Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 112


__ADS_3

"Jadi, apa maksud kedatanganmu kemari Mr. Gong?"tanya Tuan Shane tanpa basa-basi lagi setelah tiba di ruang kerjanya.


"Tidak banyak. Biarkan aku menikah dengan Camelia dan membawa Lucas dan Liam bersamaku," jawab Andrean. Kali ini, sorot matanya tenang, pembawaannya jauh lebih santai. Namun, tak bisa menghilangkan kesan serius darinya.


"Jika hal itu, maka lupakan saja dan silahkan tinggalkan kediaman ini!"sahut Tidak Tuan Shane, tak kalah tenang dengan senyum miring.


"Kata biarkan itu … artinya Lia sudah memberitahu Anda tentang keputusan dan kesepakatan yang kami buat." Nyonya Shane berdiri di samping suaminya.


Andrean mengangguk singkat, membenarkan ucapan Nyonya Shane.


"Jika begitu, untuk apa repot datang dan membahas hal yang sudah final?" Tuan Shane menatap rumit Andrean. Apa yang anak itu pikirkan? Apa dia kira, kembali membahasnya akan mengubah keputusannya?


"Itu hanya dari sisi Camelia, bukan saya."


"Memang Anda siapa?"balas Tuan Shane, kembali tersebut miring.


"Jangan andalkan bahwa kau ayah biologis Lucas dan Liam. Karena itu tidak akan mengubah apapun" tegas Tuan Liang, sebelum Andrean menjawabnya.


"Selain itu, hal ini sudah berulang kali dibahas. Jika hanya membahas ini, urusanmu sudah selesai, silahkan angkat kaki!" Tuan Shane mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


Andrean tersenyum, masih dengan wajah percaya diri, kemudian membuka tasnya. Mengeluarkan beberapa surat. Tuan dan Nyonya Liang melihatnya dalam diam.


"Ini adalah beberapa surat berharga. Masih ada lagi. Ini akan aku berikan kepada keluarga Shane jika Anda menyetujui saya menikahi Camelia dan membawa anak-anakku," ucap Andrean, meletakkan beberapa surat itu di depan Tuan Shane.


Tuan Shane menatapnya. Matanya memicing melihat salah satu surat.


Saham Grup Gong, Andrean Gong.


"Ini adalah sahamku di Group Gong. Tidak banyak, hanya 25 persen," ujar Andrean, menjelaskan, merasa Tuan Shane tertarik dengan itu.


"Sementara ini adalah 10 persen saham Starlight Entertainment.


"Dan ini adalah kepemilikan beberapa properti, baik di China dan ada beberapa di luar negeri. Sementara ini, adalah black card. Semua ini adalah akan jadi milik keluarga Shane jika Anda menyetujui permintaan saya."


"Bagaimana?" Andrean menarik senyum, percaya bahwa Tuan Shane akan tertarik dan goyah.


Tuan Shane tersenyum, tidak lebih tepatnya mendengus senyum. "Bagaimana?" Tuan Shane mengalihkan pandangnya pada sang istri.


"Tawaran yang menarik," balas Nyonya Shane. Andrean semakin melebarkan senyumnya.


Siapa yang tidak tertarik dengan aset bernilai triliunan itu?


"Tapi, sayang sekali, kami tidak tertarik," lanjut Nyonya Shane yang membuat senyum Andrean memudar. Dahinya mengerut.


Ditolak?


Why?


"Tawaranmu memang menarik. Bernilai triliunan untuk Putri dan kedua cucuku. Aku mengakui kesungguhanmu. Namun, putriku dan juga kedua cucuku sangat tidak ternilai!" Tuan Shane tersenyum lebar.


"Selain itu, apa kau pikir keluarga Shaneku ini akan goyah dengan tawaranmu? Kami tidak kurang satupun. Tawaranmu hanya sebagian kecil dari aset kami. Andrean Gong, kau menganggap dirimu terlalu tinggi, meremehkan kami, atau kau sama sekali tidak tahu dengan kami?" Tuan Shane menatap tajam Andrean.


Deg!


Ini tidak seperti yang Andrean bayangkan.


"Pergilah. Bawa semua asetmu ini!" Tuan Shane kembali mengibaskan tangannya. Dan kembali mengusir Andrean. Ini ketiga kalinya.


"Andrean, tampaknya kau belum mengerti betapa berharganya Camelia, Lucas, dan Liam bagi kami. Namun, kami memberi keringanan untukmu. Jika kau ingin menikahi Camelia, tidak masalah. Namun, membawa cucu kami, mustahil. Selain itu, meskipun kau menerima hal itu, lantas apakah kau mencintai putri kami? Selama dengan Chris, ia sangat bahagia, apa kau mampu membahagiakannya? Ditambah lagi kau akan memisahkan Ibu dan anak. Kau akan melakukannya, apa itu definisi cinta?" Nyonya Shane kembali angkat bicara.


Andrean mencerna ucapan Nyonya Shane.


Sangat berharga?


Namun, boleh membawa Camelia tidak dengan anak-anaknya.


Cinta?


Definisi cinta?


Andrean diam cukup lama.

__ADS_1


"Apakah Anda tidak merasa salah, Tuan, Nyonya?" Andrean mengangkat wajahnya setelah menunduk dan diam cukup lama.


"Hm? Cinta? Saya memang belum mengerti apa itu cinta. Namun, saya sangat yakin dengan perasaan saya pada Camelia. Saya ingin memilikinya, saya ingin melindunginya, saya ingin membahagiakannya. Selain itu, saya ingin berkumpul dengan keluarga saya. Saya rasa, tidak ada larangan untuk hal itu. Anda juga sudah tahu bahwa saya adalah ayah kandung Lucas dan Liam. Seharusnya Anda tidak punya hak untuk menghalangi saya dengan mereka. Justru Anda berdualah yang akan memisahkan ibu dengan anak-anaknya dengan dalih dan kesempatan bodoh itu!"tandas Andrean dengan nada dinginnya.


Tertegun sesaat. Balasan Andrean membuat Tuan dan Nyonya Shane terhenyak. Tidak menduga Andrean akan menyerang balik dari sisi itu.


"Kami tahu itu," balas Tuan Shane. Bukankah mereka telah membicarakan hal itu? Dengan Camelia dan Dion pula?


"Oleh karenanya kami mengizinkan Camelia menikah lagi saat usia Lucas dan Liam delapan tahun. Andrean Gong, kami tak akan mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang panjang!"tandas Tuan Shane lagi. Balasan Andrean dipatahkan.


"Bukankah suaminya sudah pergi? Artinya Camelia bebas, bukan?" Membalas lagi.


"Ya. Namun, selamanya dia bagian dari keluarga Shane," sahut Nyonya Liang.


"Apa-apaan itu?"


"Mr. Gong, Anda hanya tahu akhirnya, bukan awalnya. Jadi, jangan bicara tanpa melalui apa yang telah terjadi hingga keputusan ini diambil. Kau tahu bukan, Lucas dan Liam adalah cucu laki-laki pertama dan kedua keluarga Shane, bagaimana mungkin kami melepasnya? Sebanyak apapun yang Anda tawarkan tidak akan mengubah keputusan itu!" Kembali menegaskan.


"Pembicaraan panjang ini, pada akhirnya sia-sia. Sudahi saja," ucap Nyonya Shane datar.


"Atau tidak Anda masih tidak puas, kami tidak keberatan bertemu dengan Anda di meja hijau."


Tantangan itu sebelumnya juga disampaikan oleh Camelia, dan kali ini dipertegas lagi oleh Tuan Shane. Sepercaya diri itukah keluarga ini? Tantangan ini, bukan sekali dua kali, artisnya yakin bahwa akan menang.


Meskipun tahu lawan mereka adalah keluarga Gong, keluarga yang terpandang di China.


S*ial!


Andrean meruntuk dalam hati.


Harusnya aku kembali dengan tangan kosong lagi?


"Jika Anda keberatan dan merasa berat, lepaskan Camelia dan anak-anaknya. Cari wanita lain. Bukankah keluargamu mencari keturunan laki-laki?"


"Hanya Camelia yang saya inginkan!"


Tapi, bagaimana lagi caranya?


Sang Kakek juga telah memperingatkan dirinya sebelum berangkat. Jangan melewati batas, jika tidak bisa jangan dipaksa. Sebenarnya, aset-aset yang ia tawarkan adalah di luar pengetahuan kakek Gong. Jika terdengar, ia akan diamuk. Namun, jika ia berhasil, amukan itu bukan masalah.


"Kesungguhanmu sangat terlihat. Akan tetapi, kami tidak bisa menerimanya. Silahkan keluar sebelum saya menggunakan kekerasan!"


Wajah Andrean memerah. Antara kesal, malu, bingung. Dengan perasaan tak menentu, Andrean bangkit.


"Mr. Gong, Anda melupakannya!" Nyonya Shane memanggil Andrean. Andrean membalikan tubuhnya.


"Itu untuk Lucas dan Liam. Sebagai ganti kalian merawatnya selama ini," sahut Andrean.


"Kami tidak bisa menerimanya!"


"Itu adalah nafkahku sebagai ayah kandung mereka. Berikan pada mereka jika Anda tidak ingin menyimpannya!"


Setelahnya Andrean kembali berbalik. Sebelum membuka pintu, pintu terbuka lebih dulu.


Pria kekar berpakaian pengawal melewati Andrean dengan tergesa. "Gawat, Tuan! N-Nona Muda diculik!"lapornya. Yang seketika mengejutkan Tuan dan Nyonya Liang.


"Apa katamu?" Andrean juga terkejut. Rasa cemas seketika menguasai dirinya. Pria itu mencengkram kerah kemeja pengawal tersebut.


"Siapa yang menculiknya?"tanya Tuan Shane, mengusap wajahnya kasar. Perasaan khawatirnya terjadi. Padahal sudah menambah jumlah pengawal, mengapa masih kecolongan?!


"Suamiku … kali ini apa motifnya?"


"Grandpa, Liam mendapatkan jejak yang menculik Mom!" Tiba-tiba Lucas masuk dan berseru lantang.


"Benarkah?! Bagus! Kalian ikuti jejak yang ditemukan Liam! Pastikan putriku selamat dan baik-baik saja!"titah Tuan Shane. Pengawal tersebut mengangguk. Segera mengikuti Lucas.


Andrean yang diabaikan, gegas memilih mengikuti Lucas juga.


"Padahal beberapa bulan ini aman-aman saja. Kali ini siapa pelakunya?" Nyonya Shane duduk lemas.


"Tenanglah. Putri kita akan baik-baik saja." Tuan Shane mengecup pucuk kepala sang istri.

__ADS_1


*


*


*


"Menurut rute, lokasi yang mereka tuju adalah gedung di pinggir kota," ucap Liam saat Lucas dan pengawal juga Andrean masuk.


"Baik, Tuan Muda Kecil. Mohon komunikasinya dengan kami. Kami akan meluncur sekarang!" Pengawal itu bergegas keluar.


Andrean, sesaat fokusnya pada Liam. Anak sekecil itu, bisa meretas dan tampak seperti seorang ahli.


"Mr. Gong, Anda tidak ingin ambil peran dalam hal ini?" Liam melirik Andrean.


"Mungkin saja, Grandpa dapat goyah."


Andrean membulatkan matanya. Tanpa banyak kata lagi, pria itu langsung meninggalkan kamar, menyusul pengawal tadi.


"I am coming along!"teriak Andrean, sesaat sebelum pengawal tadi melaju dengan motornya.


Tanpa menunggu jawaban, Andrean langsung naik. Dan pengawal itu, tampaknya tidak keberatan atau malah mengabaikannya. Segera meninggalkan kediaman Shane menuju lokasi.


Hari sudah gelap. Matahari telah tenggelam. Perjalanan menuju lokasi memakan waktu cukup lama karena lokasinya di pinggir kota.


Andrean sedikit bergidik saat melewati hutan. Di mana sebenarnya lokasinya,


*


*


*


"Uhhh!" Camelia mengeluh pelan saat sadar. Pandangannya terasa buram. Kepalanya terasa berat.


"Apa yang terjadi? Bukankah tadi aku di toilet restoran?"gumam Camelia yang melihat ruangan kumuh, di mana ia berada.


"Apa aku diculik?" Camelia kembali bergumam.


"Sepertinya kau biasa diculik hingga cepat sekali sadar dan menyadarinya," ucap seseorang. Dari nadanya, seorang wanita yang masuk dengan diikuti dua orang pria berbadan tegap.


"Apa mau mu?"tanya Camelia tanpa basa basi lagi. Tatapannya tajam pada wanita yang menggunakan masker ini.


"Aku terluka! Dan beraninya kau tidak mengenaliku!" Wanita itu hendak melayangkan tamparan pada Camelia. Namun, sebelum itu berhasil Camelia lebih dulu melayangkan tendangan pada wanita itu.


"Uhhh … sial!" Camelia tersenyum sinis. Ia sudah terbiasa menghadapi posisi seperti ini.


"Wanita s*ialan! Beraninya kau!" Wanita itu menggeram marah.


"Aku tanya baik-baik, kau ingin apa? Katakan dan cepatlah pergi sebelum pengawalku datang!" Camelia tetap tenang. Meskipun demikian, terbesit di hatinya bahwa wanita di depannya ini gila.


"Ingin apa? Jika ku katakan apa kau akan memberikannya?"balas wanita itu, dengan nada yang sukar Camelia artikan.


"Jika bisa, akan aku berikan."


"Berikan nyawamu!"


"Apa?!" Camelia berseru kaget.


Nyawa?


Gila!


Wanita ini meminta nyawanya?!


"Dasar gila!"desis Camelia.


"Sebaiknya kau pergi sebelum pengawalku datang!"


"Hehehe! Jika tidak bisa diberikan maka aku akan mengambilnya paksa!" Wanita itu terkekeh.


Sulit berhadapan dengan orang jahat, lebih sukar lagi berhadapan dengan orang gila.

__ADS_1


"It's me, Nona Besar!" Wanita itu membuka maskernya. Camelia membelalakan matanya.


"Kau?!"


__ADS_2