
Wei Yan Li tidak senang dengan hal ini. Ia berdandan cantik untuk bertemu dengan Andrean namun tujuannya tidak tercapai.
"Apakah kerjasama dengan saya tidak penting? Sehingga Presdir menugaskan Anda untuk menanganinya?"tanya Wei Yan Li. Ia mencoba untuk tetap bisa bertemu dengan Andrean. Tidak masalah jika harus menunggu lagi.
Hans menggeleng. "Saya dengar Anda hadir dalam acara ulang tahun Presdir Gong. Dengan posisinya sebagai kepala keluarga dan pimpinan dari dua perusahaan besar, kesibukannya sangat padat. Nona Wei, saya sekretaris Presdir, paling tahu bagaimana kesibukannya. Jadi, jika Anda tidak bisa menerima bahwasanya kerja sama ini saya yang menangani, tidak masalah. Anda dapat menarik kembali proposal Anda. Dan kami tinggal mencari yang lain," papar Hans, ia mengendikkan bahunya.
Keputusan ada di tangan Wei Yan Li, mau lanjut, silahkan. Mau mundur, ya juga silahkan. Starlight Entertainment adalah perusahaan besar, banyak yang mau masuk ke dalamnya, atau bekerja sama dengan mereka.
Wei Yan Li menghentakkan kakinya kesal pada Hans. Padahal hanya sekretaris, tapi berlagak seperti bos. "Jadi, apa keputusan Anda? Jika mengharapkan Presdir yang menangani kerja sama dengan Anda, lebih baik Anda mundur saja," ujar Hans. Ia tersenyum lebar.
Andrean sudah memberikan hak mengurus kerja sama dengan Wei Yan Li sepenuhnya. Andrean hanya tinggal menerima laporannya saja.
Dan ia tahu maksud ganda Wei Yan Li. Jadi, ia harus melindungi Andrean dan posisi Nyonya Gong di masa depan.
Jika aku mundur, tampak sekali aku hanya mengincar Andrean. Aku akan rugi sekali. Tidak masalah. Pasti ada kesempatan!
Wei Yan Li menjulurkan tangannya. "Perkenalan saya Wei Yan Li. Saya sangat senang karena proposal saya terpilih. Semoga kerja sama ini akan lancar!"ujar Wei Yan Li, tersenyum lebar.
Hans terkesiap sesaat. Tak lama ikut mengukir senyum lebar. "Mari ikuti saya," ajak Hans.
Menarik. Mari lihat perjuangannya!
*
*
*
Setelah selesai membahas kontrak dan jadwal kerja sama ke depannya, Wei Yan Li bersiap untuk meninggal ruangan Hans.
Ruangan ini berdinding kaca yang transparan. Selama ia di sini, tidak mendapati Andrean keluar dari ruangannya. Dalam benaknya, berpikir, apakah memang benar Andrean sesibuk itu atau sengaja menghindari dirinya?
"Sekretaris Hans, ada yang ingin saya tanyakan," ujar Wei Yan Li.
"Apa itu, Nona Wei?"tanya Hans, menatap Wei Yan Li sekilas.
"Apakah Tuan Gong sudah punya pacar?"tanya Wei Yan Li, dengan wajah penasarannya.
"Saran sarankan Anda untuk segera mundur dari sekarang," jawab Hans, dengan tersenyum lebar.
"Mundur?"
Hans mengangguk.
Wei Yan Li mengeryit. Beragam terkaan hadir dalam benaknya.
*
Di istana Andrean, Crystal tengah berlatih keras. Seleksi model cilik itu tinggal sebentar lagi.
Gurunya pun semakin serius membentuk Crystal. Dari langkah kaki, ekspresi, dan keseimbangan.
Menjadi model bukan hanya sekadar berlenggok di catwalk atau berpose di depan Camelia. Lebih dari itu. Ada banyak pelatihan, belum lagi harus menjaga bentuk tubuh. Karena model identitas dengan tubuh langsing dan juga tinggi.
Crystal bersemangat untuk seleksi itu. Ia akan membuktikan pada Lucas dan Liam bahwa ia bisa.
"Nona, waktunya istirahat," ujar Guru Crystal.
"Tidak, Guru. Aku belum mendapatkan targetku!"jawab Crystal.
"Nona, dengan tubuh Anda, Anda tidak bisa memaksakan diri Anda. Tuan pasti akan memarahi saya," pinta Guru itu. Takut jika Crystal jatuh sakit karena terlalu keras berlatih. Dan ujung-ujungnya, ia sebagai Guru yang akan ditegur bahkan terancam akan dipecat. Lebih buruknya lagi, kariernya bisa terancam.
Wajah guru itu begitu cemas. "Sebentar lagi, Guru," jawab Crystal.
"Nona, tolong lanjutkan nanti saja. Sudah waktunya untuk Nona makan." Toby ikut membujuk.
"Jika Nona sakit, Anda bisa berpotensi tidak ikut seleksi. Nona, istirahat sebentar tidak akan mempengaruhi hasilnya, kok," bujuk Guru lagi. Justru yang terlalu dipaksakan itu tidak bagus. Ya, meskipun hasilnya memuaskan. Pasti ada harga yang dibayar untuk itu.
"Tuan juga akan sedih nanti, Nona," ujar Toby lagi.
Crystal menoleh pada pengasuhnya itu. "Ayah akan sedih?"tanya Crystal.
Toby mengangguk membenarkan. "Kan Tuan inginnya Nona mengekspresikan bakat. Bukan mencari sakit," ujar Toby, meyakinkan.
"Baiklah." Crystal menghentikan latihannya. Anak itu tak ingin Andrean sedih karenanya.
Toby tersenyum lebar. Segera memanggil pelayan untuk membawakan makan siang untuk Crystal.
__ADS_1
Makanan dengan gizi seimbang yang diatur semua sesuai dengan persen kebutuhan tubuh.
"Nona, cobalah puding ini," ujar Toby.
"Tapi, Crystal sudah kenyang," jawab Crystal. Puding itu adalah dessert makan siang kali ini.
"Nona, ini kaya serat, tidak akan begitu membuat Nona begah," ujar Toby.
"Nona harus makan yang banyak. Biar sehat dan tumbuh tinggi."
"Baiklah." Crystal mengangguk.
Toby tersenyum lebar. Beberapa saat kemudian, ponsel Toby berbunyi.
"Tuan?"gumam Toby. Segera menjawab panggilan dari Andrean itu.
Tidak biasanya Tuan menghubungiku.
"Iya, Tuan."
"Nanti malam aku akan menjemput Crystal. Kami akan makan malam di luar," ucap Andrean dari seberang sana. Dalam ucapannya terdapat perintah untuk Toby.
"Baik, Tuan. Saya mengerti," ujar Toby. Dan panggilan berakhir.
"Nona, nanti malam Anda dan Tuan akan makan malam di luar. Jadi, latihan Nona akan selesai lebih awal," ujar Toby pada anak asuhnya itu.
"Benarkah?" Mata Crystal berbinar. Artinya akan quality time bareng Andrean lagi. Crystal mengangguk.
"Crystal akan kembali latihan!"
"Eh, Nona?!"
*
*
*
Seperti yang Andrean janjikan tadi pada Toby lewat telepon, Andrean menjemput Crystal ke istana. Hari ini ia sengaja pulang lebih awal.
Setibanya di istana, Andrean berganti pakaian kemudian langsung pergi dengan Crystal untuk makan malam di luar.
"Restoran Liang," jawab Andrean, fokus mengemudi.
"Restoran kakek dan nenek?"
Andrean berdehem membenarkan. "Yeah!"
Terakhir mereka bertemu dengan Tuan dan Nyonya Liang adalah pada saat pelantikan Allen sebagai Presdir Gong Group. Setelahnya tidak lagi bertemu, meskipun sudah berada di kota yang sama.
Sepanjang perjalanan, Crystal mengoceh tentang Tuan dan Nyonya Shane.
"Bagaimana jika malam ini kau menginap di rumah mereka? Besok pagi pulang?"tanya Andrean.
"Menginap di rumah kakek dan nenek?"
"Mau!!"
Itu kesempatan emas. "Baiklah." Andrean tersenyum tipis.
Dan kini mereka telah tiba di restoran Liang. Andrean dan Crystal turun, masuk ke dalam restoran.
"Andrean?" Tuan Liang yang tengah berada di lantai satu restoran menyambut kedatangan mereka.
"Kakek!" Crystal berlari memeluk Tuan Liang.
"Crystal!"
"Kakek, Crystal rindu." Tuan Liang menggendong Crystal. Mencium gemas pipi cucu perempuannya itu.
"Kalian datang kok nggak bilang-bilang?"tanya Tuan Liang, menatap Andrean.
"Ini juga dadakan," jawab Andrean sekenanya.
Tuan Liang mengangguk. "Ayo-ayo. Kita ke lantai dua. Nenek ada di sana." Tuan Liang memimpin langkah. Diikuti oleh Andrean.
"Sayang, lihat siapa yang datang?"
__ADS_1
Tuan Liang memanggil sang istri yang berada di dalam ruang kerja. Tuan Liang masuk ke dalam ruang kerja. Melihat Nyonya Liang yang tengah memeriksa pembukuan.
"Siapa?" Nyonya Liang memalingkan wajahnya. "Crystal!" Raut wajahnya berubah sumringah. Segera menyongsong Tuan Shane.
"Nenek."
"Hallo cantik. Apa kabar, hm?" Pipi Crystal kembali dicium.
"Baik, Nenek. Kakek dan nenek?"
"Kami baik. Dan jauh lebih baik lagi karena dikunjungi Crystal," ujar Nyonya Shane.
"Paman, Bibi," sapa Andrean.
"Andrean." Andrean mengangguk. "Kalian belum makan kan?"tanya Tuan Liang.
"Kami datang untuk makan, Kek. Kata ayah, Crystal juga boleh nginap tempat Kakek dan Nenek malam ini," jawab Crystal.
"Sungguh?" Wajah Tuan dan Nyonya Liang bertambah sumringah. Meminta kepastian dari Andrean.
Andrean mengangguk.
"Ahh, senangnya." Nyonya Liang kembali mencium pipi Crystal.
"Ayo-ayo. Kita makan malam," ajak Tuan Liang.
*
*
*
Selesai makan malam, Nyonya Liang mengajak Crystal ke ruang kerja. Sementara Tuan Liang mengajak Andrean mengobrol santai. Jarang-jarang mereka bisa bertemu seperti ini. Bahasan ringan mereka obrolkan.
Dan akhirnya sampai pada obrolan tentang hubungan Andrean dan Camelia. Sebagai orang tua, tentu saja Tuan Liang ingin mengetahui kelanjutan dari hubungan Andrean dan Camelia.
"Kami akan menikah," jawab Andrean yakin.
"Kapan?"tanya Tuan Liang.
"Secepatnya," jawab Andrean. Dan itu membuat Tuan Liang mengernyitkan dahinya.
"Secepatnya itu kurang meyakinkan, Andrean. Apakah ada kendala untuk memastikan kapan tepatnya?"tanya Tuan Liang.
"Saya kapanpun siap. Andai detik ini juga saya siap!"jawab Andrean.
"Kendalanya ada pada Lia? Begitu maksudmu?"
"Lia ada kesulitan tersendiri untuk bisa segera melangsungkan pernikahan. Anda kan tahu Lia artis," ujar Andrean.
"Hm…." Tuan Shane mengangguk pelan. "Namun, bukankah kalian tetap dapat menikah tanpa diumumkan kepada publik? Pernikahan tersembunyi begitu?"ujar Tuan Liang.
"Pernikahan tersembunyi?"tanya Andrean. Mengernyitkan dahinya.
"Benar. Jangan katakan kau tidak tahu? Padahal banyak artis di bawah agensimu yang mengambil peran dalam drama seperti itu," celetuk Tuan Liang.
"Pernikahan tersembunyi ya?"
Tuan Liang menatap Andrean. Pria di depannya itu, tampaknya serius dengan apa yang ia ucapkan tadi. "Itu saran yang bagus. Aku akan bicara dengan Lia!"
"Ah? Kau tidak masalah?"tanya Tuan Liang.
"Tidak masalah. Asalkan kami sudah terikat tali pernikahan. Jujur saya, di sini saya ketar-ketir," ujar Andrean. Meskipun ia sangat yakin pada Camelia dan hubungan mereka. Ada kalanya Andrean merasa was-was atau ketar-ketir. Camelia adalah publik figur, pasti banyak bertemu dengan lawan main bergender laki-laki.
Tuan Liang mendengus pelan.
"Kalau begitu bicarakan saja dengan Lia. Mungkin saja Lia setuju," ujar Tuan Liang. Andrean mengangguk.
Andrean kemudian melihat jam tangannya.
"Sudah jam segini. Sudah saatnya saya pulang," ujar Andrean.
Tuan Liang mengangguk. Sebelum pulang, Andrean pamit pada Nyonya Shane dan juga Crystal.
Setelah itu, langsung pulang menuju kediamannya. Sepanjang perjalanan, Andrean kembali memikirkan ucapan Tuan Liang tadi.
Pernikahan tersembunyi. Itu banyak dilakukan oleh publik figur. Tidak hanya publik figur, di masyarakat juga banyak terjadi hal seperti itu.
__ADS_1
Lagipula mereka pasti akan menikah. Mempercepat pernikahan agaknya tidak masalah. Jika waktunya tepat, tinggal publikasi. Atau, bisa dilakukan resepsi akbar.