Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap.247


__ADS_3

“Hallo, Sayang. Bagaimana harimu?”tanya Camelia lembut lewat panggilan telepon.


“Tumben kau menghubungi lebih dulu, ada kabar apa, hm?”tanya balik Andrean.


“Apakah salah jika aku menghubungimu lebih dulu?”


“Tidak salah,” jawab Andrean.


“Namun, kau benar soal ada kabar. Little Boy kita menginginkan sesuatu,” ujar Camelia.


“Really? Apa itu? Katakan padaku, aku akan segera membawakannya. Mobil? Pesawat pribadi? Apartemen? Atau makanan dan buah? Aku akan memenuhinya,” jawab Andrean bersemangat dan juga sedikit tegang.


“Kau berjanji untuk memenuhinya?”tanya Camelia menyakinkan.


“Tentu saja!”


“Baiklah. Tidak mahal kok.”


*


*


*


Tidak mahal sih. Tapi, ini menghancurkan citra wibawaku, jerit Andrean saat tahu keinginan Camelia. Sempat ia menolak. Namun, malah mendengar tangisan Camelia disertai dengan ancaman. Mulut sudah berjanji dan ia lupa bahwa permintaan Camelia itu “unik”.


Memakai daster Hello Kitty ke kantor dan harus dikirim video sebagai bukti bahwa Andrean telah memenuhi permintaannya.


Hans melotot tidak percaya melihat penampilan Andrean. Sungguh, berapa kalipun ia mengusap matanya. penampilan Andrean tidak berubah. Dan dari keterkejutan itu berubah menjadi gelegar tawa.


Bagaimana tidak?


Kaki yang padat dan berisi itu tampak begitu jenjang dan terbuka. Dada bidang itu dibungkus oleh daster pink yang longgar. Belum lagi dipadukan dengan sepatu kerja dengan rambut pendeknya. Sungguh lucu dan benar-benar menghancurkan wibawanya.


“Tuan, kita harus mengabadikan moment ini,” ucap Hans bersemangat.


“Simpan ponselmu!”


“Ayolah Tuan, cherss.”


“SIALAN KAU HANS!”maki Andrean saat Hans berlari keluar setelah mendapatkan foto selfie dengan Andrean.


“AKU SUMPAHI KAU MERASAKAN HAL YANG SAMA DENGANKU!”pekik Andrean kesal.


Disambut dengan gelak tawa Hans.


*


*


*


Atmosfer ruang rapat berbeda dari biasanya. Para peserta meeting tidak bisa fokus mengikuti pembicaraan karena salah fokus dengan penampilan Andrean. Dalam benak mereka berpikir sampai kapan Andrean memakai baju yang tidak pantas itu? Ini bahkan sudah lewat jam makan siang.


“Gunakan selama satu harian, awas jika kau berganti pakaian!”


“Tapi, Lia, aku ada meeting penting dengan dewan direksi, bagaimana bisa aku dengan penampilan seperti ini?”


“Jadi, pandangan dewan direksi lebih penting dari anakmu? Rean, bukankah Little Boy adalah pewarismu?”


“Iya, benar. Tapi,”


“Aku tidak mau dengar alasan apapun!”


Dan begitulah pembicaraan saat jam makan siang tadi berakhir.


Andrean menghela nafasnya.“Pemegang saham terbesar memintaku memakai hal ini, aku harus melakukannya agar tidak dipecat,” ungkap Andrean kepada dewan direksi. Itu menghentikan pembicaraan meeting.


“Bukankah pemegang saham mayoritas adalah Anda, Presdir?”


“Ah, aku sudah mengalihkan semuanya pada istriku. Jadi, sekarang dialah pemilik perusahaan dan kedudukan tertinggi di sini,” jawab Andrean.


“Apa?”


“Bagaimana bisa?”


“Salahkah memenuhi permintaan istri? Memang kurang masuk akal tapi aku pikir itu juga bukan keinginannya untuk mempermalukan suami. Anakku ingin sesuatu, aku sebagai ayahnya, harus memenuhinya, bukan?”


“Istriku tidak meminta hal yang mahal, hanya saja, aku harus sedikit berkorban. Istriku tengah hamil, akan mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan nanti. Memenuhi permintaannya adalah caraku ikut berbagi kesusahan saat dia hamil. Jadi, berhenti menatapku aneh seperti itu dan fokus pada meeting ini!”tegas Andrean. Ia baru menyadarinya saat Camelia mengirim pesan permintaan maaf.


Sayang, aku tahu permintaanku ini aneh, konyol, dan juga mempermalukanmu. Namun, aku tidak bisa menahannya. Maafkan aku, kau bisa melepas baju itu.

__ADS_1


*


*


*


“Rean, kau masih memakai bajunya?”heran Camelia saat mereka melakukan video call. Bukankah ia sudah mengatakan Andrean bisa melepas baju itu?


“Aku sudah memenuhi permintaan anak kita. Bagaimana? Aku Ayah yang hebat, bukan?”sahut Andrean dengan senyum lebar.


“Sungguh? Kau melakukannya sampai akhir?” Mata Camelia langsung berkaca-kaca.


“Maaf … maaf, hiks … kau pasti jadi bahan gosipan dan malu karenaku.”


“Aku memang banyak maunya, tidak tahu diri, terlalu menyusahkanmu dan keras kepala. Hiks, mengapa kau mau menikah dengan wanita sepertiku, Rean? Hiks.”


Andrean bingung. Mengapa malah menangis dan melantur? Apakah semakin sensitif? Ini sudah trimester kedua.


“Lia, My Heart, Istriku Sayang, jangan mengatakan hal-hal itu. Aku mencintaimu, itu alasan yang cukup untuk menikah dan menerima kurang dan lebihnya dirimu. Jangan pernah berpikir seperti itu,” ungkap Andrean.


“Apakah kau lupa pesan yang kau kirimkan padaku tadi? Ini juga bukan inginmu. Namun, kau tak sanggup menahannya. Jadi, jangan merasa seperti itu, okay?” Menenangkan Camelia dengan lembut.


Camelia menghapus air matanya. Terharu dengan ucapan Andrean. “Dan aku sudah siap untuk permintaan yang lain. Jadi, jangan ragu untuk mengatakannya. Aku akan berusaha untuk memenuhinya, okay?”


Camelia menggangguk. “Xiexie, Rean. Aku beruntung memilikimu.”


“No. Akulah yang beruntung memilikimu.”


“Pergilah tidur, kau butuh istirahat yang cukup,” ucap Andrean.


“Sampai jumpa akhir pekan. Aku mencintaimu.”


“Aku mencintaimu, Lia.”


Panggilan berakhir. Andrean menarik senyum sebelum melepas daster yang ia kenakan.


“Rasanya aneh, angin masuk ke bagian bawahku,” gumam Andrean.


Andrean kemudian melihat kalender yang ada di dekatnya. “Semoga Little Boy senang sehingga aku bisa memeluk Lia.”


*


*


*


Camelia terkejut dengan sambutan itu. Nyonya Shane yang datang bersama dengan Camelia bergabung dengan Andrean dan lainnya.


Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan. Kue dengan lilin angka 30 tahun di atasnya. Tak lupa balon warna-warni. “Rean bukankah kau-? Kalian?”


“Ayo tiup lilinnya.” Andrean sudah berdiri tepat di depan Camelia. Tersenyum hangat. Sedang yang lain menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Camelia meniupnya.


“Horee!”


“Selamat ulang tahun istriku tercinta, terima kasih telah mau menjadi bagian dari hidupku. Aku akan memberikan yang terbaik dari hidupku untukmu, selamanya,” ucap Andrean.


“Mom, kami akan menjadi anak yang baik. Dan jangan terlalu khawatirkan kami. Fokus pada Little Boy saja,” ucap Liam.


“Ayo-ayo potong kuenya,” ucap Nyonya Shane. Mereka semua duduk.


Camelia memotong kue itu, rasa red velvet, favoritya. Andrean memberikan suapan pertama pada Camelia. Camelia balas menyuapi Andrean tak lupa juga anak-anaknya. Serta Tuan dan Nyonya Shane.


“Mom, aku tidak tahu harus memberi hadiah apa. Bunga sakura di luar cantik, jadi aku bersama dengan Grandma menyulam sapu tangan dengan motif bunga sakura,” ucap Crystal, mengeluarkan sebuah kotak persegi dan memberikannya pada Camelia.


Camelia membukanya. “Cantik sekali.” Sulaman bunga sakura bewarna merah muda dan ada inisial nama. “Sejak kapan kalian membuat ini, hm?”


“Cukup lama Mom, hehehe.”


“Terima kasih. Aku suka hadiahnya.”


Crystal tersenyum puas.


“Aku dan Liam membuat lukisan keluarga kita. Tapi, hasilnya cukup tidak memuaskan, Mom.”


Lucas memberikan gulungan kanvas pada Camelia. Keduanya dengan segera menunduk malu. “Ini sangat bagus, Lucas, Liam. Lihat ini, Rean.”


“Err-” Andrean menyipitkan matanya. Melirik Camelia saat merasakan ia tengah di kode. “Ya … ya ini sangat bagus! Lukisan berharga, akan kita pajang di ruang tamu,” ucap Andrean penuh semangat.


“Sungguh?” Lucas berbinar.

__ADS_1


“Dasar bodoh!”gumam Liam.


Tuan dan Nyonya Shane terkekeh pelan.


“Lia, ini hadiah dariku.” Andrean mengeluarkan sebuah map. Camelia mengeryit. “Apa ini?”


Camelia membukanya. Matanya membola seketika. “Andrean? Apa maksudmu?”


“Itu hadiahku.”


“I-ini-” Camelia menggelengkan kepalanya.


“Kau serius? Kau- ini kerja kerasmu bagaimana bisa kau berikan padaku? Aku tidak bisa menerimanya. Akan segera ke kembalikan atas namamu.”


“Lia.” Andrean merangkul bahu Camelia. “Kerja kerasku itu untukmu. Tidak salah, bukan? Atau kau mau mencampakkanku saat aku tidak punya apa-apa lagi?”tanya Andrean sedih.


“Tidak mungkin!”


“Kalau begitu terimalah.”


“T-tapi ….”


“Atau perlu aku tambah dengan saham Gong Group?”


Itu ancaman secara halus. “CUKUP!”


Andrean tersenyum puas.


“Eh-eh.”


Nyonya Shane terkesiap dengan posisi Andrean dan Camelia sekarang. “Lia, kau sudah tidak mual muntah lagi?”tanyanya dengan bersemangat.


Andrean dan Camelia saling tatap, dan sama-sama melihat tangan Andrean yang merangkul. Mata keduanya membulat. “YES! AKHIRNYA!”


Andrean berdiri dan melakukan selebrasi. Akhirnya. Selesai juga. Sementara Camelia tampaknya memikirkan hal lain. “Kalau begini aku ada hadiah lain. Ayo pergi.” Gegas menarik Camelia bangkit.


“Mau ke mana. Yah? Ikut!”rengek Lucas, berhasil menarik ujung baju Andrean.


“Ikut juga.”


“Pergilah kalian berdua,” ucap Nyonya Shane, menarik Lucas ke sisinya.


“Tapi, Grandma-”


“Ini sudah malam.”


Andrean dan Camelia sudah menghilang di balik pintu. “Yahh.”


“Kita pulang ke apartemen?”tanya Tuan Shane.


Nyonya Shane mengggeleng. “Kita akan menganggu mereka. Tidur di sini saja.”


“Kuenya masih ada. Ayo habiskan kalau tidak simpan di lemari es.”


*


*


*


Setelah sekian lama, akhirnya Little Boy menerima sang Ayah. Itu sangat membahagiakan Andrean. Akhirnya ia bebas bisa menggandeng, memeluk, dan mencium istrinya. “Kau langsung memikirkan ini, Rean?”


Keduanya sedang bermesraan di atas ranjang. “Dua bulan lebih aku uring-uringan menahannya, Lia.”


“Aku tidak pernah melakukannya saat hamil. Apakah tidak apa-apa? Aku takut seperti yang terakhir kali,” ringis Camelia. Ada kekhawatiran di matanya.


Andrean meringis pelan dengan tertawa canggung. Jika diingatkan, ia juga trauma dengan itu. Tapi, jika sudah seperti ini, apa tidak dilanjutkan? Di bawah, itu sudah sempurna.


“Aku akan lembut. Dan pelan-pelan biar Little Boy tidak terkejut, bagaimana?”


“Sepertinya begitu.”


Andrean mengusap perut Camelia. “Little Boy, Ayah datang menjenguk lagi, apakah boleh?”tanyanya lembut.


Mata Andrean membulat seketika saat menerima balasan. “Little Boy menendang. Dia setuju, benarkan?”


“Benarkah?”


“Coba rasakan.” Camelia juga mengusap perutnya. Benar. ada respon.


“Ini tendangan pertama yang aku rasakan darinya. Selamat, Rean.”

__ADS_1


“Lia … aku tidak akan pernah mengecewakanmu lagi. Aku mencintaimu.”


__ADS_2