
Seorang wanita yang mengenakan seragam kebersihan terlihat mengendap-endap setelah keluar dari lift. Wajahnya ditutupi oleh masker. Hanya menunjukkan rambut panjang, hitam, sedikit bergelombang dan netra berwarna coklat.
Ia menjulurkan kepalanya. Melihat koridor yang tampak lenggang. Benar, lenggang. Tidak ada siapapun yang terlihat.
Melangkah. Waspada. Ketika sudah berada di depan pintu berwarna putih gading dengan ukiran bunga peony yang melambangkan kehormatan dan kepribadian yang berkelas.
Wanita itu mendecih. Itu seperti menggambarkan sosok pemilik ruangan ini.
Ia lalu membuka pintu dan masuk dengan cepat. "Kau tidak ada hak melarangku bertemu dengan Crystal, Andrean Gong!" Itu Rose. Ia berseru.
"Bagaimana Anda bisa masuk, Nona Liang?" Rose mendongak. Itu bukan suara Andrean.
Hans!
Itu Hans yang duduk di sofa dengan memegang lembaran kertas. Menatapnya penuh selidik. Rose tercengang. "B-bagaimana bisa kau? Di mana Andrean? Di mana anakku?"cerca Rose.
Hans jelas mengenali Rose, sekalipun memakai masker. Ah, Hans tertawa, "Anda benar-benar pantas mengenakannya!" Sinis dan menyindir. Tatapan mata Rose begitu kesal.
Ia mengepalkan tangannya. "Beraninya kau! Kau tahu siapa aku?" Hans menyeringai tipis.
"Anda? Nona Liang, benar bukan?" Hans meletakkan lembaran kertas yang ia pegang di atas meja.
"Meskipun aku dan Andrean sudah putus. Aku tetaplah Ibu dari anaknya, Crystal?" Ya kembali mengandalkan posisinya sebagai ibu dari Crystal. Hans semakin menyeringai. Ia kemudian terkekeh. Rose bingung. Di satu sisi juga kesal dan was-was. Santai sekali reaksi Hans.
"Nona Liang." Hans memanggil dingin.
"Saya yakin Anda tahu kebenarannya. Oleh karena itu, lebih baik Anda menjaga sikap dan segera keluar dari ruangan ini. Saya sarankan Anda banyak-banyak intropeksi diri selama masa skorsing Anda! Mengenai Crystal serahkan semuanya kepada Tuan karena beliau akan merawat Crystal dengan baik. Kecuali, jika Anda menginginkan hidup kristal berubah drastis. Akan lebih baik jika Anda sadar diri sebelum semuanya benar-benar terlambat!" Peringatan! Hans memberi Rose peringatan.
Rose gemetar mendengar peringatan Hans. Dalam benaknya langsung bertanya-tanya, apakah Andrean mengetahui sesuatu? Jika benar Andrean tahu bahwa Crsytal bukanlah darah dagingnya, mengapa Andrean tetap mengakui Crsytal sebagai putrinya? Keringat dingin membasahi pelipisnya. Melihat reaksi Rose, Hans tersenyum reaksi itu membuktikan apa yang ia katakan kemungkinan besar adalah benar.
"D-dimana mereka?"tanya Rose dengan gemetar.
"Tuan dan Crystal tidak ada di perusahaan. Mengenai ke mana mereka pergi itu privasi," jawab Hans. Mengangkat tangannya menunjuk ke arah pintu, mengisyaratkan agar Rose segera angkat kaki dari ruangan ini.
"Aku tidak percaya!" Rose bertindak. Ia memeriksa setiap sudut dan ruangan di sini. Mulai dari kamar mandi hingga kamar tidur yang tersedia di dalam ruangan.
Kosong.
Tidak ada siapapun.
Hans tidak mencegahnya sama sekali. Jika dicegah, Rose akan semakin tidak percaya. Ya meskipun hal itu semakin menambah kekesalan Hans. Kedatangan Rose saja sudah membuatnya kesal. Ditambah lagi dengan Rose yang berteriak-teriak memanggil nama Andrean dan Crystal.
"Cukup!" Hans kesal. Ia berdiri kemudian memegang lengan Rose. Melangkah keluar.
Rose meronta. Sayangnya, rontaan itu tidak berpengaruh pada Hans.
"Keluar! Selagi saya masih memberi Anda toleransi. Jika tidak saya tidak akan segan menambah lama skorsing Anda, Nona Liang." Peringatan lagi. Tak berkutik. Rose hanya bisa menggigit bibirnya sendiri.
__ADS_1
Berbalik. Melangkah pergi dengan perasaan gundah.
Hans mendengus. Kembali ke dalam ruangan. "Sudah hampir mati karena tugas. Nenek lampir itu malah datang. Membuatku sangat kesal. CK!" Hans menggerutu.
Kemana Andrean dan juga Crystal? Bukankah tadi pagi Andrean masih berselisih dengan Camelia?
Andrean ke Shanghai. Bersama dengan Crystal. Dan semua pekerjaan selama Andrean di Shanghai limpahkan pada Hans. Sebenarnya tidak semuanya. Namun, sebagian besar.
"Sepertinya harus mengganti keamanan." Rose bisa menyelinap masuk artinya keamanan kurang ketat dan teliti. Masuk dengan berdandan seperti petugas kebersihan, melewati penjaga, dan naik ke ruangan Andrean.
"Ah melegakan rasanya lihat keluar dari istana," gumam Hans dengan wajah lega.
"Dan Tuan cepatlah kembali jika kau tidak ingin melihat sekretarismu ini mati duduk," ucap Hans, dengan wajah yang begitu memelas.
*
*
*
Masih sama tidak ada yang berubah dari kediaman ini kecuali isinya. Begitu juga suasana yang sangat berbeda jauh.
Camelia menahan air matanya saat kembali menginjakkan kaki di kediaman ini. Kediaman Liang, tempatnya berlindung dan bernaung selama 22 tahun usianya.
Lima tahun sudah berlalu, akhirnya ia kembali ke kediaman ini, meskipun hanya berkunjung. Meskipun hanya sebentar setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Nyonya Liang mengernyit. "Ah. Maaf. Saya terbawa suasana," sahut Camelia. Tersadar dan menyeka sudut matanya.
"Kau menangis? Mengapa?" Nyonya Liang menghampiri Camelia. Menyentuh lengan dan menatap Camelia penuh arti.
"Aku teringat rumah, Ibu," jawab Camelia, lirik.
"Rumah? Kau bisa menganggap rumah ini sebagai rumahmu, Lia," tutur Nyonya liang dengan tersenyum. Dari ekspresi wajahnya, sepertinya dia salah paham mengira kata rumah itu merujuk pada rumah Camelia yang berada di Kanada. Padahal kata rumah merujuk pada kediaman ini.
"Ayo." Nyonya Liang menuntun Camelia. Camelia duduk di sofa. Nyonya Liang pergi ke dapur.
Camelia mengedarkan pandangannya. Tidak ada yang berubah. Tetap sama, tatanan yang sama, dan saat Camelia melihat ke dinding yang biasa digunakan untuk meletakkan bingkai, Camelia terdiam. Tanpa ia sadari, air matanya menetes.
Foto-foto dirinya masih ada di sana. Begitu juga dengan Dion. Sama persis dalam ingatan Camelia.
Ayah, Ibu ….
"Nak Lia, kamu suka minum apa? Susu, teh, atau jus?" Terdengar Nyonya Liang bertanya. Segera, Camelia menyeka sudut matanya. Mengedipkan matanya beberapa kali.
"Teh saja, Ibu." Camelia menoleh pada Nyonya Liang dengan tersenyum hingga matanya menyipit.
"Baiklah." Tak berapa lama kemudian, Nyonya Liang kembali dengan membawa nampan berisi teko teh dan 2 gelas kecil.
__ADS_1
"Ini teh hijau. Bagus untuk kesehatan," ujar Nyonya Liang seraya menuangkan teh ke dalam gelas.
"Terima kasih, Ibu." Camelia menyeruput teh hijau tersebut.
Ah.
Perasaannya lebih lega. "Kalau boleh tahu apa di rumah ini hanya ada Ibu dan Tuan Liang saja?"tanya Camelia. Sekadar basa-basi untuk mengorek informasi.
Nyonya Liang menggeleng. "Sekarang kami hanya tinggal bertiga. Ibu, suami Ibu, dan putri ibu. Kau pasti tahu bukan? Rose Liang."
Jelas Camelia tahu. Akan tetapi, kata sekarang itu membuat hati Camelia berdesir.
"Dulu kami tinggal berlima. Putri sulung dan putra tunggalku. Mereka meninggalkan rumah ini lima tahun silam. Entah kemana. Sampai saat ini sama sekali tidak mendengar apalagi mengetahui keberadaan mereka." Nyonya Liang bercerita.
"Mereka pergi, mengapa?"
Bercerita. Menceritakan hal yang sama persis seperti dalam ingatan Camelia. Namun, cerita Nyonya Liang setelah ia dan Dion meninggalkan kediaman ini, membuat Camelia menangis. Sungguh, air matanya tidak bisa ditahan.
Segera direngkuh tubuh Nyonya Liang. Memeluknya. "Ibu sangat ingin bertemu dengan mereka. Ibu ingin kembali seperti dulu. Keluarga yang lengkap. Rumah yang hangat. Ta-tapi itu rasanya mustahil. Apakah mereka mau kembali ke rumah ini? Hiks … hiks …."
"Pasti mau, Ibu. Hanya saja mungkin mereka masih mempertimbangkan hal lain hingga belum kembali juga sampai saat ini."
"Ibu sangat merindukan mereka, Lia."
"Mereka pasti juga sangat merindukanmu, Ibu." Camelia berkata jujur. Mengatakan isi hatinya.
"Ini salah kami. Kami tidak bisa adil. Kami hanya mementingkan reputasi daripada perasaan anak-anak." Nyonya Liang menyalahkan dirinya sendiri.
Camelia tidak menjawabnya. "Ibu jangan bersedih. Suatu hari mereka pasti akan pulang," hibur Camelia.
"Sungguh?" Wajahnya sumringah. Camelia mengangguk.
Nyonya Liang menatap lekat Camelia. Matanya seperti menyelami netra Camelia.
"Lia, kau dan adikmu begitu mirip dengan anak-anak Ibu. Alangkah bahagianya Ibu jika itu benar-benar kalian. Sayangnya, mereka bukan kalian," ucap Nyonya Liang dengan sedikit parau.
Camelia tersenyum. "Tidak masalah jika Ibu menganggap saya dan adik saya sebagai anak ibu."
Kami memang anak ibu, jerit Camelia dalam hati.
Keduanya saling memeluk. Suasana hening dan terasa syahdu. Ketenangan terasa memenuhi relung hati. Inilah ketenangan yang dicari.
"Mengapa kau di sini?" Pelukan itu terlerai begitu mendengar itu. Nadanya ketus lagi sinis.
Rose.
Itu Rose!
__ADS_1