa namun tidak dengan sikap dan tindakan. Ya, dunia ini beraneka ragam isinya.
*
*
*
Sementara di belahan dunia lain, Andrean bersama dengan Crystal telah meninggalkan Beijing menuju Shanghai. Penerbangan itu tidak sampai dua jam.
Meskipun ragu dan tidak yakin dengan sang kakek, Andrean tetap menghadirinya, sebagai bentuk bakti kepada kakek Gong. Andrean hanya berniat hadir sebentar di ruang pesta, kemudian mengistirahatkan tubuhnya sebelum membahas hal penting dengan kakek Gong.
"Ayah, nanti di sana Crystal mau main sama Nenek Buyut Jiang, ya," ujar Crsytal, dengan mimik berharap.
Ah … Andrean ingat. Waktu ia menitipkan Crystal di kediaman lama, Crystal dekat dengan nenek Jiang, nenek dari sepupu Andrean yakni Allen.
"Hm …."
"Soalnya Crystal sudah janji dulu sama Nenek Buyut."
__ADS_1
"Baiklah." Menjawab singkat.
"Yeah!"
*
*
*
Andrean menyetir sendiri dari bandara menuju kediaman lama. Ia memang tidak membawa sopir ataupun meminta sopir dari kediaman lama. Crystal tampak menikmati perjalanan.
Andrean melirik kearah anak itu sesekali. Dalam benaknya sedikit bertanya, apa anak itu tidak mengingat ibunya? Atau memang tidak mau ambil pusing?
Ingin bertanya, tapi malas membahas wanita itu.
Ah … sudahlah. Bukankah itu bagus? Asal orang -orang di kediaman lama tidak ada yang membahasnya, maka tidak akan masalah.
Gerbang utama kediaman lama terbuka saat mobil Andrean tiba di depannya. Menuju gerbang selanjutnya cukup jauh. Kediaman lama memang luas, khas dengan bangunan dengan arsitektur kuno.
Kediaman nenek Jiang dihias sedemikian rupa, begitu juga dengan aula makan dan kesenian. Pemain teater dan penyanyi, serta pemusik diundang untuk menampilkan hiburan di hari ulang tahun itu.
Mengingat nenek Jiang bukanlah keluarga utama, maka pestanya tidak begitu mewah namun cukup meriah. Keluarga juga hampir seluruhnya datang, apalagi setelah mendengar Andrean akan hadir. Kesempatan langkah untuk bertemu dengan Andrean.
"Tuan Muda." Langsung disambut dengan asisten Kakek Gong saat Andrean turun dari mobil.
"Di mana Kakek, Paman?"
"Tuan Besar ada di kediaman, Tuan Muda."
Andrean mengangguk. Crystal jalan sendiri, di sisi Andrean.
Selama perjalanan menuju kediaman Kakek Gong, pelayan sibuk hilir mudik. Dan Andrean juga berpapasan dengan anggota keluarga lain.
Hanya mengangguk singkat saat disapa, tetap melanjutkan langkahnya.
"Sepertinya Andrean memang menyayangi anak itu."
"Biar bagaimanapun itu anaknya. Masalah ibunya, aku rasa tidak berpengaruh."
"Hm, ya kau benar. Ayo…."
"Kakek," sapa Andrean saat tiba di kediaman sang kakek.
"Rean? Kau sudah tiba." Kakek Gong yang tengah menikmati teh dan kue menoleh dengan senang. Andrean mengangguk singkat, mengambil tempat duduk.
"Halo, Kakek Buyut," sapa Crsytal dengan tersenyum manis.
"Halo, cicitku. Kemarilah, duduk di sampingnya kakek buyut." Kakek Gong menepuk tempat kosong di sisinya.
Crystal menurut. "Jam berapa acaranya dimulai?"tanya Andrean.
"Pukul 2 nanti," jawab kakek Gong.
"Hm … aku berkeliling dulu." Andrean beranjak meninggalkan kediaman Kakek Gong.
"Crystal, coba ini. Pasti suka, namanya kue teratai," ujar kakek Gong.
"Ehem." Crsytal mencoba kue berbentuk seperti bunga teratai itu, di tengahnya ada biji teratai.
"Enak."
"Makanlah yang banyak. Pasti kau jarang memakannya, kan?"
Crystal mengangguk.
"Anak baik." Kakek Gong mengusap sayang rambut Crystal.
*
*
*
"Kakak sepupu, kau sudah datang?" Saat berkeliling, Andrean bertemu dengan Allen.
"Iya." Singkat. Dalam benaknya berdecak, mengapa harus berjumpa dengan Allen?!
"Bagaimana kabarmu, Kakak? Sejak kejadian itu, kita tidak bicara bukan?"
"Baik." Singkat. Andrean duduk di pagar pembatas, lewat pagar pembatas itu adalah kolam ikan.
"CK. Tidak bisakah kau lebih ramah, Kak? Ini hari ulang tahun nenekku," keluh Allen.
"Aku memang seperti ini."
"Dan ini hari apa, apa urusannya denganku? Aku datang karena kakek." Tidak mau Allen tinggi hati.
"Baiklah. Terserahmu saja." Allen menyerah.
__ADS_1
"Lantas bagaimana hubunganmu dengan artis Kanada itu? Bukankah kau kemarin mengejarnya? Ku dengar ia sudah pulang ke Kanada. Kau gagal?"tanya Allen, dengan senyum mengejek.
"Aku tidak akan gagal!"