
Dài nǐ dào tiān yá hǎi jiǎo
I want to take you to the ends of the earth
Tīng nǐ de xīn tiào
I want to listen to your heartbeat
Xiǎng gěi nǐ yī gè yōng bào
I want to give you a hug
Ràng quán shì jiè zhī dào
And make the whole world know
Andrean mengalihkan pandangannya dari buku saat mendengar lagu yang familiar di telinga. Itu adalah nada deringnya. Nada dering dengan lagu just one smile is very alluring yang dinyanyikan oleh aktor ternama China itu hanya menjadi nada dering untuk orang terdekat dan ia sayangi.
"Kakek," gumam Andrean saat melihat nama pemanggil.
"Hallo, Kakek," jawab Andrean.
"Hallo, Rean," balas Kakek Gong di ujung sana.
"Bagaimana? Sudah berhasil menemui mereka?"tanya Kakek Gong kemudian.
"Sudah, Kakek."
"Sudah? Tapi, mengapa helaan nafasmu berat?"tanya Kakek Gong penasaran.
"Apa kau gagal?"terkanya kemudian.
"Mengapa harus diperjelas, Kakek?"keluh Andrean.
"Hahaha … ternyata ini arti firasat tidak enakku. Kau ditolak." Terdengar gelak tawa di ujung sana. Andrean memutar bola matanya malas.
Sungguh terlalu! Cucunya gagal malah ditertawakan. "Sungguh, jika ini tersebar akan jadi lelucon. Karenanya lekaslah pulang. Crystal juga sangat merindukanmu," ucap Kakek Gong kemudian.
Andrean melempar pandang ke arah jendela. Tatapannya begitu sendu. Ia tahu, itu yang akan dikatakan kakeknya. Jika ia tidak dalam keadaan terluka, mungkin Andrean akan menurut. Ditambah lagi, panggilan ayah dari Lucas dan Liam tadi. Itu kembali mengobarkan harapan dan semangat di hatinya.
"Kakek … aku ingin mencobanya. Sekali lagi," ucap Andrean mantap.
Terdengar helaan nafas berat. "Kau yakin? Sebelum berangkat, aku sudah mengatakannya padamu, keluarga Shane tidak mudah dihadapi. Katakan padaku, apa yang kau tawarkan pada mereka? Tapi, itu tidak penting. Kau gagal."
"Kakek?!" Mengapa diungkit lagi!
"Akan aku coba sekali lagi!"
"Kau … memang keras kepala. Terserahmu saja!"ketus Kakek Gong. Ya, ia memang cukup keras kepala untuk tetap memperjuangkan Camelia dan kedua putranya.
"Kakek … restui aku. Karena itu sangat berarti," pinta Andrean, suaranya begitu lembut.
"Ck!"
"Kakek?"
"Mau bagaimana lagi?! Cucuku hanya kau." Andrean menarik senyum.
"Terima kasih, Kakek."
"Tapi, Kakek … aku rasa kita sudah sering membahas hal ini," kekeh Andrean. Setiap pembahasan, pasti ada ini di dalamnya.
"Ya. Tapi, kali ini ada hal lain," sahut Kakek Gong. Andrean mengernyit. Hal lain?
"Satu Minggu lagi, akan ada penetapan Presdir Group Gong secara resmi," ucap Kakek Gong, kali ini nadanya menjadi semakin serius. Andrean menaikkan alisnya. Ya, selama ini, Allen belum dilantik sebagai Presdir resmi. Kakek Gong masihlah Presdir utamanya.
"Kau sungguh tidak mau mengambil alih perusahaan?"tanya Kakek Gong.
"Sahammu cukup banyak, ditambah saham kakek dan juga kedua orang tuamu, kau akan jadi pemegang saham terbesar." Yang dalam artian, jika Andrean ingin mengambil alih Group Gong, itu adalah hal yang mudah.
"Kakek … ini sudah kesekian kalinya kakek mengatakan hal ini." Andrean menjawab dingin.
"Sebelumnya aku setuju untuk memiliki saham di sana. Namun, untuk mengambil alihnya, aku tidak ingin. Kecuali, ada hal tertentu yang membuatku harus melakukannya," jelas Andrean. Ya, kecuali Allen sudah melewati batas toleransinya. Maka ia tidak akan segan lagi.
"Hah! Kau ini!"kesal Kakek Gong.
"Tapi, menjadi pemegang saham terbesar juga bukan hal buruk." Andrean tersenyum smirk. Ia juga harus punya persiapan.
"Kau serius?"
"Iya, Kakek."
"Baguslah! Aku akan segera mengaturnya!"
"Tapi, kakek … ada satu hal yang belum aku katakan." Andrean sedikit meringis. Ada rasa takut untuk mengatakannya.
"Apa itu?"
"Sahamku, yang dua puluh lima persen telah aku alihkan untuk Lucas dan Liam," beritahu Andrean, pelan nyaris berbisik.
"APA?!"
"Apa kau gila, Andrean?!"
Sudah ia duga. Kakeknya akan murka. Dan memang itu konsekuensinya.
"Mengapa kau tidak diskusikan dulu, Andrean Gong!"teriak Kakek Gong lagi.
"Andrean kau tahu harga 25% saham itu berapa?!"tanya Kakek Gong.
"Mencapai triliunan."
"Apa lagi yang kau berikan?!"tanya Kakek Gong. Di sana merasa tidak yakin bahwa Andrean hanya memberikan itu.
"Err … 10 persen saham Starlight Entertainment, dan juga beberapa properti, dan black card," jawab Andrean dengan meringis. Siap untuk mendengar teriakan kakeknya lagi.
"K-kau!" Tidak seperti yang ia duga. Tampaknya sang Kakek tidak tahu harus berkata apa lagi.
__ADS_1
"Katakan! Mengapa melakukan hal itu? Atas dasar apa, Andrean?!"tanya Kakek Gong, mulai mengintrogasi Andrean. Nadanya pelan akan tetapi menekan.
Andrean menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ia mulai lebih tenang. "Stt!" Meringis saat tanpa sengaja membuat lukanya tertekan.
"Kakek … itu adalah sedikit tanggung jawabku saat aku tidak bersama dengan mereka," tutur Andrean.
"Lantas, apa diterima?" Terdengar ragu dan keraguan itu benar adanya.
"Awalnya tidak. Namun, aku mengatakan itu untuk Lucas dan Liam, bukan untuk keluarga Shane."
"Ck! Yang kau lakukan itu tidak salah. Tapi, terlalu gegabah dan berlebihan. Kau bahkan tidak berdiskusi denganku. Terlambat menyesalinya."
"Kakek … aku tidak tahu itu berlebihan atau tidak karena menurutku itu wajar. Aku tetap akan bertanggung jawab untuk mereka dengan atau tanpa pernikahan dan ikut denganku." Andrean telah menemukan jalan lainnya.
"Karena sekarang yang terpenting adalah penerimaan mereka terhadapku," tambah Andrean.
Tidak terdengar balasan langsung. Andrean telah bertekad. Lagipula itu atas namanya. Lucas dan Liam adalah darah dagingnya.
"Kakek?"
"Baiklah. Sudah terjadi juga. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Hanya saja, kau lekaslah pulang. Kakek tua ini merindukanmu," tukas Kakek Gong.
"Terima kasih, Kakek."
"Kakek tua ini lelah."
"Sampai nanti, Kakek."
Panggilan berakhir. Rasanya jauh lega setelah memberitahu sang kakek.
Andrean mendongak, menatap langit-langit ruangan.
"Satu Minggu lagi, ya?"gumam Andrean.
"Itu cukup sampai lukaku mengering." Menoleh ke bahu kirinya. Jika ditanya rasanya? Nyeri dan gatal menjadi satu. Itu sangat menyiksanya. Oleh karenanya Andrean mengalihkan fokusnya dengan membaca buku. Setidaknya sedikit membantu.
*
*
*
"Camelia? Mengapa Anda menggunakan masker?"tanya lawan main Camelia dalam drama Slipt Love ini. Itu adalah pemeran tokoh utama prianya.
"Aku sedikit flu," jawab Camelia.
"Flu? Bagaimana bisa?"tanyanya heran.
"Cuaca tidak musim pancaroba," ujarnya lagi. Di balik maskernya, Camelia tersenyum gemas. Pria ini cukup banyak omong dan ingin tahu!
"Mungkin daya tahan tubuhku sedang lemah," balas Camelia, seadanya.
"Kalau begitu Anda harus istirahat! Bukan datang kemari!"responnya cepat.
"Tidak. Saya tidak ingin ketinggalan!"
"Pak Sut…."
"Mr. Joseph! Saya baik -baik saja. Hanya flu ringan!"tandas Camelia, dengan cepat meninggalkan pria bernama Joseph itu.
"Mengapa dia marah?"gumam Joseph. "Aku kan hanya mengkhawatirkannya? Jika sakitnya lebih parah, bukankah akan berpengaruh padaku juga?" Pria itu bermonolog. Menyusul Camelia dengan menggeleng bingung.
Memasuki ruang latihan, sudah banyak pemain yang mengambil tempat duduk. Seperti biasa, Camelia duduk paling depan. Joseph memilih duduk di tengah dan bagian pinggir, itu tempat yang strategis untuk mengamati Camelia.
Pembahasan naskah dimulai. Namun, fokus Joseph tidak pada naskah namun pada Camelia yang gesit mencatat dan juga memperhatikan. Tidak terlihat seperti sedang sakit.
Dia ini benar sakit atau apa? Ukuran orang sakit, itu terlalu perfeksionis, pikir Joseph. Menggigit penanya, sambil menerka-nerka.
Juga tidak ada batuk atau bersin, dia tampak baik-baik saja. Apa ada hubungannya dengan dia pulang cepat kemarin?
Joseph masih bertanya-tanya. Insiden penculikan Camelia memang dirahasiakan dari publik. Bahkan teman-teman makan malamnya kemarin tidak tahu hal itu. Karena para pengawal mengatakan Camelia ada urusan mendadak hingga harus pulang lebih awal.
"Benar-benar mencurigakan," gumam Joseph. Sepanjang latihan fokusnya hanya pada Camelia.
"Hari ini, cukup sampai di sini."
"Terima kasih."
Setelahnya adalah latihan fisik. Karena genre drama ini salah satunya adalah action.
Satu persatu keluar dari ruangan. Hingga menyisakan Camelia dan juga Joseph.
"Tunggu, Nona Camelia!"tahan Joseph saat Camelia bangkit.
"Ada apa?"
"Anda tidak sakit, kan?"terka Joseph to the point.
"Saya pernah satu drama dengan Anda. Anda jarang sakit. Daya tahan tubuh Anda tinggi. Ada yang Anda sembunyikan!"
CK!
"Aku lebih tahu diriku, Mr. Joseph. Anda tidak perlu risau dan memikirkannya," tanggap Camelia.
"...." Joseph masih memicingkan matanya. Tidak percaya dengan dalih yang semakin menambah kecurigaannya.
"Baiklah. Apapun itu, tolong jaga diri Anda dengan baik."
"Tidak saya sangka. Anda yang acuh ini bisa peduli juga dengan orang lain." Camelia menaikkan alisnya. Rasa penasaran menggelitik hatinya. Joseph, adalah tipe pria yang cuek jika di balik layar. Namun, jika di depan layar, ia bisa menampilkan karakter apapun. Ya, ini adalah salah satu kelebihan dari pemain peran.
Joseph, berasal dari keluarga Smith. Keluarga cukup terpandang dengan reputasi yang bagus. Ia juga termasuk tipe pria idaman.
"Saya hanya khawatir syuting tertunda karena Anda sakit!"jawab Joseph dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Hm … alright. Kalau begitu saya duluan," pamit Camelia, kemudian meninggalkan ruangan.
"Dia tidak salah sangka, kan?"tanya Joseph pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Hei!" Lekas menyusul Camelia. "Kau tidak salah paham, kan?!"
Camelia mendengarnya. Tapi, tetap bergeming. "Tidak salah paham? Apa dia pikir aku tidak mengerti?"gumam Camelia saat masuk ke dalam ruang latihan fisik.
Joseph pun kembali pada sikap acuhnya dengan hati yang masih ketar-ketir.
*
*
*
"Hari ini cukup sampai di sini. Kita sambung besok," ucap pelatih pantang yang langsung disambut tepuk tangan.
"Terima kasih."
Satu persatu pemeran meninggalkan ruang latihan. Begitu juga dengan Camelia. Wanita itu lekas keluar karena Nyonya Shane mengirimkan pesan bahwa mereka telah berangkat ke rumah sakit.
Joseph yang terakhir. "Tidak ada yang berbeda. Ada yang ditutupinya." Pria itu ternyata tidak berhenti mengamati Camelia.
"Ada sesuatu di wajahnya." Kembali bergumam.
"Ah … sudahlah. Bukan urusanku juga!"tukas Joseph pada dirinya sendiri. Namun, sorot matanya berkata lain.
*
*
*
Setibanya di mobil, Camelia membuka maskernya. Kaca mobil ini gelap, orang luar tidak akan bisa melihat apa yang ada dan terjadi di dalam.
Dengan bantuan spion tengah, Camelia melihat lukanya. Perbannya sudah minta diganti. Hampir satu harian ia menggunakan masker dan itu sangat tidak nyaman. Camelia kemudian mengeluarkan kotak p3k.
Lukanya sedikit berair. Ya, alamiah itu luka akibat benda tajam. Rasanya? Dominan gatal. Dan itu sedikit membengkak.
"Setelah ini kering aku akan ke Korea Selatan," gumam Camelia setelah selesai mengganti perbannya.
"Ke rumah sakit, Pak," ujar Camelia pada sopirnya. Sang sopir mengangguk. Mobil Camelia melaju meninggalkan tempat diiringi dua mobil yang tidak lain adalah mobil pengawalnya.
*
*
*
Setibanya di rumah sakit, Camelia segera menuju lantai VVIP. Mendapati keluarganya telah berkumpul di depan ruangan Andrean.
"Lia, masalah ini harus segera diselesaikan," ucap Tuan Shane setelah Camelia bergabung.
"Iya, Dad."
"Lucas, Liam, meskipun ini belum cocok untuk usia kalian. Grandpa yakin kalian sudah mengerti," ucap Tuan Shane, mengalihkan pandangan pada Lucas dan Liam. Kedua anak itu saling pandang kemudian mengangguk paham.
"Ayo masuk."
Ini sudah sore hari. Saat masuk Andrean tengah melakukan pergantian perban dibantu oleh perawat. Perawat yang sama dengan yang membawanya sarapan tadi pagi.
"Ah!" Andrean terkejut. Begitu juga dengan Camelia. Yang lain biasa saja. Andrean dan Camelia saling tatap kemudian saling memalingkan wajah.
Mengapa di saat seperti ini?pikir Andrean. Ia tengah telanjang dada.
Astaga! Mengapa mengingatnya? pikir Camelia, teringat malam bersama dengan Andrean.
Jika hanya dia mungkin tidak masalah. Tapi, astaga!
Andrean tersenyum canggung.
"Wow! Kau punya otot perut yang bagus, Mr. Gong. Mirip seperti Daddy," ungkap Lucas dengan mata berbinar.
"Haha … benarkah?" Tertawa canggung. Dan dalam hati mencelos, mengapa Mr. Gong lagi? Bukankah tadi pagi memanggilnya ayah?
"Sudah selesai, Mr. Gong."
"Thank you."
Perawat itu mengangguk kemudian undur diri.
"Bagaimana lukamu?"tanya Tuan Shane duduk di kursi samping ranjang Andrean. Sementara Camelia dan lainnya duduk di sofa.
"Aku baik."
"Aku rasa belum telat. Terima kasih telah membantu menyelamatkan Lia."
Andrean sedikit melebarkan matanya. Ia tak salah dengar bukan?
"Sudah seharusnya, Tuan. Dia wanita yang saya inginkan. Tentu harus melindunginya," balas Andrean dengan menatap lembut Camelia.
Tersipu? Ya, siapa yang tidak tersipu ditatap lembut seperti itu?
"Meskipun mengorbankan nyawamu?"
"Ya!" Menjawab tanpa ragu. Tuan Shane lantas menggeleng pelan.
"Tindakan dan jawabanmu memang mengesankan."
Bunga di hati Andrean semakin mekar. "Namun, tidak cukup untuk mengubah keputusanku." Dan mulai gugur lagi. Bunga yang mekar, akan cepat menemukan gugurnya.
"Hanya saja … mungkin kau bisa menjadi atau melakukan tanggung jawab tanpa menikah ataupun membawa mereka." Ada pilihan lain?
Camelia sontak menatap Tuan Shane. "Namun, sebelum itu … aku ingin bertanya padamu, Lia. Apa kau menyukainya?" Camelia tertegun. Tidak menyangka akan dihadapkan pada pertanyaan itu.
Andrean menanti jawabannya. Berharap jawabannya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Sayang, itu patah saat Camelia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memastikannya."
"Lantas, Lucas, Liam, apa kalian mau ikut dengannya?" Ya, ini adalah musyawarah. Keputusan didasarkan pada keinginan. Setidaknya, sedikit lebih mudah. Namun, akhirnya juga belum bisa diketahui. Hanya bisa menerka.
__ADS_1