
Setelah kurang lebih 10 jam mengudara, pesawat pribadi keluarga Shane mendarat sempurna di bandara Internasional Ottawa Macdonald-Cartier.
Camelia merenggangkan tubuhnya. Suasana masih siang hari. Dan saat menyesuaikan jam, di sini masih pukul 14.00.
Lucas dan Liam keluar dengan mata yang merah. Mereka baru tidur sebentar dan ternyata sudah sampai.
"Senang rasanya kembali ke rumah."
"Mom, aku sangat mengantuk. Apa lama lagi?"tanya Lucas. Ia duduk di tangga dengan kepala bersandar.
"Sebentar lagi. Duduklah dulu."
Sementara mata Liam sudah menutup.
Menunggu mobil turun dari pesawat, Camelia menikmati pemandangan. Pesawat yang hilir mudik terbang dan mendarat. Serta petugas yang sibuk memberi pengarahan.
"Nona, mobil sudah siap."
"Okay." Camelia memanggil Lucas dan Liam untuk masuk ke dalam mobil. Begitu masuk, Lucas dan Liam kembali menyandarkan kepala dan menutup mata. Camelia tersenyum seraya menggeleng.
Setelah pulang liburan, lelahnya baru terasa.
*
*
*
"Mom, Dad," sapa Camelia pada Tuan dan Nyonya Shane yang berada di ruang keluarga.
"Lia, Lucas, Liam, duduklah. Kalian pasti lelah setelah penerbangan jauh."
Camelia mengangguk. Meletakkan beberapa paper bag di atas meja. Itu adalah buah tangan yang dibawa dari liburan.
Sama seperti di mobil tadi, begitu ganti tempat, Lucas dan Liam langsung bersandar dan kembali menutup mata.
"Bawakan teh!"titah Nyonya Shane pada pelayan.
"Bagaimana liburan kalian?"tanya Nyonya Shane.
"Menyenangkan. Lihat saja, Lucas dan Liam sampai mengantuk karena begitu bersemangat," jawab Camelia. Mendengus senyum melihat kelakuan Lucas dan Liam.
"Sudah lama Lia tidak melihat mereka sesenang ini. Rasanya seperti kembali ke masa lalu," ujar Camelia.
"Masa lalu adalah lalu, Lia. Jangan menjalani kehidupan saat ini dan masa depan dengan bayang-bayangnya. Masa itu sudah berlalu. Sekarang, adalah masa kalian!"ucap Nyonya Shane. Itu adalah nasehat sekaligus teguran untuk Camelia.
"Daddy senang kalian bahagia. Tetaplah seperti ini," tutur Tuan Shane.
Camelia mengangguk. "Lucas, Liam, pergilah ke kamar," ujar Camelia.
"Iya, Mom." Menjawab serak dengan mata yang penuh dengan kabut kantuk. Keduanya berjalan gontai. Pelayan mendampingi keduanya.
"Daddy dengar kau sudah menemui ayah kandung."
"Ah, iya, Dad." Ternyata sudah terdengar. Tidak mengherankan.
"Hasilnya?"tanya Than Shane. Camelia tidak mungkin pulang dengan tangan kosong.
"Hilang ingatan," ucap Camelia.
Tuan Shane diam sesaat. Nyonya Shane mengernyit tipis.
"Begitu rupanya. Pantas saja."
Kedua orang tua itu sudah paham. Dua kata itu sudah menjelaskan semuanya.
Camelia meraih satu paper bag dan mengeluarkan isinya. "Kami ke Grasse. Di sana terkenal dengan industri parfumnya. Jadi, Lia belikan ini untuk Mom dan Dad," ucap Camelia. Wajahnya berseri. Sudah melupakan kenangan tidak menyenangkan di Paris.
"Wangi apa ini?" Sebagai wanita, Nyonya Shane langsung tertarik. Ia menyemprotkan sedikit dan mencium aromanya.
"Wisteria? Seperti ini aromanya."
Aromanya wangi dan juga manis. Serta ada tambahan bahan lainnya. Itu menambah rasa segar. Rasanya, rasa lelah hilang berganti dengan ketenangan. Dan kuat aromanya juga pas. Tidak terlalu kuat ataupun lemah.
"Mom menyukainya. Brand apa ini? Eternel?"
"Yups! Eternel!"jawab Camelia, menyunggingkan senyum lebar.
"Dan ini untuk Daddy. Ini aroma cinnamon. Aromanya khas, dan ada tambahan ekstra dedaunan herbal. Jadi, aromanya benar-benar unik," terang Camelia pada Tuan Shane. Tuan Shane menerima kemudian mencobanya.
"Daddy suka. Wanginya tidak menyengat."
"Kamu pintar memilih, Lia."
"Hehe."
Camelia kemudian membuka satu paper bag lagi.
Perhatian kedua orang tua itu langsung tertuju pada benda yang keluar dari paper bag itu. Ada kotak lagi. Bentuknya perseginya panjang.
"Dari semuanya, ini yang paling penting." Camelia membuka kota itu.
"Ini apa, Lia?"tanya Tuan Shane.
Itu kertas.
Penting?
"25 persen kepemilikan saham Eternel," jawab Camelia.
__ADS_1
"Hah? Bagaimana bisa?" Rupanya kedua orang tua ini belum mendengarnya. Camelia tertawa renyah. Ia menceritakan apa yang terjadi sampai bisa mendapatkan kepemilikan di Eternel.
"Benar-benar putri Mom! Kau menjalankan didikan Mom dengan sangat baik!!" Nyonya Shane bertepuk tangan. Disambut dengan Tuan Shane yang manggut-manggut. Dari raut wajah, keduanya tampak puas.
"Mom, Dad, jati diriku yang sebenarnya sudah jelas. Namun, aku akan tetap hidup dan dikenal sebagai Camelia Shane!"ucap Camelia dengan penuh kesungguhan.
"Kami percaya padamu, Lia!"
*
*
*
Kepenatan selama perjalanan terasa hilang saat diguyur air. Kesegaran Camelia kembali setelah mandi.
Waktu menunjukkan pukul 17.30.
Tak lama lagi, jika tidak lembur, Dion akan sampai di kediaman. Rasanya tidak sabar. Camelia ingin menceritakan banyak hal pada Dion. Sekaligus memberikan hadiah untuk Dion.
Menunggu itu, Camelia mematut dirinya di depan cermin. Di usianya yang akan menginjak 30 tahun, wajahnya termasuk baby face. Tidak ada kerutan.
"Hm, kanan kiri mulus, check. Atas bawah mulus, check."
"Waktunya skincare!"
Camelia menarik laci. Penuh dengan produk perawatan. Step by step Camelia lakukan.
"Memang yang terbaik."
Camelia tersenyum puas. Ia kemudian mengecek ponselnya.
Matanya bergerak berpikir. "Sekitar jam 19.00. Sekitar satu jam lagi," gumam Camelia.
Tok
Tok
"Kak."
"Iya."
Camelia bergegas keluar. Itu adalah Dion.
"Kakak!" Dion langsung memeluk Camelia.
"Bagaimana liburannya, Kak?"
"Menyenangkan. Pekerjaanmu bagaimana?"
"Tidak adil." Dion mencembik. Camelia mengangkat satu alisnya.
"Hei, jangan katakan kau cemburu?"
"Hahaha. Sudah-sudah. Masuklah, kakak ada buah tangan untukmu. Dan ada beberapa hal yang ingin kakak beritahu."
Dion mengikut. Duduk di sofa. Kamar ini sangat luas dengan fasilitas lengkap.
"Parfum?"
"Itu dibuat dari ekstrak whiskey. Cocok untuk anak muda sepertimu. Harapan kakak, kau bisa segera mendapatkan pacar," terang Camelia.
"Kakak?!" Dion langsung protes.
"Hehe, iya-iya."
"Aku akan punya pacar, Kak. Tapi, bukan saat ini," sungut Dion.
"Alright."
"Jelas sekali kakak tidak percaya," dengus Dion. Camelia kembali tertawa. Menyenangkan menggoda Dion yang masih jomblo itu.
"Sorry-sorry, jangan badmood begitu. Masih banyak hal yang ingin aku ceritakan."
"Hm."
Camelia berjalan mendekati jendela. Pemandangan sore hari memang menarik. Matahari tidak terlalu terik. "Perihal menjadi identitas kedua orang tua kandungku sudah selesai."
Dion langsung menoleh ke arah Camelia. Rasa penasaran langsung memenuhi hatinya.
Camelia menceritakan apa yang terjadi. Termasuk kompensasi berubah cek dan 25 persen kepemilikan Eternel.
Tangan Dion mengepal mendengarnya. Ada suara gigi yang menggertak juga. Mendengarnya saja, Dion sudah tersulut. Bagaimana jika berada di sana? Pasti ia akan meledak.
"Aku tidak ada hubungan lagi dengannya. Semua berakhir dengan kompensasi itu." Camelia menghela nafasnya pelan. Ia hanya lelah menceritakan. Sudah tidak ada lagi kesedihan ataupun kemarahan. Semua Camelia tinggalkan di Perancis.
"Sejujurnya aku tidak puas hanya segitu! Tapi, sudahlah. Toh dia hanya menyumbang benih."
Camelia mengangguk. Hanya seperti itu.
"Aku kembali ke kamar dulu, Kak. Setelah makan malam, aku akan mendengarkan cerita Kakak lagi," ujar Dion.
"Baiklah." Dion meninggalkan kamar Camelia, kembali ke kamarnya.
Perasaan Camelia benar-benar lega. Beban di hatinya sudah hilang. Sekarang, hanya fokus pada keluarga dan pekerjaan.
Drrt
Drtt
__ADS_1
Camelia meraih ponselnya. Ada pesan masuk.
Lia, kami sudah mendarat dan dalam perjalanan kembali ke Istana. Di sini masih pagi. Jangan lupa balas pesanku.
Perbedaan waktunya memang mencolok.
Syukurlah. Hari ini gunakan untuk full istirahat. Besok baru bekerja.
Camelia membalasnya.
Baiklah.
Di sana pasti sudah malam. Kau juga istirahat.
Camelia tersenyum. Saat berkaitan dengan dirinya dan anak-anak, Andrean menunjukkan sisi dirinya yang lain. Sisi yang tidak go public. Di luar, sisi dinginnya mendominasi. Dan di mata pekerjaanya, Andrean adalah setan yang gila kerja. Sangat keras dan tidak kenal ampun.
Okay. See you.
Saat Camelia hendak meletakkan ponselnya, pesan kembali masuk..
Wo ai ni
"Astaga."
Aku tahu.
Mana balasannya?
Camelia tidak bisa menahan tawanya.
"Wo ye ai ni," balas Camelia dengan pesan suara.
"Hihihi, aku senang sekali."
Semoga hubungan kami lancar, harap Camelia.
Camelia meletakkan ponselnya kemudian meninggalkan kamar.
Terdengar tawa dari ruang keluarga. Ternyata selain Dion, mereka berkumpul di sana. Camelia yakin kedua anak itu tengah menceritakan liburan mereka.
Tuan dan Nyonya Shane mendengarkan dengan antusias.
"Setelah seperti kukang, kalian kembali lincah seperti cheetah, ya?"
"Hehehe." Lucas dan Liam terkekeh pelan.
"Mendengar cerita liburan kalian, kami jadi cemburu." Nyonya Shane memeluk lengan suaminya.
"Dion mana?"tanya Tuan Shane.
"Masih di kamar, Dad."
"Ada yang ingin kami sampaikan."
Camelia, Lucas, dan Liam sudah dipenuhi rasa penasaran. Apa yang ingin disampaikan?
Sepertinya hal penting.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Dion turun dan bergabung.
"Jadi, kami berencana untuk pergi bulan madu," ucap Nyonya Shane dengan gembira.
"Bulan madu?" Rasanya aneh menyebut itu untuk pasangan lansia itu. Bulan madu kan untuk pasangan yang baru menikah.
"Jalan-jalan?"tanya Lucas.
"Ya, seperti itu."
"Katakan saja liburan, Grandma," cetus Liam.
Nyonya Shane tertawa. Wajahnya sangat berseri.
"Kemana rencana Mom dan Dad akan pergi?"tanya Dion.
Orang tua juga waktu quality time berdua. Apalagi mereka sudah pensiun. Saatnya menikmati hari tua. Dan liburan adalah salah satu caranya.
"Kami akan ke Hawai. Tiga hari lagi akan berangkat," ujar Tuan Shane.
"Wah!" Camelia berseru.
"Benar-benar ingin bulan madu," ucap Dion datar. Nyonya Shane tertawa. Tuan Shane tersenyum.
"Jadi, artinya Uncle yang belum liburan. Aduh, kasihan. Sabar ya, Uncle."
"Hah?" Dion terkejut saat Lucas meledek dirinya. Dan sayangnya itu benar. Camelia baru kembali dari liburan bersama dengan Lucas dan Liam. Lalu Tuan dan Nyonya Shane akan berangkat liburan tiga hari lagi. Lantas dirinya? Masih panjang lagi bersama dengan tumpukan berkas, rapat kerja sama, dan lainnya.
"Jangan nangis ya, Uncle." Lucas kembali meledek.
"Hei! Jangan meledekku!" Dion menerjang Lucas. Bukan pukulan. Namun, gelitikan.
Ruang tamu begitu ramai dan pecah. Lucas tak bisa berhenti tertawa.
"Eh-eh, mengapa kau juga kena?"seru Liam.
"Mungkin, karena kalian kembar. Jangan harap lepas dariku!"
"Ah … ahahaha, stop. Stop. Uncle, stop!"
"Hahaha ... rasakan ini. Beraninya kalian meledekku."
__ADS_1
"Huwaahaha ampun. Huwahh ... ampun, Uncle. Geli ... hihi...."
Begitulah. Hari berwarna mereka lewati. Berharap kebahagiaan yang penuh dengan warna itu terjaga untuk selamanya.