
Jordan bersiul riang saat keluar dari lift lantai apartemennya. Ia begitu senang karena Camelia menerima ajakannya. Namun, begitu ia memasuki apartemennya, Jordan mengeryit melihat ruang tengah apartemennya yang berantakan. Dari arah kamar ia mendengar suara berisik seperti seseorang yang tengah membanting sesuatu dan mengumpat.
"ROSE?!"serunya melihat Rose yang mengacak-acak kamarnya. Vas bunga, lampu tidur, sprei, bantal yang terkoyak, semua berserakan di lantai dengan Rose yang rambutnya acak-acakan. Wajahnya menunjukkan sebuah kegeraman yang nyata. Nafasnya memburu dan saat melihat ke Jordan, Jordan tertegun. Jordan tidak heran bagaimana cara Rose masuk ke apartemennya, karena setelah kejadian kemarin saat Rose datang tanpa memberitahunya, ah ralat, ponselnya mati akhirnya Jordan memberitahu sandi pintu apartemennya. Jordan hanya ingin tahu , apa penyebab Rose mengamuk seperti ini.
"Wanita sialan itu!"desis Rose, duduk di tepi ranjang.
"Wanita itu? Camelia, maksudmu?"tanya Jordan. Apa yang terjadi?
"Huh! Tadi aku gegabah! Aku kira dengan statusku dia akan takut dan segera angkat kaki. Tapi, nyatanya ckckck! Dia malah menantangku balik!"
"Kau? Kau gegabah sekali! Kau ini! Kemarin kau katakan kau menyuruhku untuk mendekati, mendapatkan kepercayaannya lalu menguras hartanya, lalu bagaimana bisa kau melabrak dan menyuruhnya angkat kaki dari negara ini? Rose kontrol emosi dan ambisimu!"kesal Jordan. Ia memijat pelipisnya, bagaimana bisa ia mempunyai pacar yang bodoh ini?!
Jika bukan karena cinta dan anak, walau Crystal tidak bersama dengannya, pasti Jordan sudah meninggalkan Rose dari dulu.
"Cepat! Cepat dapatkan dia dan kita yang hidup dengan bebas!"tukas Rose pada akhirnya.
"Kalau begitu kau jangan buat masalah lagi! Tetap pada karier dan peranmu!"balas Jordan.
"Huh! Jika Andrean tidak menunjukkan ketertarikan padanya, aku tidak akan seperti ini! Aku tidak akan takut, cemas, atau panik. Terlebih kedua anak itu mirip dengan Andrean. Hnggg!! Sungguh beruntung kalian dia!" Jordan menangkap kalimat yang ambigu di dalam ucapan Rose.
"Sudahlah, jangan berharap lagi pernikahan dengannya! Cukup dapatkan hartanya lalu kita hidup bahagia, berdua!"pungkas Jordan yang malas untuk mencerca Rose dengan pertanyaan lagi. Jordan lalu memeluk Rose. Rose membalasnya, namun wajahnya terlihat masam saat membalas pelukan Jordan.
Cih! Dalam mimpimu!
__ADS_1
Dua hari kemudian, hari audisi pemilihan model cilik cowok AXA Fashion tiba. Lucas dan Liam bersama dengan Kak Abi tiba di gedung pusat AXA Fashion tiga puluh menit sebelum waktu audisi dimulai. Sudah banyak yang hadir dan masing-masing sibuk mendandani model cilik yang mereka bawa. Lucas dan Liam menunggu dengan santai, mereka bermain game sedang anak lainnya menerima arahan dari manager bahkan orang tua.
Camelia tidak ikut menemani Lucas dan Liam. Camelia cukup menerima hasil foto yang Abi kirimkan padanya nanti. Lagipula sudah ada manager yang merupakan wali kedua dari Lucas dan Liam.
Para peserta lain menatap Lucas dan Liam remeh dan tidak senang. Di saat yang lain make over dan sibuk merapihkan penampilan, keduanya malah bermain game. Malah pakaiannya di mata mereka adalah pakaian biasa dengan merk pasaran. Padahal harga pakaian yang mereka kenakan itu lebih dari harga yang pakaian mereka kenakan. Tampaknya saja sederhana, namun itu pakaian bermerk. Pakaian dari brand yang mereka emban, real bukan tiruan.
Tiba sudah waktu audisi. Masing-masing model dipanggil untuk masuk ke ruang audisi. Berpose layaknya skrip yang dibacakan. Fotografer dan sutradara berdecak kesal karena untuk satu peserta saja butuh waktu yang cukup lama. Butuh arahan dan bahkan ada model cilik yang merajuk dan menangis karena takut.
Kebanyakan gagal, tidak mendapatkan tema yang diinginkan yakni musim panas. Dan giliran Lucas dan Liam lah yang terakhir. Kedua memasuki ruang audisi dan berdiri membelakangi latar belakang. Fotografer dan Sutradara yang agaknya sudah cukup malas dan enggan, langsung semangat begitu keduanya naik dan mengedarkan pandang. Lucas dengan senyum lebarnya dan Liam dengan senyum tipisnya. Kaos oblong dengan celana pendek. Sederhana namun perfect. Saat keduanya mulai mengambil pose, yang ada di ruang audisi tidak bisa tidak terkesima. Bahkan tanpa pakaian yang akan digunakan oleh mereka nanti, sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ekspresi dan pose yang sesuai, saling melengkapi. Kak Abi tersenyum simpul. Keduanya memang sangat berbakat, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Tak heran mereka adalah brand ambassador untuk merk ternama. Baik kosmetik, fashion, transportasi, food and drink, dan lain sebagainya.
Saat keduanya selesai berpose, tepuk tangan langsung menggema. Sudah bisa dipastikan siapa yang akan mendapatkan proyek brand fashion ini. Lucas dan Liam hanya menunduk kecil sebagai ucapan terima kasih. Maklum saja, itu turunan dari Daddy mereka, Chris.
Tiga puluh menit kemudian, Lucas dan Liam meninggalkan gedung pusat AXA Fashion dengan membawa hasil yang mereka inginkan. Kontrak sudah di tangan.
"Kak apa menurutmu Rose akan berpangku tangan dengan masuknya Lucas dan Liam ke Starlight Entertainment?"tanya Dion sembari mengemil.
"Menurutmu?" Camelia tengah memainkan ponselnya.
"Mustahil tidak bertindak," jawab Dion.
"Maka biarlah dia bertindak, lihat apa yang bisa ia lakukan padaku, Lucas, dan Liam!"jawab Camelia santai.
__ADS_1
"Ah iya, Kak. Daddy menyuruhku untuk melihat kantor cabang kita di Shanghai, apa Kakak mau menemaniku?"
"Shanghai?"
"Hm."
"Aku baru tahu Daddy punya cabang di Shanghai, sejak kapan?'
"Belum lama, hanya sekitar satu tahunan lalu." Camelia terlalu fokus pada karier dan keluarga kecilnya, mana ada waktu mengikuti perkembangan bisnis keluarga mertuanya.
"Aku ikut!"
"Kita berangkat besok pagi, lalu sore kita pulang."
"Okay!"
Di sisi lain, Rose sedang break dari agenda syutingnya. Saat menggulir beranda weibo, Rose terlonjak dan es kopi yang berada di dalam mulutnya menyembur membasahi wajah asistennya. "Ada apa, Kak Rose?"tanya asistennya takut-takut.
"Apa-apaan ini?"desis Rose kesal. Ia meletakkan kasar minumannya di atas meja.
"Hei kau katakan pada sutradara aku ada urusan!"ujar Rose pada asistennya lalu melangkah pergi sebelum asistennya bereaksi.
"Ah Kak Rose! Anda mau kemana?" Asistennya berteriak dalam kebingungan. Namun, Rose sudah berlalu.
__ADS_1
"Bagaimana ini?"