
Rasanya mengejutkan. Apa yang Andrean katakan itu adalah sebuah lamaran tidak langsung. Camelia diam. Ia menatap Andrean dengan rumit.
Pria yang merupakan ayah kandung kedua anaknya itu mengajaknya menikah?
Jika … andai kata Andrean bukan seseorang yang memiliki status tinggi ataupun berpengaruh dan andai kata Camelia pun sendiri, tidak terikat dengan yang lain, mungkin Camelia akan mencoba mempertimbangkannya. Karena bagaimanapun Lucas dan Liam tetap membutuhkan sosok seorang ayah.
Namun, situasi tidak sesederhana itu. Statusnya dan Andrean tidak segampang itu. Andrean, dia adalah konglomerat di negara ini. Andrean adalah seorang pebisnis besar. Dan keluarganya, tidak sederhana.
Begitu juga dengan dirinya. Meskipun ia sudah bukan lagi istri dari Chris. Camelia masih menyandang status sebagai menantu keluarga Shane.
Keluarga Shane, kedua anaknya masuk dalam marga itu. Andai kata ia menikah dengan Andrean, perubahan marga akan menjadi sebuah masalah dan perseteruan. Belum lagi, Liam yang telah ditetapkan sebagai pewaris Shane Group. Sejenak, Camelia mengeluhkan hari ini, mengapa datang begitu lama?
Ah … itu terlalu jauh.
Lupakan dulu tentang keluarga. Camelia masih menatap pria itu sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangnya. "Maaf, saya tidak tertarik dan tidak ingin menikah dengan Anda! Saya nyaman dengan keadaan saya yang sekarang!" Camelia sekali lagi menolak Andrean.
Apalagi? Ia punya pekerjaan dan penghasilan. Sekalipun tidak, ia tetaplah menantu dari keluarga kaya. Dan kalau tidakpun ada Dion yang akan menghidupi dirinya.
"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!"ucap Andrean, sinis.
"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri tidak dengan anak-anakmu! Kau sudah bertemu dengan ayah kandung mereka. Namun, kau tidak mau menerima tanggung jawabku. Anak-anak itu masih kecil. Mereka butuh kasih sayang seorang ayah. Dan aku orang yang pas. Mengapa kau begitu keras kepala?!" Pria itu meledak. Ia berkata sinis dan menohok pada Camelia.
Mendengar itu, Camelia tertegun sesaat. Jadi, begitu ia di mata Andrean? Ibu yang sinis? Yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Hahaha
Giliran Camelia yang tertawa. Tawa yang terbahak namun hambar. Dan tatapannya satu. Camelia mendengus pelan. "Siapa kau?"
"Siapa kau hingga berhak menilai diriku. Siapa kau? Apa kau tahu apa yang aku alami selama ini? Apa kau tahu penderitaan dan pengorbananku? Kau … dengan mudahnya menilainya hanya karena aku menolak lamaranmu? Apa kau tahu anak-anak bagaimana? Aku! Aku yang melahirkan dan mengurus mereka. Kau! Tahu apa kau tentang kami?!"ucap Camelia dengan tangan menunjuk Andrean. Wajahnya merah padam. Ia begitu tersinggung dengan tuduhan Andrean.
Selama ini, alasannya menikah dengan Chris, dan juga menjalani pernikahan palsu selama bertahun-tahun adalah kerena Lucas dan Liam. Dan dengan seenaknya, pria yang baru mengenalnya singkat itu mendikte dirinya. Keterlaluan!
Gantian Andrean yang terhenyak. Ia tidak menyangka Camelia akan tersinggung dengan hal itu. Ekspresinya begitu marah. Andrean merasa bersalah. "Itu …."
"Cukup! Sudah cukup! Jangan bicara lagi. Kau hanya ayah biologis. Bagi mereka, suamiku Chris adalah ayah mereka yang sesungguhnya!" Camelia berdiri. Ia lalu mengambil tasnya dan melangkah pergi.
"Jika kau menahanku, aku tidak akan segan lagi padamu!"ucap Camelia saat langkahnya ditahan oleh dua orang pengawal Andrean.
Desya melambaikan tangannya. Camelia kembali melangkah. "Aku harus pakai cara lembut," gumam Andrean.
*
__ADS_1
*
*
Camelia menghubungi orangnya yang ada di pesawat untuk menjemput dirinya di gerbang istana Andrean ini.
Tak menunggu lama, mobil Camelia datang. "Ke apartemen." Camelia membatalkannya niatnya untuk pulang. Ia menyadari, kabur tidak akan menyelesaikan masalah dan ia akan kembali menjadi pengecut!
Tiba di apartemen, Camelia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya terasa lelah. Lelah karena usaha kaburnya, lelah berbicara dengan Andrean tadi, dan lelah akibat pergulatan panas tadi malam.
Aku lelah, batin Camelia sebelum menutup matanya tertidur.
Camelia terbangun karena perutnya yang terasa lapar. Sudah berbunyi nyaring dan membuat perutnya terasa perih.
Camelia diam beberapa saat. Ia lantas turun dari ranjang dan menuju dapur. Untung masih ada banyak persediaan makanan. Mie instan, sosis, dan nugget menjadi menu makan siangnya yang sudah melewati jam. Ah, bahkan dia juga tidak sarapan. Mie instan diseduh dengan air panas. Sosis dan nugget digoreng dengan airfryer.
Dan tak menunggu lama kemudian, mie instan dalam cup serta sosis dan nuggetnya pun matang. Tak butuh waktu lama juga bagi Camelia untuk menghabiskannya.
Setelah perutnya kenyang. Otak Camelia mulai bekerja dengan normal. Pertama, ia memutuskan untuk mandi. Tubuhnya terasa begitu lengket. "CK! Sialan!"umpatnya kesal saat menemukan sisa-sisa pergulatan panas kemarin malam.
Banyak k*ssmark yang sudah membiru, berada di lehernya dan juga tubuh bagian atasnya.
Camelia menghela nafas berat. Percuma saja. Sekuat apapun ia menggosoknya tidak akan hilang secepat itu, malah akan rasa sakit dan kulit rusak yang akan didapatkan. Selain itu, bekas dan jejak apapun itu, meskipun di tubuhnya hilang namun hasilnya sudah ada.
Camelia sudah melaluinya. Dia tidak mau menjadi pengecut lagi. "Kau hanya bagian dari masa laluku yang kelam. Meskipun kau datang kembali bak sinar yang begitu terang. Aku tidak akan pernah mendekati sinarmu itu. Karena aku memiliki sinar yang lebih terang darimu!" Kepercayaan diri Camelia kembali.
Kini, Camelia berkutat dengan laptopnya. Membuka email dan di sana ada pesan dari Tuan Shane. Mertuanya itu mempertanyakan apa yang terjadi dan bagaimana keadaan Camelia. Tuan Shane juga menyarankan Camelia segera kembali untuk menghindari masalah apapun lagi.
Camelia menghela nafasnya. Ia membalas email tersebut dengan singkat, "Camelia akan segera kembali, Daddy."
Setelah itu, Camelia menutup email dan membuka yang lain.
"Tujuanku kembali adalah untuk balas dendam. Apapun itu, tidak akan mengubah tujuanku! Aku tahu aku sudah bertele-tele. Kali ini, aku akan memberi serangan yang terakhir!"
Itu adalah kartu AS terbesar Camelia untuk mengakhiri tujuannya di sini. Camelia akan mengeluarkan semuanya secara berurutan dalam waktu yang sangat berdekatan. Begitu satu turun maka satu lagi akan turun tanpa jeda waktu yang cukup lama.
"Tapi, bagaimana dengan Kak Lina? Apa dia sudah menemukannya?" Camelia teringat bahwa ia meminta Lina untuk menyelidiki tentang dirinya. Dari mana dulu ia berasal.
*
*
__ADS_1
*
"Tuan," ucap Hans yang masuk ke ruangan Andrean. Pria itu bekerja dari rumah. Ah untuk Crystal sendiri, karena mabuk ia meminta Hans untuk membawa Crystal ke istana ini. Jadi, saat malam itu terjadi, Crystal berada di istana tidak di apartemen.
"Kau sudah menemukan apa yang aku suruh?"tanya Andrean. Ia menutup laptopnya dan bertopang dagu menatap serius asisten sekaligus sekretarisnya itu.
"Sudah, Tuan," jawab Hans. Hans lalu menyerahkan berkas yang ia bawa.
Andrean membuka lembaran berkas itu. "Jasmine Liang. Putri angkat keluarga Liang. Aku sudah tahu ini sejak lama. Tapi, mengapa baru sekarang aku menyadarinya?"gumam Andrean. Ya, itu adalah biodata tentang Jasmine Liang.
"Tuan, jika Camelia adalah Jasmine Liang, artinya Dion Shane adalah Dion Liang, anak laki-laki tunggal keluarga Liang. Dan dari penyelidikan saya, dahulu sebelum kejadian itu, Jasmine Liang dan aktor Jordan Chin memiliki hubungan yang spesial. Namun, mengapa Jordan Chin malah dengan Rose Liang sampai memiliki anak?"
Andrean sudah menceritakan semuanya pada Hans. Tentang apa yang terjadi padanya dan Camelia. Juga tentang Lucas dan Liam. Dan juga tentang Crystal. Pria itu akhirnya terbuka pada Hans. Ya, biar bagaimanapun Hans adalah sahabat Andrean. Salah satu orang yang paling ia percaya.
"Kau benar. Pantas saja aku tidak bisa menemukan mereka." Andrean mendengus.
Kanada, itu negara yang begitu jauh, sudah berbeda benua malah. Dan mereka di bawah perlindungan keluarga paling berpengaruh. Meskipun Andrean benci mengakuinya. Namun, keluarga Shane lebih hebat daripada dirinya ataupun keluarganya. "Tidak heran ia langsung menolakku." Andrean berpikir secara realistis. Ia tahu, betapa sulitnya menyatukan kedua keluarga yang berbeda kedudukan, terlebih ada masa lalu besar di antaranya.
"Kau ini asistenku, Hans. Orang kedua terpenting di Starlight Entertainment setelah aku. Masa' kau tidak mengerti tentang hal seperti ini?"tanya Andrean, sedikit mencibir.
"Tentang hal seperti ini?"beo Hans. Angkat angkat sejak lama? Anak kandung kembali. Lalu pacar anak angkat berpaling.
"Ah! Saya paham!"
Andrean tersenyum, mungkin selain itu ada alasan lain, yaitu dirinya sendiri, gumam Andrean dalam hati saat mengingat moment pertamanya dengan Camelia, kehormatan Camelia yang masih terjaga sebelum ia menjebolnya.
"Tapi, Tuan! Saya tidak terima Anda diselingkuhi! Anda harus membalasnya. Jika Anda diam, Anda bukan Tuan yang saya kenal!"ucap Hans. Ia menggebu daripada Andrean.
"Ya, kau benar. Meskipun ada resiko yang harus ditanggung, kebenaran harus tetap terungkap," balas Andrean.
"Namun, meskipun Crystal bukan darah dagingku. Sejak kecil, akulah yang menghidupinya. Hans, kau tahu maksudku, bukan? Jangan sampai dia tahu tentang hal ini. Aku tidak mau dia kehilangan masa kecilnya yang indah. Dia anak periang dengan banyak mimpi," ucap Andrean, tegas dan mengingatkan Hans.
Hans jelas merasakan kesungguhan Andrean dalam hal itu. "Saya mengerti, Tuan."
Andrean mengangguk, "keluarlah. Kerjakan pekerjaanmu." Andrean melambaikan tangannya. Hans menunduk sebelum keluar.
"Aku tahu kau punya pengaruh besar di Kanada. Dan juga di dunia. Namun, jika di luar kau hanya punya popularitas dan dihormati sebagai artis. Sementara aku, pengaruhku melingkupi semua bidang. Aku tahu kau akan menolak bantuanku, dan aku akan tetap membantumu." Andrean mengusap foto Camelia yang mengenakan gaun putih saat acara penghargaan tempo hari. Foto itu tercantum dalam berkas laporan Hans tadi.
Andrean lalu menarik lacinya. Mengambil foto yang mana itu adalah foto dirinya dan Camelia yang mengenakan pakaian berwarna putih bak pasangan mempelai tempo hari. Andrean menyimpannya. "Mereka benar. Kita adalah pasangan serasi."
"Hanya saja, aku masih bertanya-tanya, apakah keluarga Shane tahu tentang identitas Lucas dan Liam yang sebenarnya?"
__ADS_1
"Apa suamimu dulu juga tahu akan hal ini? Kalian menunjukkan keromantisan yang begitu didukung dan dipuja. Entahlah, aku merasa cemburu. Andai saja, ah … lupakan saja. Penyesalan juga tidak ada artinya sekarang."
"Aku akan tetap mengejarmu. Aku yakin, suatu hari nanti kau akan luluh dan kita akan hidup bersama." Harap yang begitu indah.