Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 165


__ADS_3

Mereka benar-benar bermain?


Camelia mengernyitkan dahinya. Evelin yang tak sengaja melihat wajah tidak senang Camelia, langsung bertanya-tanya dalam hati.


Aku kira dia lebih baik. Rupanya benar-benar ba*jingan! Apa yang harus aku lakukan pada mereka? Membuat mereka tidur bersama? Ahh … tanpa aku turun tangan, mereka pasti sudah melakukannya.


Camelia melempar pandang keluar jendela. Telunjuknya mengetuk di paha.


"Evelin."


"Ya, Nona!" Evelin tersentak saat dipanggil. Menoleh ke belakang. Ekspresi Camelia begitu serius.


"Apa kau percaya gosip tadi pagi?"tanya Camelia.


Gosip?


Evelin tampak kebingungan sesaat.


"Ah … seperti yang Anda katakan, kita tidak bisa memastikannya. Saya tidak peduli gosip itu benar atau salah," jawab Evelin. Ia ingat ucapan Camelia tadi pagi. Jangan dipedulikan. Acuh saja. Itu bukan urusan kita.


"Okay." Camelia menganggukkan kepalanya.


Apa yang Nona rencanakan?


Pertanyaan itu tercekat di ujung tenggorokan. Senyum Camelia itu merencanakan sesuatu. Itu membuatnya penasaran sekaligus tegas.


Banyak jalan menuju Roma. Joseph, tunggu tanggal mainnya!


*


*


*


Camelia tiba di kediaman Shane lebih awal. Bahkan Tuan dan Nyonya Shane belum pulang. Begitu juga dengan Lucas dan Liam.


Camelia tidak langsung ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Menyeka keringat di wajahnya.


"Bibi, hari ini aku yang akan memasak makan malam," ujar Camelia pada pelayan dapur.


"Baik, Nona." Pelayan dapur itu mengangguk mengerti.


Sembari menunggu waktu yang pas untuk memasak, Camelia meraih ponselnya.


Di jendela notifikasi, ada berita yang membahas mengenai eksploitasi anak.


"Uh?"


Camelia membaca berita tersebut.


Jika terjadi unsur pemaksaan dan kekerasan, maka itu termasuk dalam bentuk eksploitasi. Tapi, bagaimana jika hal itu keinginan anak sendiri? Dan anak senang melakukan? Apakah termasuk eksploitasi anak?


Apakah hanya sebatas itu? Aku tidak menyalahkan pendapat ini. Akan tetapi, rasanya kurang jika yang dibahas hanya tentang artis cilik.


Katakan saja aku mencela. Meskipun sudah ada undang-undang yang mengatur, masih banyak pelanggaran yang terjadi. Ah, aku tidak akan menyangkal bila dikatakan mengeksploitasi Lucas dan Liam.


Camelia menghela nafasnya. Sepertinya ia melakukan kesalahan dengan membaca berita itu. Ia menambah beban pikirannya sendiri.


"Tapi, kedua anakku berbeda. Atau lebih tepatnya, mereka juga mengeksplorasi diri mereka sendiri. Pekerjaan yang mereka jalani adalah kemauan mereka sendiri. Aku hanya melakukan yang terbaik untuk mereka."


"Selain itu, mereka berdua sudah menguasai 3 bahasa. Liam juga jago dalam komputer. Kehidupan sosial yang biasa, tidak cocok dengan mereka. Apakah ini rahasia umum atau rahasia gelap keluarga konglomerat, seorang anak akan mendapatkan pendidikan serius dari keluarga. Mereka belajar banyak hal. Yang akhirnya membuat mereka kehilangan masa golden age. Tapi, aku tidak akan begitu. Aku akan melakukan yang terbaik. Anak-anakku tidak boleh kehilangan masa emas mereka!!"


Ya begitulah. Apalagi jika menjadi pewaris tunggal. Dituntut untuk menjadi sempurna dan menonjol. Agar pantas duduk di kursi dan melanjutkan kepemimpinan.


Huft!


Camelia memijat pelipisnya.


"Pikiranku jadi tidak tenang. Aku akan bicara dengan mereka nanti," putus Camelia.


Camelia bangkit menuju kamarnya. Dan tak berapa lama kemudian turun dengan sudah berganti pakaian. Menuju dapur untuk memasak makan malam.


*


*


*


Sekitar satu jam kemudian, Lucas dan Liam kembali. Wajah keduanya tampak begitu lelah. Namun, hal itu sirna saat mencium aroma masakan yang khas dari dapur. Apalagi saat mendapati Camelialah yang memasak.


"Mom!!" Lekas keduanya menyapa dengan sumringah.


"Duduklah. Kalian pasti lelah," ujar Camelia, membalas senyum manis kedua anaknya.


"Mom pulang cepat? Apakah syuting akan segera berakhir?"tanya Lucas.


"Mungkin lebih dari satu bulan lagi," jawab Camelia. Menyodorkan dua gelas jus pada Lucas dan Liam. Juga menyajikan dua piringan kue.


"Setelah itu, Mom akan pergi ke Paris?"tanya Liam, memastikan.


"Hm…." Camelia mengangguk. Mereka sudah pernah membahas hal ini sebelumnya.


"Hm, Lucas, Liam," panggil Camelia. Lucas dan Liam menoleh.


"Aduh … ternyata masih anak kecil," gemas Camelia, melihat ada noda cream di sudut bibir Lucas dan Liam. Segera Camelia membersihkannya dengan tisu.


Camelia sudah hampir selesai memasak. Tinggal menuju satu masalah lagi matang.

__ADS_1


"Mom!" Lucas dan Liam merengek. Camelia tertawa.


"Kalian sudah masuk usia sekolah. Katakan pada Mom, kalian mau masuk sekolah di mana."


"Hah?"


Kedua anak itu terkejut. Pertanyaan ini sama sekali tidak terduga. Mengapa tiba-tiba membahas tentang sekolah? Ah, bukan tiba-tiba, tapi dibahas kembali.


Apakah ada yang mengganggu pikiran Mommy?batin Lucas.


"Penerimaan siswa baru telah berakhir, Mom. Jika kami akan sekolah, maka tahun depan adalah waktunya," ucap Liam.


"Artinya kalian mau?"


"Mengapa Mom berubah pikiran?"tanya balik Liam. Bukankah katanya mereka hanya akan ikut sekolah akselerasi?


"Ya … biar bagaimanapun kalian harus tetap mendapat pendidikan formal. Tidak keberatan, bukan? Lagipula, sejak bayi jam terbang kalian sangat tinggi. Sudah saatnya untuk menguranginya. Kalian harus sekolah, bertemu anak-anak sebaya kalian, ya menikmati kehidupan sekolah. Bagaimana?"


Lucas menatap Liam. "Ada penekanan harus di sana. Kehidupan sekolah, sepertinya menarik." Liam menarik senyum.


Camelia menghela nafasnya. Syukurlah. Sudah ada tanda-tanda persetujuan.


"Tapi, rasanya berat untuk bertemu rekan sebaya. Setahuku, kita bisa mengajukan tes untuk penempatan kelas."


"Er … ya?" Camelia menggaruk pipinya pelan. Astaga, mengapa ia jadi gugup begini?


"Good!"


"Kau setuju?" Lucas terkejut. Dibandingkan dengan dirinya, Liam lebih dingin dan pendiam. Lebih sulit berinteraksi dengan adiknya itu.


"Mau bagaimana lagi? Terlebih lagi aku akan jadi Presdir, aku harus mencari banyak pengalaman," jawab Liam, dengan mengedipkan matanya.


"Gosh!" Camelia menyentuh kepalanya. Apakah kedua anaknya ini sosok yang sudah dewasa tapi terperangkap dalam tubuh kecil itu?


Usia mereka bahkan belum genap 6 tahun!


"Terlambat sudah. Anak-anakku sudah sangat dewasa. Bahkan sudah mengerti tanggung jawab di masa depan. Bagaimana ini? Mereka tidak akan kehilangan masa emas, kan?"


Camelia bergumam. Dalam terperangkap dalam kecemasannya dan itu semakin membuatnya tidak tenang.


"Hei, sepertinya ada yang mengganggu pikiran Mom," bisik Lucas.


"Jika tidak, rasanya aneh jika Mom tiba-tiba membahasnya lagi." Liam mengangguk.


"Mom, apa ada masalah dengan itu? Kami tidak keberatan untuk sekolah. Kami memang membutuhkan pendidikan formal. Namun, jika itu bisa segera diselesaikan, kami jelas akan memilihnya," ujar Liam.


Camelia menatap kedua anaknya. Dahinya berkerut-kerut. Wajah kedua anaknya itu begitu serius.


Aku dengar kecerdasan anak menurun dari Ibu. Artinya aku sangat cerdas.


"Hah? Eksploitasi?"


"Astaga, Mom! Meskipun tubuh kami masih kecil dan pendek, kami bisa membedakan sesuatu," celetuk Lucas.


"Mengapa Mom berpikir demikian?"tanya Liam. Sebelum menjelaskan, ia lebih tertarik untuk mengetahui alasannya. Biar bagaimanapun ini bukan bahasan yang sepele. Ini berkaitan dengan masa depan mereka.


Hm, masalah eksploitasi? Itu menarik.


"Mom kepikiran setelah membaca artikel," jawab Camelia.


"Mom, seperti itu sudah matang," tunjuk Lucas pada panci di kompor.


"Astaga!"


"Hampir saja!" Camelia menyeka dahinya. Hampir saja masakan terakhir terlalu matang dan gosong.


"Karena kalian sudah setuju, Mom akan riset sekolah untuk kalian," ucap Camelia.


"Bukankah itu terlalu cepat? Penerimaan siswa baru masih setengah tahun lagi, Mom," protes Lucas.


"Itu waktu yang cepat," sahut Camelia. Ia tersenyum puas. Makan malam sudah siap. Hatinya sudah tenang dan ada keputusan penting yang didapat. Tidak ada yang terlalu cepat untuk mempersiapkan sesuatu.


"Lucas, Liam, segeralah mandi dan bersiap untuk makan malam," titah Camelia.


*


*


*


Tuan dan Nyonya Shane pulang beberapa saat sebelum waktu makan malam. Wajah keduanya begitu lelah.


Camelia menyambut keduanya dengan menyajikan teh.


"Sudah sepuluh hari, pria Ling itu belum bisa menghafal satu lagu dengan benar. Sebenarnya otaknya terbuat dari apa? Apa dia benar-benar ditakdirkan menjadi penjagal?"


Nyonya Shane mengeluh dan menggerutu. Sepertinya Nyonya Shane tadi mengunjungi gedung keamanan dan pelatihan pengawal keluarga Shane.


Camelia berdecak. Itu sangat payah. Seharusnya menghafal lagu adalah hal yang mudah. Apalagi waktunya cukup panjang.


"Dancenya juga payah."


"Hah?" Camelia terkesiap.


"Oh, kau belum tahu ya, Lia?" Nyonya Shane menatap Camelia yang bingung. Katanya tempat pelatihan pengawal, kok disuruh menghafal lagu dan dancenya? Itu mau jadi pengawal atau idola?


"Pengawal keluarga Shane tidak hanya kuat otot, tapi juga ingatan. Ah ya, selain itu mereka juga harus mampu berperan sesuatu kondisi, atau menyamar," terang Nyonya Shane. Ya, itu baru Camelia ketahui. Rupanya seperti itu. Mereka menjadi pengawal yang serba bisa.

__ADS_1


"Mulutnya saja yang cerewet. Ck!" Nyonya Shane berdecak.


"Tambah saja latihannya. Aku tidak mungkin salah menilai orang," sahut Tuan Shane. Dibandingkan kekesalannya Nyonya Shane, Tuan Shane sangat santai. Menikmati tehnya.


"Huh! Aku memberinya tenggat besok. Jika tidak bisa, aku akan mengirimnya ke hutan latihan," ucap Nyonya Shane.


"Tampaknya menyeramkan." Camelia menyentuh tengkuknya.


"Ya begitulah," sahut santai Tuan Shane.


"Apa makan malam telah siap?"


"Sudah, Dad!"


"Ayo makan. Energiku terkuras banyak karenanya tadi." Nyonya Shane bangkit. Gegas menuju ruang makan.


*


*


*


Ahhh!


Akhirnya Camelia bisa kembali merasakan kelembutan ranjangnya. Meski hanya beberapa hari, ia sangat merindukannya.


Camelia menatap langit-langit kamar.


Tahun depan Lucas dan Liam akan masuk sekolah. Lalu jika tidak ada halangan, tiga tahun lagi aku akan menikah dengan Andrean, batin Camelia.


"Ah?"


Wanita itu terhenyak sendiri. Wajahnya memanas dan memerah.


"Apa yang aku pikirkan?" Menepuk pipinya sendiri. Kemudian memeluk guling.


"Pernikahan? Apa aku yakin dengan hubungan jarak jauh ini?"


"Tapi, mengapa aku berharap itu terjadi? Dan tiba-tiba aku sangat merindukannya. Rean sedang apa atau tidak, ya?"


Camelia berguling untuk meraih ponselnya.


Sudah ada banyak pesan masuk. Sejak pulang tadi, ia meninggalkan ponselnya di kamar. Dan baru ia sentuh lagi sekarang.


"Rean?"


Cepat-cepat Camelia membuka pesannya.


Malam ini aku memimpikanmu. Kita menghabiskan malam yang indah. Aku pikir mimpi ini karena aku sangat merindukanmu?


"Memimpikan apa?" Wajah Camelia kembali memanas.


"Foto apa ini?"


"Astaga!" Camelia melempar ponselnya. Wajahnya benar-benar merah padam sekarang.


"Uh!"


Tapi, tak lama kemudian, Camelia kembali melihat ponselnya. Foto yang membuatnya seperti itu adalah foto Andrean yang selfie mirror dengan telanjang dada. Menunjukkan otot-otot bagian atasnya.


Apa kau sangat sibuk? Okay. Aku akan memberikanmu vitamin. Semoga dengan ini, kau akan kembali segar. Dan kau beruntung, ini edisi terbatas. Tapi, tenang saja. Saat kita sudah menikah, kau akan menikmati ini setiap hari.


"Uh. Narsis sekali." Camelia bergidik.


"Tidak terbayang jika benar-benar sudah menikah nanti." Camelia bergidik. Akan tetapi ….


Camelia kembali melihat foto Andrean. "Wajar sih, tubuhnya memang bagus. Aduh!"


Ya, wajahnya kembali memerah. Kali ini menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


Mengumpat kesal. Mengapa harus mengingatnya? Kakinya menghentak ranjang dengan kesal.


"Tidak bisa ku lupakan. Bagaimana ini?"


*


*


*


Andrean mengetuk meja dengan ekspresi serius. Ia sedang memimpin rapat. Tapi, agaknya sang pemimpin itu tidak fokus pada rapatnya. Matanya berulang kali melirik ke layar ponsel.


Peserta rapat silih berganti mempresentasikan laporan mereka. Melihat Andrean diam tanpa komentar seperti ini jauh lebih mengerikan. Biasanya, komentarnya akan ada di akhir dan itu lebih menakutkan.


Hans yang duduk di belakang Andrean, mencoba menyadarkan Andrean dengan memanggilnya.


"Menyebalkan!" Tiba-tiba saja menggerutu. Satu ruangan sudah berkeringat dingin.


"Tulis ulang laporan kalian! Letakkan di mejaku paling lama sore ini!"


Entah memang tidak puas atau tidak menyimak, Andrean menurunkan titah itu.


Glek!


Andrean kemudian meninggalkan ruang rapat.


Aku merasa de javu, batin Hans.

__ADS_1


__ADS_2