
"ANDREAN GONG!!!" Rose menerobos masuk ke dalam ruang kerja Andrean di rumah sakit. Andrean yang tengah melakukan meeting via video mengeryit kesal dan langsung memutus videonya. Sedangkan Hans buru-buru menghalangi Rose untuk maju ke hadapan Rose.
"Minggir! Jangan halangi aku!!"geram Rose pada Hans. Ia meronta saat Hans mencoba menariknya keluar.
"Nona tolong sadar dengan apa yang Anda perbuatan!"ucap Hans yang berhasil memegang kedua tangan Rose dengan posisi Hans berada di belakang Rose.
"Lepaskan!"titah Andrean dingin.
Hans dan Rose berhenti bertikai. Keduanya menatap Andrean dengan tatapan berbeda. Hans bingung dan Rose, tersimpan amanah di dalam tatapannya.
"Tuan Muda?"
Andrean mengangkat satu tangannya. Itu isyarat agar Hans tidak mempertanyakan keputusannya dan menyuruhnya untuk melepaskan Rose. Rose mendengus kesal, ia mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Andrean menunjuk ke arah pintu. Hans mau tak mau harus menuruti perintah Tuan Mudanya.
"Katakan, apa alasanmu di sini!"titah Andrean dingin. Matanya menghunus tajam Rose yang sudah menganggu pekerjaannya. Andrean enggan menunda hingga nanti malam karena masalahnya sama, lebih cepat lebih baik.
"Mengapa dua anak itu bisa masuk ke Starlight Entertainment?!"
"Apa hakmu menanyakan ini? Siapa kau?"tanya Andrean, suaranya sedingin es.
"Aku t-"
"Tunangan? Ibu dari Crystal? Apa yang membanggakan darinya? Apa dengan itu kau bisa menanyakan tentang keputusanku! Terlebih lagi, Nona Rose apa Anda ingin kehilangan peran Anda karena ketidakprofesional Anda? Atau Anda ingin kehilangan status Anda karena tidak bisa menjaga bicara Anda? Atau jangan-jangan Anda tidak lulus dalam pelajaran bahasa?" Setiap kalimat itu bernada tajam dan sarkas. Andrean sudah mendengar keluhan sutradara akan Rose akan meninggalkan lokasi syuting tanpa alasan yang jelas. Jelas itu merugikan semua kru syuting, karena menunda syuting dengan alasan yang tidak jelas.
"Starlight Entertainment hanya menjadi sponsor bagi keduanya, bukan rumah!"tegas Andrean.
"Kalau begitu aku ingin Crystal masuk dunia modeling!"
"Tidak!"jawab Andrean, langsung menolak permintaan Rose.
"Kenapa? Anak orang lain bisa kau sponsori sedangkan anak sendiri kau tidak mau? Andrean kau menyayangi Crystal aku tidak?!"hardik Rose kesal. Menjadi sponsor bukan hal mudah, biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit.
"Jangan korbankan Crystal demi egoismemu! Dan jangan pertanyakan keputusanku! Kau boleh keluar!"putus Andrean tegas.
__ADS_1
"K-Kau?" Rose mengacungkan telunjuknya pada Andrean dengan wajah memerah menahan kesal.
"KELUAR!!"bentak Andrean yang tak ayal membuat Rose langsung ambil langkah seribu keluar dari ruangan Andrean. Wajah Andrean sungguh mengerikan di matanya.
Hans masuk dengan takut-takut. "Secepatnya dapatkan sampel dna Lucas dan Liam!!"titah Andrean yang membuat Hans memegang dadanya. Tugas yang sungguh ia rasa sulit untuk diselesaikan.
*
*
*
"Mau ke mana, Mom?"tanya Lucas saat memasuki kamar. Ia melihat Mommynya tengah mengepak beberapa pakaian ke dalam tas punggung berukuran sedang. Kedua anak itu mengambil tempat duduk di sofa.
"Oh ini, Mom mau menemani Uncle Dion ke Shanghai," jawab Camelia, mengancing rapat tasnya.
"Shanghai? Hm apa itu jauh?"tanya Lucas ingin tahu.
"Hanya dua jam perjalanan," jawab Camelia, mendudukkan dirinya di antara Lucas dan Liam.
"Besok kita akan mulai pengambilan gambar," ucap Liam yang seketika mematahkan harapan Lucas.
Camelia tersenyum kemudian mengacak-acak rambut keduanya, "nanti kalau pemotretan kalian sudah selesai, kita bakalan jalan-jalan ke Xian dan Shanghai, bagaimana?"tawar Camelia memberi saran.
"Ehem!" Lucas menerima. Liam mengangguk. Bocah itu lantas turun dan menuju meja belajar di mana di sana aja laptop. Camelia dan Lucas tahu apa yang akan dilakukan Liam di sana.
"Mom, Uncle Dion kemana?"tanya Lucas.
"Tadi pamitnya mau restoran Kakek dan Nenek Liang. Mungkin membeli makan malam," jawab Camelia.
"Mom kok tidak ikut?"tanya Lucas lagi, ia seakan tengah menginterogasi Camelia.
"Mom lagi malas keluar, Lucas," jawab Camelia.
__ADS_1
"Owh. Bagaimana kalau main game?"tawar Lucas.
"Hmm okay." Camelia mengambil ponselnya. Keduanya lalu bermain game bersama.
Di sisi lain, Kak Abi tengah berada di balkon. Wanita itu menikmati angin yang menerpa lembut wajahnya, menatap keramaian jalanan kota.
Kak Abi membuka matanya. Ia lalu menghela nafas kasar. "Sebenarnya Lucas dan Liam itu anak siapa?"gumam Kak Abi.
*
*
*
"Ibu," panggil Crystal senang karena setelah sekian lama ia bisa melihat ibunya lagi. Rose masuk ke dalam kamar Crystal dengan senyum mengembang.
"Crystal, Sayang."
"Ibu." Crystal memeluk Rose erat.
"Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Crystal sangat merindukan Ibu," jawab Crystal sendu.
"Maafkan Ibu. Ibu terlalu sibuk sampai melupakanmu."
"Ibu sudah tidak sibuk lagi?"tanya Crystal polos.
"Sudah agak senggang." Keduanya duduk di ranjang Crystal.
"Jadi, apa ada waktu menemani Crystal main?"
"Jika ada, apa Crystal bisa membantu Ibu melakukan sesuatu?"tanya Rose. Ada niat tersembunyi di balik sikap lembutnya itu.
__ADS_1
"Bantu apa, Bu?"
"Begini …." Rose membisikkan sesuatu pada Crystal.