Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 213


__ADS_3

"Segeralah bersiap," ucap Andrean pada Crystal. Dibalas anggukan Crystal dan juga Toby.


Selesai berbelanja, Andrean kembali menjemput Crystal.


Crystal dengan bangga menyampaikan prestasinya. Dibalas positif oleh Andrean. Namun, itu barulah awal. Perjalanan masih panjang.


"Apa ini semua, Rean?"tanya Kakek Gong, heran dengan para pelayan yang membawa banyak paper bag.


"Untuk anak-anak," jawab Andrean singkat.


"Bersiaplah, Kakek. Dua jam lagi kita akan berangkat," ujar Andrean.


"Aku sudah siap," sahut Kakek Gong. Ia sudah mandi. Tinggal tambah memakai jaket saja. Lalu barang bawaan juga sudah dikemas dan ada yang sudah dikirim ke pesawat lebih dulu. Karena mahar yang dibawa oleh Kakek Gong cukup banyak.


Andrean mengangguk paham. Ia segera menuju kamarnya. Mengepak pakaian dan kebutuhan lainnya dalam koper. Tak lupa membawa berkas yang harus ia tangani. Hans dan Lie yang menangani bagian berkas.


Sekitar pukul 20.00, Andrean, Crystal, dan Kakek Gong meninggalkan istana menuju bandara untuk terbang ke Ottawa.


"Tuan benar-benar akan menikah? Saat pulang nanti, membawa Nyonya Gong?"tanya Lie, memastikannya pada Hans.


"I guess. Yang penting kau harus mengunci rapat hal ini sebelum ada pengumuman resmi dari keduanya!"tegas Hans.


"Lantas, kapan dengan kita?"tanya Lie.


Hans terkesiap. Mendengar pertanyaan itu, ia malah teringat raut wajah terkejut Silvia tadi. Sejujurnya, saat pertemuan pertama, ia merasa cocok dengan Silvia. Namun, rupanya penilaian Silvia padanya tidak secocok perasannya.


"Hei?!"sentak Lie, bingung dengan Hans yang tiba-tiba tersenyum.


"Mana saya tahu? Kok tanya saya?"sahut Hans, melenggang masuk ke dalam rumah.


"CK!"


*


*


*


"Jika kau ingin seharusnya kau pergi saja dengan Andrean yang tadi," ujar Tuan Liang saat melihat wajah orang istrinya.


Nyonya Liang tersenyum simpul. Kemudian menggeleng pelan. "Mana mungkin aku pergi sendiri. Yang ada aku tidak tenang karena meninggalkanmu sendirian," sahut Nyonya Liang, pelan.


"Maafkan aku."


"Sudahlah." Nyonya Liang menghela nafasnya.


"Lagipula kita bisa memberikan selamat dengan cara lain. Dan pergi ke sana dengan kondisimu dan situasi yang ada, bukan pilihan yang tepat. Tidak perlu merasa bersalah seperti itu!"


Tuan Liang tersenyum kecut. Namun, ia segera mengalihkan pembicaraan. "Tidak aku sangka, dia benar-benar melakukan saranku tempo hari."


"Saranmu?" Nyonya Liang terkesiap.


"Maaf, baru sekarang aku katakan padamu," sesal Tuan Liang.


Nyonya Liang menggeleng pelan. "Kau ini! Benar-benar!"


"Haha, setidaknya aku membawa kemajuan untuk hubungan mereka. Aku ingin Crystal segera merasakan kasih sayang seorang ibu. Haha, aku masih egois dan bukan ayah yang baik, bukan?" Tuan Liang tertawa hambar.


"Lain kali jangan ikut campur lagi!"ketus Nyonya Liang tidak suka.


*


*


*


"Sial!"umpat Silvia pelan. Kantung matanya hitam dan terlihat jelas. Ia tidak bisa tidur satu malaman karena masih memikirkan Hans.


Jujur saja. Di balik rasa malu dan canggungnya, ia tertarik pada Hans.


Ia tidak munafik. Ia suka pria yang berada dan tampan dengan integritas yang baik. Dan Hans, tentu pilihan yang paling cocok di antara semua pasangan kencan butanya.


"Sebenarnya sampai kapan kami harus menunggu, Silvia? Kami sudah tua, ayahmu ini juga sudah sakit-sakitan, apa kau tidak kasihan pada kami?"ucap pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Silvia.

__ADS_1


Silvia memutar bola matanya malas. Ia bosan mendengar pertanyaan itu.


Saat ini, Silvia dan Ayahnya berada di ruang makan. Kantung mata Silvia ditutupi dengan make up.


Ibu Silvia sudah meninggal. Ia yang anak tunggal hanya memiliki sang ayah sebagai keluarga.


"Aku juga tengah berusaha, Ayah. Tolong sabarlah sebentar lagi," jawab Silvia.


"Sampai kapan? Satu kencan butamu tidak ada yang berhasil!"ketus Ayah Silvia.


Silvia mendengus. Dan saat sang ayah menyinggung kencan buta, lagi, teringat pada Hans.


"Sejujurnya aku tertarik pada satu pria. Tapi, aku pernah membuatnya tidak senang. Aku tidak berani mendekatinya, Ayah," aduh Silvia pada akhirnya. Matanya berkaca-kaca.


"Hm? Siapa itu?"tanya ayah Silvia penasaran.


Silvia ragu untuk menyebutkan nama Hans. "Baiklah. Tidak masalah jika tidak mau memberitahu ayah siapa namanya. Namun, Silvia. Ingat ini, dalam memulai hubungan, tidak harus selalu pria yang memulai. Dan wanita di keluarga kita terkenal dengan kebar-barannya. Jadi, ayo dapatkan dia. Asalkan dia memenuhi kriteria, ayah setuju saja," ucap ayah Silvia, mengobarkan semangat putri tunggalnya itu.


"Dia sangat memenuhi, Ayah!"


"Jika begitu, untuk apa ragu?"


Sang ayah menatap putrinya dengan serius. Meyakinkan Sivia.


"Baiklah, Ayah." Silvia tersenyum.


*


*


*


Setelah perjalanan panjang akhirnya Andrean, Crystal, dan Kakek Gong beserta rombongan tiba di Ottawa.


Mereka tiba malam hari di Ottawa. Langsung menuju hotel yang telah direservasi sebelumnya. Tak lupa, Andrean memberitahu Camelia bahwa ia sudah tiba di Ottawa.


Setelah tiba di hotel, mereka langsung istirahat. Rencananya besok mereka akan lebih dulu berkunjung ke kediaman Shane untuk bertemu dengan keluarga Shane terlebih dahulu dan menyerahkan mahar yang mereka bawa. Setelah itu, barulah Andrean dan Camelia mendatangi pencatatan sipil.


Ia tidak melanjutkan tidurnya. Segera mempersiapkan dirinya. Mandi dan memakai setelan yang ia persiapkan.


Dan ternyata waktu untuk berangkat ke kediaman Shane masih cukup lama lagi. Andrean memutuskan untuk menyelesaikan beberapa berkas yang ia bawa. Juga mengecek email atau pesan dari Hans dan Lie.


Hingga setelah mereka sarapan, dan sekitar pukul 09.00 pagi waktu Kanada, mereka menuju kediaman Shane.


Perjalanan tidak terlalu lama. Karena hotel tempat mereka menginap tidak terlalu jauh dari kediaman Shane.


Semakin mendekati tujuan, jantung Andrean semakin berdegup kencang. Ia gugup.


Kakek Gong terkekeh pelan melihatnya. Sementara Crystal tak sabar untuk bertemu dengan Lucas dan Liam. Ia ingin mengabarkan tentang kemenangannya. Tak hentinya ia tersenyum memikirkan reaksi Lucas dan Liam.


Perjalanan itu memakan waktu sekitar 30 menit. Setelah penjara gerbang mengkonfirmasi kedatangan Andrean, gerbang utama kediaman Shane terbuka lebar.


"Wow!" Crystal terkagum dengan kediaman ini. Kediaman yang sangat asri.


"Seperti ini rupanya tempat kedua cicit laki-lakiku dibesarkan." Kakek Gong manggut-manggut. Tampak senang dan puas dengan kediaman Shane.


"Selamat datang di kediaman Shane, Presdir Gong, Tuan Besar Gong, dan Crystal," sambut Dion.


Dion dan Andrean berjabat tangan. Bergantian dengan Kakek Gong. Sementara orang-orang yang Andrean bawa, mengeluarkan mahal dan barang bawaan lainnya.


"Ayo masuk," ujar Dion. Memimpin jalan. Diikuti Andrean dan di baris terakhir adalah orang-orang Andrean yang teratur mengikuti langkah Tuannya. Mahar-mahar itu ditaruh dan dikemas sedemikian rupa. Bahkan kemasannya saja pasti mahal karena terbuat dari kayu.


Di ruang tamu, keluarga Shane telah menunggu. Camelia tampak tenang. Lucas dan Liam begitu bersemangat.


"Ayah!"sapa Lucas dan Liam bersamaan.


Andrean mengangguk dan tersenyum lebar.


Camelia hanya tersenyum. "Bagai pinang dibelah dua," ucap Kakek Gong.


"Jika membahas kemiripan, jangan lupakan putra kami," ucap Tuan Shane, menatap Kakek Gong. Kemudian berdiri.


"Ternyata Anda ikut, Tuan Besar Gong," ucap Tuan Shane. Keduanya lantas berjabat tangan.

__ADS_1


"Kehormatan bagi saya dikenali oleh Anda, Tuan Shane," sahut Kakek Gong.


"Tapi, apa semua ini?"tanya Nyonya Shane, melihat Andrean yang membawa banyak barang.


"Yang di kotak kayu itu, semua adalah mahal dan juga hadiah pernikahan. Sementara yang lainnya adalah hadiah yang dibawa untuk Lucas dan Liam," jawab Kakek Gong.


"Sapalah kakek buyut kalian," bisik Camelia pada kedua anaknya. Lucas dan Liam turun dari sofa.


"Hallo, Kakek Buyut. Perkenalan, aku Lucas Shane, dan adikku, Liam Shane. Senang bertemu dengan kakek Buyut," ucap Lucas. Keduanya membungkuk memberi salam pada Kakek Gong.


Perasaan Kakek Gong campur aduk seketika. Senang dan perih bercampur menjadi satu.


Padahal darah keluarga Gong. Tapi, malah bermarga Shane.


"Kakek Buyut mengapa menangis?"tanya Lucas.


"Kakek Tua ini hanya sangat bahagia. Kemarilah, buyut ini ingin memeluk kalian berdua." Kakek Gong berjongkok untuk bisa memeluk kedua cicit laki-lakinya itu.


"Kami juga senang bisa bertemu dengan kakek buyut."


"Kak Lucas, Kak Liam, look here. Crystal menang!"ucap Crystal, setelah mereka selesai berpelukan.


"Good job!"ucap Lucas. Sementara Liam hanya mengacungkan jempolnya saja.


Setelah acara reuni itu selesai, Andrean langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Berharap Camelia dan keluarga Shane menerima mahal yang mereka berikan. Sebenarnya ini belum seberapa. Nanti pada saat mereka melakukan pemberkatan dan resepsi, akan lebih banyak lagi.


Mahar itu pastinya berharga. Ada perhiasan, juga buku-buku bacaan yang sudah langka. Ada pula dekorasi yang terbuat dari keramik, antara lain guci.


Dan beberapa sertifikat yang sudah beratas namanya Camelia.


Keluarga Shane tidak berkomentar banyak. Menerima dengan tangan terbuka.


Setelah acara itu selesai, Andrean langsung mengajak Camelia ke pencatatan sipil.


Mereka hanya pergi berdua. Sementara Kakek Gong mengobrol dengan Tuan dan Nyonya Shane. Crystal yang mengoceh pada Lucas dan Liam, di mana sembari bermain dengan Alel dan Archie.


Awalnya Crystal takut. Namun, karena diyakinkan Lucas, dan Alel dan Archie yang masih lucu membuat memberanikan diri. Malah sekarang, Archie lengket dengan Crystal. Dion sendiri berangkat ke kantor.


*


*


*


Andrean dan Camelia telah keluar dari pencatatan sipil. Kantor itu sepi. Karena sudah diantisipasi agar tidak terlalu banyak pihak yang tahu. Hanya petinggi saja yang mengetahui. Kedudukan keluarga dan relasi memang sangat berpengaruh.


Camelia dan Andrean keluar dengan bergandengan tangan. Wajah mereka begitu berseri. Mereka sudah tercatat menikah di pencatatan sipil ini. Surat nikah sudah di tangan di mana foto dengan latar belakang biru tercantum dalam masing-masing surat.


Setibanya di mobil, Andrean membuka kotak cincin yang ia bawa. Dua cincin yang terbuat dari logam platinum.


Camelia mengulurkan tangannya. Raut wajah Andrean masam sejenak. Di jari manis Camelia masih memakai cincin nikah dengan Chris. Ya, Camelia memutuskan untuk tetap memakainya.


"Cincin aku lepas, okay?"


Deg.


Camelia menarik kembali tangannya. Karena terlalu senang. Ia lupa bahwa ia harus tetap berhati-hati. Mata netizen itu sangat tajam.


"Aku tahu kekhawatiranmu. Makanya aku memesan cincin dengan warna dan bentuk yang sama persis. Lihatlah."


Camelia kembali melihat dua cincin itu. "Jadi, ini alasan mengapa kau memintaku mengirim foto cincin yang aku pakai?"tanya Camelia.


"Aku akan berusaha menjadi suami yang sempurna, Lia."


"Terima kasih, Sayang."


Andrean melepaskan cincin nikah itu dari jari manis Camelia. Kemudian menyematkan cincin yang ia siapkan. Camelia menatap cincin baru di tangannya. "Cantik sekali," puji Andrean.


Dan bergantian. Camelia menyematkan cincin pada jari manis Andrean yang kosong.


Keduanya saling tatap. Perlahan saling mendekat dan pada akhirnya bibir mereka bersatu.


Selamat untuk Andrean dan Camelia ❤️

__ADS_1


__ADS_2