Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 216


__ADS_3

"Sekretaris Hans, apa maksud foto ini?"tanya Wei Yan Li. Saat ini mereka tengah melakukan meeting kelanjutan dari proyek yang telah disetujui.


Wei Yan Li menunjukkan postingan Andrean terakhir kali. "Akun Weibonya dihack, kan? Mengapa kalian tidak kunjung mengeluarkan pernyataan, Sialan!!"


Hans menutup map. Menatap Wei Yan Li.


"Foto itu real," jawab Hans.


"Aku tidak percaya! Foto itu bohong! Cepat keluarkan pernyataan!!" Wei Yan Li menarik kerah baju Hans.


Hans mendesis pelan.


Tuan, Anda harus melebihkan gaji saya bulan ini!!


"Anda harus menerima kenyataan, Nona! Presdir sudah menikah!"tegas Hans.


"Buktikan padaku! Jika sudah menikah mengapa tidak dipublikasikan?!"


Wei Yan Li melotot kesal. Ia sama sekali tidak percaya. Foto itu sangat mengganggunya.


"Stop it!" Hans mencekal lengan Wei Yan Li. Kesabarannya sudah habis.


"Tampaknya Anda kurang sehat. Meeting nya akan dijadwalkan kembali!" Hans kemudian melangkah pergi, meninggalkan tempat meeting.


"Ahhhh!" Wei Yan Li berteriak kesal.


*


*


*


"Sekretaris Hans?"


Seseorang menyapa Hans yang baru keluar dari restoran tempat meeting Hans dengan Wei Yan Li tadi.


"Nona Silvia?" Hans terhenyak. Kemudian langsung mendatarkan wajahnya.


"Kebetulan sekali. Mau makan siang dengan saya? Saya tahu tempat makan terenak di sini," tawar Silvia, tersenyum lebar pada Hans.


Mau apa dia?


Rasa penasaran menggelitik hati Hans. Kebetulan pula, Hans ada sedikit lenggang dan sudah waktu makan siang.


"Baik."


Silvia tersenyum puas. Kemudian memimpin jalan. Mereka berjalan kaki dan tibalah di sebuah restoran pangsit. "Ini dia, pangsit terenak di sini. Kuahnya sangat enak. Dagingnya banyak, saya yakin Anda akan langsung menjadikannya tempat makan favorit," oceh Silvia, menjelaskan singkat best seller di restoran ini.


Hans mengangguk singkat. Keduanya masuk dan memesan dua porsi pangsit.


"Lihat, meskipun di tengah kota, suasananya sangat hijau, bukan? Lihat air mancur itu, cantik kan?"tunjuk Silvia pada taman yang ada air mancurnya. Hans menyilangkan kedua tangannya, mendengar ocehan semangat wanita di depannya ini.


"Dekorasinya juga sangat nyaman. Vibesnya kental dengan kebudayaan kita. Cara penyajiannya juga. Bahkan seragam pelayan. Rekomendasi sekali, bukan?" Lagi, Silvia meminta persetujuan Hans. Namun, Hans tidak menanggapinya. Hanya fokus mengamati Silvia.


Selang beberapa saat, makanan mereka tiba. Aromanya benar-benar memikat.


Silvia yang pertama kali mencoba. Kemudian Hans mulai memegang sumpit. Mencoba sedikit. Matanya bergerak, suka dengan rasanya.


"Saya tidak bohong, kan?"


Hans tidak menggubris. Ia menikmati makanannya.


"Saya yakin Anda akan datang ke sini lagi. Jika ada rencana, kabarin saya, okay?"


"Mengapa harus mengajak Anda?"tanya Hans.


"Karena … saya adalah pacar Anda," jawab Silvia, sontak membuat Hans menyemburkan air.


"Dari mana jalannya?"


"Dari sini. Anda menerima ajakan saya dan ini adalah kencan pertama kita setelah kencan buta!"jawab Silvia.


Hans menggeleng. Wanita ini, gila?


"Maaf. Saya rasa Anda salah paham. Saya menerima ajakan makan, bukan pacaran!"tegas Hans.


"Kalau begitu, be my boyfriend!"tukas Silvia.


"Be my boyfriend. Kita pacaran hari ini!"


"Wanita pemaksa?"gumam Hans, kemudian melihat jam tangannya.


"Makanan ini akan saya bayar. Semoga tidak berjumpa lagi!"ujar Hans berpamitan.


"Semoga tidak berjumpa lagi? Hei, dunia ini sangat sempit! Ke manapun kau pergi, aku akan terus mengejar! Aku menunggu jawabanmu!!"teriak Silvia. Suasana restoran ramai. Hans mempercepat langkahnya. Ia sangat malu.


*


*


*


Andrean terbangun sekitar pukul 07.00.


Ia mendapati sisinya kosong. Mencari ke kamar mandi tidak ada. Di ruang lemari juga tidak ada.


"Dapur?" Andrean memikirkan tempat itu.


Andrean bergegas turun untuk memastikan.

__ADS_1


"Sayang?" Camelia terkejut dengan kehadiran Andrean di ruang makan.


Dugaan Andrean benar. Camelia berada di dapur. Dan sudah selesai membuat sarapan.


"Aku kembali ke kamar." Andrean membalikkan tubuhnya. Camelia mengangkat bahunya. Lanjut menghidangkan sarapan di atas meja.


Sekitar lima menit kemudian, satu persatu keluarga Shane turun dan berkumpul di meja makan.


Dion dengan setelan kerja. Lucas dan Liam yang mengenakan pakaian rumah, celana longgar dan koas. Crystal dengan gaunnya.


Tuan dan Nyonya Shane dengan pakaian santai. Hari ini kegiatan mereka full di rumah. Kakek Gong, seperti biasa dengan setelan formal keluarga Gong.


Tinggal Andrean saja.


"Andrean mana?"tanya Tuan Shane.


"Sebentar lagi akan turun, Dad," jawab Camelia.


Menunggu kehadiran Andrean, mereka kembali berbincang santai.


"Ehem. Ayo makan, yang ditunggu-tunggu sudah datang," ujar Camelia, melihat ke arah pintu masuk ruang makan.


Andrean langsung mengambil tempat duduk di samping Camelia.


*


*


*


Setelah sarapan, Dion langsung berangkat bekerja.


Camelia juga bersiap untuk ke Glory Entertainment. "Lia, tidak bisakah hari ini kau libur?"tanya Andrean, menahan Camelia yang sudah bersiap untuk berangkat, memeluknya dari belakang.


"Lusa aku sudah kembali ke China. Tidak tahu kapan akan bertemu lagi," ujar Andrean.


Mereka baru menikah. Jika pernikahan mereka benar-benar sebuah pernikahan, pasti ini adalah waktu bulan madu untuk keduanya.


"Sayang, aku tidak akan lama. Siang nanti, besok, dan lusa aku tidak ada jadwal yang harus membuatku keluar dari rumah. Bukankah kau juga sama? Selagi aku pergi, kau ada waktu mencicil pekerjaanmu, bukan?"


Andrean mengesah pelan. Istrinya ini tidak gampang luluh. Dan pandai memilih kata agar lepas dari bujukannya.


"Besok full untuk kita?"


"Iya. Besok full. Dari pagi ke pagi," ujar Camelia.


"Baiklah. Aku akan menunggu."


Camelia membalikkan tubuhnya. "Kalau begitu aku berangkat," pamit Camelia, memberikan ciuman pipi pada Andrean kemudian langsung meninggalkan kamar. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan, untuk saat ini.


*


*


*


"Lia, ada beberapa tawaran yang masuk, apa kau ingin melihat dan memutuskannya?"tanya Kak Abi.


"Aku lihat dulu," ucap Camelia. Camelia menerima beberapa dokumen penawaran.


"Aku tidak tertarik, Kak," jawab Camelia kemudian. Ia sudah memutuskan untuk lebih selektif lagi dalam mengambil tawaran. Camelia juga sudah menyampaikan keinginannya pada David selaku pimpinan dari Glory Entertainment. Dan suami Lina itu fine-fine saja.


Sejauh ini, Camelia sudah mengambil beragam peran. Ia tengah berada di titik jenuh. Berniat menjauhkan diri dulu dari dunia akting setelah proyek filmnya nanti selesai. Itu sangat penting untuknya.


"Okay." Kak Abi tidak banyak bertanya. Itu sudah keputusan Camelia.


Tok


Tok


Ada yang mengetuk pintu ruangan Camelia. Itu David.


"Perusahaan akan mengadakan pesta akhir bulan ini. Aku mengundang keluarga Shane untuk menghadirinya. Undangan resminya akan menyusul," ucap David.


"Pesta akhir bulan ini? Dalam rangka?"sahut Camelia, mengernyitkan dahinya.


"Aku pikir kau tahu jawabannya," balas David.


"Kak Lina?"tebak Camelia langsung. David mengangguk.


"Oh iya, akhir pekan ini berkunjunglah ke kediaman Smith. Lina butuh bantuanmu," ujar David.


"Okay." Setelah itu David menutup pintu.


"Aku menangkap maksudnya," bisik Kak Abi. "Apa itu serius?"tanya Kak Abi penasaran.


"Manager Margaretha sudah tahu," balas Camelia. Kak Abi menutup mulutnya.


"Oh God! Perusahaan pasti akan gempar!!"


"Akan lebih dari perusahaan saja," ralat Camelia.


"Aku menantikannya. Tidak, aku sangat menantikannya. Aku harus mulai mempersiapkan busana untuk menghadirinya!"seru Kak Abi.


"Ehem." Camelia berdehem. "Bukankah seharusnya aku dulu, Kak?"


"Ah! Aku yakin, kau sudah ada persiapan, Lia," sahut Kak Abi.


Camelia terkekeh pelan.

__ADS_1


"Okay-okay. Berdandanlah yang cantik, Kak. Barangkali kau akan bertemu jodoh di sana," ujar Cemelia, menyelipkan godaan.


"Lia?!"protes Kak Abi dengan wajah memerah.


"Hahaha. Ya sudah, aku pulang, Kak."


Camelia meninggalkan ruangannya. Kak Abi menyentuh wajahnya yang memerah.


*


*


*


"Paman? Apa kalian begadang?"tanya Lucas, menahan tawa melihat lingkar mata hitam pada para pengawal mereka.


"Iya, Tuan Muda!" Mereka menjawab serentak.


"Mengapa?"tanya Lucas, penasaran dengan jawaban mereka.


Para pengawal itu saling tatap.


"Kami bermain kartu, Tuan Muda!" Tentu saja malu untuk mengakui bahwa mereka tidak bisa tidur karena dijahili. Malu dong, badan kekar tapi pontang panting karena diganggu.


"Serius?" Lucas benar-benar menahan tawanya.


"Tapi, saya dengar dari kakak-kakak di sini, pintu kamar Paman rusak."


"Itu karena kami menguji kekuatan fisik, Tuan Muda."


"Malam-malam?"


"Iya, Tuan Muda!"


"Astaga. Rajin sekali." Lucas terpana.


"Tapi, saya mendengar yang lebih wah lagi. Katanya … Paman-paman sekalian diganggu makhluk halus," celetuk Liam.


Wajah para pengawal itu langsung tegang. Apalagi Ling Rui. Jatuh harga diri mereka jika Tuan Muda mereka mempercayai hal itu.


"Tapi, kami tidak percaya. Di kediaman ini mana mungkin ada hantu," ucap Liam kemudian.


"Ah?" Mereka terlihat lega. "Benar-benar! Itu hanya omong kosong tidak berdasar, Tuan Muda! Kami hanya bermain kartu dan memainkan taruhan!"ucap salah seorang di antara mereka yang langsung disetujui oleh yang lainnya.


"Kalau begitu hari ini istirahat saja. Kami tidak keluar kediaman hari ini," ucap Liam.


"Baik, Tuan Muda."


Mereka membungkuk hormat sebelum undur diri.


"Hihi, mereka semua berkilah," kekeh Lucas.


"Hei, sudah lama kita tidak nakal seperti ini. Mumpung ada Ayah, mari nakal sepuasnya hari ini," ajak Lucas kemudian.


"Hm? Merias wajahnya?"tanya Liam.


"Tidak asyik lagi. Bagaimana dengan mengganggu Ayah bekerja?"usul Lucas.


"Tapi, itu kamar Mom. Aku masih sayang telingaku," tolak Liam.


"Jika di luar aman, kan?" Lucas tersenyum smirk.


"Hehehe." Liam membalas dengan kekehan.


Mereka langsung menuju kamar Camelia. Mengintip apa yang sedang Andrean lakukan. Tidak mendapati Andrean. Keduanya lantas masuk. Memeriksa kamar mandi, ruang pakaian, dan juga balkon.


"Tidak ada di kamar?"


Keduanya lantas keluar kamar. "Bibi, lihat Ayah tidak?"tanya Lucas.


"Tuan Andrean ada di ruang studio, Tuan Muda," jawab pelayan tersebut.


"Ruang studio?"


"Terima kasih, Bibi." Keduanya bergegas menuju ruang studio yang berada di lantai dasar.


Ruang itu dibangun oleh Chris. Ruangannya luas. Ada untuk musik, melukis, dan pemotretan.


Mereka kembali mengintip apa yang sedang Andrean lakukan. Di sana ada Crystal. Andrean tampak tengah mengatur tata letak properti.


"Mau foto studio?"bisik Lucas, bertanya pada Liam.


Liam memilih masuk. "Ck!" Lucas berdecak. Ia menyusul masuk.


"Untuk apa, Yah?"tanya Liam.


"Oh, kalian dari mana saja?"tanya balik Andrean.


"Ada urusan, Ayah!"jawab Liam.


"Ayah akan mengambil foto pernikahan dengan Mom kalian, lalu kita akan foto keluarga," ucap Andrean, menjawab pertanyaan Liam tadi.


"Foto?"


"Iya, Kak Lucas, Kak Liam. Jadi, kita akan punya foto keluarga lengkap." Crystal tersenyum lebar. Ini adalah keinginannya sejak lama. Akhirnya akan terealisasi juga!


"Hm, ayo bersiap!" Lucas langsung lari meninggalkan ruang studio.


"Hold me!" Liam menyusul. Niat mereka ingin nakal pada Andrean hilang seketika. Berganti dengan semangat untuk foto keluarga.

__ADS_1


__ADS_2