Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 215


__ADS_3

Karena jalanan yang cukup padat dan Camelia berangkat dengan jam yang sudah mendekati jadwal, alhasil ia terlambat tiba di lokasi pemotretan. Kak Abi menunggu gelisah di lobby. Begitu juga dengan Evelin. Tidak biasanya Camelia terlambat seperti ini.


Kak Abi memikirkan apa alasan Camelia tidak tepat waktu. Malah kru lebih gelisah daripada dirinya. Ya, wajar saja. Mereka kan mengejar target. Untuk pemotretan, lalu penyuntingan, pencetakan, dan baru di launching.


Sekitar 10 menit dari jadwal pemotretan, Camelia akhirnya tiba. "Maafkan aku," ucapnya saat turun dari mobil.


"Kau … sudah tidak ada waktu. Ayo, kau harus berganti pakaian segera!" Kak Abi menarik Camelia masuk.


"Kau baik-baik saja?"tanya Kak Abi, saat berada di dalam lift.


"Ya. Aku baik-baik saja," jawab Camelia.


Ting.


Mereka bergegas menuju ruang ganti. "Maafkan aku." Sekali lagi Camelia meminta maaf pada kru dan juga fotografer.


Setelah berganti pakaian, Camelia langsung menuju studio pemotretan. Dan kembali meminta maaf.


Sebelum mulai, Camelia menghela nafas dan memejamkan matanya. Saat membuka mata, sorot matanya berubah. Camelia siap untuk pemotretan terakhir majalah musim dingin ini.


Kak Abi memperhatikan Camelia dari tempatnya. Di sampingnya, Evelin siaga.


Ini rekor baru. Sebenarnya olahraga apa yang Lia lakukan? pikir Kak Abi.


*


*


*


Camelia menghela nafasnya setelah tiga jam pemotretan, akhirnya selesai juga. Jam pemotretan tahap ketiga ini memang sangat lama karena foto yang diambil juga ada banyak. Selesai sesaat sebelum matahari terbenam.


Kak Abi menyilangkan kedua tangannya, menatap Camelia, meminta penjelasan. Camelia sendiri masih menghapus make up yang digunakan untuk pemotretan. Namun, agaknya Camelia enggan membahas hal itu. Yang penting pemotretan berjalan dengan lancar dan selesai tepat waktu, seperti yang direncanakan.


"Hari ini … kau berbeda," ucap Kak Abi.


"Benarkah?"sahut Camelia.


"Ada yang kau sembunyikan?"


"Rahasia? Mungkin," jawab Camelia. Telah selesai menghapus make up-nya. Camelia berdiri.


Kak Abi terhenyak dengan jawaban itu. Camelia mengajaknya bermain teka-teki?


"Pekerjaan hari ini sudah selesai. Aku duluan, Kak. Sampai jumpa besok," ucap Camelia, kemudian melangkah pergi. Kak Abi membalikkan tubuhnya, menyentuh dagunya.


"Aku yakin. Pasti ada sesuatu. Sudahlah, aku juga akan tahu nanti," gumam Kak Abi.


Mau dalam kondisi apapun, Nona sangat keren! Evelin hanya fokus pada kekagumannya.


*


*


*


"Apa rencana ini akan berhasil?"tanya Liam, menatap kain putih di tangannya.


"Tentu saja. Aku tahu itu!"sahut Liam percaya diri.


"Bukankah ini kekanakan?"tanya Liam lagi. Ragu dengan ide jahil Lucas.


"Oh, sebentar." Lucas mengambil ponselnya. Mencari sesuatu kemudian menunjukkannya pada Liam.


"Apa ini?"


"Lihat saja."


"AHHHH! SIALAN KAU LUCAS!"teriak Liam, refleks mundur dan memejamkan matanya.


Lucas tertawa. "Bagaimana? Kekanakan tidak?"


Liam membuka matanya. Ia menyentuh dadanya yang berdebar kencang.


"Wait. Wajahmu pucat. Jangan katakan kalau kau takut … hihihi," goda Lucas, dengan jari saling berhetak menakuti Liam.


"Omong kosong! Aku hanya … hanya terkejut! Hentikan itu!!"berang Liam. Ia kembali mundur dan memalingkan wajahnya.


"Hahaha! Mengaku saja! Kau takut. Hahaha!" Tawa Lucas pecah. Senang sekali bisa mengejek Liam dengan puas.


"STOP IT!" Liam berteriak kesal. Ia kemudian mengambil ponselnya.


"Mau membalas? Tidak mempan, wekk!"ledek Lucas.


Liam hanya melirik sinis.


Drrtt….


Ponsel Lucas bergetar. Lucas melihatnya. Pesan dari Camelia. Ada kiriman video. Lucas tanpa ragu melihatnya.


"OH SI*AL! AKU TERTIPU!"pekik Lucas. Ia refleks melempar ponselnya. Wajahnya pucat pasi. Liam tersenyum smirk.


"Mari … lakukan itu!" Gantian, kini Lucas yang bergidik.


*


*


*


Camelia belum kembali. Menunggu sang istri pulang, Andrean kembali melihat foto pernikahan Camelia dan Lucas. Itu sudah beberapa kali ia lakukan. Terhitung ada 4 kali untuk hari ini saja.


Menatap foto itu dengan berdiri tegak. Kedua tangan menyilang di dada. Dahinya mengernyit tipis.


"Aku sangat kesal. Mengapa kami begitu mirip?"heran Andrean. Sepertinya yang pernah dijelaskan sebelumnya, bentuk fisik Andrean dan Chris itu mirip. Begitu juga dengan rupa mereka. Jika dalam satu frame dan disebutkan bahwa mereka saudara, orang akan percaya-percaya saja.


"Omong-omong, kau begitu enak, ya?"


"Tapi, aku juga bersyukur. Tenang saja, aku akan menjaga Lia dan juga anak-anakku lebih baik daripadamu. Aku akan membahagiakan mereka lebih darimu," tunjuk Andrean pada foto Chris.


"Menyebalkan!"


"Meskipun begitu, aku masih sangat kesal! Kau tahu, aku cemburu!" Andrean kembali menunjuk foto Chris.


"Aish! Aku pasti sudah gila. Hei, kau! Pergi ya pergi saja! Sialan! Padahal aku ayah kandung mereka. Kau hanya ayah tiri! Tapi…."


Andrean menghentakkan kakinya kesal.


"Aku benar-benar cemburu!"


"Dan! Dan! Ahhhh! Aku kehabisan kata!" Andrean mendudukkan dirinya di lantai. Mendongak dengan bertopang dagu.


"Kau pasti sangat cerdas," ucap Andrean, melihat beragam piagam penghargaan yang terpajang rapi di dinding.

__ADS_1


"Masamu sudah selesai. Sekarang dan masa depan adalah milikku!"


"AHHHH!"


Andrean terperanjat saat mendengar teriakan itu. "Lia? Ada apa?"tanya Andrean terkejut.


"Kau! Mengapa di kamarku?"tunjuk Camelia dengan mata membola.


"Aku? Apa yang aneh?" Andrean menunjuk dirinya sendiri.


"Get out!"suruh Camelia, menunjuk keluar.


"Hah?" Andrean kebingungan. "Lia? Ada apa denganmu? Mengapa mengusirku keluar? Aku tidur di mana nanti?" Andrean gelagapan. Ada apa dengan istrinya itu.


"Wait! Kau tidur di sini?"


Andrean mengangguk.


Hening. Camelia menyatukan kedua alisnya. "Lia?"panggil Andrean pelan.


"Astaga!" Camelia menepuk dahinya sendiri. Kemudian tertawa cengengesan.


"Maaf! Maafkan aku."


"Ada apa denganmu, Lia?"tanya Andrean, baru berani menghampiri Camelia.


"Sepertinya aku kelelahan," jawab Camelia.


"Maafkan aku!"ucap Andrean.


"Untuk apa minta maaf padaku?"


"Itu karenaku. Karena aku, kau kelelahan! Aku akan menahannya malam ini!"


Camelia membulatkan matanya. "Kau harus tidur di luar!"ucap Camelia.


"Hah?!"


*


*


*


"Ada apa, Kak?"tanya Dion, menatap Andrean yang masuk ke dalam kamarnya.


"Malam ini aku tidur di sini," jawab Andrean. Ia datang dengan membawa tas kerjanya, yang berisi laptop dan dokumen.


"Why?"tanya Dion.


"Wait! Kalian bertengkar?"terka Dion.


"Ya … aku membuatnya kelelahan, dan aku takut tidak bisa menahannya. Jadi, malam ini aku tidur di sini," jawab Andrean.


UHUK!


Dion terbatuk. Kaget dengan jawaban Andrean yang sangat jujur.


"Tapi, mengapa tidur di kamarku?"tanya Dion ragu.


"Mengapa?"tanya balik Andrean. Ia sudah duduk di sofa.


"Kalau begitu tidur di sofa saja."


Dion memijat dahinya.


"Ya sudahlah. Terserah kakak saja. Tapi, jika terjadi sesuatu aku tidak tanggung jawab, okay?!"


Andrean mengernyit heran. Dion kemudian menuju meja belajarnya. Memakai kaca mata dan membuka sebuah buku.


Andrean mengedikkan bahunya. Ia membuka laptopnya.


*


*


*


"Siap?"tanya Lucas pada Liam.


"Sekarang aku merasa ini kurang kerjaan," keluh Liam.


"Why?"


"Kita kan mau menguji mereka takut atau tidak?"heran Lucas.


"Ini cara lama."


"Lantas?"


"Kau ada ide lain? Bukankah tadi sudah setuju?"ketus Lucas.


"Aku ada ide yang lebih bagus!"


"Sebentar!" Liam meninggalkan Lucas.


"Ck!" Lucas menunggu. Dengan rasa penasaran, ide apa yang akan Liam lakukan?


Sekitar lima menit kemudian, Liam kembali. "Apa itu?"


"Untuk melihat reaksi mereka."


"Ayo kembali ke kamar," ajak Liam. Ia pergi lebih dulu setelah menempelkan sesuatu dan menyangkutkan kain putih yang mereka bawa pada pohon yang tidak terlalu tinggi.


"CK!" Lucas kembali berdecak. Segera menyusul Liam.


Setibanya di kamar, Liam sudah berada di depan laptop. Mengerjakan sesuatu di sana.


*


*


*


Kamar tidur para pengawal tampak sudah sepi. Sebagian sudah tidur dan ada beberapa yang masih belum.


Angin berhembus kencang. Meskipun demikian, tidak berpengaruh sebab kamar tidur ini dilengkapi dengan AC.


Di saat hening seperti itu, tiba-tiba lampu yang masih menyala, mati. Yang masih terjaga kaget sesaat. Kemudian berpikir bahwa mati lampu. Namun, lampu kediaman utama menyala. Berpikir bahwa mungkin lampu kamar rusak.


"Tidur-tidur!" Ada yang memberi komando. Ling Rui meletakkan bukunya.


Saat masing-masing di antara mereka hampir memejamkan mata, tiba-tiba lampu kembali menyala.

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Mereka saling panjang. Lampu itu menjadi hidup mati dan hidup mati. "Benar-benar rusak!"


"Hohoho …. Hihihi!"


Tiba-tiba terdengar suara cekikikan. Buku kuduk mereka mulai naik. Apalagi tiba-tiba ada bayangan. Yang bergerak ke kanan dan kiri.


"Apa ini?"


Mereka saling mendekat. Suara cekikikan dan menyeramkan kembali terdengar. Dan lampu kembali menyala dan padam.


"Hantu?"


"Apa?"


"Itu, yang menari-nari di luar!"


"Itu hanya pohon! Tenang! Tidak ada apa-apa!" Salah satu memberi komando. Sementara Ling Rui sudah berkeringat dingin. Suara itu berhenti. Dan keadaan hening.


Lampu kembali menyala. "Buka gordennya!"


"Tidak berani!"


"Rui, buka gardennya!"


Ling Rui menggeleng. "Aku tidak berani. Aku takut!"ucap Ling Rui. Ia berjongkok dan menyembunyikan kepalanya.


"Kau takut? Kau, pergi!"


"Aku juga tidak berani!"


"Astaga!" Yang asyik memerintahkan tadi melangkahkan kakinya mendekati jendela. Di saat yang sama pula, lampu kembali padang. Diikuti dengan suara lengkingan panjang dan suara yang mencekam. Refleks, mereka satu kamar langsung lari semuanya.


"Ahhh? Apa ini? Siapa yang mengunci pintu?"


"Mana kuncinya?!"


"Mana?!"


"Hei!"


Sementara suara mencekam itu semakin menjadi. "Dobrak!"


"AHHHH!! Jangan ganggu kami! Apa salah kami!"


"Jangan dorong aku, Sialan!"


"Cepat dobrak!!"


Bugh!


Saat pintu berhasil didobrak, mereka jatuh tersungkur. Saling tumpang tindih. Dan suara itu berhenti. Lampu kembali menyala. "Senang bermain dengan kalian."


Nafas mereka terengah. Keringat mengucur deras. "Apa maksudnya? Hei! Sialan! Tunjukkan wujudmu jika berani!!"


Disahut dengan kikikan.


"Itu! Itu yang bergoyang tadi!"tunjuk salah satu dari mereka pada kain putih yang nyangkut di pohon.


"Sudah aman, kan?" Ling Rui menempelkan tubuhnya pada salah satu rekannya. Sungguh, ia sangat takut pada yang namanya hantu.


"Ayo masuk!"


"Tidak berani!"


"Lantas, tidur di luar?"


"Pendopo!"


"Hei!"


"Masuk duluan!"


"Apa?!"


"Hei, jangan dorong aku!"


Ling Rui menolak untuk masuk. Ikut dengan rekannya yang lain untuk tidur di pendopo.


*


*


*


Camelia tidak bisa tidur. Ia merasa ada yang kurang. Padahal awalnya bisa namun terbangun saat waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Andrean. Itulah yang kurang.


Camelia duduk setelah menggeliat sana dan sini. Ia kemudian keluar kamar. Mengetuk pintu kamar Dion sembari memanggil nama adiknya itu. Tak butuh waktu lama, pintu kamar terbuka.


Andrean yang membuka pintu. "Tidur di kamar, ayo."


"Ayo-ayo!" Wajah Andrean langsung sumringah. Ia segera keluar kamar dan menggandeng tangan Camelia kembali ke kamar.


Kedua tidur berpelukan. Tidak, Camelia yang pertama kali memeluk Andrean. "Lia, jangan pernah suruh aku tidur di luar lagi, ya?"pinta Andrean.


"Asalkan tidak membuatku kesal."


"Aku masih kurang peka, Lia. Tolong katakan saja jika kau kesal atau tidak nyaman denganku, okay?"pinta Andrean lagi.


"Hm."


"Kau menjemputku, artinya kau tidak kesal lagi, kan? Atau kau tidak bisa tidur tanpaku?"goda Andrean. Camelia mendengus senyum.


"Berisik! Tidurlah atau aku akan kembali menyuruhmu keluar!"


"Eh-eh. Jangan."


Camelia memejamkan matanya. "Lia, apa kau tahu? Dion menendangku dari ranjang," aduh Andrean.


"Hm?"


"Tidurnya berantakan sekali."


"Dia memang begitu, tidurlah."


"Wo ai ni," bisik Andrean.


"Hm."


"Hm?"

__ADS_1


__ADS_2