
Rapat malam itu membuat keluarga Gong gempar. Ucapan Andrean terngiang terus di benak mereka. Jika saatnya tiba, akan diperkenalkan pada mereka. Artinya, jelas Andrean sudah memiliki kekasih. Kakek Gong juga tidak berkomentar, artinya tahu.
Rapat itu menyisakan rasa penasaran yang besar di hati mereka. Siapa dan bagaimana latar belakangnya. Mereka sangat menantikannya, saat Andrean akan memperkenalkan siapa kekasihnya.
Namun, hal itu tidak serta merta menyusut niat beberapa orang yang hendak menjadikan putri mereka sebagai Nyonya keluarga Gong.
Seperti yang Andrean katakan tadi malam, keesokan paginya, Andrean langsung meninggalkan kediaman lama Gong, kembali ke Beijing bersama dengan Crystal.
"Jaga kesehatan Kakek. Pernikahanku masih lama lagi," ucap Andrean, setengah berbisik pada Kakek Gong.
"Tenang saja. Kakek punya banyak ginseng langka," balas Kakek Gong, berbisik pula.
Andrean terkekeh pelan. "Aku pulang."
"Dadah, Kakek Buyut."
"Hati-hati."
*
*
*
Andrean dan Crystal tiba di Beijing sebelum jam makan siang tiba. Saat memasuki kediaman, salju sudah berserakan di area terbuka istana.
"Tuan," sapa Lie.
"Kau?" Andrean tampak heran. "Kau tidak kembali ke Shanghai?"tanya Andrean.
"Saya tidak punya alasan untuk kembali ke Shanghai, Tuan," jawab Lie. Ia sebatang kara. Apartemennya di Shanghai sudah ia sewakan, juga tidak ada tempat untuk dikunjungi.
"Hm …."
"Paman Toby!!"seru Crystal, saat Toby muncul dan menyambut kedatangan mereka.
"Nona Muda." Toby langsung berjongkok dan menerima pelukan dari Crystal. Andrean menatapnya datar.
"Bagaimana dengan Hans?"tanya Andrean pada Lie.
"Sekretaris Hans, sepertinya pergi keluar," jawab Lie. Andrean mengangguk kecil. Ia kemudian menuju lift untuk menuju kamarnya.
"Tuan terlihat sangat lelah. Padahal kan baru pulang dari kampung halaman," heran Lie.
"Ayah sangat lelah, Paman Lie," sahut Crystal. Mendongak menatap Lie. "Ayah sekarang adalah kepala keluarga."
"Tuan?" Lie terhenyak.
"Apa itu benar, Nona?"tanya Toby, memastikan. Jika benar seperti itu, maka tugas Andrean akan semakin banyak. Bukan hanya memimpin dua perusahaan besar namun juga memimpin keluarga Gong. Pantas saja Tuannya terlihat lelah.
"Sekretaris Lie, apa Anda baik-baik saja?"tanya Toby.
"Ah?" Lie tersadar. Ia kemudian menggeleng. "Saya baik-baik saja," jawab Lie, segera berlalu.
Artinya tugas kami juga semakin bertambah, batin Lie. Sudah terbayang pekerjaannya akan bertambah.
*
*
*
1 Januari. Di siang harinya, seperti jadwal yang telah ditetapkan, hari ini adalah hari- H dari pertunjukan teater. Diadakan di gedung pertunjukan terbesar di Ottawa, yang mampu menampung belasan ribu penonton.
Tiket sudah dijual satu minggu sebelum acara dan dalam hitungan menit sudah ludes terbeli. Artinya, acara ini memang sangat dinantikan. Harga tiket bervariasi, ada yang reguler dan VIP.
Poster bersebaran di bagian luar gedung, begitu juga saat masuk. Ada satu poster besar yang menjadi background untuk berfoto. Letaknya ada di dalam gedung.
Teater itu berjudul "Like Dandelion". Mengambil latar belakang abad pertengahan. Berkisah tentang satu keluarga yang dianggap penghianat oleh kerajaan. Yang menyebabkan keluarga itu harus berpisah dan hidup bersembunyi. Namun, meskipun berpisah, mereka tidak pernah tercerai. Oleh karenanya, judul dari teater ini adalah "Like Dandelion". Yang berkaca pada makna dandelion, yakni mudah beradaptasi, tidak mudah tercerai, dan pemberani.
Lucas dan Liam sudah datang ke gedung pertunjukan sejak pagi hari. Untuk kembali persiapan sebelum tampil. Sementara keluarga Shane hadir sekitar 30 sebelum pertunjukan. Di mana, gedung pertunjukan sudah ramai dengan penonton.
Dion membuat persiapan. Memasangkan kamera pada tripod untuk merekam pertunjukan teater nantinya.
Tempat duduk keluarga Shane adalah di bangku VIP, bersama dengan penonton VIP lainnya.
Tepat pukul 14.00, pertunjukan dimulai. Diawali dengan musik yang mengalun dengan semangat, diikuti dengan tirai panggung yang terbuka.
Camelia aktif mengabadikan momen Lucas dan Liam di atas panggung. Story instagramnya sampai berjumlah puluhan. Wajar saja, ini adalah kebanggaan untuknya.
Aktor yang sudah senior saja belum tentu bisa berakting seperti itu.
Selama kurang lebih 3 jam, teater itu berlangsung. Dengan akhir yang dianggap sempurna oleh para penonton. Tepuk tangan meriah menutup acara itu.
__ADS_1
"Aku sangat yakin, Lucas dan Liam akan lebih sukses daripada orang tuanya," ucap Tuan Shane. Ia menyeka sudut matanya. Baru kali ini, ia menyaksikan akting Lucas dan Liam secara langsung. Tanpa editan atau penyuntingan sama sekali.
"Tentu saja, Dad!"sahut Camelia, ia juga menyeka sudut matanya. Siapa yang tidak akan terharu?
"Benar-benar menjanjikan. Aku sangat bangga pada mereka," ucap Dion.
"Ayo-ayo, kita ke belakang. Kita berfoto sekaligus menjemput mereka pulang," ajak Nyonya Shane. Dion terlebih dulu membereskan kamera dan tripod. Kemudian mereka menuju ke backstage.
"Lucas, Liam," panggil Camelia.
"Mom!" Kedua anak yang masih memakai pakaian tampil mereka memeluk Camelia.
"Mom sangat bangga pada kalian," ucap Camelia, mencium pipi kedua anaknya.
"Kami senang mendengarnya, Mom," sahut Lucas.
"Ayo, terima ini." Nyonya Shane memberikan Lucas dan Liam masing-masing satu bucket bunga.
"Ayo berfoto." Kemudian meminta salah seorang staf untuk mengambil foto mereka. Foto keluarga yang rencananya akan dipajang di ruang tamu kediaman Shane.
*
*
*
"Kak, videonya sudah aku masukkan ke dalam file ini," ucap Dion. Tak lama setelah mereka tiba di kediaman Shane.
"Sudah kau kirimkan padaku?" Camelia kini tengah berada di dapur, bersama dengan Nyonya Shane. Memasak makan malam yang spesial untuk merayakan kelancaran dan kesuksesan pertunjukan teater tadi.
"Sudah, Kak," jawab Dion.
"Uncle, kirim padaku," seru Lucas.
"Untuk?"tanya Dion.
"Dikirim pada Ayah. Untuk hadiah ulang tahun Ayah," jawab Lucas.
"Hadiah ulang tahun?" Dion mengernyit heran.
Lucas mengangguk. "Ayah kan kaya raya. Aku rasa dia sudah memiliki semuanya. Video itu sangat berharga, itu adalah penampilan pertama kami bermain teater. Pasti itu hadiah yang berkesan," jelas Lucas. Ia tersenyum penuh percaya diri. Dion mendengus.
"Ku pikir ulang tahunnya sudah lewat. Kalian harus bersiap jika ia kesal," sahut Dion. Kemudian mengirimkan file video itu ke pada Lucas.
"Memangnya Ayah berani kesal pada kami?"sahut Lucas. Ia tersenyum lebar. Sekilas itu menggemaskan. Namun, itu adalah senyum kepuasan. Menandakan bahwa mereka adalah pemegang tahta tertinggi. Ya, bagaimanapun mereka berdua, terutama Lucas adalah anak sulung dan dia juga anak laki-laki.
Dion tertawa pelan. Ia kemudian kembali naik ke kamarnya.
Camelia menggeleng pelan. Begitu juga dengan Nyonya Shane.
*
*
*
Selesai makan siang, Andrean mengecek ponselnya. Ada email masuk, dengan nama pengirim Lucas dan subjek "hadiah ulang tahun ayah".
Andrean membaca pesannya.
Hai, Ayah. Di sana pasti sudah tanggal 2 Januari, kan?
Sudah telat, bukan?
Tapi, aku rasa tidak apa.
Jangan kesal dulu. Aku dan Liam minta maaf untuk itu. Kami punya alasannya. Karena hadiah kami belum selesai. Dan hari ini hadiah kami baru selesai.
Silahkan buka link yang kami kirimkan, Ayah. Semoga Ayah suka. Setelah melihat hadiahnya, besok pagi jangan lupa hubungi kami, okay? Cause, di sini sudah tengah malam. Kami sangat lelah.
Dadah, Ayah.
Kami menyayangimu. Selamat bertambah usia, semoga kita lekas bersama.
Doaku singkat saja untuk Ayah, jangan kecewakan kami, aku, Lucas, dan Mom!
Baris terakhir pesan itu membuat Andrean mengernyit. Itu bukan gaya Lucas. Pasti Liam yang menulisnya. Benar-benar khas sekali.
Andrean segera membuka laptopnya. Setelah membuka link itu yang isinya adalah vudeo berdurasi sangat panjang.
Andrean dengan serius menonton video itu.
Ia berdecak. Kagum dengan kedua anaknya. Ia sebagai Presdir Entertainment sungguh sangat mengapresiasi penampilan kedua anaknya.
__ADS_1
"Masa depan mereka akan gemilang," gumam Andrean. Hadiah itu benar-benar berkesan.
Saat Andrean selesai melihat video itu, hari sudah sudah sore. Ia bergegas untuk mandi.
*
*
*
"Sekretaris Hans, Anda baru kembali?"tanya Lie.
"Hm." Hans mengangguk.
"Anda dari mana?"tanya Lie penasaran.
"Tuan sudah kembali?"tanya Hans, membalas dengan pertanyaan yang tidak nyambung.
Lie berdecak kesal. "Anda dari kencan buta?"terka Lie, matanya menyipit.
"Mengapa kau sangat pesat menjadi dengan urusan orang lain?"tanya balik Hans, ikut mendengus kesal.
"Pasti gagal, kan? Kau diapakan? Dimaki? Atau disiram?"kekeh Lie. Ia tampak senang.
"Diam kau!"seru Hans. Sepertinya benar. Bukannya diam, Lie malah tertawa terbahak.
"Ku bilang diam!" Hans hendak memukul Lie. Namun, Lie gesit menghindar.
"Ayolah sekretaris Hans. Jika Anda tidak mengatakan yang sejujurnya, Anda tidak akan kunjung mendapatkan pasangan. Katakan saja, Anda sekretaris Presdir Starlight Entertainment. Punya harta banyak. Kalau mau mobil, tinggal pilih. Tidak masalah, toh tugas pria adalah membahagiakan wanitanya," papar Lie panjang lebar, dengan terus menghindar dari pukulan Hans.
"Pandai sekali kau bicara! Mengapa tidak kau lakukan pada dirimu sendiri?!"sarkas Hans.
"Ya begitulah memang. Bisa menasehati orang lain namun diri sendiri entah bagaimana," sahut Lie santai.
"Kemari kau!"
"Tidak!"
Hans masih melanjutkan usahanya mengejar Lie. Dan Lie berusaha lari dari Hans. Kedua sekretaris itu kejar-kejaran.
"OII!"
Bugh!
Auh!
Lie yang refleks menghentikan langkahnya mendengar teriakkan itu, jatuh ditabrak oleh Hans yang tidak bisa berhenti. Alhasil keduanya terjerembab jatuh ke lantai. "APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH?!"
Andrean berkacak pinggang. "T-Tuan."
"BANGUN!"
Kedua sekretaris itu segera bangun. Keduanya masih saling memandang sinis.
"Kekanakan!"
"Dia duluan, Tuan!"ucap Hans.
"Kau yang mudah tersinggung, heh?!"
"Diam!" Andrean kembali berteriak.
"Apa masalahnya?"tanya Andrean. Melemparkan tatapan tajam pada kedua sekretarisnya itu.
Hans dan Lie kembali saling lirik. "Kencan buta, Tuan."
"Kencan buta?" Andrean menyipitkan matanya.
"Oh." Setelah mendengar alasannya, Andrean berlalu.
Hans dan Lie saling pandang, bingung. Hanya "oh" saja?
Namun, perlahan rasa bingung mereka memudar. Berganti dengan bulu kuduk yang merinding. Seakan mereka baru saja melakukan kesalahan dan takut menerima hukumannys.
"Kita akan baik-baik saja, kan?"tanya Lie, melirik Hans.
"Entahlah," sahut Hans.
"Ini semua karenamu!"ucap Hans tiba-tiba.
"Me?"
"Jika kau tidak memancingku, tidak akan seperti ini! Dasar!"kesal Hans.
__ADS_1
"Ya sudah. Kalau dihukum tinggal bagi dua. Kau lebih takut hukuman atau besok kita yang sudah masuk kerja? Ku dengar Tuan sudah jadi kepala keluarga. Artinya tugas kita akan semakin bertambah," ujar Lie. Menanggapi panjang ucapan Hans.
"I know," sahut Hans, kemudian berlalu.