Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 158


__ADS_3

Matahari hampir terbit saat Camelia dan lainnya tiba di hotel tempat Nyonya Shane, Lucas, dan Liam berada.


Satu malam yang panjang. Pertarungan yang sengit dan memakan beberapa orang korban. Belum lagi pembicaraan yang panjang dan dapat dikatakan itu belum selesai sepenuhnya.


Rasa lelah mendera. Kantuk datang menyerang. Namun, Camelia tidak langsung memejamkan matanya. Melainkan mengecek kondisi kedua anaknya juga Nyonya Shane.


"Mereka tidur," ucap Camelia, saat masuk ke dalam kamar.


"Syukurlah." Camelia bernafas lega.


"Kau juga pergilah tidur, Lia. Matamu sudah sangat merah. Kau juga Dion. Tidurlah di mana kalian ingin. Hotel ini sudah Daddy booking semua," ujar Tuan Shane.


Camelia dan Dion mengangguk kemudian keluar dari kamar. Tuan Shane tetap di kamar itu.


Camelia dan Dion kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing. Di mana Tim pengawal ada yang beristirahat, ada yang tetap terjaga, dan menjaga.


Di dalam kamarnya, Camelia langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Matanya begitu berat. Namun, ingatan mengenai pertarungan melintas, begitu juga dengan pembicaraannya.


"Prancis?"gumam Camelia sembari menyentuh kalungnya.


"Tapi, mengapa?" Meskipun di sana tampak acuh. Camelia tetap bertanya-tanya, apa alasannya? Alexander pamit pergi namun tak pernah kembali pada Xiayu?


Amarah menguasai hati Camelia.


Mengapa?!

__ADS_1


Apa alasannya?!


Dia menyerah?!


Apakah itu cinta?!


"Bagiku dia hanya pecundang!"geram Camelia.


"Sama sekali tidak pantas untuk aku sebut sebagai seorang ayah. Aku ... aku sangat ingin memukulnya!!"


"Heh?!"


"Prancis?! Aku akan mencarimu, Alexander!!"


Setelah mengatakan hal itu, Camelia tertidur. Wajahnya tampak begitu lelah. Dan tidak lama kemudian, terdengar suara dengkuran.


Hghhh!!


"Sakitnya sekarang," gumam Dion. Mungkin, karena di kediaman Ling tadi suasana sangat serius juga mencekam, makanya Dion tidak fokus pada rasa sakitnya. Dan saat ini sudah lebih santai. Jadi, rasa sakitnya sangat terasa.


"Ahh ... aku lelah. Besok saja aku obati," putus Dion. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Dan tidak butuh waktu lama, Dion terlelap.


*


*

__ADS_1


*


Matahari telah terbit. Nyonya Shane membuka matanya. Mata itu masih merah. Mungkin karena tidur terlalu larut dan juga menangis karena cemas.


"Suamiku!" Nyonya Shane langsung berseru saat mendapati sang suami tertidur pulas.


"Ehmmm...." Tuan Shane hanya bergumam. Baru sebentar ia tidur. Mata dan kepalanya terasa sangat berat, dan sakit.


Lucas dan Liam langsung terbangun. Keduanya mengucek mata sambil duduk.


"Grandpa?" Keduanya juga berseru. Tuan Shane sudah kembali dan bisa tidur. Artinya Mommy dan Uncle mereka sudah kembali dan baik-baik saja.


"Wake up, Suamiku." Nyonya Shane mengguncangkan tubuh Tuan Shane.


"Grandpa!" Lucas dan Liam juga ikut. Membuat tidur Pria tua itu terganggu.


"Sebentar lagi," sahut Tuan Shane, terdengar tidak jelas. Seperti gumam namun samar. Serta, sekuat apapun Nyonya Shane, Liam, dan Lucas membangunkannya, Tuan Shane tidak kunjung bangun. Menolak bangun karena rasa lelah yang begitu besar.


"Ayo, kita keluar saja!"ajak Nyonya Shane. Ia mendengus kesal.


Lucas dan Liam mengangguk. Ketiga orang itu keluar. Bertanya pada pengawal di mana kamar Camelia.


"MOM!"


"LIA!"

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam kamar Camelia dengan berteriak. Akan tetapi, itu tidak ada efeknya untuk Camelia yang benar-benar pulas.


__ADS_2