Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 200


__ADS_3

David membuka pintu balkon kamar. Hari tidak begitu panas. Cenderung dingin. Maklum saja, sebentar lagi mungkin salju akan turun.


Tinggal hitungan hari saja menuju natal dan tahun baru.


"Lina, ayo, kemarilah." David mengulurkan tangannya. Meminta sang istri menghampiri dirinya. Lina yang masih duduk di sofa, bangkit dan menyambut uluran tangan itu.


"Ayo, lihat pemandangan dulu. Bukankah bosan di dalam kamar terus?"


Lina menganggukinya. Keduanya duduk di balkon. Menikmati pemandangan halaman dari balkon kamar keduanya.


Awalnya, tatapan Lina senang. Namun, perlahan berubah menjadi murung. David menyadarinya. "Ada yang membuatmu tidak nyaman?"tanya David. Was-was jika Lina kembali mual atau pusing lagi. Atau ada sesuatu yang mengganggu ketenangannya.


"David," panggil Lina pelan, menundukkan kepalanya. David merasa Lina ragu untuk mengatakannya. David segera berlutut di depan Lina, menggenggam kedua tangan sang istri.


"Jangan kau pendam sendiri, Lina. Ada aku untukmu."


"A-aku sedikit takut," jawab Lina, terbata.


"Takut? Tentang?"tanya David, mengernyitkan dahinya.


"Kehamilanku akan terlihat cepat atau lambat. Sedangkan di luar, aku dikenal belum menikah, dan Bu Retha agaknya juga sudah curiga padaku. Aku takut, David."


Lina menatap dalam suaminya. David melihat betapa besarnya rasa takut dan kekhawatiran Lina.


David tidak terlalu terkejut. Meskipun keluarganya tidak masalah, pasti pihak luar yang sibuk mengkritik. Apalagi Lina bisa dikatakan berasal dari keluarga yang biasa saja, dan juga berasal dari luar negeri. Pasti akan menjadi pembicaraan panas yang tak menghilangkan gunjingan atau cibiran di dalamnya.


David tersenyum. Mengecup punggung tangan Lina, mencoba mencairkan kekhawatiran Lina.


"Lina … sepertinya sudah saatnya kita menunjukkan hubungan kita," ucap David, menatap serius Lina.


"A-apa?" Lina terkesiap. Menatap David tidak percaya. "K-kau mau mempublikasikan hubungan kita? Apa kau serius, David? A-apa kau memikirkan dampaknya untukku?"


"Aku tahu, kau akan menolaknya."


Bukan hanya gunjingan atau cibiran, jika mereka mempublikasikan hubungan, maka pekerjaan Lina akan ikut terdampak. Jika karier Lina naik sebagai manajer, maka akan dianggap menggunakan kekuasaan David.


"Tapi, Lina, seperti yang kau katakan, cepat atau lambat, kehamilanmu akan diketahui banyak orang. Aku tahu, jika kita mengumumkannya, kariermu juga akan terdampak. Hanya saja, Lina. Cepat atau lambat pula, identitasmu sebagai istriku akan diketahui. Dan paparazzi zaman sekarang sangatlah luar biasa."


Ya itu hanyalah masalah waktu.


David menatap Lina. Lina tampak kalut.


Aku tidak bisa memaksakan kehendakku, gumam David dalam hati.


"Tadi kau bilang kalau hanya Margaretha yang curiga, bukan?"tanya David, memastikan. Lina mengangguk.


"Bagaimana jika kita hanya memberitahu padanya? Dan pada yang lain, katakan saja bahwa kau sudah menikah. Kau bisa memposting buku nikah kita di media sosialmu. Juga diriku. Aku bisa berfoto tanpa menunjukkan wajah. Lina, kita menyembunyikan pernikahan kita, bukan berarti menghalangi kebahagiaan kita. Bagaimana, kau sependapat denganku?"


David memikirkan perasaan Lina.


Untuk mempublikasikan hubungan mereka, Lina butuh waktu untuk memantapkan hatinya. "Aku pikir kau akan menyuruhku berhenti bekerja," ucap Lina.


"Aku akan begitu jika kau tidak sanggup lagi," jawab David, tegas.


"D-David?"


"Aku akan keras jika itu mengancam keselamatanmu dan anak kita! Dan Lina, ingatlah, saat ini kau adalah istri dari David Smith untuk selamanya! Jangan pernah merasa takut ataupun merendahkan dirimu sendiri! Karena kau adalah Nyonya Muda Smith, okay?!" David memegang pundak Lina. Ia kembali memberi penegasan. Matanya memancarkan cinta dan dukungan untuk Lina.


"Kau harus percaya diri!"tegas David lagi. "Jangan takut. Karena aku selalu ada untukmu."


*


*


*


"Padahal baru satu malam. Tapi, kalian sudah sangat akrab, ya?" Nyonya Shane bertopang dagu. Melihat interaksi anak dan cucunya dengan kedua anak panther hitam itu.


"Karena mereka menggemaskan, Grandma," jawab Lucas. Ia asyik membelai panther hitam betina yang dinamai Archie itu.


"Fufu, asalkan kalian senang." Nyonya Shane agaknya sudah mulai menerima kehadiran Alel dan Archie di kediaman ini.


Hari sudah sore. Keluarga Shane berada di ruang keluarga. Lucas, Liam, dan Dion bermain dengan Alel dan Archie. Sementara Nyonya Shane tetap bertopang dagu memperhatikan itu.

__ADS_1


Tuan Shane tengah serius menonton video belajar. Sementara Camelia di dapur. Tak lama kemudian kembali dengan membawa dua botol susu.


Alel dan Archie termasuk masih bayi. Usianya baru empat bulan. Susu adalah asupan utama dibantu dengan vitamin. Kemudian perlahan diajarkan untuk makan daging, sesuai dengan makanannya sebagai karnivora.


Dan Camelia, ia bertugas untuk membuat susu, asalkan ia berada di tempat. Maka tak heran, Dion menjulukinya sebagai ibu sambung untuk Alel dan Archie.


"Namanya juga bagus sekali. Alel dan Archie, ckckck." Nyonya Shane kembali berdecak.


"Rumah ini kembali punya bayi." Camelia tertawa renyah mendengar gerutuan Nyonya Shane. Ia memberikan kedua botol susu itu pada Lucas dan Liam.


"Aku penasaran saat mereka sudah besar," ucap Camelia.


"Aku sudah mengambil banyak foto hari ini. Setiap perkembangan harus diabadikan," ucap Dion.


"Semakin ramai. Kucing besar ini, Mom menantikan kekacauan yang akan mereka buat," sahut Nyonya Shane.


"Honey."


"Hm?"


"Biasanya, yang paling menolak itu yang paling sayang. Hati-hati, ya. Awas terjangkit virus pencinta panther hitam," ucap Tuan Shane dengan tertawa renyah.


"Huh! Tidak akan!"


Disambut dengan tawa Camelia, Lucas, Liam, dan Dion.


*


*


*


Andrean sudah tahu jika keluarga Shane memiliki hewan peliharaan baru. Awalnya ia cemas. Namun, keluarga Shane bukan keluarga yang mengambil keputusan tanpa pertimbangan.


Ini sudah dua hari setelah akhir pekan.


"Ayah!!"


"Terima kasih, Ayah!"ucap Crystal dengan senyumannya yang merekah.


"For?" Andrean merasa tidak melakukan apapun untuk diberi ucapan terima kasih.


"Tuan, boneka pesanan Anda sudah datang," ucap Hans dengan sedikit tergopoh.


"Oh, baguslah," sahut Andrean. Ia lekas mengambil tempat duduk di meja makan.


"Crystal suka sekali, Ayah! Bonekanya sangat besar, Crystal bisa tidur di atasnya!"ucap Crystal lagi. Tampak jelas, ia begitu senang.


Andrean mengangguk kecil. Ia sudah menepati janji. "Crystal akan menjaganya dengan baik."


"Sudah, cukup. Ayo, lekaslah sarapan," ucap Andrean.


Hans bergabung dengan mereka. Sementara Lie, sudah berangkat lebih awal.


"Tuan, bagaimana dengan lomba itu?"tanya Hans, setelah selesai sarapan.


"Menurutmu dia sudah bisa?"tanya balik Andrean, menatap Crystal sekilas.


"Melihat kemampuan Nona, saya yakin sudah bisa. Dan Tuan, ini bisa menjadi pengalaman untuk Nona. Saran saya, lebih baik Nona diikutsertakan. Urusan menang atau tidak, tidak menjadi masalah," papar Hans.


Andrean menimbang.


Crystal merasa pembicaraan itu berkaitan dengannya.


"Baiklah. Namun, cukup namanya saja, tanpa marga. Aku ingin dia merajut dirinya karena kemampuan, bukan latar belakang keluarga!!"tegas Andrean.


Hans tertegun sesaat. Kemudian menganggukinya.


Hans paham maksud Andrean memerintahkan hal demikian.


"Nona Crystal, apa Anda mau ikut seleksi model cilik? Kebetulan, ada salah satu brand yang mencari model cilik."


"Seleksi? Lomba ya?"tanya Crystal. Hans membenarkan.

__ADS_1


"Crystal mau!"jawab Crystal tanpa berpikir panjang. Hans sedikit terkejut. Tanpa keraguan langsung menjawab.


"Anda serius, Nona?"tanya Hans, memastikan.


"Serius! Ikut lomba, Crystal pasti menang!"jawab Crystal dengan penuh percaya diri.


Hans mengangguk paham. "Saya akan mengirimkan formulir pendaftaran Anda."


"Toby, kau akan jadi walinya!"ucap Andrean.


Yang disebut namanya tentu saja terperanjat. "S-saya, Tuan?"


"Nona akan mendaftar tanpa nama keluarga. Tenang saja, Tuan tidak mungkin abai pada Nona," jelas Hans.


"Ayah tidak akan datang?"tanya Crystal. Mimiknya sedih.


"Akan diusahakan," jawab Andrean.


"Baik, Ayah." Crystal sudah puas dengan itu. Ayahnya itu super sangat sibuk.


Aku akan melakukan yang terbaik!tekad Crystal. Ia akan membuktikan janjinya pada Lucas dan Liam.


*


*


*


"Ya, Kakek?" Saat jam makan siang, di mana Andrean masih sibuk dengan pekerjaannya, Kakek Gong menelpon. Andrean awalnya abai. Namun, dering ponsel dan layar panggilan yang terus menyala membuatnya kesal.


"Tahun baru kau harus pulang!" Kakek Gong menjawab dengan memberi sebuah keharusan pada Andrean.


"Kata Hans jadwalku padat. Tidak ada waktu untuk pulang!"jawab Andrean.


"Hei!"seru Kakek Gong. "Jangan menumbalkan sekretaris Hans untuk keenggananmu! Kau harus pulang ke kediaman lama! Kakek sudah menyebar undangannya!"


Andrean menghentikan pekerjaannya. "Apa maksud Kakek?"


"Aku tahu kau akan menolaknya. Ah, padahal bukan yang pertama. Tapi, hatiku yang rapuh ini sangat sakit. Rean, kau tidak bisa menghindar lagi! Kau harus pulang!!"


Ekspresi Andrean menjadi tidak senang. "Aku tidak akan datang. Jadwalku penuh, Kakek," jawab Andrean, tatap menolak.


"Jadi, kau ingin mencoreng nama baik keluarga utama? Undangan sudah tersebar, kau harus pulang, Rean!"tegas Kakek Gong.


"Akan lebih baik jika kedua cucu laki-lakiku bisa hadir."


Andrean memijat pelipisnya kesal.


"Aku akan hadir jika jadwalku memungkinkan," jawab Andrean kemudian.


"Tenang saja. Kakek akan bicara pada Hans," jawab Kakek Gong. Kemudian mengakhiri panggilan sepihak.


"Kakek, Anda sangat menyebalkan," gumam Andrean.


Kakek Gong pasti akan mewujudkan keinginannya. Andrean yakin, Kakeknya tidak hanya bicara pada Hans, namun juga Lie. "Baru bayangan saja sudah menyebalkan!"gerutu Andrean.


Ia kemudian memanggil Hans. Hans segera menghadap. "Tahun baru aku akan pulang ke Shanghai," ucap Andrean.


Hans mengeryitkan dahinya. "Bukankah biasanya Anda akan menolak, Tuan?"heran Hans.


"Kakek sudah menyebarkan undangan. Sebagai calon kepala keluarga selanjutnya, aku tidak bisa membuat Kakek malu," jawab Andrean.


Hans mengangguk paham. "Tuan Besar juga sudah menghubungi saya tadi. Jadwal Anda akan saya kosongkan di akhir dan awal tahun," ujar Hans.


"Okay." Hans kemudian keluar. Sebelum kembali bekerja, Andrean makan siang terlebih dahulu. Perutnya sudah terasa perih.


Sejujurnya aku juga sama seperti Kakek. Namun, jarak tidak memungkinkan.


Aku hanya berharap, mereka tidak lupa. Meskipun aku tidak terlalu suka pesta. Aku menantikan kejutan dari mereka. Aku harap seperti ekspetasiku.


Andrean mengulas senyum lebar.


Setelah makan, Andrean kembali bekerja. Sekitar satu jam kemudian, Andrean meninggalkan ruangannya untuk menghadiri rapat kerja sama Group Gong.

__ADS_1


__ADS_2