Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 40


__ADS_3

Dion menatap pangsit yang sudah kehilangan panasnya dengan datar. Sudah hampir satu jam ia duduk di sini. Namun, Dion membiarkan pangsit tersebut dingin tanpa ia sentuh sedikitpun, seakan dipesan tanpa niat untuk dinikmati. 


Tatapannya berpaling ke arah pintu saat mendengar suara bel pintu masuk restoran berbunyi. Tatapan harapnya begitu kecewa. 


"Tuan Muda, wonton Anda sudah dingin, apa ingin dipanasi atau ganti yang baru?"tanya pelayan ramah. Sejak Dion memasuki restoran, pelayan ini yang melayani dan saat selesai dengan pesanannya, tetap memperhatikan Dion. 


Awalnya terbesit rasa heran melihat Dion yang tidak kunjung makan, hanya menatap pangsit pesanannya. Dari tatapannya ke arah pintu, seperti menantikan seseorang. Dion juga berulang kali melihat jam tangannya. 


Pelayan muda itu, menduga Dion tengah menunggu pacar. Sesaat, ia merasa jantungnya berdebar kencang saat berada di dekat Dion tadi. Reaksi yang wajar, karena rupa pemuda berusia 18 tahun itu memang menyedot perhatian kaum hawa yang berada di restoran keluarga Liang itu. 


Dan ia memberanikan untuk menanyakan hal tadi mengingat sudah lama Dion duduk, yang ditunggu juga tidak kunjung datang. 


Dion menatap pangsitnya lagi, kemudian kembali melihat jam tangannya. Tak lama ponselnya berdering, dadi Camelia. Segera Dion menjawabnya.


"Iya, Kak?"


"Kau di mana, Dion? Masih di restoran?"tanya Camelia, cukup cemas mengingat hari sudah sore.


"Iya, Kak," jawab Dion pelan. Terdengar helaan nafas Camelia.


"Mereka mungkin tidak ke restoran. Besok pagi kita akan ke berangkat Shanghai. Kau harus melihat kembali apa tugasmu di sana dan istirahat yang cukup agar hasilnya maksimal," ujar Camelia, menyuruh Dion untuk pulang. 


"Kau benar, Kak," sahut Dion dengan kecewa. 


"Hei, jangan kecewa! Masih ada hari lain! Atau besok pagi sebelum ke bandara kita ke restoran lebih dulu? Membeli cemilan untuk di pesawat nanti," ucap Camelia mencoba untuk mengembalikan mood Dion yang bad karena gagal bertemu dengan Tuan dan Nyonya Liang. 


Dion mengembangkan senyumnya. Saran kakaknya bisa ia terima. "Baiklah," jawabnya. 


"Kakak sudah masak?"tanya Dion, menatap kembali pangsit yang sudah dingin. 


"Belum, kau mau beli makan malam?"


"Iya."


"Ya sudah." Setelah itu panggilan kemudian berakhir. 


"Bisa panasi ini dan tambah empat porsi lagi lalu lima porsi ini, dibungkus?"tanya Dion. 


"Bisa. Bisa sekali, Tuan Muda!"jawab Pelayan tersebut ramah. Hanya memanaskan satu ditambah sembilan porsi, restoran mana yang tidak mau?


Menunggu pesanan selesai, Dion memainkan ponselnya, mengecek akun instagram yang beberapa hari ini tidak ia buka. 


Sudah banyak direct massage dari banyak teman wanitanya. Ya, Dion cukup terkenal dan menjadi dambaan bagi teman-teman wanitanya sejak zaman SMA sampai lulus kuliah, bahkan di dunia kerja. Selain karena parasnya, juga karena kecerdasan dan latar belakangnya. 


Lima belas menit kemudian, semua pesanan Dion tiba. Segera ia mengeluarkan kartunya untuk membayar. 


Setelah membayar, blackcard kembali ke tangan Dion. Sebelum pergi, Dion menatap pelayan yang melayaninya sedari tadi dari atas ke bawah. Pelayan tersebut terkesiap dengan tatapan Dion padanya. 


"Semoga sukses untuk Anda!"ucap Dion sebelum meninggalkan restoran. Pelayan tersebut tertegun. 


Semoga sukses? Dalam hal apa? Tunggu?! Apa Dion tahu kalau dia paruh waktu di sini? Tapi, dari mana?


Dari mana Dion tahu? Dion tersenyum tipis mendengar wajah bingung pelayan muda tadi. Usianya bisa dikatakan masih setara dengannya. Sudah tamat sekolah menengah. 


Gadis yang menarik, gumam Dion dalam hati. Ingatannya kembali saat tengah jalan-jalan di sekitar universitas yang pernah menjadi universitas impiannya. Dan Dion melihat pelayan tadi turun dari sebuah mobil mewah. 


*


*

__ADS_1


*


"Besok kalian sudah mulai pemotretan, Lucas, Liam?"tanya Dion saat mereka selesai makan malam. Kecuali Kak Abi yang tengah mencuci piring, keempatnya berada di ruang tengah, menonton siaran televisi.


"Iya, Uncle," jawab Lucas. 


Dion mengangguk paham. "Lalu menurut kalian bagaimana karakter Presdir Starlight Entertainment? Kalian sudah berjumpa dua kali bukan dengannya?"tanya Dion, penasaran dengan penilaian Lucas dan Liam pada Andrean.


Camelia menoleh dengan keryitan di dahinya. Tatapannya menyimpan rasa kesal pada Dion. 


Mengapa di malam yang santai dan tenang begini membahas pria yang tidak ada dalam daftar keduanya?


Jika membahas tentang Rose dan Jordan masih okay. Membahas korban? Itu tidak penting sekarang karena korban baik-baik saja.


Tapi, jika Andrean?


Terlebih ada kesan menyebabkan dalam hati Camelia akan Andrean. Itu akibat perbuatan yang diklaim oleh keduanya adalah kebetulan. Namun, Camelia yakin itu adalah sebuah kesengajaan. 


Mencari sensasi?!


Cih! Telinga Camelia terasa panas mendengar. Ia sendiri adalah sensasi, untuk apa mencari sensasi? Populasinya sudah luar biasa, dia yang selalu dikejar oleh wartawan dan paparazi, lucu sekaligus geram mendengarnya. Biarpun sudah berlalu, Camelia tidak akan melupakannya. Sampai-sampai agensinya bertindak baru Andrean bertindak, bukanlah itu suatu kesengajaan? 


Memaafkan, okay!


Melupakan? Belum tentu! Hati Camelia tidak selapang itu.


Katakan ia orang yang sempit hati? Camelia sudah pernah merasakan bagaimana jika ia terus memaafkan tanpa efek, alhasil ia sendiri yang terjebak dan berada di titik terbawah, dan di saat itu, yang pernah ia maafkan pun ikut menghakimi dirinya. Saat jadi baik, polos, dan jujur ia hancur, maka menjadi tajam adalah caranya membalas. Ia sudah mengasah dirinya dengan sangat tajam, saatnya menumpas semuanya. 


"Pria menyebalkan!"jawab Liam langsung. 


"Menyebalkan??"


"Dia sengaja menciptakan sensasi dengan Mommy. Dan apa Mommy dan Uncle tahu apa yang pria itu lakukan lewat sekretarisnya?"tanya Lucas dengan wajah yang teramat kesal. Di hati, Camelia tersenyum lebar melihat kekesalan kedua putranya pada pria itu.


Kau sendiri yang membuat citramu buruk, di depan kedua anakmu ini, human Camelia dalam hati.


"Apa yang dia lakukan rupanya?"tanya Dion. Camelia juga ingin tahu apa yang telah Andrean lakukan pada kedua putranya.


"Melihat kami yang ada kemiripan, itu membuat opini bahwa kami berdua adalah anaknya. Dan oleh karena opini itu, membuatnya ingin mendapatkan sampel DNA kami. Kami ini anak Daddy, sejak kecil di Kanada, bagaimana bisa dia ayah kami?"terang Lucas.


"Uji DNA? Sebagai orang kaya bisa saja dia memalsukan hasil uji DNA nanti! Dasar! Sudah tua bukannya mengurus istri dan anaknya malah menunjukkan sikap seakan tengah mengejar Mommy!"sambung Liam. 


"Wow!"decak Dion, salut pada Andrean. Berani sekali dia? Apa tidak sadar tindakannya itu membuat masalah bagi orang lain? Memanggu ketenangan!


"Mengapa kalian berdua terlihat kesal?"tanya Kak Abi yang baru selesai mencuci piring. 


"Hanya mengingat hal yang menyebabkan, Aunty," jawab Lucas. 


"Menyebalkan? Tentang Mommy kalian dan Presdir Gong?"terka kak Abi.


"Ya," jawab Liam.


"Ya itu memang menyebalkan," imbuh Kak Abi.


"Lalu mengapa kalian tetap tanda tangan kontrak?"


"We're profesional, Uncle. Hal pribadi pisahkan dengan bisnis. Kecuali urusan pribadi itu tidak bisa ditoleransi lagi," jawab Liam, ia bijak. "Nilai kontraknya cukup tinggi, dengan perusahaan yang telah diakui, dan brand yang tengah naik daun, suatu kebodohan menolaknya! 


Dan alasan yang disebutkan tentu saja membuat Rose panas. Kelimanya menantikan hal apa yang akan Rose lakukan untuk membalas mereka. 

__ADS_1


"Sudah cukup larut, kalian berdua segeralah tidur. Besok kalian sudah mulai pemotretan," suruh Camelia. Lucas dan Liam menurut. Kak Abi menemani keduanya.


"Kak bagaimana menurutmu? Jika dia sampai berhasil mendapatkan sampel DNA Lucas dan Liam …."


"Mengapa memangnya?"sela Camelia langsung. Tatapannya begitu tenang. Tidak ada riak khawatir dalam tatapannya. 


"Jika dia tahu, apa mau dia lakukan? Lucas dan Liam bukan anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Lucas dan Liam akan sulit menerima pria yang telah mereka cap menyebalkan!"


"Baiklah. Aku mengerti," jawab Dion.


"Ah ya, aku lupa memberitahumu kalau Rose membeli apartemen di lantai yang sama dengan kita," beritahu Camelia.


Dion tertegun beberapa saat. Setelahnya pemuda itu tersenyum miring, "sungguh menikmati peran sebagai Nona Gong."


*


*


*


Keesokan paginya, sebelum berangkat ke bandara, sesuai dengan apa yang Camelia katakan kemarin, mereka singgah di restoran keluarga Liang lebih dulu untuk membeli makanan untuk di pesawat. 


Di jam pagi begini, restoran belum terlalu ramai. Di parkiran Dion melihat mobil Tuan Liang itu artinya Tuan ataupun Nyonya Liang berada di restoran. 


Dan kebetulan saat dion masuk ke dalam restoran berpapasan dengan Nyonya Liang.


Nyonya Liang sedikit terkejut mendapati Dion di hari yang masih pagi seperti ini Dion sudah ke restoran. 


"Morning, Nyonya," sapa Dion dengan tersenyum lebar. Wajahnya sungguh berseri. 


"Morning, Dion. Apa kakakmu tidak masak?"tanya Nyonya Liang. 


Dion menggeleng, "untuk makanan di pesawat, Nyonya."


"Kalian mau ke mana? Pulang ke Kanada?"tanya Nyonya Liang terkejut. Ada perasaaan tidak rela di matanya.


"Hanya ke Shanghai, Nyonya. Urusan kami di China masih belum selesai."


Nyonya Liang mengangguk, ada pancaran kelegaan di wajahnya. 


"Kalau begitu, kau mau pesan apa saja?"tanya Nyonya Liang.


Dion menyebutkan pesanannya. Nyonya Liang memanggil salah seorang pelayan untuk membuatkan pesanan Dion. "Ah sebentar," ucap Nyonya Liang saat menerima telpon.


Nyonya Liang juga langsung pamit begitu setelah selesai menerima telpon. Walaupun singkat, Dion tersenyum lebar karenanya. 


Tak lama kemudian, pesanan Dion tiba. Setelah membayar, Dion segera meninggalkan restoran kembali ke mobil. "Sudah senang?"tanya Camelia melihat senyum lebar Dion.


Dion mengangguk. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju bandara. Dalam waktu tiga puluh menit, mereka tiba di bandara. 


"Hati-hati, Mom, Uncle!"pesan Lucas.


"Hanya dua, anggap saja Mommy tengah menenangkan pikiran di sana," balas Camelia. Lucas dan Liam mengangguk. 


"Kalau begitu Mommy dan Uncle Dion berangkat," pamit Camelia. 


Setelah Camelia dan Dion hilang dari pandang, barulah Kak Abi, Lucas, dan Liam kembali ke mobil dan menuju tempat pemotretan perdana keduanya hari ini. 


Namun, apakah benar di sana Camelia akan benar-benar mendapatkan ketenangan yang ia katakan? Atau justru sebaliknya?

__ADS_1


__ADS_2