Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 128


__ADS_3

Camelia menuju panggung untuk bernyanyi dan itu menarik perhatian pada tamu.


"Selamat malam, semuanya," sapa Camelia.


"Malam…."


Yang mengenal siapa dirinya, langsung mempersiapkan ponsel untuk mereka Camelia.


"Saya ingin mengucapkan selamat dan sukses untuk perusahaan xxx atas pembukaan cabang barunya. Untuk itu, izinkan saya membawakan satu lagu, sebagai ucapan terima kasih dan hiburan untuk para tamu sekalian," ujar Camelia, melemparkan pandang dengan senyum menawannya.


Hal itu disambut dengan tepuk tangan. Musik mengalun lembut. Camelia duduk di kursi. Matanya terpejam, memaknai alunan musik intro sebelum mulai bernyanyi.


I remember the day


Even wrote down the date, that I feel for you


And now it's crossed out in red


But I still can't if I wanted to


Lagu berjudul "Here's Your Perfect" yang dibawakan oleh Jamie


Miller Camelia bawakan dengan begitu syahdu dan menghayati.


Lagu itu, Camelia kembali tujukan untuk Chris. Mengingat hari di mana ia jatuh cinta, namun tercoret karena fakta tentang Chris.


Meskipun begitu, Chris tak pergi meninggalkannya, bahwa tetap menyemangatinya.


Disitulah letak kesempurnaan Chris.


"Here's Your Perfect…."


Tanpa sadar, Camelia menitikkan air mata. Bahkan, ini sudah lama sejak kepergian Chris. Namun, Chris sepertinya tidak akan pernah Camelia lupakan.


Prok….


Prok….


Tepuk tangan yang meriah. Para tamu terhanyut dalam melodi dan suara Camelia.


"Terima kasih," ujar Camelia, menyeka sudut matanya.


Camelia turun dari panggung, kembali bergabung dengan Tuan David.


"Luar biasa!"puji produser kenalan Tuan David tadi, yang meminta Camelia untuk bernyanyi tadi.


Camelia tersenyum. "Jika ada kesempatan, saya ingin Anda menjadi penyanyinya," ujarnya, berharap ada kesempatan kerja sama dengan Camelia.


"Saya menantikannya, Tuan," jawab Camelia.


"Sudah hampir larut, kami undur diri lebih dulu, Tuan-Tuan sekalian," pamit Tuan David setelah menerima tatapan kode dari Camelia.


"Ah … baik-baik. Jika ada kesempatan, mari bertemu dan berbincang lagi," ajaknya, sembari bersalaman dengan Tuan David. Dijawab oleh anggukan.


Camelia dan Tuan David kemudian meninggalkan acara yang masih berlangsung meriah itu.


"Hei, Kak!"panggil Camelia, sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Hm … ya? Ada yang ketinggalan?" Tuan David berdiri tak jauh dari mobil Camelia, menunggu Camelia pergi baru ia juga akan meninggalkan tempat.


"Ku dengar … Kak Lina ada masalah denganmu. Apa itu benar?"tanya Camelia, dengan mata menyelidik. Tadi siang, Camelia lupa menanyakannya. Saat di acara tadi, tak mendapatkan waktu yang pas. Dan ini adalah waktunya sebelum Camelia lupa lagi.


Tuan David tertegun beberapa saat. "Aku bukan ingin ikut campur. Hanya ingin tahu, karena dia adalah keluargaku," tambah Camelia.


Mengingat ekspresi Lina tadi, tidak mungkin masalahnya adalah hal kecil.


"Dia … mengadu padamu?"tanya Tuan David. Camelia menggeleng.


"Aku yang bertanya padanya."


"Mendengar jawabanmu ini, sepertinya itu benar." Camelia menarik kesimpulan. "Aku bukan ingin mengatakan jangan cari masalah atau lupakan saja masalahnya, aku hanya ingin mengatakan jangan keterlaluan padanya jika membalas. Bagaimana? Apa itu bisa diterima?"


Tuan David tampaknya terpaku dengan apa yang baru saja Camelia katanya. "Baiklah. Aku tidak akan keterlaluan. Namun, untuk itu, minta dia jangan cari masalah lagi denganku. Apa kau alasanku dan Jenny putus yang sebenarnya?"tanya Tuan David kemudian.


Camelia melirik kanan kiri, sepi. Camelia kemudian menggeleng sebagai jawaban.


"Karena Jenny salah paham saat melihat aku dan Lina tanpa sengaja …." Tuan David tidak melanjutkan ucapannya melainkan menyentuh bibirnya.


Camelia mengernyit sekilas dan seketika langsung membelalakkan matanya. "Kalian…." Matanya membulat sempurna. Tidak melanjutkan ucapannya. Rasa terkejut memenuhi dirinya.


"Astaga!" Camelia menepuk dahinya. Kemudian menghela nafasnya.


"Aku tidak akan ikut campur. Kalian sudah dewasa, tidak! Sudah berumur, seharusnya tahu batasan dalam bertindak!"tegas Camelia.


"Ah?"


"Sudah malam. Aku pulang dulu, Kak,* pamit Camelia kemudian, gegas masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Lia?" Tersadar begitu mobil Camelia menjauh.


"Haish. Benar-benar menyebalkan! Apa yang kau harapkan, David?!"gerutu Tuan David pada dirinya sendiri.


"Kak David, Kak Lina?" Camelia menggumamkan nama kedua orang itu. Matanya terarah keluar, menatap pemandangan selama perjalanan.


*


*


*


Rupanya Lucas dan Liam belum tidur. Mereka menunggu Camelia pulang atau lebih tepatnya pesanan mereka.


"Mata kalian sudah merah, pergi tidur. Besok baru dimakan!"titah Camelia yang mendapati kedua anaknya, menunggu namun dengan mata yang semakin meredup. Berulang kali tersentak, kantuk yang semakin berat.


Sudah Camelia coba sadarkan dengan wangi ayam goreng yang ia beli, namun tidak juga langsung cerah.


"T-tapi … Mom." Keduanya menolak dan kembali menguap.


"Tidurlah." Camelia memanggil pelayan untuk menyimpan ayam goreng yang ia beli.


"Ayo, tidur di kamar Mom saja," ajak Camelia.


"Mau makan," rengek Lucas.


"Nanti, bukan kamu yang makan ayam tapi kamu yang dimakan ayam, Lucas," bujuk Camelia.


"Ahhh …." Merengek. Dan kemudian menguap. Ngantuk sekali rasanya.


"Tidur." Liam meminta. "Aku sangat mengantuk, Mom." Pada akhirnya Liam merengek.


"Mau makan tapi…." Belum sempat Lucas menyelesaikan ucapannya, Lucas sudah tumbang, kalah dengan kantuk dan tenggelam dalam tidurnya.


Begitu juga dengan Liam.


Camelia mengerjap pelan. Sekarang kedua anaknya tidur di ruang keluarga? Astaga!


"Baiklah. Ayo!" Camelia melepas sepatu high heels nya. Kemudian mengangkat dan menggendong Lucas dengan hati-hati agar tidak bangun.


Menggendong Lucas menuju kamarnya, kemudian kembali turun dan menggendong Liam.


Kini, kedua anaknya telah terlelap di atas ranjang empuknya. Camelia menghela nafasnya.


"Mereka semakin berat." Nafasnya terasa tersengal.


*


*


*


Camelia Shane ….


Tubuhnya tinggi semampai, khas modeling. Wajahnya tidak sepenuhnya Asia. Perpaduan antara Asia dan sepertinya juga Eropa.


Rambutnya lurus bergelombang dengan kulit putih seputih giok. Tatapannya memikat dengan bulu mata tebal dan bibir cherry.


Tubuhnya tidak ada perubahan signifikan setelah melahirkan. Malah, kecantikan wanita berusia menjelang 30 tahun itu semakin memancar.


Menantu keluarga bisnis terpandang dan juga seorang artis ternama. Hidupnya begitu sempurna. Namun, jati diri yang sebenarnya masih buram. Siapa dirinya, siapa keluarganya yang sebenarnya belum terungkap.


Petunjuk yang dimiliki hanyalah kalung dengan liontin lotus serta tanda lahirnya. Kecil kemungkinannya. Meskipun keluarga Shane punya kekuasaan dan pengaruh yang luas. Namun, jika dibandingkan dengan luasnya dunia ini, itu tidak seberapa.


Kemana harus mencari? Sedang tidak ada petunjuk sama sekali?


Xian?


Salah satu kota yang memiliki benteng bersejarah di China itu adalah tempat di mana panti asuhannya berada. Namun, pernah terbakar hingga banyak berkas yang hilang.


Xian?


Xian?


Apakah keluarga kandungnya ada di sana? Namun, bukankah jika ada di sana, melihat tanda lahirnya di media, akan mencarinya?


"Apakah berdarah campuran?" Camelia terbangun sebelum matahari terbit.


Tiba-tiba saja, ia memimpikan sesuatu yang menurutnya aneh. Dan ia tak dapat menemukan keanehan itu. Di dalam mimpinya, ada seorang wanita dan pria, namun dalam mimpinya wajah keduanya tidak begitu jelas. Hanya kata-kata yang belum ia mengerti sepenuhnya.


Aku akan kembali….


Aku kembali padamu dan anak kita…


Tunggu aku kembali….


Aku pasti kembali….

__ADS_1


Dalam mimpinya, meskipun samar, Camelia yakin wanita dalam mimpinya itu sangat cantik. Dan pria dalam mimpinya juga sosok yang tampan, dapat diterka dari suaranya.


"Siapa mereka? Mengapa aku bisa memimpikannya?"


"Kalimat-kalimat itu, apakah sebuah perpisahan?"


Camelia duduk dengan memeluk lutut di sofa dekat dengan jendela. Kapan tabir jati dirinya akan terungkap?


Semakin dipikirkan semakin pusing.


"Hah! Aku jadi lapar." Camelia bangkit. Mengikat rambutnya kemudian keluar dari kamar menuju dapur.


Ayam goreng yang ia beli kemarin ada di dalam lemari. Camelia memanaskan dalam airfryer. Kemudian memakai apron.


"Nona?" Pelayan bagian dapur yang sudah siap untuk beraktivitas, menyapa Camelia.


"Sarapan pagi ini, aku yang akan membuatnya. Kalian bisa mengerjakan hal lain," ujar Camelia, yang diangguki oleh mereka.


Camelia bergelut membuat sarapan. Dan sekitar tiga puluh menit kemudian, salah satu menu sarapan sudah selesai.


Terdiri atas roti, telur di mata sapi, keju, juga sosis namun tidak ditumpuk menjadi satu. Itu adalah salah satu menu sarapan dari provinsi Manitoba, Kanada.


"Mom, minta ayam goreng kemarin." Baru saja Camelia melepas apronnya, Lucas dan Liam datang ke dapur.


Wajah keduanya segar, masih ada jejak air di wajah keduanya. "Duduklah dulu," ujar Camelia. Lucas dan Liam mengangguk.


Camelia kemudian mengambilkan masing-masing satu ayam goreng untuk Lucas dan Liam.


Lahap.


Camelia menarik senyum melihatnya.


"Sisanya makan bersama yang lain. Kalian lekaslah mandi," ujar Camelia.


"Mom membuat sarapan?"


"Mau sereal?" Liam meminta.


"Sereal?"


"Ehm. Sudah lama tidak sarapan sereal."


"Baiklah. Sekarang lekasnya mandi," suruh Camelia.


"Okay."


Tak lama setelah Lucas dan Liam meninggalkan dapur, Lina datang. "Kau sudah membuat sarapan, Lia?"tanya Lina, melihat hidangan di meja makan.


"Iya, Kak."


"Aku terlambat. Padahal aku ingin membuat sarapan," keluh Lina.


Camelia tertawa kecil. "Seharusnya kau bangun lebih pagi lagi, Kak."


"Hmm …." Lina mencebikkan bibirnya. "Apa masih ada yang bisa dibantu?"tanyanya, berharap ada, agar ia bisa turut andil.


"Sebenarnya aku mau buat jus."


"Akan ku buat!" Lina langsung bergerak. "Mau jus apa saja?"tanyanya setelah membuka kulkas.


"Plum," jawab Camelia.


"Akan aku buat. Kau tahu kan, aku paling jago dalam membuat jus." Lina berkata dengan percaya diri, sambil mengambil beberapa plum segar dari dalam kulkas.


"Hm … jika begitu, mengapa tidak buka gerai jus saja, Kak?"balas Camelia, dengan sedikit menyeringai.


"Tidak tertarik."


"Aku yakin pasti laris."


"Jangan meledekku, Lia!"


"Mana tahu nanti jika Kak Chris tidak toleran lagi, kakak masih ada sampingan." Camelia semakin menyeringai. Apalagi melihat wajah kaget dan panik Lina.


"Bye de way, kau termasuk beruntung, Kak," kekeh Camelia dengan menyentuh bibirnya, kemudian sebelum meninggalkan Lina yang mematung.


Apa Lia sudah tahu?


Pria mesum itu cerita?


Aku termasuk beruntung?


"Ahhh … tidak! Beruntung apanya? Aku merasa sial!"pekik Lina.


"Ingat, cinta tak selamanya tentang pandangan pertama dan dimulai dengan indah!"sahut Camelia yang rupanya belum jauh. Dibalas demikian, Lina melotot.


"Jangan mengejekku, Lia!"pekik Lina.

__ADS_1


"Jika ejekanku terjadi, kau akan jadi kakak iparku," balas Camelia lagi, semakin menggoda diiringi tawa renyahnya. Pagi itu, kediaman begitu aktif.


__ADS_2