
Meskipun kau menolaknya, aku akan tetap membantumu!
Camelia tersenyum geram membaca balasan dari Andrean. Kini ia sudah berada di dalam mobilnya.
"Dia ini kepala batu atau tidak mengerti artinya ditolak?!"gumam kesal Camelia, memutuskan untuk menghubungi Andrean.
"Halo?" Andrean menjawab di ujung sana.
"Jangan ikut campur dalam urusanku!"ucap Camelia tegas.
"Tapi, aku punya hak untuk ikut campur di dalamnya," jawab Andrean. Terdengar yakin dan sangat percaya diri.
"Apa maksudmu?"balas Camelia, Camelia tidak mengerti. Mengapa pria itu sangat keras kepala?
"Awal mula hubungan kita adalah karenanya. Kau tidak melupakannya, bukan? Jadi, aku juga ingin membalasnya sekaligus membantumu. Atau bagaimana jika kita bekerja sama?"tawar Andrean. Mengungkit mengapa mereka bisa saling terjerat.
"Tidak perlu!" Tanpa pikir panjang Camelia menolaknya. Ia menolak berhubungan dengan Andrean, dalam bentuk apapun. Baginya, ia tidak mau berhubungan dengan pria itu.
"Aku harap kau mengerti!"ucap Camelia sebelum menutup panggilan.
Camelia menghela nafasnya. Memijat pelipisnya sebelum akhirnya meninggalkan kediaman Liang.
Jika ditilik, Camelia lah yang keras kepala. Namun, ya sifat manusia beragam. Orang pintar dan cerdas sekalipun tidak pernah luput dari kekeliruan. Egois dan keras kepala itu sudah bagian dari diri.
*
*
*
__ADS_1
Ting. Lift berdenting. Pintu lift terbuka dan sepasang kaki jenjang melangkah keluar. Dia adalah Camelia. Telah tiba di lantai apartemennya.
Kedua tangannya membawa tas dan paper bag kue dari Nyonya Liang.
Langkah Camelia terhenti saat melihat seorang pria bersandar di dekat pintu apartemennya. Mengenakan setelan formal. Itu Andrean.
"Mau apa lagi dia?"gumam Camelia kesal. Ia melanjutkan langkahnya. Tidak menghindar. Mungkin, bicara secara langsung akan lebih jelas.
"Apakah percakapan kita tadi kurang jelas, Tuan Gong?"tanya Camelia, dengan ketus. Andrean memalingkan wajahnya ke arah Camelia.
Andrean tidak menjawab. Ia melangkah menghampiri Camelia. Tanpa kata, Andrean memegang lengan Camelia dan membawa tubuh wanita itu bersandar pada dinding. Menatap tajam Camelia.
"Apa yang…." Sebelum ia selesai protes, Andrean membungkam Camelia dengan ciuman.
Camelia terbelalak. Seketika ia meronta. Namun, apa daya. Ia tidak kuasa mendorong Andrean. Pria tidak tergerak. Bahkan semakin masuk, menjelajahi rongga mulutnya.
"Auh!" Wanita itu tidak kehilangan cara. Ia menggigit bibir Andrean. Andrean melepas ciumannya. Bibirnya berdarah.
"Berhentilah egois!"ucap Andrean seraya mengusap pipinya, kemudian menyeka sudut bibirnya.
"Jangan ikut campur urusanku!"ucap Camelia, tegas dan ketus
"Camelia Shane! Aku yakin kau mengerti maksudku!"ucap Andrean penuh penekanan. Camelia tidak menjawab. Hanya sorot matanya yang berangsur meredup. Wanita itu merenung. Satu kalimat itu, mampu membuangnya bungkam.
Ya, tidak mungkin Camelia tidak mengerti. Ia hanya tidak mau mengakuinya saja.
"Kau dan aku berhubungan karena ulahnya. Hingga kau melahirkan kedua anakku. Aku hanya ingin membantu! Aku ingin turut di dalamnya!"ucap Andrean lagi. Kali ini ia menarik Camelia dalam peluknya.
"Aku tidak butuh bantuanmu," desis Camelia. Namun, ia tidak meronta. Matanya malah terpejam. Camelia tampaknya lelah.
__ADS_1
"Aku tahu. Kau tidak butuh bantuanku. Tapi, aku mohon izinkan aku membantuku," tutur Andrean lembut, mengusap lembut rambut Camelia.
"Lucas dan Liam adalah anakmu, apa kau akan mengambil mereka dariku?"tanya Camelia, lemah.
Pertanyaan itu lolos dari bibir Camelia. Entah ia menyerah, atau apa, yang pasti Andrean terkejut mendengarnya. Nadanya parau, ada ketakutan di dalamnya. Ya, itu memang masalah utama dalam kasus seperti ini.
Terlebih Andrean berasal dari keluarga yang ternama dan punya kekuasaan yang besar. Namun, andai kata itupun terjadi. Itu tidak akan semudah biasanya, karena Camelia juga berasal dari keluarga yang punya kekuasaan.
"Ah … sudah pasti iya, bukan? Mana mungkin tidak. Apalagi keluargamu dan kedua anakku adalah laki-laki," ucap Camelia, hambar dan ia tersenyum kecut.
"Tidak." Andrean menyangkalnya.
"Tidak sekalipun aku berpikir demikian. Selain itu, keluargaku tidak berhak menentukan hidupku. Camelia, aku tidak hanya ingin Lucas dan Liam. Aku juga menginginkanmu. Kita jadi keluarga, bagaimana? Kau tidak akan kehilangan Lucas dan Liam. Selain itu, kau juga mendapatkanku. Lucas dan Liam juga memiliki ayah lagi, ayah kandung mereka," terang Andrean lagi, panjang lebar mengatakan keinginannya. Ini kesekian kalinya Andrean mengatakan keinginannya.
"Entahlah. Aku hanya ingin balas dendam dan hidup tenang dengan kedua anak dan adikku," ucap Camelia lemah. Hanya ingin menjalin kehidupan yang tenang. Tanpa gangguan apapun.
Andrean merasa dirinya mendapatkan peluang. Camelia sudah cukup membuka hati. Ia harus terus berusaha untuk mendapatkan hati dan kepercayaan Camelia. Namun, apakah Camelia benar-benar luluh?
"Kau menerimaku, bukan?"tanya Andrean. Nadanya penuh harap. Menatap Camelia penuh arti.
Camelia melepaskan diri dari pelukan Andrean. Menatap Andrean yang menanti jawaban dengan penuh harap. "Aku setuju. Ayo bekerja sama," jawab Camelia. Mengulurkan tangannya.
"Ah …." Meskipun itu bukan jawaban yang paling Andrean inginkan. Namun, setidaknya itu bukan sebuah penolakan.
"Baiklah. Ayo, kita akhiri mereka," balas Andrean, menerima uluran tangan Camelia.
"Secepatnya, malam ini!"ucap Camelia tegas. Dan tatapan redupnya menghilang. Camelia kembali dingin. "Apa Anda sanggup, Tuan?"tanya Camelia, dengan seringainya.
Tercengang. Perubahan ekspresi yang begitu cepat. Namun, Andrean mulai terbiasa dengan hal itu. "Tentu saja!"jawab Andrean mantap.
__ADS_1
Keduanya berjabat tangan dengan sama-sama menyeringai. Keduanya, terlihat kompak dan sangat cocok.
Setelah itu, Camelia meninggalkan Andrean dan masuk ke dalam apartemennya. Andrean tersenyum lebar, "ini hanya soal waktu, Camelia," gumamnya.