
Perjalanan menuju tempat yang dikirim oleh informan sekitar 30 menit dari hotel tempat mereka menginap. Jalannya menanjak. Sepertinya lokasi itu berada di puncak.
Sepanjang perjalanan, Camelia melihat keluar. Semakin mendekati, semakin berdebar pula hatinya.
"Hm?" Camelia menoleh saat ada yang menggenggam tangannya.
"Aku tidak tahu apa yang kau rasakan. Tapi, dari yang ku dengar, menggenggam tangan seperti ini akan memberikan efek nyaman," ucap Andrean.
Camelia tersenyum. Benar, perasaannya menjadi lebih nyaman dan tenang.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai," ujar sopir.
Andrean dan Camelia turun. Di depan mereka terdapat sebuah bangunan toko yang besar. Di atas pintu ada papan nama toko tersebut. Eternel, itulah nama toko tersebut.
"Accueillir."
Keduanya disambut oleh pegawai toko. Begitu masuk, ada aroma wangi yang begitu menyegarkan.
"C'est un parfum d'agrumes. Nous espérons que les clients se sentiront rafraîchis après avoir senti l'arôme," jelas pegawai tersebut.
(Ini adalah aroma Citrus. Kami berharap pelanggan akan merasa segar setelah mencium aromanya.)
"Kau mengerti apa yang ia ucapkan, Rean? Aku hanya tahu dia mengatakan ini adalah aroma Citrus," bisik Camelia. Camelia pura-pura tidak paham. Ia fasih berbahasa Prancis. Karena itu adalah bahasa resmi kedua di Kanada.
"Mesdames et messieurs, quel genre de parfum souhaitez-vous ? Ou y a-t-il des critères particuliers? Éternel a tout pour plaire," ujar pegawai lagi. Pegawai ini akan menemani dan memandu mereka.
(Tuan dan Nona ingin parfum dengan aroma apa? Atau ada kriteria khusus? Eternel memiliki semuanya.)
Toko ini terdapat dua lantai. Dan sepanjang mata memandang, etalase berisi parfum berjajar, tersusun dengan rapi. Ada nama dari setiap etalase. Aroma yang berbeda dan dilengkapi dengan penjelasan dua bahasa, Prancis dan Inggris.
"Merci. Nous sommes venus rencontrer le propriétaire de cette boutique. Pouvons-nous le rencontrer?"balas Andrean.
(Terima kasih. Kedatangan kami untuk bertemu dengan pemilik toko ini. Apa kami bisa bertemu dengannya?)
"Il se trouve que le grand seigneur était dans la pièce. Laisser."
(Kebetulan Tuan Besar ada di ruangan. Mari)
"Apa yang kau katakan?"tanya Camelia, menyenggol Andrean. "Ke mana kita akan pergi?"
"Menemui pemilik toko," jawab Andrean.
"Apa kau serius tidak bisa berbahasa Prancis, Lia?"
"Hehe, tentu saja bisa. Aku hanya mengujimu," sahut Camelia. Andrean mendengus senyum.
Pegawai itu memimpin jalan. Sepertinya tidak begitu sulit. Pegawai itu tidak banyak prosedur. Tidak bertanya alasannya ataupun harus membuat janji terlebih dahulu. Camelia tersenyum puas.
"Anda bisa Bahasa Inggris?"tanya Camelia dalam bahasa Inggris.
"Of course."
Tentu saja. Ini adalah kota wisata yang terkenal dengan industri parfumnya. Pasti banyak wisatawan asing yang datang. Dan sebagai bahasa universal, tentu saja menjadi bahasa percakapan yang harus dikuasai.
Camelia lebih nyaman jika berkomunikasi dengan bahasa Inggris.
"Silakan menunggu sebentar, Tuan dan Nona."
Pegawai itu menghentikan langkahnya. Meminta Andrean dan Camelia menunggu di depan pintu dengan penanda ruang bertuliskan ruangan pemilik. Pegawai itu masuk.
"Merk parfum yang ku berikan pada Crystal adalah Eternel. Ku pikir itu berasal dari sini."
"Kita harus membeli satu. Tadi katanya di sini memiliki semuanya," ucap Andrean.
"Kalau begitu aroma apa?"tanya Camelia.
"Camelia," jawab Andrean.
"Tuan dan Nona, silakan masuk." Pegawai itu keluar dan mempersilahkan Andrean dan Camelia untuk masuk. Percakapan tentang aroma apa yang akan dibeli terhenti.
"Ayo." Andrean menarik Camelia masuk seraya menggenggam tangan Camelia.
Begitu masuk, aroma yang menenangkan tercium. Ruangan ini, tampak begitu sederhana untuk ukuran pemilik toko.
Ruangan ini begitu lenggang. Tidak begitu banyak barang. Hanya ada beberapa. Namun, terlihat tidak ternilai.
__ADS_1
Di dekat jendela, ada beberapa tanaman pot. Itu kaktus. Dan dari jendela, terlihat jelas bunga flamboyan yang menjulang tinggi. Bunga itu terlihat unik. Bunganya masih banyak bermekaran. Warna merah cerah yang menyala, belum gugur meskipun sudah memasuki musim dingin.
Di balik meja kerja, seorang pria paruh baya duduk dengan tenang. Ia terlihat elegan dan berwibawa di usianya. Apalagi dengan tambahan kaca mata itu. Usianya Camelia perkiraan sama dengan Tuan Liang.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan dan Nona?"tanya pemilik toko itu dengan ramai. Ia berdiri, mempersilakan kedua tamunya itu duduk. Tak berselang lama, jl ada pegawai yang membawakan minuman.
"Saya Alexander, pemilik toko ini. Anda berdua dapat memanggil saya Mr. Alex," ujar pemilik toko itu memperkenalkan dirinya.
Deg!
Jantung Camelia langsung berdebar kencang. Pria di depan ini … benar-benar Alexander? Ayah kandungnya?
Tapi?
Mengapa tidak mengenali dirinya?
Kata Nyonya Besar Ling, wajah Camelia mirip dengan ibu kandungan, Ling Xiayu. Bahkan saat pertemuan pertama saja, Nyonya Besar Ling mengenali dirinya.
Mengapa pria yang notabene nya adalah ayah kandungnya ini tidak mengenali dirinya? Apakah pria di depannya ini melupakan sang ibu?
Ada banyak pertanyaan dalam benak Camelia. Meskipun ia sudah bertekad untuk tenang dan biasa saja. Tetap tidak bisa. Perasaan itu mencuat begitu saja tanpa bisa ia tahan.
Camelia kembali menoleh pada Andrean. Genggaman tangan Andrean semakin erat padanya.
"Saya Andrean, dan ini adalah calon istri saya, Camelia," ujar Andrean, tersenyum lebar.
"Camelia. Nama yang bagus. Kebetulan sekali, Eternel memiliki aroma parfum camelia. Wanginya begitu lembut. Kami juga menambahkan sedikit citrus. Saya rasa akan cocok dengan Anda," papar Mr. Alex. Memang pebisnis.
"Saya tertarik. Saya akan membelinya," jawab Andrean. Camelia kembali menatap Andrean. Apakah pria ini akan membeli apapun yang berkaitan dengan namanya? Tempo hari gaun dengan motif bunga camelia, sekarang parfum. Andai ada yang menawarkan kebun bunga camelia, apakah Andrean akan membelinya juga?
Mr. Alex mengangguk senang. "Lantas, apa maksud dari kedatangan Anda berdua? Apakah untuk mengajukan kerja sama atau memesan parfum dengan aroma tertentu?"tanya Mr. Alex. Nada yang ia gunakan santai. Namun, ada penekanan di dalamnya.
"Calon istri saya yang berkepentingan dengan Anda. Lia …."
"Ah?!"
Mr. Alex beralih menatap Camelia. "Aneh. Rasanya saya pernah bertemu dengan Anda."
Deg!
Mr. Alex tersenyum ragu. "Tapi, saya tidak begitu yakin."
"Mungkin saja. Karena calon istri saya adalah model."
Dia banyak bicara.
Camelia menggerutu dalam hati. "Hoho … benarkah? Jika begitu apa Anda tertarik menjadi model parfum Eternel? Entah mengapa saya merasa cocok dengan Anda."
Camelia terkesiap. Tawaran mendadak itu tidak pernah ia duga. "Kaget, ya? Tidak perlu dijawab sekarang. Saya akan senang jika Anda mempertimbangkannya," ujar Mr. Alex. Pria tua itu tersenyum. Bola matanya yang biru terlihat bersinar.
"Omong-omong, apa Anda berdua turis?"tanya Mr. Alex lagi.
"Benar. Saya dari Cina, sementara calon istri saya dari Kanada."
"Wah. Mengapa pas sekali?" Mr. Alex begitu girang. Wajahnya benar-benar berseri. "Sepertinya ini takdir! Nona, tolong pertimbangan dengan baik. Jadilah model … ah tidak! Jadilah brand ambassador dari Eternel. Eternel punya reputasi yang bagus. Sudah berdiri sejak puluhan tahun. Eternel adalah legenda. Saya jamin, Anda tidak akan kecewa!" Mr. Alex berdiri. Menggenggam kedua tangan Camelia.
Bukan hanya Camelia, Andrean juga terkejut. Mr. Alex bertambah begitu bersemangat. Wajahnya begitu memelas agar Camelia setuju.
"Sayang? Apa yang kau lakukan?"
Tiba-tiba seorang wanita berambut pirang, wajahnya cantik, masuk ke dalam ruang kerja.
"Ah, Sayang. Kau sudah datang?" Mr. Alex berdiri. Ia merangkul wanita itu. Jelas sekali, wanita itu pasti istrinya.
Nyut!
Hati Camelia terasa perih. Amarah menyeruak di hatinya.
Pasangan itu tampak begitu harmonis. Camelia tidak menyukai! Ia membenci itu! Bagaimana bisa?!
Pria yang meninggalkan ibunya itu bahagia bersama dengan wanita lain? Sementara ibunya menderita? Ia juga menderita!!
"Ohoho ada tamu rupanya. Salam kenal, saya Marry, istri dari Mr. Alex. Anda berdua dapat memanggil saja Madam Marry," sapa wanita bernama Marry itu.
Andrean mengangguk. Sementara Camelia tetap diam. Sorot matanya begitu dingin. Madam Marry terperanjat.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya kau sibuk. Aku keluar dulu. Mari, Tuan dan Nona," ujar Madam Marry. Ia buru-buru keluar.
"Mari lanjutkan perbincangan kita," ujar Mr. Alex.
"Keputusan tawaran Anda saya kembalikan lagi pada Anda setelah ini," jawab Camelia.
Amarahnya mereda. Lia sudah mengendalikan dirinya, batin Andrean.
Mr. Alex mengerutkan dahinya. Tidak mengerti.
Camelia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Itu sebuah foto.
Mr. Alex menerima foto tersebut. Foto seorang wanita. Meskipun hitam putih, kecantikan wanita itu dalam foto itu masih terpancar.
"Siapa ini? Mirip dengan Anda, Nona."
"Anda tidak mengenalnya?"tanya balik Camelia.
Mr. Alex mengernyit. "Saya juga tidak tahu. Rasanya sama seperti saat saya bertemu dengan Anda. Seperti pernah bertemu."
"Seperti?"
"Tapi, mengapa Anda menunjukkan foto ini? Apa Anda sedang mencari informasi?"tanya Mr. Alex.
"Anda sungguh tidak mengenalinya?"
"Tidak."
Camelia menggigit bibirnya. "Dasar br*engsek! Baj*ingan! Bed*ebah si*alan!!"umpat Camelia. Setelah itu pergi meninggalkan ruangan. Meninggalkan Andrean dan Mr. Alex yang terkejut.
Wajah Mr. Alex begitu terkejut. Sama sekali tidak menduga akan dimaki seperti itu. Apalagi amarah di matanya terlihat jelas.
Nyut!
Apa ini?
Mr. Alex menyentuh dadanya.
"Tolong jangan tersinggung, Mr. Alex. Calon istri saya sedang dalam kondisi tidak baik," ujar Andrean.
"T-tidak apa-apa."
"Saya permisi." Andrean menyusul Camelia.
Mr. Alex termenung setelah kepergian Camelia dan Andrean.
Perasaan asing apa ini? Mengapa hatiku berdenyut saat dia memakiku?
Foto ini … membuatku merasa aneh. Siapa sebenarnya dia?
Wajahnya, sekali lihat pun tahu adalah gadis Asia. Nona tadi bertanya apa aku mengenalnya? Apa aku pernah berhubungan dengan wanita ini? Gadis Asia? Seingatnya, aku tidak pernah pergi ke Asia.
Uhhh!
Kepalaku pusing sekali.
"Sayang," panggil Madam Marry dengan lembut. Wanita itu kembali masuk ke dalam ruangan. Mr. Alex buru-buru menyimpan foto itu.
"Tamunya sudah pulang?"
"Baru saja," jawab Mr. Alex.
"Mengapa? Kau pusing? Apa yang kalian bahas?"tanya Madam Marry. Wajahnya dipenuhi dengan rasa penasaran.
"Mereka memesan parfum."
"Wah? Apa untuk jadi souvernir? Mereka pasti pasangan kaya," ujar Madam Marry. Wajahnya begitu berbinar.
"Tapi, mengapa kau pusing? Apa kriterianya sulit?"
"Bukan begitu. Aku menawari Nona tadi untuk bekerja sama dengan kita. Menjadi BA untuk parfum terbaru. Jawabannya hanya akan dipertimbangkan, entahlah. Aku merasa resah dengan ketidakpastian itu," jawab Mr. Alex, memeluk dan mencium kening sang istri.
"Sungguh? Dia pasti model yang hebat! Omong-omong, sudah lama sekali ya? Pasti dia cocok menjadi model Eternel. Aku harap dia menerimanya."
"Semoga saja."
__ADS_1
Aku ingin bertemu dengannya lagi.