Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 151


__ADS_3

"Tuan Muda," sapa kepala pelayan saat Lucas dan Liam tiba di kediaman. Jadwal mereka hari ini sudah usai dan mereka tiba di kediaman Shane sekitar pukul 18.00.


Kak Abi langsung pulang setelah mengantar keduanya dengan selamat. "Iya?"jawab Lucas dan Liam bersamaan.


"Ada paket untuk Anda berdua," ucap kepala pelayan tersebut.


"Paket? Dari siapa?"tanya Lucas, merasa dirinya tidak pernah membeli barang secara online belakangan ini. "Apa kau pesan sesuatu, Liam?" Dibalas dengan gelengan oleh Liam.


"Ah … pengirimnya Mr. Gong," ucap kepala pelayan, meluruskan.


"Dari Ayah?" Serentak, keduanya berseru untuk memastikan.


"Benar, Tuan Muda. Paketnya tiba tak lama setelah Anda berdua berangkat," jelas kepala pelayan.


"Di mana paketnya sekarang?"tanya Lucas, tak sabar untuk melihat dan membukanya.


"Ada di ruang keluarga, Tuan Muda." Gegas, ketiganya menuju ruang keluarga. Di mana, di sana terdapat beberapa bungkusan paket. Ukurannya ada yang besar dan sedang.


"Sepertinya ini bukti ucapannya tempo hari," ucap Liam dengan ekspresi datar.


"Wait. Apa ini sogokan? Mom pasti sudah berbicara padanya mengenai hal tadi pagi," pikir Lucas, dahinya mengernyit berpikir.


Plak!


"Mengapa kau memukulku?"protes Lucas, sembari mengusap kepalanya.


"Kau kira Ottawa-Beijing itu lima menit sampai? Ini pasti dikirim kemarin atau beberapa hari yang lalu," jelas Liam dengan ketus.


"Ah? Begitu, hahaha …." Lucas tertawa cengengesan. Membuat Liam mendengus sebal.


"Unboxing sekarang?"tanya Lucas kemudian.


"Okay," sahut Liam. Kepala Pelayan membantu mereka untuk membuka paket-paket itu.


Dimulai dari paket yang ukurannya sedang. Isinya adalah beberapa pasang pakaian. Tipe kasual.


"Hm?" Liam mengeluarkan salah satu pakaian, meniliknya lekat. "Meskipun tidak ada corak khusus, ini sesuai selera kita. Dia pandai memilih," ucap Liam, secara tak langsung memberikan pujian untuk Andrean.


"Ada jas juga," ucap Lucas, yang telah membuka paket lainnya.


"Kita pernah menjadi model di merk ini," imbuh Lucas. Setelah melihat nama brand di kerah jas.


"Ada jam tangan," seru Lucas.


"Berapa banyak sudah koleksi jam tangan kita?" Pertanyaan itu seperti keluhan dari Liam. Lucas terkekeh.


"Nanti kalau pas kita pakai." Sebagai model, tentu mereka harus mencocokkan apa saja yang mereka gunakan. Agar hasilnya memadu dengan sempurna dan tidak ada benturan warna dan juga gaya. Karena, aksesoris akan semakin bersinar jika digunakan secara tepat.


Setelah membuka beberapa paket lagi, itu adalah sandang. Yang semuanya berada dalam paket sedang. Dan kini, tatapan mereka tertuju pada dua paket besar.


"Wow!" Mereka berdecak saat melihat salah satu dari dua paket besar itu dibuka.


"Buah-buahan lagi," celetuk Lucas. Dibantu kepala pelayan mengeluarkan isinya. Isinya tidak jauh beda dari kiriman paket yang pertama. Ada delima dan plum, ditambah dengan satu buah berwarna merah, mirip dengan strawberry namun bentuknya bulat. Kulit luarnya bergerigi mirip dengan raspberry.


"Ini buah apa?" Liam menggeleng. Lekas membuka ponselnya lalu membuka pencarian melalui foto.


"Di sini namanya yangmei," ujar Liam.


"Mungkin rasanya mirip strawberry," lanjutnya lagi. Lucas mengangguk.


Kemudian juga ada frozen food. Dan tinggal satu paket lagi. Segera mereka mengeksekusinya.


Saat dibuka, paket besar itu isinya lenggang. Hanya ada potongan kertas dan di dasar ada sebuah kotak lagi.


"Buku?" Lucas terhenyak.


"Itu buku album, Tuan Muda," ujar kepala pelayan.


"Buku album?" Lucas membeo.


"Untuk apa ini dikirimkan?"gumam Liam. Lucas yang mendengarnya mengedikkan bahunya. Mana dia tahu apa maksudnya.


"Tampaknya sudah lama. Mungkin dikirim agar Tuan Muda melihat kenangan masa lalu melalui ini," ujar kepala pelayan. Mengangkat buku album itu. Cukup tebal dan covernya sangat unik. Itu benar-benar berisi sejarah dan memiliki banyak arti. Bahkan sampulnya saja sudah bernilai.


"Ayo kita lihat!" Kepala pelayan meletakkan buku album itu di lantai, kemudian berdiri dan melihat Lucas dan Liam yang mulai membuka lembar demi lembar buku album itu.


Di halaman awal, mereka tidak mengenali satu wajahmu yang ada di sana. Kemudian memasuki pertengahan, baru mereka mengenali salah satu sosok dalam foto tersebut.

__ADS_1


"Wait! Apa ini Ayah?"terka Lucas, saat melihat salah satu foto.


"Latarnya tidak menunjukkan bahwa itu ayah."


"Parasnya begitu mirip."


"Kita lihat lagi saja."


"Ini baru ayah!"seru Lucas, saat melihat foto Andrean yang memakai toga. Tampaknya itu foto wisuda.


"Aku baru menyadarinya!"gumam Liam.


"Lucas, yang kita lihat dan hampir kau kenali sebagai ayah, kemungkinan itu adalah kakek buyut atau kakek kita. Keturunan laki-laki, memiliki paras yang mirip dari generasi ke generasi. Lihat kita, sangat mirip dengan ayah di saat kecil, bukan?"terang Liam. Lucas berdecak.


"Melihat album ini, seakan melihat potret wajah kita di masa depan," celetuknya yang diangguki oleh Liam.


"Astaga!"


"Mom?!"


"Kalian memesan apa? Banyak sekali?" Camelia yang baru pulang, terkejut melihat ada banyak paket yang sudah dibuka.


"Wow! Kalian menghabiskan banyak uang, ya?"


"Mom, ini tidak seperti yang Mom pikirkan. Kami tidak membelinya," jelas Lucas, takut melihat tatapan Camelia.


"Lantas?"


"Ini dari Ayah, Mom," jawab Liam.


"Lihat, mana mungkin kami membeli buku album orang lain," timpal Lucas, menunjukan buku album.


Camelia ber-oh-ria. Duduk kemudian meminta pelayan mengambilkan minum. "Mom, ternyata generasi ke generasi keluarga Gong sangat mirip," ucap Lucas, bersiap untuk bercerita pada Camelia.


"Oh ya?" Camelia menyetujuinya. Lihat saja wajah kedua anaknya, dan dibandingkan dengan Andrean, kemiripan mereka sangat jelas. Bak pinang dibelah dua.


"Apa kalian tidak ingin menghubungi ayah kalian?"tanya Camelia. Lucas dan Liam saling pandang.


"Mungkin harus dilakukan."


*


*


*


Dengan kesal, Andrean meraih ponselnya. "Ya? Hello?" Suaranya serak khas bangun. Mengangkat panggilan itu dengan tetap berbaring.


"Kami suka kirimannya, Ayah!"


"Hah?!" Andrean langsung terlonjak. Pria itu duduk dan menatap layar ponselnya.


Nomor Camelia di sana. Segeralah kantuknya hilang. "Hallo, Lucas, Liam, Liam," sapa Andrean.


"Ayah, kau baru bangun tidur?"


"Ah … hahaha." Andrean tidak menyangkalnya.


"Tapi, mengapa ayah mengirim buku album ini?"tanya Liam.


Rupanya sudah dibuka.


"Itu adalah warisan turun temurun. Dan kalian adalah generasi setelahku, oleh karenanya aku mengirimnya pada kalian. Aku berharap kalian mengenal generasi sebelumnya melalui album itu. Juga menjaganya dengan baik," jawab Andrean, memberikan alasannya mengapa turun serta mengirim album itu.


"Ini agak berlebihan, Rean. Buku ini seharusnya kau yang menyimpannya. Anak-anak masih terlalu dini untuk itu," ucap Camelia, menanggapi alasan Andrean.


Andrean tersenyum. "Tidak, Lia. Ini saat yang cocok. Bukankah lebih baik sejak kecil mengenal leluhur?"balas Andrean.


"Benar. Ayah ingin meminta maaf pada kalian ada hal kemarin. Ayah sungguh tidak tahu kalau kalian akan tidak senang karena ayah dan Crystal berfoto bersama kemudian mempostingnya," ujar Andrean, penuh sesal. Hal inilah yang membuatnya tidur menjelang pagi.


Menunggu telpon dari anak-anaknya serta minta maaf. "Lupakan saja, Ayah. Tapi, jangan ayah lakukan lagi!"tegas Liam.


"Okay."


"Kau tidak bekerja, Rean?"tanya Camelia.


"Tenang saja, aku bosnya."

__ADS_1


"TUAN! APA ANDA SUDAH BANGUN? KITA ADA MEETING SEBENTAR LAGI!"


Baru saja Andrean menjawab demikian, terdengar teriakan Hans, disertai dengan gedoran pintu. Membuat Andrean memejamkan matanya. Kesal dan juga malu.


"Aku rasa bosnya harus lebih disiplin," cetus Lucas. Disambut dengan tawa renyah Camelia dan Liam.


"Hahaha." Andrean ikut tertawa. "Kita sambung lagi nanti, okay?"


"Okay."


"Alright."


Senyum Andrean tak luntur setelah panggilan berakhir.


"TUAN! TUAN!! APA ANDA MASIH TIDUR? WAKE UP!!"


"CK!"


"AKU SUDAH BANGUN!"sahut Andrean, dengan berteriak pula.


"WAKTU KITA TIDAK BANYAK LAGI, TUAN!"


"I KNOW!"sahut Andrean.


"SEGERA!"tegas Hans penuh penekanan.


"DIAMLAH!"balas Andrean kesal.


*


*


*


Tiga hari kemudian. Sore harinya, Dion kembali menerima laporan dari orang yang ia suruh untuk menyelidiki. Akan tetapi, bukannya suara orangnya yang menjawab. Melainkan orang lain. Membuat Dion mengernyitkan dahinya. Matanya bergerak menerka apa yang terjadi.


"Tikus pengintaimu sudah kami tangkap. Jika kau mau dia selamat, datanglah untuk menjemputnya! Jika tidak, kau akan tidak melihatnya lagi!" Seseorang berkata dengan nada berat, yang memberikan Dion pemberitahuan dan ancaman.


"Panggil Tuanmu! Lihat, dia peduli atau tidak!"


"T-Tuan. Maaf, saya gagal." Dion menggeleng pelan.


"Tidak masalah. Kau jaga dirimu dengan baik, tunggu aku datang," jawab Dion.


"Wah! Dari suaramu, kau pasti masih muda. Anak muda, aku sarankan kau tidak perlu datang. Tapi, jika kau berani datang, aku akan mengakui keberanianmu!"


Dion menarik senyum tipis. "Tidak, Tuan Muda! Jangan datang!"


"DIAM!"


"JANGAN SAKITI DIA!"teriak Dion.


"Hehehe. Kau anak muda yang menarik. Ayo datanglah."


Panggilan kemudian berakhir. Dion menghela nafasnya. Hal seperti ini ada kemungkinan terjadi. Dan ini benar terjadi.


Dion kemudian menghubungi seseorang. "Bergerak sekarang!" Memberi perintah.


Dion kemudian melangkah meninggalkan ruangannya.


Drttt


Keluar dari lift, dan tiba di basement, ponselnya berbunyi. "Ya, Bu?" Rupanya dari Nyonya Liang.


"Jam berapa kau pulang, Dion? Ibu sudah hampir selesai memasak makan malam."


"Em … maaf, Bu. Dion tidak bisa ikut makan malam karena Dion akan langsung pergi ke Xian."


"Xian? Harus segera pergi?"


"Iya, Bu."


"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan," ujar Nyonya Liang. Ada nada kecewa di sana.


"Iya, Bu."


Dion menyimpan ponselnya. Cepat atau lambat, Dion akan pergi ke Xian untuk bertemu dengan keluarga Ling. Dan itu tidak bisa ditunda karena berkaitan dengan nyawa.

__ADS_1


Segera, setelah tiba di bandara, Dion langsung naik ke pesawat. Sore itu, Dion terbang ke Xian bersama dengan Tim X yang sudah tiba dua hari yang lalu dari Kanada.


Sekitar dua jam perjalanan, mereka tiba di Xian. Selama perjalanan itu, mereka membahas rencana dan strategi dalam menghadapi kekuatan keluarga Ling.


__ADS_2