Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 201


__ADS_3

Tahun baru akan segera datang. Dan natal sudah di depan mata. Satu hari sebelum hari natal tiba, kediaman Shane telah dihias sedemikian rupa. Pernak-pernik khas Natal menghiasi hampir setiap sudut ruangan.


Selain itu, kue khas Natal juga sudah tertata rapi di atas di meja makan ataupun keluarga. Keluarga Shane memang jarang sekali menerima tamu.


Salju pertama belum turun. Diperkirakan akan turun di pertengahan Januari nanti. Hanya suhu saja yang semakin dingin.


Malam hari telah tiba. Setelah pulang dari ibadah malam, Lucas dan Liam menggantungkan kaus kaki di dekat penghangat ruangan. Ini adalah kepercayaan dan tradisi. Natal identitas dengan Santa Claus yang datang untuk membagikan hadiah natal kepada anak kecil.


Setelah menggantungkan kaus kaki itu, Lucas dan Liam berdoa. Tampaknya ada banyak harapan yang mereka sampaikan.


"Pergilah tidur," ujar Camelia. Lucas dan Liam mengangguk patuh.


Keduanya segera naik ke lantai dua, menuju kamar mereka.


"Dion, apa bonus tahunan sudah kau bagikan?"tanya Tuan Shane.


"Belum, Dad. Rencananya setelah rapat akhir tahun lusa," jawab Dion.


"Okay." Tuan Shane mengangguk paham. Dibagikan setelah rapat akhir tahun bukan tanpa alasan. Hal itu dilakukan akan setiap karyawan melakukan tugasnya dengan baik. Dan laporan yang memuaskan. Karena jumlah bonus yang diterima tidaklah sedikit.


Hal itu juga dilakukan untuk memacu semangat kerja para karyawan.


Lusa rapat akhir tahun akan dilakukan dan Dion akan perdana memimpin rapat besar tahunan itu. Rapat itu bukan hanya laporan kegiatan selama satu tahun, namun juga merancang agenda di tahun mendatang, serta pembagian keuntungan untuk para pemegang saham. Tentu saja, itu akan jadi hari yang panjang dan melelahkan.


Tuan Shane akan tetap hadir pada rapat-rapat itu.


"Acara konser tahun baru kapan, Lia?"tanya Nyonya Shane.


"Tanggal 30, Mom," jawab Camelia. Memang tidak pas malam tahun barunya. Konser itu akan diadakan outdoor, di alun-alun kota dengan sekalian perayaan kembang api, setelah tepat satu tahun berakhir dan awal tahun dimasukin.


"Besok kita akan mengunjungi kediaman Smith," ujar Nyonya Shane.


Camelia mengangguk. Ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Yang mana biasanya keluarga Smith yang berkunjung ke kediaman Shane. Namun, tahun ini berbeda karena David yang sudah menikah dengan Lina, yang mana Lina juga sedang hamil muda. Sangat rentan. Apalagi mengalami morning sickness.


"Tanggal 1, kita akan menonton teater Lucas dan Liam. Sepertinya rencana akhir tahun kita sudah padat," ujar Tuan Shane, terkekeh pelan.


*


*


*


Keesokan paginya, keluarga Shane telah siap untuk berangkat ke gereja untuk ibadah dalam rangka hari natal yang mana merupakan hari kelahiran Yesus Kristus.


Setelah selesai, mereka tidak langsung pulang melainkan menuju ke kediaman Smith, seperti yang telah dijadwalkan.


Perjalanan menuju ke kediaman Smith sekitar 30 menit. Gerbang kediaman Presdir Glory Entertainment itu terbuka lebar. Mobil Alphard yang dikemudikan oleh Dion melaju masuk.


"Sudah datang." Nyonya Smith menyambut keluarga Shane, bersama dengan David dan Lina.


"Apa kabar?"balas Nyonya Shane. Kedua wanita paruh baya itu berpelukan.


"Bagaimana kabarmu, Kak?"tanya Camelia, memeluk Lina.


"Sudah lebih baik, Lia. Itu berkat David," jawab Lina, tersenyum menatap suaminya.


"Sepertinya kau dijaga dengan baik, Kak," kekeh Camelia, menggoda Lina dan David.


"Tentu saja! Aku akan melakukan apapun agar istriku nyaman!"tegas David, menanggapi dengan serius.


"Tentu saja! Itu suatu keharusan!"sahut Camelia, tak kalah tegas.


"Sudah-sudah. Ayo masuk," ajak Nyonya Smith. "Di luar dingin," imbuhnya kemudian.


Mereka semua masuk. Langsung menuju meja makan. Di sana sudah terhidang aneka jenis makanan. Juga ada kue jahe. Minuman jahe juga ada di atas meja.


"Lama tidak melihat kalian langsung, tak terasa kalian sudah setinggi ini," ucap Nyonya Smith, menatap Lucas dan Liam berganti.


"Hehe, tentu saja. Pertumbuhan kami kan cepat," sahut Lucas.


"Baiklah-baiklah. Ayo, coba kue ini dan minuman jahenya. Ini akan membantu pertumbuhan kalian," ujar Nyonya Shane, menyodorkan piring berisi kue serta dua gelas kecil minuman jahe itu.

__ADS_1


"Memangnya ini serum?"gumam Liam. Tentu saja ia tidak percaya dengan apa yang Nyonya Smith katakan.


"Pedas!"seru Lucas, ia memejamkan matanya.


"Namanya juga jahe," kekeh Nyonya Smith.


"Dion, kau semakin tampan. Bagaimana? Sudah punya kekasih?" Nyonya Smith gantian menatap Dion. Dion yang tengah menikmati kue tersedak, kaget dengan pertanyaan Nyonya Shane.


"Apakah harus pertanyaan itu, Aunty? Aku masih sibuk dengan pekerjaannya, mana sempat memikirkan apa itu kekasih," sahut Dion setelah minum. Sepertinya sudah mendarah daging. Jika sudah dewasa, dan lama tidak bertemu, pasti akan ada pertanyaan apa sudah punya kekasih, istri, dan sebagainya.


"Dion punya target tersendiri, Aunty. Kita hanya tinggal menunggu waktunya," imbuh Camelia.


"Kak, kau meledekku?"sungut Dion.


"Tidak," jawab Camelia, mengedikkan bahunya.


"Bagus jika sudah punya target. Tenang saja, usia di atas tiga puluh akan tetap laku, kok. Sudah terbukti," ujar Nyonya Smith, menengahi adik dan kakak itu. Nyonya Shane melirik David yang merasa ternotice.


"Padahal kita di meja makan," gumam David.


"Sampai kapan kita terus mengobrol? Tidak dengar suara perut yang saling menyambung?"


Thanks, Mom!


Dion berseru senang. Nyonya Shane bertanya dengan menatap Tuan Rumah.


"Ah … hahaha. Ayo-ayo, silakan makan. Habiskan semuanya!"ucap Nyonya Shane.


"Perut kita bisa meledak jika makan semua ini," bisik Liam pada Lucas.


"Kau kenapa? Itukan cuma kiasan?"balas Lucas.


"Oh."


Lucas mendengus pelan mendengar sahutan Liam.


Setelah acara makan bersama selesai, mereka beralih menuju ruang tamu. Kecuali Camelia dan Lina yang duduk terpisah.


Pembicaraan itu tak jauh-jauh dari bisnis.


*


*


*


"Sepertinya ada banyak hal yang ingin kakak katakan padaku," ujar Camelia, mengawali pembicaraan. Keduanya berada di kamar Lina dan David.


"Terlihat jelas, ya?"tanya Lina, tertawa pelan dengan menggaruk pipinya.


"Ayo, katakan padaku. Mungkin aku bisa memberikan pendapat atau kau akan merasa lega, Kak," ujar Camelia lagi, memegang kedua tangan Lina.


Lina menghela nafas pelan. Kemudian mulai mengatakan banyak hal pada Camelia. Tentang kehamilannya, David, dan juga dilema hatinya. Lina masih belum memutuskan pembicaraannya dengan David beberapa hari lalu.


Gejala morning sickness Lina sudah mereda. Tidak terlalu sering. Kecuali jika mencium sesuatu yang menyengat, baik makanan atau parfum.


"Aku pernah berada di posisimu, Kak. Bahkan lebih parah lagi," ujar Camelia, menanggapi curhatan hati Lina akan ketakutan jika identitasnya sebagai istri David.


"Aku dan Chris menikah saat aku sudah hamil Lucas dan Liam. Bisa terbayang tidak? Bagaimana riuhnya itu?"


Camelia tersenyum simpul mengingat masa itu.


"Pasti sangat berat," jawab Lina langsung.


Camelia menggeleng. "Tidak?"


"Karena aku tidak ambil pusing dengan ucapan mereka yang mencibir atau apapun itu. Chris selalu menekankan padaku bahwa aku adalah istrinya, menantu tunggal keluarga Shane. Aku tidak boleh lemah mental. Karena, menikah dengannya tentu ada konsekuensi yang harus diterima."


Lina mendengarkan dengan serius.


"Tapi, jika hubungan kami terpublikasikan, mereka akan menuduhku menggunakan jalur orang dalam," ucap Lina. Mentalnya belum sekuat Camelia.

__ADS_1


Camelia terkekeh pelan mendengarnya. "Awalnya aku juga demikian. Namun, Kak. Kau sekarang adalah istri Kak David. Mau kau menggunakan orang dalam, atau menggunakan posisi suamimu, itu bukan hal yang patut mereka ributkan. Karena, andai kata kau tidak bekerja pun, mereka berada di bawahmu. Ingat kembali posisimu, Kak. Rendah hati boleh saja, rendah diri, jangan pernah sekalipun!!"tegas Camelia. Apakah ia pernah mengatakannya? Ia tidak sepenuhnya baik, tidak pula sepenuhnya buruk.


"Jalan hidup setiap orang berbeda. Tidak ada jaminan jika yang kaya dengan yang kaya, yang kurang dengan yang kurang. Jadi, jangan pernah merasa takut, ataupun merasa tidak pantas. Setiap orang punya ukuran pantas yang berbeda, tidak hanya dari segi kedudukan!!" Camelia memberi sedikit tekanan pada pundak Lina.


"Aku tahu, ini tidak mudah bagimu, Kak. Pelan-pelan saja. Saran kak David itu boleh juga. Manager Margaretha terkenal setia dan tidak memandang seseorang dari latar belakang keluarganya. Bagi dirinya adalah kepribadian diri!"


Lina terdiam mendengar semua perkataan Camelia.


"Namun, meskipun menggunakan latar belakang keluarga ataupun orang dalam, kemampuan tetap yang utama," tambah Camelia. Oleh karena itu, ia mampu mempertahankan posisinya. Dan juga setiap tahun menambah koleksi piala penghargaannya.


"Jika seperti itu, mungkin aku tidak bisa meniti karier menjadi seorang manager," sahut Lina. Ia menunduk sedih. Mengapa menjadi rumit untuk dirinya?


"Tidak sepenuhnya benar, Kak!"sergah Camelia.


"Coba katakan padaku, perusahaan kak David bergerak dalam bidang apa?"tanya Camelia.


"Entertainment."


"Benar! Agensi, manajemen artis, kak David adalah bosnya! Dan kakak adalah istri Bos, bagaimana? Tidak gagal, namun skalanya bertambah besar," ujar Camelia dengan tersenyum lebar.


Lina kembali tertegun. Ia memikirkan kata-kata Camelia. Ada benarnya dan masuk akal.


"Kak, apapun pilihanmu, akan ada resikonya. So, silakan tentukan pilihanmu," ujar Camelia. Ia sudah bicara panjang lebar. Tidak hanya bicara hal manisnya, namun juga hal pahitnya.


Camelia melihat jam tangannya. "Ayo keluarkan, Kak," ajak Camelia.


"Ah, baik."


Keduanya meninggalkan kamar, bergabung dengan yang lain. "Kebetulan, ayo kita pulang," ujar Tuan Shane.


"Ayo! Alel dan Archie pasti sudah menunggu!"sahut Lucas, penuh semangat.


"Alel? Archie?" Nyonya Smith, David, dan Lina mengernyit bingung.


"Iya! Teman baru kami!" Tetap Lucas yang menjawab.


"Jika penasaran, berkunjunglah ke kediaman kami," ujar Nyonya Shane pada Nyonya Smith.


"Aku akan datang," jawab Nyonya Smith. Nyonya Smith penasaran dengan senyum sahabatnya itu.


"Jangan lupa, acara tahun baru," ujar Nyonya Shane.


Nyonya Smith mengangguk.


"Kalau begitu kami pamit," ujar Tuan Shane.


"Hati-hati."


"Sampai jumpa lagi."


Keluarga Shane masuk ke dalam mobil, kemudian meninggalkan kediaman Smith.


"Ayo masuk, di luar dingin," ujar David.


Mereka masuk. Dan kembali duduk di ruang keluarga.


David mengeluarkan ponselnya, mengirimkan pesan pada seseorang.


Bagaimana, Lia? Aman?


Ternyata pesan untuk Camelia.


Off course. Kak Lina akan segera membuat keputusan.


David tersenyum lebar membaca pesan tersenyum. "Mengapa kau tersenyum, David?"


David memalingkan wajahnya pada Lina. Sorot mata Lina penuh selidik. Terhenyak sesaat. Mencari arti tatapan selidik itu.


Ah, rupanya cemburu.


"Kerja samaku disetujui, aku harus tersenyum, bukan?"jawab David, tersenyum lembut pada Lina, membawanya dalam peluk.

__ADS_1


Apapun pilihanmu, aku akan mendukungnya.


__ADS_2