
Camelia melangkah keluar dari mobilnya. Ia tiba di basement pukul 16.00. Camelia keluar dengan membawa bucket yang ia terima tadi sewaktu di lobby Phoenix Teknologi. Lucas dan Liam belum kembali, tentu saja mereka kan ke rumah sakit untuk tes DNA bersama dengan Kak Abi, tanpa sepengetahuan Camelia. Kak Abi hanya mengatakan mereka mampir sebentar ke mall untuk belanja beberapa kebutuhan. Kebetulan, apa yang disebutkan oleh Kak Abi memang habis ataupun tinggal sedikit di apartemen.
Saat hendak masuk ke dalam lift, kembali ada yang memanggil Camelia. Camelia berbalik, seorang pria berseragam keamanan menghampiri Camelia dengan membawa sebucket bunga, bunga mawar. Camelia menyipitkan matanya, apa itu bunga untuknya lagi? Dan dari siapa lagi? Apakah dari orang yang sama?
Camelia sudah bertanya-tanya.
"Nyonya, ada kiriman untuk Anda. Tadi diantar oleh kurir," ujar petugas tersebut sembari menyerahkan bucket itu pada Camelia.
"Maaf, apa benar untuk saya?"tanya Camelia ragu, belum menerima bucket tersebut.
"Benar. Nama Anda Camelia Shane, bukan?"jawabnya dengan nada penuh keyakinan.
Ya, di kawasan ini hanya ia yang bernama Camelia Shane. Nama dan marga yang berasal dari luar negeri.
Camelia tersenyum, tampak canggung. "Baiklah, terima kasih," ujar Camelia menerimanya, kemudian menundukkan kecil kepalanya. Kini ia memegang dua bucket mawar merah.
Petugas tersebut tersenyum dan mengangguk kecil kemudian undur diri. Camelia kemudian mencari nama pengirim bucket tersebut. Lagi, inisial AG ia temukan di dalam kertas pengirim.
Camelia meremas kertas itu, "apa maksudnya? Apa maksudmu, Andrean Gong?!"gumam Camelia dengan nada dingin. Meremas bucket itu dan melangkah masuk ke dalam lift. Camelia tidak bisa membuang bunga itu di tempat umum begini. Ia membawa kedua bucket itu ke apartemen.
Begitu masuk, Camelia melemparkannya ke atas sofa di ruang tengah kemudian duduk dan menatap tajam kedua bucket itu.
"Sial! Aku harus cepat kembali ke Kanada!"gumam Camelia dengan raut wajah muram.
Camelia kemudian meninggalkan ruang tengah menuju ke dalam kamarnya. Ia memilih untuk memanjakan dirinya dengan mandi dan kemudian bersiap untuk membuat makan malam.
Sekitar pukul 17.00, Kak Abi, Lucas, dan Liam kembali dengan Kak Abi membawa beberapa tas belanjaan.
"Untuk apa Mommy membeli bucket sebanyak itu?"tanya Lucas pada Liam.
"Untuk apa Mommy membeli bucket sebanyak itu? Untuk siapa?"sahut Liam dengan melihat-lihat kedua bucket itu.
"Sudah diremas, kemungkinan ini kiriman dari seseorang," ujar Liam.
"Ada nama pengirimnya?" Kak Abi kembali setelah meletakkan barang belanjaan di dapur.
Lucas mencari. "Ada. Tapi, dua-duanya inisial AG," ujar Lucas.
"AG? Andrean Gong maksudnya?" Liam langsung menerka. Lucas mengedikkan bahunya, tanda tidak tahu.
__ADS_1
"Coba tanya Mommy," tutur Lucas.
"Tidak perlu ditanyakan," sela Liam. "Jika wajah Mommy masam artinya ini benar darinya," lanjut Liam.
"Ah itu benar." Diangguki oleh Kak Abi.
"Lantas mau kita apakan buket bunga ini?"tanya Lucas, tampak bingung.
"Biarkan saja mengering," jawab Camelia yang baru keluar dari kamar.
"Darinya?"terka Kak Abi. Camelia mendudukkan tubuhnya di sofa, "entahlah aku juga tidak tahu. Jika dari inisial jelas dia orangnya," jawab Camelia.
"Kau diam saja?"
"Jika sekali lagi dia mengirim ini padaku, aku tidak akan tinggal diam," sahut Camelia dengan nada dingin.
"Lucas, Liam, keluarkan Jordan lalu tambahkan kasusnya lagi. Dalam waktu dua minggu, kita bereskan dua sejoli itu kemudian kita kembali ke Kanada," ucap Camelia serius. Lucas dan Liam saling melempar pandang.
"Sepertinya itu masih terlalu lama, Mom? bagaimana kalau seminggu?"tawar Liam.
"Terserah kalian saja. Yang penting Mom mau mereka hancur sehancur hancurnya!"
Luvas dan Liam merasakan amarah Mommy mereka sudah tidak tertahankan lagi.
"Aku akan memasak." Kak Abi langsung menuju ke dapur. Bulu kuduknya berdiri melihat senyum dan tatapan ibu serta kedua anak itu.
"Ah benar. Mommy berencana memasukkan kalian ke kelas akselerasi." Lucas dan Liam tampaknya terkejut. Apa yang membuat Mommy mereka berencana Seperti itu?
"Agar nantinya pendidikan kalian tidak dipertanyakan. Dan Mommy juga tidak dinilai mengabaikan pendidikan kalian. Biar bagaimanapun kalian adalah anak di bawah umur. Bekerja bukanlah kewajiban kalian. Tapi, Mommy juga tidak bisa menyuruh kalian mundur dari kegiatan kalian sekarang. Jadi, Mommy harap kalian setuju dengan rencana ini," terang Camelia panjang lebar.
Pendidikan? "Kelas akselerasi? Artinya kami bisa mengambil kelas yang berada jauh di tingkat usia kami. Benar begitu, Mom?"tanya Lucas.
"Benar. Atau jika kalian enggan ke sekolah kalian bisa melakukan homeschooling," imbuh Camelia. Camelia sadar kedua anaknya bisa dikatakan sebagai anak yang sukar bergaul dengan anak yang berusia sama. Dan bisa dikatakan tidak mengerti dunia anak-anak meskipun keduanya tidak kehilangan masa golden age.
"Hm … jika Mommy sudah berencana begitu maka kami juga tidak bisa menolak," jawab Lucas yang diangguki oleh Liam.
"Syukurlah. Mommy senang mendengarnya," ucap Camelia.
"Peluk dulu sini." Kedua anak dan ibu itu saling berpelukan.
__ADS_1
*
*
*
"Bagaimana? Apa tanggapannya?"tanya seorang pria melalui sambungan telepon.
"Tanggapannya biasa saja, Tuan Muda. Beliau menerima dan mengucapkan terima kasih kemudian pergi."
"Apa hadiahnya kurang berkesan? Atau kurang banyak?" Pria itu berpikir.
"Bukankah setiap wanita akan senang jika diberi mawar?"tanyanya lagi.
"Tuan Muda, beliau adalah seorang janda karena suaminya meninggal. Saya rasa bunga terlalu pasaran hingga beliau tidak bisa merasakan ketulusan hati Tuan Muda."
"Terlalu pasaran?" Dahinya berkerut.
"Mungkin Tuan Muda harus memikirkan hadiah yang mempunyai arti mendalam namun bukan mawar," sarannya.
"Aish kau malah menyuruhku memecahkan teka-teki. Kau menambah banyak pekerjaanku," gerutu pria itu.
"Tuan Muda, Anda sedang mengejar seseorang. Tentu saja ada perjuangan yang harus dilakukan. Belum lagi, yang Anda kejar bukan wanita biasa. Anda harus berusaha lebih keras Tuan. Dan ditambah lagi, sepupu Anda juga tertarik padanya." Mendengar penuturan di sana, pria itu tertegun sesaat.
"Andrean juga mengejarnya?" Ia tampak ragu.
"Benar. Bahkan sepupu Anda sudah pindah ke unit apartemen yang sama dengannya."
"Sial! Aku tidak boleh kalah saing. Eh tunggu, dia tidak akan salah sangka, bukan?"
"Hei, kau tulis siapa nama pengirimnya?"tanyanya dengan nada tergesa.
"Anda mengatakan jangan nama langsung jadi saya menulis nama inisial Anda yakni AG," jawabnya dengan nada seperti meminta pujian.
"AG?" Pria itu bergumam.
Tak lama kemudian, pria itu terbelalak. "Sialan kau, Lei!! Mengapa kau tulis AG?!"kesalnya.
"Mengapa, Tuan Muda?"
__ADS_1
"Inisial namaku dengan Andrean itu sama bod*h!"maki pria itu yang tak lain adalah Allen Gong, sepupu dari Andrean. Cucu dari adik ipar kakek Gong yakni nenek Jiang.
"Astaga!" Pria yang dipanggil Lei itu tampaknya berkeringat dingin di seberang sana. Allen tampak begitu kesal. "Si*lan kau, Lei!"maki Allen lagi sebelum mematikan sambungan telepon.