
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Camelia kembali mengenang percobaan pembunuhan padanya tadi malam.
Flashback on.
Waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu Beijing. Hujan deras turun mengguyur ibu kota negeri tirai bambu itu, menambah hawa dingin udara malam.
Jalanan sepi, di samping sudah hampir larut juga karena hujan deras. Lampu-lampu jalan dan gedung tampak membias karena hujan.
Dan di dalam apartemennya, Camelia bersantai sembari menonton drama kolosal. Tidak mengantuk karena sangat bersemangat. Rasanya tak sabar menunggu esok tiba.
Ting
Tong
Tiba-tiba saja ada yang menekan bel apartemennya. Camelia menoleh ke arah pintu.
"Siapa yang datang malam-malam begini?"gumam Camelia. Curiga dan gusar. Dan dengan langkah pelan, Camelia menuju pintu dengan sikap siaga, tangannya memegang tongkat bisbol yang terletak di belakang pintu.
Kemudian mengintip siapa yang membunyikan bel. Dahi Camelia mengernyit, "kurir makanan?"gumamnya aneh. Perasaan curiga dan was-was semakin menjadi.
Andai kata ini apartemen dengan harga rendah dan menengah, okelah. Ada kurir datang mengantar makanan. Akan tetapi, ini apartemen elit, dengan tingkat keamanan yang tinggi. Bahkan untuk naik ke lantai ini saja butuh kartu aksesnya dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa naik selain pemilik apartemen.
Selain itu, Camelia sama sekali tidak memesan makanan secara online. Jelas, kejanggalan terasa.
"Mencurigakan." Camelia kemudian bergegas menghubungi keamanan. Dan suara bel tidak kunjung berhenti.
"Baiklah. Mereka akan segera datang. Ayo kita lihat apa tujuannya!" Camelia menarik nafas dan membuka pintu dengan posisi siaga.
Saat membuka pintu, Camelia terkejut saat pria yang berpakaian kurir itu langsung menerobos masuk hingga membuat Camelia terpelanting dan jatuh.
"Siapa kau? Mau apa kau?"tanya Camelia dengan memegang erat tongkat bisbolnya.
"Saya dibayar untuk nyawa Anda!"jawabnya dingin dengan mengacungkan pisau pada Camelia. Camelia terbelalak, ia merangkak mundur dan berusaha berdiri.
"Mundur atau kau akan ku pukul!"ancam Camelia dengan mengacungkan tongkatnya.
"Sudah mau mati jangan banyak tingkah!" Pria itu melompat maju dengan gerakan menusuk. Camelia menghindar dan memberi pukulan pada punggung pria itu.
Pria itu terhuyung. Camelia tetap siaga. "******* s*alan!"desisnya marah.
"Ingin membunuhku? Tidak semudah itu!"ucap Camelia datar. Memangnya selama ia menjadi menantu keluarga Shane tidak belajar bela diri?
Tentu saja belajar. Selain untuk melindungi diri juga berguna untuk syuting. Apalagi saat genre action. Dan apakah pernah ia menerima ancaman pembunuhan? Ya, tentu saja. Itu adalah hal yang tidak mustahil untuknya yang seorang artis besar, istri dari aktor hebat dan juga menantu keluarga ternama. Hidupnya berubah total setelah meninggalkan tanah kelahirannya.
__ADS_1
"Ayo, ayunkan pisaumu! Kau kira aku takut?!" Tampaknya pria itu kesal. Ia menyimpan pisaunya. Tampaknya kini fokusnya adalah tongkat bisbol Camelia.
Camelia mengelak saat pria itu mencoba menangkapnya. Mengelak saat pria itu menendangnya. Alhasil, kejar-kejaran di ruang sempit itu pun terjadi. Camelia mengayunkan tongkatnya saat pria itu mendekat, membuatnya melangkah mundur.
"Kau!!" Sepertinya itu benar-benar marah.
Bugh! Camelia yang sejujurnya sudah lelah, kurang waspada dan berhasil masuk dalam genggaman pria itu. Tongkat bisbolnya terlempar dan kini leher Camelia dicekik.
Mengapa lama sekali? batin Camelia dengan terus meronta.
"Lepaskan!"ucap Camelia dengan terbata. Dadanya mulai sesak.
"Kau akan tamat!" Pria itu mengambil pisau yang simpan tadi. Namun, sebelum pisau itu menyentuh Camelia, pria itu terpelanting dan terjerembab ke lantai.
Uhuk … uhuk "Dion?"
Yang disebut namanya menghajar pria itu disusul dengan keamanan apartemen. "Sudah-sudah. Dion, jangan sampai kau membunuhnya. Kita harus mengintrogasinya!"ucap Camelia, menghentikan Dion yang terus memukul pria itu.
Dion menoleh pada sang kakak. "Kakak." Segera ia bangkit dan menghampiri Camelia yang bersandar pada dinding. Sedangkan pria itu ditahan oleh keamanan.
"Kakak kau baik-baik saja?" Dion memeluk Camelia. Saat keluar lift tadi, ia berpapasan dengan keamanan yang mengatakan bahwa kamar unit Camelia membutuhkan bantuan.
"Maaf, aku terlambat. Kakak pasti sangat terkejut," ucap Dion penuh sesal.
"Aku baik-baik saja. Kalian datang tepat waktu," jawab Camelia dengan tersenyum.
Kemudian menatap pria yang mencoba membunuhnya. Wajahnya sudah babak belur dan tampaknya ia setengah sadar. Keamanan memborgol pria itu. "Kami akan menyerahkannya ke kantor polisi."
Camelia menggeleng.
"Tidak. Jangan serahkan malam ini. Malam ini dia akan berada di sini untuk diintrogasi. Jika kalian khawatir, silahkan tinggal di sini. Namun, kalian harus merahasiakan hal ini!"tegas Camelia.
Dua keamanan itu saling pandang. Daripada ambil resiko lebih besar lagi, lebih baik tetap tinggal. Keduanya pun mengangguk.
Dion ke dapur untuk mengambil air hangat untuk Camelia. Sementara Camelia duduk di sofa. Menenangkan dirinya seraya menatap pria yang terduduk dengan kepala miring dan mata terbuka dan tertutup dengan lambat.
"Minumlah, Kak," ujar Dion seraya menyodorkan air hangat untuk Camelia.
"Mengapa kau kemarin? Bukankah harusnya kau di Shanghai?"tanya Camelia setelah minum.
"Tentu saja aku kembali karena hal itu," jawab Dion dengan tersenyum.
"CK, sudah ku duga," balas Camelia, mendengus senyum. Dion terkekeh.
__ADS_1
"Namun, malah kejutan yang aku terima. Hampir saja aku kehilanganmu, Kak." Ekspresi Dion langsung berubah.
"B*jingan entah dari mana ini hendak mencelakaimu!"
"Dia hanya melakukan pekerjaannya, Dion," sahut Camelia.
"Pembunuh bayaran?"terka Dion yang diangguki Camelia.
"Oh, begitu rupanya."
Dion menggoyangkan gelas berisi air dingin yang ada di genggamnya. Kemudian menyiramkannya pada pria itu. Pria itu kelagapan. Luka di wajahnya terasa perih, sangat perih.
"Tidak perlu basa-basi. Katakan siapa yang menyuruhmu untuk mencelakai kakakku!"
Pria itu tidak menjawab. Entah tidak tahu atau setia. Dion berdecak. "Berapa banyak yang dibayar untuk nyawa kakakku? Katakan harganya. Aku akan membayar dua kali lipat asal kau mengatakan siapa yang menyuruhmu. Selain itu, aku akan meringankan hukumanmu!" Dion melakukan penawaran.
Camelia tidak protes. Ia diam, membiarkan Dion melakukan interogasi. Pria itu mendongak, tampaknya tertarik.
Baik Dion dan Camelia menarik senyum tipis. "Jika tidak menjawab, tidak masalah. Kau kira aku tidak bisa mengetahui siapa pelakunya?"
"Namun, yang akan rugi banyak hanya benar-benar dirimu."
Goyah. Pembunuh bayaran itu mulai goyah. Matanya bergerak gusar seakan menimbang. "Selain itu, kau akan terjerat hukum internasional karena kami bukan warga negara ini. Hukumanmu akan jauh lebih besar!!"
"Ah … tidak. Tidak. Aku tidak mau mati sendiri. Akan aku katakan!"
Camelia hanya tersenyum. "Aku ke kamar dulu."
Dion mengangguk. Camelia menuju kamarnya.
"Siapa?"
"Dia. Rose Liang yang menyuruhku!"
Sejenak, Dion membeku, sebelum wajahnya berubah merah padam. "Beraninya dia!"
Dua petugas keamanan itu pun turut terkejut.
Ternyata terlihat di layar tidak selalu sama dengan di balik layar, batin keduanya.
Setelah mendapatkan jawabannya, Dion mengetuk kamar Camelia. "Mawar sialan itu pelakunya."
Mendengar itu, Camelia menghela nafasnya. Sama sekali tidak terkejut. "Besok kita akan buat laporan untuk kejadian ini. Selain itu, Dion kau bereskan barang-barangmu karena besok kakak akan kembali ke Kanada. Kau jika ingin ikut silahkan, jika tidak menunggu pekerjaanmu di sini selesai saja," beritahu Camelia.
__ADS_1
"Aku ikut Kakak. Aku akan mengantar Kakak sampai Kanada," jawab Dion yang dibalas anggukan Camelia.