Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap.34


__ADS_3

"Apa yang kau pikirkan, suamiku?"tanya Nyonya Liang pada suaminya yang termenung setelah Camelia dan keluarga pamit pulang. 


"Sesaat tadi, waktu kita makan, aku merasa kita tengah makan malam keluarga. Entah mengapa aku merasa Pemuda bernama Dion itu benar-benar Dion putra kita. Dan wanita bernama Camelia itu adalah putri kita, dua anak kembar itu adalah cucu kita," jawab Tuan Liang lirih. Matanya memanas, hatinya terasa perih. Tadi, ia hanya merasakan namun tiada nyali untuk mengungkapnya. 


"K-kau juga merasakan hal yang sama?"tanya Nyonya Liang memastikan. 


"Aku senang tapi aku tidak bisa mengungkapnya. Aku ingin meminta maaf , namun lidahku terasa keluh. Aku merasa telah melakukan kesalahan besar pada mereka meskipun ini adalah pertemuan pertama kami. Aku merasa … aku tidak bisa mengangkat wajahku di depan keduanya," jawab Tuan Liang. Air matanya menetes. Tiada gerak yang ia lakukan untuk menyeka dan menghapus air matanya. Tuan Liang duduk tergugu di kursinya. 


"A-aku juga merasakan hal yang sama. Saat aku tahu namanya Dion, aku sungguh merasa dia adalah putra kita. Namun, dia adalah Dion Shane." Nyonya Liang memeluk suaminya yang duduk dari belakang. Meletakkan rahang di atas pundak Tuan Liang.


"Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Jika waktu bisa diputar kembali, aku akan mendukung Jasmine, tidak akan mengusirnya dari rumah. Hiks … hiks … hiks … maaf Susan … maaf. Aku benar-benar ayah yang buruk!"ucap Tuan Liang terbata. Beberapa bulan berpisah dengan Dion dan Jasmine, Tuan Liang menyesali keputusannya. 


Rumah benar-benar berubah tanpa kehadiran keduanya. Tiada lagi canda tawa, tiada lagi acara piknik keluarga setiap minggunya, tiada lagi masak bersama, rutinitas yang biasa Tuan Liang dan Nyonya Liang lakukan bersama dengan Jasmine dan Dion seakan sirna.


 Putri mereka, Rose? Setelah bertunangan sampai saat ini dapat dihitung dengan hitungan jari pulang ke kediaman Liang. Setelah bertunangan, Nyonya dan Tuan Liang seakan langsung menjadi orang asing.


Ada yang hilang, tidak, kehilangan yang sangat besar dan disadari bahwa posisi Jasmine, walaupun hanya anak angkat, punya arti dan tempat tersendiri, tidak dapat terganti ataupun digantikan. 


"Sudah terjadi. Penyesalan kita tiada guna. Aku hanya bisa berharap suatu saat nanti kita dipertemukan kembali dengan Dion dan Jasmine," ucap Nyonya Liang, menenangkan suaminya.


 Nyonya Liang sangat paham, di balik sikap suaminya yang dingin sekarang, dan hanya hangat padanya, tersimpan rasa bersalah dan penyesalan yang sangat besar. Tuan Liang lebih rapuh dari Nyonya Liang.


*


*


*


"Ayah …," panggil Crystal takut-takut dengan hanya menunjukkan separuh tubuhnya. Andrean yang masih berkerja di ruang kerja villanya, mengangkat kepalanya. 


"Mendekatlah," jawab Andrean dengan nada datarnya. Dengan langkahnya yang kecil nan pelan, Crystal mendekati Andrean dengan memeluk boneka panda kesayangannya. Rambutnya yang dikuncir dua, membuatnya sungguh terlihat imut. Hans sedikit menepi. Andrean kemudian memangku Crystal. 


"Ada apa?"tanya Andrean. 


"B-bisa temani Crystal tidur?"tanya Crystal dengan menunduk, memeluk erat boneka pandanya.


"Temani bagaimana?"


Jika yang meminta adalah wanita dewasa pasti Tuan Muda sudah melemparkan wanita keluar!gumam Hans melihat kedekatan Crystal dan Andrean. Meskipun sudah tahu bukan darah dagingnya, kasih sayang Andrean untuk Crystal cukup besar walau ditunjukkan dalam ekspresi datar.


"Tolong bacakan cerita sebelum tidur untuk Crystal," jawab Crystal memperjelas permintaannya.


"Ibumu ke mana?"tanya Andrean dingin. Crystal menggeleng. 


"Nona Rose belum pulang, Tuan Muda," jawab Hans cepat sebelum Andrean bertanya padanya.


"Wanita jelek itu!"desis pelan Andrean.


"Bisa kan, Ayah?"tanya Crystal memberi menoel-noel lengan Andrean. Matanya memelas, harapan yang begitu tinggi. Andrean melihat jam dinding yang berada di dinding di hadapannya, sudah pukul 21.00.


"Anak kecil tidak boleh kurang tidur, ayo!" Andrean berdiri dengan menggendong Crystal. Hans membungkuk tubuhnya sedikit saat Andrean keluar dari ruangannya kemudian membereskan ruang kerja yang sedikit berantakan. 


"T-Tuan Muda, maaf saya tidak bisa menahan Nona Crystal," ujar Toby takut-takut saat Andrean dengan menggendong Crystal keluar.


"Tidak apa," jawab Andrean datar, melanjutkan langkahnya yang terhenti sejenak disusul oleh langkah Toby.


Setibanya di kamar Crystal, kamar dengan nuansa serba biru muda, Andrean membaringkan dan menyelimuti Crystal di ranjangnya. "Tuan Muda," ucap Toby menyodorkan buku cerita anak pada Andrean. 

__ADS_1


"Kau keluar," ucap Andrean pada Toby. 


"Baik, Tuan Muda." Setelah Toby keluar, Andrean mulai membuka lembaran buku. Kisah tentang Cinderella yang dilengkapi dengan gambar. 


"Kau akan tidur setelah aku membacakan cerita ini?"tanya Andrean sebelum mulai membaca cerita. Crystal mengangguk.


"Baiklah. Aku akan mulai. Kau pejamkan matamu!" Agak kasar memang. Tapi, begitulah Andrean.


"Alkisah, di sebuah kerajaan, hiduplah seorang putri yang sangat cantik. Kecantikannya dirumorkan bisa membuat kerajaan saling berperang untuk mendapatkan dirinya. Sayang, ada seorang adiknya yang merasa iri dengan kecantikan dan popularitas kakaknya."


"Ayah, itu bukan isi kisah Cinderella," sela Crystal. 


"Ini ceritaku, kau mau dengar tidak?"balas Andrean datar. 


"Ah … ya … lalu Ayah bagaimana selanjutnya?" Crystal cukup pintar untuk tidak membuat Andrean marah. 


Andrean menutup buku cerita itu. "Sebuah rencana perjebakan pun dibuat dengan seorang anak menteri, yang tak lain adalah kekasih dari putri cantik. Suatu hari ada pesta kerajaan. Sang putri diberikan minuman berisi obat yang membuatnya menghabiskan malam dengan seorang pria. Pria itu adalah seorang pangeran dari kerajaan yang sangat besar."


"Wow, bukankah Putri akan bahagia menikah dengan Pangeran?"sela Crystal lagi. 


"Anak kecil kau sudah dua kali menyela ceritaku! Kau membuat moodku hilang!"ketus Andrean.


"A-Ayah … maaf." Mata bocah lima tahun itu langsung berlinang air mata.


"Hah!"


Andrean menghela nafas kasar. "Sudahlah. Jangan menangis. Kau cepatlah tidur. Aku masih banyak pekerjaan!"titah Andrean. 


"T-tapi aku mau ingin mendengar kelanjutan cerita Ayah," jawab Crystal takut-takut. 


"Aku belum mendapatkan lanjutnya. Jika ada waktu, besok aku akan menceritakan lanjutannya padamu," sahut Andrean yang sudah berdiri dan membelakangi Crystal, kemudian melangkah pergi. 


"Kita tidak punya model anak, mengapa mendapat surat itu?"tanya heran Andrean.


"Mungkin dampak dari acara tadi malam, Tuan Muda, karena Anda yang dinilai dekat dengan Mrs. Camelia. Atau mungkin mereka mendengar tentang Lucas dan Liam yang berkunjung kemari tempo hari," jawab Hans, memberi beberapa jawaban. Andrean mengangguk, "hubungi mereka, katakan aku bersedia menjadi sponsor mereka selama di sini. Tidak masalah tetap membawa nama agensi mereka!"ucap Andrean akhirnya memutuskan.


"Maksud Anda Lucas dan Liam, Tuan Muda?"


"Lantas?"


"Ah!" Hans buru-buru berkutat dengan tabletnya. Beberapa saat kemudian Hans mengatakan sudah selesai. Andrean mengeryit, selesai? Kapan Hans menghinggapi manager Lucas dan Liam? "Saya hanya mengirimkan email beserta surat undangan itu, Tuan Muda. Ini sudah malam, takutnya mengganggu jika menelepon di jam segini," jelas Hans. 


"Kau sedikit lunak pada mereka," komentar Andrean lebih kepada menggerutu. Hans tersenyum simpul, bukankah Anda juga sama, Tuan Muda?


*


*


*


"Siapa sih yang mengganggu malam-malam begini? Nggak tahu waktunya istirahat apa?"erang kesal Jordan yang terpaksa bangun dari ranjangnya saat mendengar bel pintu apartemennya dibunyikan berulang kali. 


"Siapa?"tanya kesal Jordan saat membuka pintu.


"Ini aku." Sosok yang mengenakan jaket tebal bertudung, membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya. "Kau?!" Mata Jordan membulat, ia kemudian melihat kanan kiri dengan wajah tegang, sejurus kemudian langsung menarik sosok itu masuk ke dalam apartemennya. "Kau? Mengapa tidak menelponku dulu kalau mau kemari? Bagaimana jika ada yang lihat? Bisa hancur kita, Rose!"


Sosok yang tak lain adalah Rose Liang itu melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Ia sudah membuka jaketnya menyisakan dress mini yang menampilkan lekuk tubuhnya. Mungkin, jika dalam kondisi yang sudah dijanjikan, Jordan akan langsung menerkam Rose. Namun, kali ini Jordan hanya menatap datar Rose.

__ADS_1


"Kenapa? Apa aku sudah tidak menarik lagi?"tanya Rose dengan nada kesalnya.


"Katakan kenapa kau kemari tanpa memberitahuku!" Jordan melipat tangannya dan duduk di pegangan sofa. 


"Ponselmu tidak aktif," jawab Rose. "Tidak ada minum? Aku haus?"tanya Rose, melihat meja yang tidak ada minum apalagi cemilan.


"Pergilah ke dapur," jawab Jordan. "Ponselku mati, aku ke kamar dulu. Apa kau akan menginap?"tanya Jordan sebelum melangkah ke dapur.


"Seperti biasa," jawab Rose yang sudah melangkah menuju dapur. Ck! Jordan kembali ke kamarnya. Sembari menyalakan ponselnya yang kehabisan daya tadi, Jordan merenung. Mengapa aku tidak bereaksi padanya? 


Padahal Rose tadi sangat seksi nan menggoda.


Apa benar Rose sudah tidak menarik lagi bagiku? Jordan kembali bertanya pada dirinya sendiri. 


Apa karena aku berhasrat pada Camelia? Dia lebih baik daripada Rose. Tubuhnya tetap sintal meski sudah melahirkan dua anak. Wajahnya cantik dan fresh setiap kali bertemu. Rose bagai seonggok debu di samping berlian. Ah mana mungkin berlian berabu. 


"****!"


Jordan mengumpat saat merasakan juniornya mengembang memikirkan Camelia. 


Bertepatan dengan itu, Rose masuk ke kamarnya. Rose tersenyum lebar melihat apa yang ditutupi oleh kain celana Jordan mengembang. Dengan senyum menggoda, ia melangkah menghampiri Jordan, mengalungkan kedua tangannya pada leher Jordan. "Aku tahu. Hanya aku satu-satunya yang kau cintai dan paling bisa memuaskanmu. Ayo, aku sudah sangat menginginkannya." Sebelum Jordan menjawab, Rose sudah lebih dulu menyerangnya. Dalam posisi yang masih berdiri, Rose melepas baju Jordan sedang Jordan yang merasa butuh tempat pelampiasan daripada ia menyelesaikan ya sendiri, langsung saja menyerang balik Rose. Lidah berbelit, saling raba dan saling melepaskan benang yang menutupi tubuh. Jordan mendorong Rose ke atas ranjang, keduanya kembali berpelukan, gerakan keduanya menciptakan ranjang berderit dengan suara desah dan erang yang saling bergantian.


Dua jam kemudian, permainan panas mereka usai. Keduanya belum memakai pakaian, berpelukan dengan selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Peluh terlihat membasahi wajah, leher, tangan, keduanya. "Ada hal yang membuatmu kesal?" Jika Rose begitu bersemangat hingga tak mampu menahan diri untuk tidak menemuinya, pasti ada suatu hal yang membuat Rose kesal dan mencarinya. 


"Gunung Es itu! Dia menolak tuntutanku untuk segera menikahiku. Dia bahkan mengatakan jika sudah lelah menjadi tunangan maka aku bisa angkat kaki dari villa!"aduh Rose.


"Kalau begitu angkat kaki saja. Bawa Crystal keluar dari sana, karena dia adalah anakku!"jawab Jordan tenang. Rose membelalakkan matanya, "aku sanggup untuk menafkahi kalian. Memberikan kalian tempat tinggal dan hidup yang layak. Rose, aku mohon sudahi saja kebohongan kita, mari akhiri dan hidup dengan tenang."


"Tidak mungkin!" Rose langsung melepas pelukannya pada Jordan. "Kenapa? Tidak ada alasannya kau harus bersama dengannya. Jujur saja, aku merasa menyesal menyetujui ide gilamu dulu. Andai saja aku tidak setuju, pasti Crystal ada di sampingku!"


"Kau menyesal? Kau menyesal melihat anakmu hidup senang?"


"Dia hanya senang secara materi, Rose! Bagaimana dengan kasih sayang? Kau sebagai ibu lebih sibuk dengan urusanmu ketimbang memberi perhatian pada Crystal! Apa kau berpikir dia senang harta kekayaan keluarga Gong? Yang ia butuhkan itu kasih sayang, bukan sekadar harta!"


"Lalu bagaimana denganmu? Pernahkah kau memberi nafkah untuknya? Pernahkah kau memberinya kasih sayang?"


"Bukankah itu salahmu?"sarkas Jordan. Rose terhenyak. 


"J-Jadi kau menyalahkanku? Padahal kau menikmati apa yang aku dapatkan dari keluarga Gong," marah Rose.


Jordan terdiam. Ia perlahan menunduk. "Ku lihat kau tertarik dengan Camelia-Camelia sialan itu!" Rose kembali memulai pembicaraan.


"Bagaimana jika tidak membuat rencana?"usul Rose kemudian.


"Rencana?"


"Aku mengumpulkan harta keluarga Gong dan kau mendapatkan harta wanita itu. Ia janda pasti butuh kasih sayang seorang pria. Kau bisa masuk ke dalam kehidupannya!"


"K-kau? Maksudmu?" Jordan tercengang. Rose tersenyum lebar, "setelah itu kita pergi dan hidup dengan bahagia tanpa memikirkan masalah apapun. Mengenai Crystal, biarlah dia tumbuh dan berkembang dalam keluarga Gong!"


"Ku rasa ide yang bagus. Kau tidak mungkin menolaknya bukan?" Rose bangkit dan menuju kamar mandi tanpa busana.


Ya? Bukankah ide bagus? Setali tiga uang, hehehe 


Jordan tersenyum licik. Ia kemudian menyusul Rose ke kamar mandi. "Ah Jordan! Apa yang kau lakukan?" Terdengar pekikan Rose.


"Ah jangan. Aku harus pulang! Lepas, Jordan."

__ADS_1


Dan beberapa saat kemudian, penolakan itu berubah menjadi *******. 


__ADS_2