Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 74


__ADS_3

Sekitar pukul 14.00, sesuai waktu yang dijanjikan, Lucas, Liam, dan Kak Abi telah tiba di rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA. 


Mereka menunggu sesaat di depan laboratorium, menunggu suster yang masuk ke dalam laboratorium untuk mengambil hasil tes. 


 "Lucas, Liam? Sedang apa kalian di sini?" 


Lucas dan Liam menoleh ke sumber suara. 


"Mommy?!"


"Lia?!"


Camelia terkejut saat melihat kedua putranya berada di rumah sakit dan menunggu di depan ruang laboratorium. Lucas dan Liam juga sama terkejutnya dengan Camelia. Dion juga merasa terkejut, sama seperti kak Abi. 


"Nyonya, Tuan Muda, hasil tesnya sudah keluar," ucap Suster yang keluar dari ruang laboratorium. 


Damn! Sedikit mengumpat. Mengapa timing nya di waktu yang kurang pas?


"Tes? Tes apa?" Wajah ketiga orang itu pucat. Camelia menatap ketiganya penuh selidik. 


"Tes apa, Lucas, Liam?!" Camelia kembali bertanya. Wajahnya menunjukkan ketidaksabaran. 


Suster menatap keluarga itu bingung. "Tes DNA, Nyonya." Suster tersebut menjawab. 


Wajah Lucas dan Liam semakin pucat. 


Habislah!


Dion terpana. 


"Tes DNA?" Bertanya dengan nada dingin seraya merebut amplop yang masih disegel. Di dalamnya berisi hasil tes. 


Camelia membuka dan membaca hasil tes tersebut.


"M-Mom kami bisa menjelaskannya," ucap Lucas takut-takut. 


"L-Lia jangan salahkan anak-anak. Akulah yang salah karena menyetujuinya," ucap Kak Abi susah payah. Wajah Camelia terlihat mengerikan. Ekspresinya sangat tidak bagus. Apapun hasilnya, yang pasti mereka berdua akan tetap kena amuk.


"Tidak, Mom! Kamilah yang memaksa. Aunty Abi sudah melarang kami. Jangan salahkan Aunty Abi," sergah Liam. Mereka terlhat saling melindungi dan itu semakin membuat wajah Camelia menggelap.


Camelia meremas hasil tersebut tersebut. Sebelum lebih jauh, Dion segera menyusun suster tersebut untuk pergi. 


"Kakak, tenangkan dirimu," ucap Dion sembari menepuk pundak Camelia. 


Sayangnya, itu tidak berefek. 


Krek!


Camelia mengoyak hasil tes tersebut. Wajahnya begitu dingin. Lucas dan Liam hanya bisa diam melihat hasil tes tersebut berubah menjadi robekan-robekan kecil. 


"Kalian sangat berani, ya?!"


"M-Mom?"


"Maafkan kami, Mom. Kami salah," sesal dan pinta Lucas. Keduanya mendekati Camelia dengan kepala menunduk.


"Karena bebas kalian lancang dan aku kecewa dengan kalian!"


Gawat! 


Camelia benar-benar marah. 


"Dion," panggil Camelia pada adiknya.


"Siapkan pesawat. Dua anak ini akan pulang ke Kanada hari ini juga!"


Lucas dan Liam terbelalak. Begitu juga dengan Dion. "Kak kau serius?"


"Kau juga, manager Abi! Kembali dengan mereka!"


"T-tapi Mom."


"Lia jangan begini. Kami tahu salah. Tapi …."


"Dion." Dion menghela nafasnya. 


"Ayo," ajak Dion pada Lucas dan Liam.


"Ayo, Kak!" Dion menggerakkan matanya agar menuruti Camelia. Jangan membuatnya semakin kecewa. 

__ADS_1


Dengan perasaan bersalah dan hati yang enggan, Dion dan ketiga orang itu melangkah meninggalkan Camelia. 


Setelah keempat orang itu hilang dari pandangannya, Camelia merosot. Jantungnya menjadi berdebar-debar dengan mata yang memerah. 


Menatap hampa robekan kertas yang berserakan di lantai. Wajahnya pucat pasi. 


"Sungguh dia?" Bergumam dengan bibir gemetar. 


"Anda baik-baik saja, Nyonya?"tegur seorang suster yang melihat Camelia. 


Camelia tersadar. "Ya. I'm okay," jawab Camelia, segera bangkit dan berjalan menjauh, masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah sakit. 


*


*


*


Dengan perasaan kacau, Camelia mengemudi dengan kecepatan tinggi. Efek dari kekalutan biasanya adalah meningkatkan adrenalin dan keberanian. Inilah yang terjadi pada Camelia. 


Tak peduli dengan suara klakson dan makian orang yang terganggu dengan cara mengemudinya. Camelia menulikan pendengarannya untuk itu. 


Di perjalanan, Camelia berhenti di sebuah minimarket dan membeli beberapa botol minuman beralkohol. 


Kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Memakan waktu cukup lama, Camelia menghentikan mobilnya di area pantai. Tak jauh dari bibir pantai. 


Tanpa keluar dari mobilnya, Camelia mulai menenggak minuman beralkohol tersebut. 


Bibirnya tidak mengeluarkan suara. Namun, air matanya mengalir. Camelia memejamkan matanya sesaaf. 


Ia mencari ketenangan. Suara angin, deburan ombak, ditemani dengan minumannya, setidaknya itu menjadi obat 


Dan seiring berjalannya waktu, telah menghabiskan semua minuman alkohol yang ia beli. 


Matanya memerah. Kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi, tergolong rendah. Akan tetapi, kadar toleransi Camelia terhadap alkohol sangat rendah. 


Pandangan Camelia buram. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia mabuk. Mengedipkan matanya beberapa kali. Dan tidak berhasil. 


Camelia malah tumbang, jatuh tidur di dalam mobilnya. 


*


*


*


Camelia mengerang. Memegang kepalanya yang terasa pusing dengan satu tangan lagi membuka pintu mobil. 


Camelia keluar dari mobil. Angin pantai yang dingin langsung menyergapnya. Akan tetapi, Camelia seakan tidak merasakannya. Ia malah merentangkan tangannya. Menghirup udara dalam-dalam, menahannya sebentar kemudian dikeluarkan perlahan. 


Rasa pusingnya sedikit ternetralisir. Camelia kemudian mengambil sesuatu dari mobil. Air mineral yang kemudian ia gunakan untuk membasuh wajah. 


"Kemiripan mungkin bisa disangkal. Namun, darah yang terhubung, bagaimana bisa aku menyangkalnya lagi?"gumam Camelia. 


Sepertinya hasil tes DNA tersebut, menunjukkan bahwa Andrean memanglah ayah dari Lucas dan Liam. Hal itu tentu saja membuat Camelia gusar. Sedikit bersyukur bahwa ia telah merobek hasil tes tersebut. 


"Maaf. Bukankah Mommy tidak ingin memberitahu siapa ayah kandung kalian. Akan tetapi, akan lebih baik jika kalian tidak mengetahuinya."


Situasinya sekarang rumit. Lucas dan Liam, bisa dikatakan bukan miliknya pribadi. Lucas dan Liam, mereka menyandang nama keluarga Shane dan telah ditetapkan sebagai pewaris keluarga Shane. 


Menghembuskan nafas kasar. Camelia kemudian mengecek ponselnya. Ternyata hampir pukul 21.00. 


Ia tertidur cukup lama. Dan ada begitu banyak pesan dan panggilan yang masuk. 


Mom, kami minta maaf. Kami tahu kami salah dan membuat Mom kecewa. Tapi, Mom. Kami melakukannya agar hati kami berhenti penasaran. Mom, sebelum kami melakukan tes tersebut, kami sudah berjanji pada diri kami sendiri bahwa apapun hasilnya itu, mau positif ataupun negatif, tidak akan merubah apapun. Karena kami hanya ingin tahu. Mom, Daddy Chris tetaplah ayah kami, ayah yang sangat kami sayangi. Mom, we're sorry. Tolong, jangan marah terlalu lama pada kami. Kami akan pulang ke Kanada. Mom, jaga dirimu dengan baik. We love you. 


Pesan panjang itu dikirim oleh Lucas. 


"Bagaimana bisa itu tidak merubah apapun?"


 Camelia mendesah pelan. Dalam benaknya, mana mungkin seorang anak tidak mempedulikan ayah kandung mereka? Setidaknya itu akan menciptakan kedekatan. 


Dan Camelia tidak menginginkan hal tersebut. Ia tidak ingin berhubungan dengan Andrean. Bahkan setelah ia kembali ke Kanada nanti, Camelia akan melupakan segala, semua yang telah terjadi di negara ini. Ia akan benar-benar menjadi Camelia, hanya Camelia seorang!


Egois memang. Tapi, egois memang salah satu sifat manusia. Itu manusiawi. 


Mom aku dan Lucas pulang ke Kanada. Jaga diri Mom dengan baik, we love you


Pesan dari Liam. 

__ADS_1


Camelia tersenyum kecut. 


Berandai tidak akan merubah apapun. Sudah terjadi. Tunggu Mom. Mom akan segera kembali. 


Camelia menyimpan ponselnya. Menepuk-nepuk pipinya, agar mengembalikan penuh kesadarannya. 


Sepuluh menit kemudian, Camelia masuk ke dalam mobil. Menyalakan dan melajukan mobilnya pergi meninggalkan pantai kembali pulang ke apartemen. 


Mengemudi dengan kecepatan sedang. 


Camelia memikirkan sesuatu. 


Sebelumnya aku hanya menerka. Sekarang aku tahu. Malam itu, pria itu adalah Andrean. Entahlah, aku juga bingung. Apakah aku harus bersikap biasa?


Semakin ketus? Atau sedikit lebih baik mengingat dia adalah ayah kandung anak-anakku? 


CK!


Pusing memikirkannya Camelia berdecak. 


Lupakan saja. Itu hanya masa lalu. 


Sekitar satu jam kemudian, Camelia akhirnya tiba di apartemen. Keluar dari mobil, Camelia sedikit sempoyongan. Efek mabuknya masih ada dengan pandangan sedikit mengabur. 


Camelia bersandar sejenak di body mobilnya. Menarik dan menghembuskan nafasnya. 


Dasar kau! Sudah tahu tidak bisa minum tetap saja minum. 


Kepalaku terasa sangat pusing. Ah anak-anak sepertinya Mommy dalam masalah, runtuk Camelia dalam hati. 


Dengan langkah goyah, berusaha berjalan menuju lift dan naik ke lantai apartemennya. 


Akhirnya, Camelia tiba di apartemennya. Menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. 


Saat ia akan terlelap ada yang membunyikan bel apartemennya. 


"Ahhkk siapa?!" Bangkit dengan kesal. Untuk sesaat Camelia lupa bahwa di rumah ini hanya ada dirinya seorang. Melangkah gontai, dengan sisa mabuk yang masih ada. Ia lupa membeli obat pereda mabuk. Dan pada dasarnya, Camelia adalah tipe orang yang jika sudah mabuk, butuh waktu yang lama ia kembali sadar. 


Saat membuka pintu, Andrean lah yang Camelia dapati. 


"Camelia lihat aku bawakan apa untukmu." Nada bicara yang non formal dan sepertinya Andrean juga mabuk. Ia berdiri dengan goyah. Matanya merah dengan mata sendu. 


Mabuk bertemu dengan orang yang masih belum sadar sepenuhnya. Camelia melihat apa yang Andrean bawa. 


Delima. 


"Camelia, ini balasanku atas makan malam tempo hari. Bagaimana? Kau suka?"


"Suka." Entah sadar atau tidak, Camelia menjawabnya spontan. Ia memang menyukai buah tersebut. Andrean mengembangkan senyumnya. 


"Kalau suka, apakah aku boleh menciummu?" Sedikit konyol namun ditanggapi serius oleh Camelia. 


Cup. 


Setelah sekian purnama, bibir keduanya kembali bertemu. 


Hanya sebentar. Andrean menarik dirinya. Mata Camelia berubah sayu. 


Cup.


Camelia mencium Andrean. Kali ini bukan kecupan tapi benar-benar ciuman. Camelia melingkarkan tangannya pada leher Andrean.


Andrean sedikit terhenyak. Namun, ia menikmatinya. 


Berputar dan masuk ke dalam apartemen tanpa melepas ciuman mereka. 


Hasrat yang selama ini dipendam, mencuat, meronta ingin keluarkan. 


Menuju kamar dan mendorong Camelia ke ranjang. 


Kembali berciuman. Andrean begitu aktif. Sementara Camelia mengerang dan mendesah kala Andrean mencium dan mengecup lehernya. 


Mabuk memang membawa masalah. Camelia telah kehilangan kesadarannya. Ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang ia lakukan dengan Andrean. Dan ini masihlah awal atau pemanasan. 


Andrean mulai membuka bajunya. Kembali mencium Camelia dengan tangan yang bergerak liar. 


Detik demi detik. Suhu kamar yang dingin terasa panas akibat adegan panas keduanya. Desah dan lenguhan memenuhi kamar hingga akhirnya ditutup dengan nafas yang terengah. 


Keduanya telah mencapai pelepasan dan kini mulai menutup mata akibat kelelahan. 

__ADS_1


__ADS_2