Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 33


__ADS_3

*


"Mom, apa kau kau selesai?"teriak Lucas dari luar kamar. 


"Sebentar," sahut Camelia. 


Tak lama setelahnya, Camelia keluar dari kamar dengan mengenakan dress berwarna biru tua dengan akses permata pada bagian dada, rambutnya disanggul, tak lupa heel rendah dan dompet melengkapi penampilannya. 


"Wow!"decak Dion.


"Mommy sangat cantik!"puji Lucas dan Liam hampir bersamaan. 


"Artisku memang perfect!"ucap Kak Abi bangga.


"Kalian ini, seperti baru satu dua hari mengenalku," sahut Camelia, dengan malu-malu. Setiap ia berdandan, pasti pujian selalu keluar dari empat orang ini.


"Kakak seperti bidadari, bagaimana mungkin kami tidak memujimu, Kak?"balas Dion, membungkukkan dan mengulurkan tangannya pada Camelia. 


"Oh aku tidak bisa untuk menolaknya," ucap Camelia, menerima uluran tangan Dion. 


"Andai, sedari awal aku tahu kita bukan saudara kandung, aku pasti sudah menikahimu, Kak," bisik Dion pada Camelia saat melangkah menuju lift. Kak Abi bertugas mengawasi Lucas dan Liam. Mereka berada di depan. 


"Memangnya kau mau menikah dengan wanita yang lebih tua darimu?"tanya Camelia tenang. Ia tahu Dion hanya bercanda. Ia menganggap ia sebagai masa puber Dion yang baru berumur 18 tahun. Masa dari remaja menuju dewasa. 


"Jika seperti Kakak, mana mungkin aku menolak," jawab Dion dengan senyum manisnya.


"Kalau begitu menikahlah dengan artis, mereka sangat menjaga kecantikan," saran Camelia yang ditanggapi dengan gelengan Dion.


"Aku ingin mencari gadis Rusia," ucap Dion.


"Wow, kau akan berpetualang ke Rusia?"


"Tentu saja," jawab Dion mantap.


"Hei! Cepat sedikit jalannya! Jangan seperti pengantin gitu!"seru Kak Abi yang sudah sampai di depan lift. Namun, Camelia dan Dion masih separuh jalan. Keduanya tertawa lepas menanggapi seruan Kak Abi, melihat wajah galak Kak Abi yang berkacak pinggang.


Mereka berlima kemudian turun ke basement. 


Di basement, kelima mendengus senyum mengetahui Jordan juga baru tiba di basement dan hendak naik ke lantai apartemennya. Wajah Jordan begitu bersahabat, tersenyum manis pada Camelia.


"Saya tidak menyangka jika Anda juga satu profesi dengan saya, Nona," ucap Jordan dengan senyum manisnya. 

__ADS_1


"Bukan Nona but, Nyonya," ucap Dion menegaskan bahwa Camelia adalah Nyonya Muda Shane. 


"Ah … saya keliru," ucap canggung Jordan. Lucas dan Liam mengulum senyum melihat wajah canggung menahan malu Jordan. Kak Abi lalu mengajak keduanya untuk naik ke mobil lebih dulu, seraya memanaskan mobil. 


"Saya juga tidak menyangka jika Anda juga satu profesi dengan saya, bahkan masuk nominasi best male lead," sapa balik Camelia dengan senyum lebarnya. 


"Ah saya hanyalah butiran debu di hadapan Anda, Nyonya. Tapi, senang rasanya dipuji oleh Anda," ucap Dion, bertingkah malu-malu. Ia seolah hendak menarik perhatian Camelia. Dion memutar bola matanya malas, sungguh buaya darat. Lihat yang bening, langsung cari perhatian, batin Dion. 


"Walau kecil kemungkinannya, mengingat Anda di sini hanyalah untuk liburan lagi kita berbeda negara, saya berharap ada kesempatan untuk beradu akting dengan Anda, Nyonya," tutur Jordan lembut, menyampaikan harapannya. Camelia tersenyum simpul menanggapinya. Bukankah kita sedang beradu akting sekarang?jawab Camelia dalam hati.


"Come on, Kak," ajak Dion beranjak. "Aku sudah lapar," lanjutnya. Camelia mengangguk.


"Kalian mau makan malam?"tanya Jordan, lagi-lagi mengajak basa-basi. 


"Benar. Kalau begitu kami permisi lebih dulu, Mr. Jordan," jawab Dion. Kemudian berlalu dengan menggandeng Camelia. Camelia melambaikan tangannya pada Jordan. Jordan tertegun sesaat tersenyum lebar, "semakin sudah didekati, semakin ingin aku menaklukannya. Nyonya Shane, kau pasti akan bertekuk lutut di hadapanku!"gumam Jordan,  ia sungguh bertekad untuk menaklukan seorang Camelia Shane. 


*


*


*


"Kakak akan menjadikannya alat?"tanya Dion saat dalam perjalanan menuju restoran Liang.


"Lalu kapan kau berniat muncul di depan publik lagi? Rose-Rose itu belum menunjukkan taringnya padamu. Ku rasa saat ini tengah mencari cela untuk membuat namamu buruk," tanya Kak Abi.


"Aku sangat menantikan hal itu! Aku ingin melihat seberapa tajam taringnya. Aku ingin membandingkan lebih tajam mana taring rubah atau Mommy, mengapa kau harus bersusah payah seperti ini? waktunya begitu lama lagi? Mengapa langsung saja mengekspos keburukan mereka sampai mereka tidak bisa bangkit lagi? Putra bungsumu ini bisa mendapatkan bukti akurat keburukan mereka bahwa tanpa harus keluarga rumah dan repot berurusan dengan mereka secara langsung." Liam mengutarakan isi hatinya. Camelia mengangguk membenarkan. 


"Tapi, kepuasannya tidak sepuas membalas secara langsung. Aku ingin berinteraksi dengan mereka secara langsung, sebelum melihat wajah pucat dan kehancuran mereka!!"jawab Camelia, menarik senyum smirk. 


"Ya. Itu sangat menyenangkan," timpal Dion, ikut tersenyum smirk. Menyaksikan wajah ketat-ketir mereka, menyaksikan wajah ke langit kemudian dijatuhkan melewati bumi lagi, bukankah itu menyenangkan? 


Kak Abi tersenyum tipis, keluarga psycho!


*


*


*


"Tuan, Nyonya, wanita yang berdampingan dengan Presdir Gong tadi malam, ada di ruang VIP 3," ucap manager restaurant pada Tuan dan Nyonya Liang yang masih berada di restoran. 

__ADS_1


"Sungguh?" Nyonya Liang tampak begitu senang. Manager restaurant itu mengangguk. 


"Akhirnya! Pemuda itu tidak mengingkari janjinya!"ucap Nyonya Liang, buru-buru ia keluar dari ruangannya menuju ruang VIP tiga, meninggalkan Tuan Liang dan manager yang kebingungan. "Janji? Mereka pernah bertemu sebelumnya? Kapan? Mengapa Susan tidak mengatakannya padaku?"gumam bingung Tuan Liang, bergegas menyusul Nyonya Liang. 


"Nyonya begitu senang? Ada hal sebenarnya?"gumam manager tersebut, ikut bingung dan penasaran. Ia kemudian menyusul Tuan dan Nyonyanya.


"Aku sungguh senang kau menepati janjimu, Dion," ucap Nyonya Liang setibanya di ruang VIP 3. 


Dion menganggukkan kepalanya, "seorang laki-laki harus memegang janjinya, Nyonya!" Nyonya Liang tersenyum, ada rasa sedih di hatinya karena Dion masih memanggilnya Nyonya. 


"Camelia, namamu Camelia, bukan?" Nyonya Liang mengalihkan tatap pada Camelia. "Benar, Nyonya."


"Lalu Lucas dan Liam?"


"Saya Lucas, dia Liam, Nyonya," ujar Lucas. Nyonya Liang terbalik menunjukkan mereka.


"Ah, sulit untuk membedakannya," ringis Nyonya Liang.


"Jika sudah sering bertemu, dengan mata tertutuppun bisa membedakan mereka, Nyonya," ujar Kak Abi.


"Benar-benar," sahut Nyonya Liang, tertawa.


"Sungguh artis yang tidak takut gunjungingan. Tadi malam dan tadi pagi, Anda baru saja membuat sensari yang menyeret nama putri kami, malamnya Anda sekeluarga makan di sini," sinis Tuan Liang dengan menatap dingin Camelia. Camelia tertegun, sensasi? Ia mencari sensasi? Apa Tuan Liang tidak membaca pernyataan yang ia dan Andrean keluarkan atas foto mereka yang beredar? Atau Tuan Liang menutup mata akan pertanyaan mereka dan tetap menganggap itu suatu kesengajaan yang menyebalkan Rose merasa sedih dan tertekan? Namun, sepertinya hanya Tuan Liang saja yang merasa begitu karena Nyonya Liang begitu bahagia dengan kedatangan mereka.


"Kau ini!! Jangan begitu, cepat ubah kata-katamu"ketus Nyonya Liang pada suaminya. 


"Hehehe?" Sayang sudah terlambat. Camelia bukan orang yang diam saja jika dirinya sudah dicibir, disindir, apalagi fitnah. Tuan Liang mengeryit menatap heran Camelia.


"Sensasi? Tuan Liang, saya tahu Anda sebagai ayah dari Rose Liang wajar jika merasa sayalah penyebab berita kemarin. It's okay. Namun, dalam konteks yang berbeda. Harap baca dan dengar dengan baik pernyataan yang kedua belah pihak keluarga, semua real ketidaksengajaan!"tegas Camelia pada Tuan Liang. Tatapannya tetap tenang.


"Tapi, untuk apa saja jauh-jauh ke China dari Kanada, 12 jam penerbangan hanya untuk membuat sensasi recehan seperti ini? Apa Anda kira saya kurang kerjaan?"tanya Camelia tajam.


"Saya juga seorang artis. Saya juga seorang ibu, suami saya juga orang berada. Keluarga saya begitu menyayangi saya dan anak-anak saya, dari segi materi, saya tidak kekurangan. Saya tidak butuh sensasi untuk membuat nama saya viral!"lanjut Camelia, ia tetap tenang namun memberi penekanan.


"Ah baiklah. Karena restoran ini tidak menerima kita, anak-anak, Dion, Kak Abi, ayo kita cari restoran lain saja!"ucap Camelia. Tuan Liang terdiam di tempatnya. Entah karena nama Dion, atau karena penjelasan Camelia.


"Lagipula kami sudah menepati janji untuk berkunjung ke sini," tukas Camelia.


"Tidak. Tidak, itu tidak benar. Jangan salah paham, Nak. Suamiku mungkin begitu lelah hingga tidak membaca penjelasan yang kalian berikan. Semua sudah baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikesalkan lagi. Tolong, jangan pergi. Tetaplah di sini, kita makan malam bersama, gratis, anggap saja permintaan maaf kami," tahan Nyonya Liang. 


"Kakak …." Dion menarik-narik kecil dress Camelia yang berada di dekatnya. Matanya menatap penuh harap Camelia. Walau Dion kesal dengan ayahnya yang terkesan begitu melindungi dan menyayangi Rose. Namun, ia tak tega melihat wajah Ibunya.

__ADS_1


Camelia menghela nafas pelan, "maaf, saya impulsif sesaat. Kami akan tetap tinggal, silahkan duduk Nyonya, Tuan. Mari kita makan malam bersama," ujar Camelia, lembut. Nyonya Liang menghela nafas lega. Ia menyenggol Tuan Liang yang masih mematung untuk mengambil tempat duduk. Bagai orang linglung, Tuan Liang menurut, duduk dan makan tanpa sepakat katapun.


__ADS_2