
Waktu berjalan dengan begitu cepatnya. Kesibukan yang tetap bahkan bertambah.
Tak terasa, esok adalah hari di mana Lina akan melepas masa lajangnya bersama dengan David. Melepas single tanpa proses pengenalan yang panjang.
Persiapan pernikahan sepenuhnya diurus oleh keluarga Smith. Lina hanya tinggal terima beres. Selain itu, kewarganegaraannya pun sudah berubah. Kini, ia resmi menjadi warga negara Kanada.
"Lia, apa rasanya berdiri di altar bersama dengan pasanganmu?"tanya Lina. Lina tidur di kamar Camelia.
Malam ini, juga malam terakhir Lina tinggal di kediaman Shane. Setelah ia menikah dengan David, Lina akan tinggal di kediaman Smith. Dengan status sebagai Nyonya David Smith.
"Rasanya? Campur aduk. Ada senang, gugup, ya begitulah," jawab Camelia, menatap langit-langit dengan menarik senyum tipis.
"Aku merasa gugup. Sangat gugup."
"Itu hal yang wajar," sahut Camelia.
Hening. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Em …." Lina bergumam. Camelia sudah banyak memberinya informasi. Yang semua itu sangat penting dan bersifat mendorong Lina agar tidak kalah dalam pernikahan kontrak itu.
"Besok aku akan menikah, lantas bagaimana dengan hubunganmu dengan Tuan Andrean? Apa ada kemajuan?"
Camelia yang sudah memejamkan matanya, kembali membuka mata, mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Lina.
"Hubungan kami berkembang. Namun, ada keterbatasan karena jarak jauh."
Ya itu sudah resiko hubungan jarak jauh. Selain jarak, juga dibatasi oleh waktu dan kesibukan masing-masing. Menjaga dan mempertahankan hubungan adalah hal yang cukup sulit. Jika tidak ada ikatan yang juga, setia, juga konsisten, maka hubungan itu akan sulit bertahan.
Camelia dan Andrean termasuk punya ikatan dan komitmen yang kuat.
"Aku merasa kalian cocok. Aku berharap kalian bisa segera menikah."
"Hehe." Camelia tersenyum kecut. "Mungkin satu tahun lagi," jawab Camelia.
"Hah?" Lina terkesiap. Wanita itu duduk dan memandang heran Camelia. Matanya menilik lekat Camelia. Mencari gesture bahwa apa yang dikatakan tidak serius.
"Why?"
"Karena aku Camelia Shane," jawab Camelia. Kali ini dengan sedikit menyeringai.
*
*
*
Pernikahan David dan Lina dilakukan secara tertutup. Hanya mengundang kerabat terdekat. Yang akan merilis berita juga orang keluar Smith. Lokasi acara dijaga dengan ketat untuk itu.
Pernikahan itu dilakukan di hari Minggu. Ya, hari libur agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Pernikahan adalah moment penting dan sangat sakral. Mengikat janji suci, Mengikat dua orang dalam tali suci pernikahan.
Pernikahan adalah hari yang membahagiakan. Tak terkecuali untuk Lina dan David. Mereka bahagia, terlepas dari pernikahan mereka adalah kontrak.
Tak ada yang melarang bahagia ataupun mencari kebahagiaan untuk itu.
Moment ini, hanya sekali seumur hidup. Tidak ada terulang lagi. Andai kata terulang lagi, maka rasanya tidak akan sama lagi.
Langkah kakinya tegas. Tatapannya lurus ke depan. Gaunnya menyeret di karpet merah yang membentang dari awal masuk sampai altar.
Gaun pernikahan berwarna putih itu, membungkus sempurna tubuh Lina. Tudung kepala menutup wajahnya. Buket tangan ia pegang di depan. Tuan Shane mendampinginya. Karena, Lina tidak punya keluarga lagi.
Di altar, sudah menunggu David. Pria berusia 36 tahun itu terlihat lebih tampan hari ini. Tubuh tegapnya dibalut dengan jas berwarna putih. Wajahnya berseri.
Camelia, Nyonya Shane, Lucas, Liam, Nyonya Smith dan undangan yang hadir duduk di kursi yang tersedia. Mereka akan menyaksikannya proses dua insan mengingat janji suci.
Camelia menggunakan dress berwarna biru. Dress yang tidak terlalu mencolok sebab hari ini, pusatnya adalah Lina dan David.
Kini, David dan Lina sudah berdiri berhadapan. Keduanya tangan mereka bergandengan. Pendeta siap membacakan janji suci pernikahan mereka.
"Aku bersedia!"
"Aku bersedia!"
Keduanya menjawab tegas. Sama sekali tidak ada keraguan.
"Sekarang saya umumkan bahwa Tuan David Smith dan Xiao Lina adalah pasangan suami istri."
Tepuk tangan meriah menyambut ucapan lantang pendeta.
"Suami silakan mencium istri sebagai bentuk kasih sayang," ujar Pendeta.
"Ah!"
Keduanya terhenyak. Tampaknya ini tidak ada dalam bayangan mereka.
Bagaimana bisa aku melupakannya? Lina melirik ke bawah. Menggerutu dalam hati. Ia tak punya persiapan untuk ini.
Sudah sempurna ini, mana mungkin aku menghancurkannya.
David tersenyum. Segera membuka tudung kepala Lina. David kemudian mendekatkan wajahnya pada Lina.
Lina membeku. Namun, tidak langsung mencium Lina. "Aku dengar kau juga seorang artis. Ayo bekerja sama dengan baik," bisik David.
"Ah?"
Belum selesai Lina mencerna. Lina merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya.
Kemudian mulai merasakan ******* di sana.
Ini tantangan. Lina kembali sadar. Segera ia melingkarkan kedua tangannya pada leher David.
David membuka matanya, menarik senyum dalam ciumannya.
__ADS_1
"Wow!" Camelia berdecak pelan dengan kedua tangan menutup mata Liam dan Lucas. Ya, meskipun itu tidak terlalu berguna. Sebagai seorang aktor cilik, keduanya jelas sudah pernah melihat adegan demikian.
"Akhirnya … akhirnya putraku menikah juga. Aku senang senang," ujar Nyonya Smith, menyeka sudut matanya.
"Selamat. Kau sudah memiliki seorang putri." Nyonya Shane menepuk pelan bahu Nyonya Smith. Kedua sahabat itu kemudian saling berpelukan.
Suasana haru menyelimuti. Diiringi dengan tepuk tangan yang kembali riuh saat ciuman David dan Lina terlepas. "Bagus sekali." David tersenyum lebar.
Lina memalingkan wajahnya. Rona merah terlihat jelas di wajahnya. "Ayo." David menarik lengan Lina, untuk meminta restu dari Nyonya Smith dan keluarga Shane. Karena, Lina adalah bagian dari keluarga Shane.
Acara memohon doa restu itu pun tak lepas dari keharuan. Nyonya Smith memeluk David seraya menangis.
Akhirnya!
Akhirnya setelah usia 36 tahun. David melepas masa lajangnya. Akhirnya, setelah pencarian panjang, David memutuskan Lina untuk menjadi pendamping hidupnya.
Dan Lina, Nyonya Smith tidak terlalu mempermasalahkan latar belakang yang bukan dari keluarga terpandang. Asalkan berasal dari latar belakang yang baik dengan karakter yang baik pula, maka itu bukanlah masalah untuk bisa menjadi menantu keluarga Smith.
"Tuan, Nyonya, terima kasih untuk semua yang Anda berikan pada saya," ucap Lina, saat meminta restu dari keduanya.
Nyonya Shane menggeleng pelan. "Tidak ada terima kasih dalam keluarga, Lina. Apa yang kami lakukan, sudah seharusnya kami lakukan," ujar Nyonya Shane.
"Lia …." Rasanya, Lina tak mampu mengungkapkan rasa terima kasihnya. Hanya melalui peluk dan air mata.
Acara pernikahan itu, memang terbatas. Namun, bahagia dan harunya tidak terbatas sama sekali.
Foto bersama setelahnya pun dilakukan.
Setelah acara itu, dilanjutkan dengan perayaan. Dan ini khusus hanya untuk keluarga inti. Karena perayaan tertutup, dan sudah selesai sebelum gelap datang.
*
*
*
"Kau serius, Kak?" Dion terhenyak dari duduknya. Membuat Tuan dan Nyonya Liang menoleh heran padanya.
"Aku kirim dan videonya," sahut Camelia. Tak berselang lama, Dion membuka foto dan video yang sang kakak kirim.
Mata Dion langsung membulat. "It's amazing! Aku tidak percaya ini!" Dion berseru.
"Aku kira dia menikah dengan model atau putri pengusaha. Rupanya dengan Kak Lina. Bagaimana ceritanya, Kak? Tunggu! Artinya kakak sudah tahu tapi tidak memberitahuku? Kau bahwa pura-pura tidak tahu!"cerocos Dion, dengan cepat.
"Lina?" Nyonya Liang menangkap satu kata.
"Married?"sambung Tuan Liang.
Keduanya mencerna. Saling menyipitkan mata, kemudian melebarkan mata. "Lina menikah?!"
Mendengar pekikan itu, Dion menoleh. Tuan dan Nyonya Liang sudah menatapnya meminta jawaban.
"Kau ada di dekat ayah dan ibu?" Camelia tampaknya terkejut di sana.
"Ya sudah, berikan pada mereka." Dion menurut. Memberikan ponselnya pada Nyonya Liang.
Sementara Dion duduk dan minum untuk meredakan keterkejutannya. Benar-benar di luar dugaan.
Kak Lina dan Kak David?
Keduanya menikah?
Bagaimana bisa?
Keduanya punya latar belakang yang berbeda. Dan Kak David … astaga! Aku tidak bisa memahaminya.
Kemudian melirik ke arah kedua orang tuanya yang sibuk mengintrogasi Camelia mengenai pernikahan Lina.
"Astaga-astaga! Biarkan aku mencerna informasi ini." Nyonya Liang duduk dengan mengusap dadanya.
Takdir memang tidak ada yang tahu. Begitu juga dengan masa depan. Tampaknya tidak mencolok. Namun, sekali mendengar kabarnya, dibuat terkejut.
Orang biasa dengan konglomerat, bukankah itu luar biasa?
"Kami tidak pernah menduga hal ini. Benar, takdir tidak ada yang tahu. Namun, yang pasti jodoh adalah cerminan diri. Ayah percaya dia menikah dengan siapa tadi? Presdir agensimu? Sampaikan ucapan selamat kami atas pernikahannya, Lia," tutur Tuan Liang.
"Tentu, Ayah," jawab Camelia.
"Dion," panggil Tuan Liang, seraya menyodorkan kembali ponselnya.
"Iya, Kak?"jawab Dion, kembali menerima ponselnya.
"Tidak nyaman membicarakan alasan pernikahan mereka. Lagipula itu adalah hal pribadi," ujar Camelia.
"Hm …, tetap saja aku penasaran, Kak. Secara, Kak David dan Kak Lina belum lama kenal."
"Terkadang, waktu kenal bukan penentu akan bersama atau tidak. Karena kebanyakan, yang akan bersatu adalah yang belum lama kenal."
"Membahas perasaan dan cinta, aku sama sekali tidak mengerti," aku Dion. Ia mendengus kesal.
"Makanya segera cari pacar," sahut Camelia dengan tawa renyah di ujung sana.
"Iya, Kak."
"Iya-iya, nanti kau seperti Kak David."
"Tidak masalah juga sih, Kak. Yang penting kan tetap handsome dan unlimited money," sahut Dion, tertawa renyah.
"Eh-eh! Apaan itu?!"ketus Camelia. Kok malah disanggupi.
Dion hanya tertawa menanggapinya. Camelia terdengar mendengus. "Di sana sudah malam dan pasti kau lelah, pergilah istirahat, Kak."
"Hm."
__ADS_1
"Pagi, kakakku yang cantik."
"Malam."
Panggilan itu berakhir. "Benar-benar takdir yang tidak terduga."
*
*
*
"Kau melakukannya dengan sangat baik. Terima kasih atas kerja samamu," ucap David pada Lina. Saat ini, mereka sudah berada di kamar pengantin. Kamar itu sudah dihias sedemikian rupa. Dan ada bentuk hati dari mawar di atas ranjang.
David duduk di sofa seraya membuka jas dan melonggarkan kancing kemejanya. Sementara Lina duduk kaku di depan meja rias. Wajahnya tegang. Ia gugup dan tegang berada dalam satu kamar dengan David. Ditambah lagi, malam ini dilabeli malam pertama mereka. Yang katanya malam sakral, juga malam yang dinanti oleh setiap pasangan yang telah menikah. Dan momok bagi pasangan yang menikah karena perjodohan dan dengan kontrak.
"Apa kau sudah tidur?"tanya David, cukup lama tidak mendengar Lina membalas. David menoleh pada Lina. Menatap punggung wanita yang sudah sah menjadi isterinya itu.
"Hei?!" David memanggil cukup keras.
"Ah!" Lina membalikkan badannya cepat.
"Kau melamun?"terka David. Dahinya mengerut.
"Mengapa?" Pria itu banyak bertanya.
Lina menelan ludahnya. Dengan memainkan jarinya, ia menjawab, "malam ini kau tidur di sofa, aku di ranjang," ujar Lina.
"Apa?" David terkesiap. Apa yang baru saja dikatakan Lina? Ia tidur di sofa?
Memicingkan matanya. Terlihat tidak berani. Namun, sangat berani.
"Apa ada lemak tersembunyi di tubuhmu?"
"Hah?"
"Ranjang itu luas. Bahkan lima orang di atasnya juga masih lebar. Mengapa aku harus tidur di sofa?"jelas David menolak.
"Kalau begitu, aku yang tidur di sofa."
"Kau kenapa? Apa yang kau pikirkan? Apa karena ini malam…." David tidak melanjutkan ucapannya. Ia terkesiap sendiri dengan apa yang hendak ia katakan.
"Malam pertama?" Bergumam dengan menatap lantai. Lina semakin tegang. Wajah pria itu sangat serius.
"Ah … aku." David tersenyum. Ia melangkah mendekati Lina.
"K-Kau mau apa?!" Lina beringsut. Tatapan itu sangat serius. Lina merasa takut dan berdebar bersamaan.
Lina berhenti saat tubuhnya membentur meja rias. David mencondongkan tubuhnya. Mengangkat dagu Lina saat Lina menunduk.
"Kau mengkhawatirkannya?"
"Apa?"
"Aku tahu. Kau mengkhawatirkannya. Malam pertama kita. Menurutmu apa yang harus kita lakukan?"
"Jangan bicara hal aneh!"
"Aneh?"
"Kita sudah menjadi suami dan istri. Melakukan hubungan intim, adalah hal yang wajar dan bahwa harus. Apakah kau siap untuk malam ini, Lina?"bisik David.
"Tidak ada hal itu! Aku menolak!"
"Menolak? Bagaimana jika aku memaksa?"
"K-Kau!! Jangan melewati batas!!" Lina mengeram! Kedua tangan berada di depan dada. Membentuk pertahanan diri. Sementara David, kini memerangkap Lina dalam penjara tangannya.
Tinggi keduanya terlihat jelas. Lina mendongak. Menatap David yang menatapnya dalam.
"I-ini tidak ada dalam kesepakatan kita! Jika kau menyentuhku lebih baik …."
Syut!
David meletakkan jarinya di bibir Lina. "Kau tegang sekali. Apa kau pikir aku orang yang seperti itu?"tanyanya, sorot matanya sedikit sendu.
"Ah … jujur aku kecewa." David berbalik. Lina bernafas lega.
"Kau menakutiku! Wajar jika aku salah paham!" Lina berkata, membela dirinya.
"Hei, Lina!" David kembali berbalik. Berdiri di tempatnya, menatap lurus ke depan.
"Di awal aku katakan bahwa kontra hanyalah formalitas. Dan aku pernah mengatakan bahwa aku akan mengejarmu. Aku akan terus melakukannya sampai kau jatuh hati padaku. Selain itu, masalah malam pertama, kita akan melakukannya atas dasar sama-sama bersedia, bukan karena paksaan!!!"
Setelah mengatakan hal itu, David masuk ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket.
Sementara Lina, ia duduk di tepi ranjang dengan ekspresi kaget.
"Apa-apaan dia? Selalu membuat jantungku berdebar!"gerutu Lina.
Menunggu David selesai, Lina menenangkan dirinya. Dari percakapan tadi, David menolak tidur terpisah. Artinya mereka akan seranjang.
Menelan ludah. Biar bagaimanapun itu pertama. Rasanya sama, tegang dan gugup.
"Apa kau tidak masuk?"
"Uwahhh!"
Jantung Lina kembali berdebar kencang. Tidak, lebih kencang daripada yang tadi. Pria itu, apa mau membuat dirinya jantungan dan terkena serangan jantung.
"Kau menyebalkan!!" Lina langsung lari ke kamar mandi.
"Dia kenapa?" David kembali mengusap rambutnya. Pria itu, keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, membiarkan bagian atasnya telanjang.
__ADS_1
Pantas saja Lina bersikap demikian. "Tapi, dia memang berani."