
"Ahhkk! Sial! Sial!" Setelah bangun, Andrean mengumpat kesal. Mengacak rambutnya kasar.
"Bagaimana bisa aku telat bangun?!"geramnya lagi. Entah karena efek jetlag atau salah menyetel alarm, Andrean bangun kesiangan.
Ia salah menyetel alarm. Lupa menyetel jamnya di waktu Kanada. Masih di waktu China. Alhasil, ia bangun terlambat. Ya, itu kekeliruannya.
"Bagaimana ini? Aku disuruh datang pagi tapi, malah terlambat!"
"CK! Terserah! Aku datang saja!"
Ada sedikit keyakinan di hatinya bahwa Lucas dan Liam pasti menunggu dirinya. Ia mandi dengan cepat.
Tanpa sarapan, gegas meninggalkan hotel. Mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju kediaman Shane.
"Ahh! Sial!" Beberapa ratus meter dari kediaman Shane, Andrean menghentikan mobilnya. Mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.
Aku ada di dekat kediaman kalian. Kalian di mana?
Ah … Kau terlambat, Mr. Gong. Kami, juga Mom, Grandma, dan Grandpa sudah tidak ada di kediaman.
Itu balasan dari Liam. Andrean menghembuskan nafas pelan. Sudah ia duga.
Baiklah.
Sore saja, saat kami sudah pulang.
Baiklah.
"Aku panik. Hingga melakukan hal sia-sia." Andrean menyandarkan kepalanya pada kemudi mobil.
Krucuk.
Perutnya berbunyi lapar. Belum sarapan.
Andrean menghela nafas kasar. Segera melajukan mobilnya menjauhi kediaman Shane.
*
*
*
"Hm … pria itu datang ke sini?" Tuan Shane menatap orang kepercayaannya.
"Benar, Tuan. Dia tiba kemarin sore."
"Baru saja, dia juga menuju kediaman Anda. Namun, sebelum tiba berputar balik menjauhi kediaman Anda," terangnya lagi.
Apa tujuan?
Tuan Shane memainkan penanya. Dahinya mengernyit. Menerka-nerka alasan pria itu datang.
Apa untuk?
Pria tua itu sedikit melebarkan matanya.
"Tuan, apa ada perintah untuk pria itu?"tanya Sekretaris Tuan Shane.
"Jangan lakukan apapun. Tetap awasi saja dia," balas Tuan Shane, mengibaskan tangannya, menyuruh orang itu untuk meninggalkan tempat.
"Saya yakin ini ada kaitannya dengan Nona dan Tuan Muda Kecil," ucap sekretaris Tuan Shane.
"Kita lihat, apa yang akan dia lakukan, juga usahanya." Tuan Shane menarik senyum. Senyum penasaran.
Aku menunggu penampilanmu, Andrean Gong.
Ya, tak salah. Tuan Shane memang menyuruh orang kepercayaannya untuk mengawasi Andrean. Tentu saja dengan cara halus tanpa mencurigakan.
Bagi Tuan Shane itu hal mudah. Keluarga konglomerat itu punya tim pengawal pribadi.
Camelia, wanita itu punya tim pengawal pribadi. Begitu juga dengan Lucas dan Liam. Hanya saja, hanya beberapa yang menunjukkan statusnya secara jelas. Mereka mengawal tanpa menimbulkan kesan sedang mengawal.
Namun, para pengawal itu tidak ikut saat Camelia dan lainnya tinggal di China. Itu atas dasar permintaan Camelia. Ia ingin leluasa bergerak. Meyakinkan Tuan dan Nyonya Shane bahwa itu akan baik-baik saja. Apalagi ia bisa bela diri dan ada Dion juga. Kak Abi juga pandai bela diri. Lagipula, di China musuhnya cuma dua orang.
"Tambah pengawal untuk menantu dan kedua cucuku. Jangan sampai kejadian penculikan terjadi lagi."
"Baik, Tuan. Apa ada hal yang Anda khawatirkan, Tuan?"
Sekretaris itu menangkap gurat kecemasan di wajah Tuan Shane. Dan itu baru saja.
"Entahlah. Tapi, aku merasa tidak enak tiba-tiba. Lakukan saja seperti perintahku."
"Baik, Tuan." Tidak bertanya lagi dan segera melakukan apa yang Tuannya perintahkan.
*
*
*
__ADS_1
Andrean turun dari mobilnya. Menatap bangunan menjulang tinggi di hadapannya. Di dekat gedung itu adalah nama bangunan itu yang tak lain adalah Shane Group.
Andrean memutuskan untuk menemui Tuan Shane karena Tuan Shane adalah kepala dari semua ini.
Masalahnya adalah Tuan Shane. Satu kata atau kalimat dari pria itu sangat berpengaruh.
Melangkah masuk. Tak bisa tidak berdecak untuk arsitektur dan interior bangunan ini. Dinding kaca adalah dominan pada bangunan ini.
"Excuse me." Seperti biasa, aturan umum saat ingin menemui seseorang dengan jabatan tinggi di sebuah perusahaan, resepsionis adalah penghubung untuk hal itu.
"Yes, Sir. Ada yang bisa saya bantu, Sir?"
"I want to meet Mr. Shane," jawab Andrean.
"Did you make an appointment, Sir?"tanya resepsionis itu. Matanya menatap selidik Andrean, dikarenakan wajah Andrean kental dengan wajah Asia. Biasanya, jika ada pertemuan dengan orang asing, pasti sudah ada jadwal. Namun, saat memeriksa daftar, tidak ada pertemuan dengan orang asing hari ini.
"Already." Itu adalah taktik yang biasa digunakan saat tidak membuat janji.
"Alright. With Mr?"
"Andrean Gong."
Resepsionis itu mengangguk kemudian menghubungi seseorang. Andrean yakin, Tuan Shane akan langsung memperbolehkan dirinya untuk naik, secara ia sudah memperkenalkan dirinya. Tuan Shane pasti sudah banyak mendengar tentangnya.
"I'm sorry, Mr. Andrean. Mr. President Director is currently in a meeting. Mr. President is available at 15.00 in the afternoon. Would you like to meet up or make an appointment?"
Andrean mengernyit. Tidak sesuai dengan dugaannya. Dan pukul tiga? Itu masih lama lagi.
"Baiklah. Tolong buatkan jadwalnya di pukul 15.00. Saya akan kembali nanti lagi!" Kebiasaan memerintah tidak hilang. Resepsionis itu mengangguk. Andrean berbalik dan meninggalkan Shane Group.
"Baru dibahas, anak itu sudah datang. Sepertinya ia tidak sabar," gumam Tuan Shane yang sudah mengetahui bahwa Andrean datang untuk menemuinya.
"Tuan, di pukul tiga nanti ada pertemuan dengan Tuan Marcel dari Hongli Group," ucap Sekretaris Tuan Shane.
Tuan Shane mengangguk kemudian tertawa renyah.
*
*
*
Andrean memutuskan untuk kembali ke hotel. Mengerjakan beberapa pekerjaan sebelum kembali lagi ke Shane Group untuk menemui Tuan Shane. Sebelum bekerja, Andrean menyetel alarm satu jam sebelum jam pertemuan. Dengan telah mengatur waktu Kanada.
Untuk makan siang, Andrean memesan dari hotel. Kamar presidential suite, tentu ada banyak kelebihan ya karena itu tipe kamar teratas dalam sebuah hotel.
Perjalanan memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit dan Andrean tiba lima belas menit sebelum jam yang dijanjikan.
"Saya sudah membuat janji temu Tuan Shane di pukul 15.00," ucap Andrean saat tiba di meja resepsionis.
Resepsionis itu tampak meringis. "Sebelumnya mohon maaf, Tuan. Ada kesalahan informasi."
"Maksud Anda?" Andrean mengernyit.
"Presdir kosong di pukul 14.00."
"Di mana sekarang beliau?"potong Andrean.
"Sudah berangkat untuk pertemuan selanjutnya."
"Oh My God!" Andrean mengusap wajahnya kasar.
Mengapa sulit sekali menemuinya?
"Anda tidak meninggalkan kontak untuk kami hubungi. Jadi, mohon maafkan kami." Resepsionis itu membungkuk meminta maaf.
"Apa Anda ingin membuat janji lagi? Saya akan hubungi sekretaris beliau," tawar resepsionis itu lagi.
Jika membuat janji sekarang, paling cepat besok atau bisa lebih dari satu hari baru bisa bertemu. Sementara nanti sore aku akan bertemu dengan mereka sekeluarga. Tapi, tidak masalah.
Andrean mengangguk. "Hubungi saya untuk jamnya," ucap Andrean, dengan menyodorkan kartu namanya.
"Sekali lagi, kami mohon maaf, Tuan."
Andrean kembali meninggalkan Shane Group dengan tangan kosong. Setibanya di mobil, Andrean mengirim pesan pada Liam.
Liam, jam berapa aku ke kediaman kalian?
Menunggu lima menit, tidak ada balasan. "Apa sibuk?" Memutuskan untuk meninggalkan Shane Group. Kembali lagi ke hotel.
Tiba di hotel, pesan itu belum dibalas. Begitu juga setelah tiba di kamar.
Hah …
Andrean menghela nafasnya kasar.
Resepsionis hanya menyampaikan informasi. Jika ada kekeliruan … apa Tuan Shane sengaja menghindariku? Mempermainkanku? Atau mengujiku? pikir Andrean setelah melemparkan tubuhnya ke ranjang.
"CK … si*al!"
__ADS_1
Andrean tidak bisa berbuat banyak di sini. Negara ini bukan jangkauan apalagi dalam genggamannya. Ditambah lagi, keluarga keluarga bisnis yang sangat berpengaruh.
Huh!
"Bersabarlah, Andrean! Kau pasti menang!"tukas Andrean pada dirinya sendiri.
Lantas kembali melihat ponselnya. "Sedang apa Liam?" Sudah hampir satu jam, namun pesannya tak kunjung dijawab.
*
*
*
"Pemotretan telah selesai, terima kasih atas kerjasamanya!"ucap sutradara dengan lantang. Yang disambut dengan riuh tepuk tangan.
"Selamat. Kalian sudah bekerja keras."
"Terima kasih. Kalian melakukannya dengan sangat baik."
Kru mengucapkan selamat pada Liam dan Lucas yang dibalas anggukan dan senyum oleh keduanya.
"Yeah! Akhirnya selesai juga," ucap Lucas saat duduk.
"Kalian sudah bekerja keras. Minum dulu," ujar Kak Abi, menyodorkan air minum pada Lucas dan Liam.
"Setelah foto dengan kru, kita langsung pulang," ucap Kak Abi, memberi instruksi yang dibalas anggukan.
Pemotretan dan pembuatan video iklan, selesai dalam satu hari. Lucas dan Liam juga telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, jam tangan digital keluaran terbaru dengan berbagai fitur yang semakin canggih daripadanya generasi sebelumnya.
Liam meraih ponselnya. Ada pesan dari Andrean.
Liam, jam berapa aku ke kediaman kalian?
CK! Berdecak pelan.
"Ada apa, Liam?"
"Bahasanya sangat tidak enak," cibir Liam, menunjukkan pesan Andrean pada Lucas.
"Ja, ziemlich förmlich für einen Blutsverwandten," balas Lucas, dengan bahasa Jerman.
(Ya, cukup formal untuk ukuran yang ada hubungan darah)
"Sebentar lagi kita pulang. Suruh saja pukul 19.00," tambah Lucas.
Liam mengangguk segera membalas pesan Andrean dengan jawaban Lucas.
Drtt
Drttt
Ponsel Lucas bergetar. Ada sebuah panggilan masuk.
"Dari Mom," ujar Lucas pada Liam, menjawab panggilan tersenyum.
"Iya, Mom."
"Lucas, kau dengan Liam sudah pulang?"tanya Camelia di ujung sana.
"Belum, Mom. Sebentar lagi akan pulang," jawab Lucas.
"Em … begini, Mom ada acara makan malam dengan pemain lain. Jadi, ke kemungkinan besar Mom akan pulang malam dan tidak bisa ikut makan malam bersama. Jadi, tolong sampaikan pada Grandpa dan Grandma, ya?"
"Begitu ya, Mom?" Lucas sedikit sedih.
"Ya, maafkan Mom, ya." Camelia jelas merasa bersalah.
"Ya sudah, Mom. Tidak apa nanti aku sampaikan."
"Mom, jangan lama-lama tapi, ya. Kalau bisa segera pulang karena kami merindukan Mom. Grandpa dan Grandma juga pasti mengkhawatirkan Mom," ucap Lucas.
"Tentu."
Panggilan berakhir. "Why?"
"Es gibt Hindernisse, sie sofort zusammenzubringen."
(Ada saja halangan untuk segera mempertemukan mereka)
"Ich hoffe das geht schnell vorbei," harap Liam yang diangguki oleh Lucas.
"Anak-anak, ayo kita berfoto lalu pulang." Kak Abi memanggil. Keduanya anak itu bergegas agar lekas tiba di rumah.
*
*
*
__ADS_1