
"Mom, are you back?" Lucas langsung menoleh ketika mendengar pintu dibuka dan langkah kaki memasuki ruang tengah. Camelia menjawab dengan bergumam. Wajahnya masam.
"What smell is this? Like a rotten egg!"seru Lucas sambil menutup hidungnya. Liam menatap lekat Camelia. Begitu juga dengan Lucas.
"What happened to you, Mom?"tanya Liam dengan nada datarnya. Lucas merasakan amarah dari tatapan Liam.
"A crazy woman doused Mom," jawab Camelia.
"Crazy woman?"gumam Liam. Tampaknya ia mengerti kepala siapa panggilan itu ditujukan.
"Hurry up and take a shower, Mom! It smells so bad!"ucap Lucas yang sudah tidak sanggup lagi. Ia lari ke arah dapur.
"Lakukan apa yang kau inginkan, Liam," ucap Camelia, menatap singkat Liam kemudian segera berlalu menuju kamar untuk membersihkan tubuh. Liam tersenyum tipis mendengar apa yang ibunya ucapkan. "Okay," sahutnya dengan suara pelan.
Huek!
Huek!
Lucas mengeluarkan isi perutnya yang tak lain hanyalah cairan bening di wastafel. Kak Abi yang masih memasak mengeryit heran melihat Lucas. Ia mengecilkan api kompor kemudian mendekati Lucas dengan wajah cemas. Kak Abi memijat tengkuk Lucas. "Apa yang terjadi padamu, Lucas?"tanya Kak Abi.
"Mom sangat bau. Penghuni crazy sebelah menyiram Mom dengan telur busuk!"jawab Lucas, kemudian menyeka bibirnya. Matanya memerah tanda ia begitu tidak tahan dengan bau busuk yang melekat pada pakaian Camelia tadi.
"Apa?" Gurat kekesalan langsung tercetak jelas di wajah Kak Abi.
"Di mana Mommy kalian sekarang?"tanya Kak Abi kemudian.
"Di kamar." Kak Abi langsung mematikan kompor dan melepas apronnya. Kak Abi lalu melangkah cepat menuju kamar Camelia.
Lucas mencuci wajahnya setelah itu kembali ke ruang tengah di mana Liam sudah duduk dengan laptop di hadapannya. "Apa yang kau lakukan, Liam?"
"Start the game," jawab Liam singkat.
"Start?"
"Mom yang mengizinkanku," sahut Liam. Lucas yang awalnya mengeryit tipis kini menyunggingkan senyum smirk. "Ini akan sangat menyenangkan."
Sedangkan di dalam kamar mandi, Camelia tengah berendam untuk menghilangkan bau busuk yang menempel pada tubuhnya. Sedangkan pakaiannya juga ia rendam dalam pewangi, itu salah satu baju favoritnya, dan berat untuk Camelia untuk membuangnya.
"What's problem, Lia? Bagaimana bisa kau dibuat seperti ini olehnya?"tanya Kak Abi yang masuk ke dalam kamar mandi. Camelia yang hampir merendam seluruh tubuhnya kecuali wajah, melirik ke arah Kak Abi yang berdiri di samping bath up.
"Masih bau?"tanya Camelia. Kak Abi mengendus, "sedikit lagi," jawab Kak Abi.
"Wanita itu pasti meletakkan orangnya di sekitar jalan pulangku," ujar Camelia.
"Yang berhubungan dengan keluarga Gong pasti sangat menyebalkan. Kemarin tunangannya, sekarang dirinya, apa sih mau mereka?!"gerutu Kak Abi.
"Kak, bisa kau bantu aku untuk mencuci pakaian itu? Aku tidak ingin membuangnya." Camelia mengarahkan telunjuk kanannya pada wadah di sudut kamar mandi. Kak Abi mendekati wadah tersebut, ia ingin tahu pakaian mana yang ternoda oleh bau busuk itu.
"God!!"serunya kemudian. Itu pakaian edisi terbatas, harganya sangat fantastis, dan itu salah satu favorit Camelia.
"Aku akan memberinya pelajaran, dan membuatnya membayar atas kerusakan yang telah dilakukannya!"geram Kak Abi.
"Dasar wanita sialan!!"umpatnya kemudian.
"Aku sudah melakukannya," ucap Camelia. Kak Abi langsung menoleh pada Camelia. "Aku juga membuatnya bau. Dia sekarang pasti lebih kesal dariku, hehehe," imbuh Camelia dengan terkekeh.
"Dan besok, kita akan duduk melihat kepanikan mereka," tambah Camelia lagi.
"Apa yang kau rencanakan, Lia?"tanya Kak Abi, sangat penasaran.
Selama ini, Camelia memang menahan tindakannya. Dengan anak secerdas Lucas dan Liam serta dengan latar belakang keluarga Shane, bukan hal sulit untuk menemukan fakta di balik yang sebenarnya terjadi pada tahun itu. Bukan hal sulit untuk membuat Rose jatuh dan tidak bisa bangkit lagi, begitu juga dengan Jordan. Andrean? Pria itu tidak ada dalam daftar Camelia.
"Kita akan tahu besok." Kak Abi mengeryit, semakin penasaran. "Ah Kak, aku lapar. Apa kau sudah selesai memasak?"tanya Camelia. Perutnya sudah berbunyi di dalam air.
"Segera, kau juga segera selesaikan mandimu!" Jika sudah dikatakan besok, maka tunggu saja besok. Kak Abi bergegas keluar kamar mandi dengan membawa rendaman pakaian Camelia.
"Menunggu memang membosankan. Namun, menunggu waktu yang tepat itu menyenangkan," gumam Camelia.
*
*
__ADS_1
*
"Sial! Ini sungguh bau!"desis Rose kesal. Ia juga tengah berendam di dalam bath up. Sudah cukup lama ia berendam. Namun, aroma telur busuk hanya memudar sebagian. Di sini peralatan mandinya tidak lengkap. Hanya saja satu jenis sabun dan satu botol sampo.
Tak heran, karena apartemen ini ia beli atas nafsu sesaat. Ah tidak, ini juga untuk bisa bersenang-senang bersama dengan Jordan.
"Huek!" Sudah beberapa kali juga mengganti air dan sabun hampir habis, masih ada bau yang tertinggal, amis yang busuk.
"Wanita sialan itu! Bagaimana bisa dia begitu berani padaku?" Rose mengeram kesal.
Tak berselang lama, ponsel Rose berdering. Ponsel itu berada tak jauh darinya. Rose menjawab dan mengaktifkan speaker.
"Ya," sahutnya dengan nada ketus.
"Nona, Tuan sudah kembali." Itu dari salah satu pelayan mansion Andrean Gong.
"Sungguh?" Wajah masam dan kesal Rose langsung sumringah.
"Benar, Nona. Sekarang Tuan ada di kamar Nona kecil."
"Aku akan segera pulang!" Rose mematikan panggilan secara sepihak dan tanpa pikir panjang langsung membasuh tubuhnya dengan air shower.
*
*
*
Di sisi lain, Andrean tengah menemani Crystal tidur. Ia duduk dengan membacakan buku dongeng. Gadis kecil berambut sebahu dan bergelombang itu tersenyum penuh arti mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Andrean.
"Ayah," panggil Crystal saat Andrean selesai membacakan dongeng putri salju dan tujuh kircaci.
"Kau belum tidur?" Andrean hanya fokus membaca dan biasanya saat ia selesai, Crystal telah terlelap.
"Crystal belum mengantuk. Ada yang ingin Crystal katakan pada Ayah," jawab Crystal kemudian beringsut duduk.
"Hm? Besok kau akan sekolah. Lekaslah tidur. Besok saja kau katakan padaku," ujar Andrean.
"Tidak! Jika besok, Crystal yakin Ayah tidak ada waktu." Tangan mungil itu memegang lengan kekar Andrean. Melihat tatapan pinta bocah empat tahun itu, Andrean luluh.
"Ayah Crystal mau jadi model," beritahu Crystal. Andrean langsung mengeryit mendengarnya.
"Apa ibumu yang menyuruhnya?"tanya Andrean dengan nada dingin. Crystal langsung menggeleng.
"Kemarin aku melihat majalah. Di sana ada dua foto anak laki-laki kembar. Mereka itu yang kita temui saat di mall. Ayah ingatlah?" Ya, Andrean ingat itu. Ia mengangguk.
"Lucas dan Liam, itu nama mereka."
"Ayah tahu?"
"Tentu."
'Mereka sangat keren dan mengagumkan kan, Ayah? Crystal ingin seperti mereka. Ayah, Crystal juga bosan setelah pulang sekolah. Ayah sibuk, Ibu juga sibuk dan kadang tidak pulang. Ayah, Crystal kesepian. Jika Crystal jadi model, ada banyak hal yang bisa Crystal lakukan."
Sesaat ekspresi Crystal sangat sumringah, layaknya fans yang bertemu dengan idola mereka. Namun, berikutnya, ekspresi murung yang membuat sudut hati Andrean berkedut .
"Kau sungguh ingin jadi model?"tanya Andrean memastikan. Crystal mengangguk.
"Itu tidak mudah. Kau harus menjalani pelatihan dulu. Tidak langsung bisa seperti mereka. Dan usiamu, kau masih terlalu kecil. Aku setuju jika kau mau menunggu beberapa tahun lagi. Setidaknya usiamu sudah tujuh tahunan," terang Andrean.
Crystal selalu dimanja dengan sendok emas setiap hari. Dan pelatihan menjadi seorang model, bukanlah perkara mudah. Banyak hal yang harus dipelajari dan banyak pelatihan yang harus dilalui.
"Jadi, tidak boleh? Apa Crystal tidak punya bakat di sana, Ayah? Apa Crystal tidak bisa jadi seperti mereka? Umur mereka juga sepertinya sama dengan Crystal. Mereka bisa, mengapa Crystal tidak bisa?" Mata bocah perempuan itu sudah berkaca-kaca. Siap untuk menangis. Andrean antara tidak tega dan juga kesal dengan Rose.
Pandai sekali kau memanipulasi pikiran anak ini, Rose!
Andrean menghela nafas kasar. Dalam benaknya kembali bertanya, mengapa anak kecil saat tidak mendapatkan apa yang diinginkannya selalu menangis? Mengapa anak kecil di hadapannya ini begitu cengeng? Ingatan Andrean langsung tertuju pada Lucas dan Liam.
Sementara dua anak itu … ckck aku kesal dan aku cemburu!runtuk Andrean dalam hati.
"Jangan menangis! Segeralah tidur. Aku akan mempertimbangkan permintaanmu!"tegas Andrean, berdiri dan mendorong Crystal untuk tidur.
__ADS_1
"Janji?" Crystal memberikan jari kelingkingnya pada Andrean.
"Ya." Andrean menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Crystal.
"Tidurlah." Crystal perlahan menutup matanya. Andrean menarik selimut untuk Crystal kemudian melangkah keluar kamar. Sebelumya Andrean mematikan lampu kamar.
"Wanita itu mencari masalah!"gumam kesal Andrean.
Andrean menunjukkan wajah dinginnya saat orang yang ia kesalkan muncul di hadapannya dengan tersenyum. Senyum yang sangat memuakkan di mata Andrean. Senyum menggoda yang sangat Andrean benci.
"Andrean, kau sudah kembali?"tanya Rose dengan nada lembut.
"Karena kau suka tinggal di sana, kemasin barangmu dan tinggal di sana! Jangan memberi pengaruh buruk untuk Crystal!!"tegas Andrean, lalu melangkah melewati Rose.
"Tunggu, kau mengusirku?" Rose menahan lengan Andrean. Andrean menepisnya.
"Jika kau tidak mau, beritahu Crystal untuk membatalkan keinginannya!!"tegas Andrean.
"Tidak!"tolak Rose langsung.
"Kau memberi anak orang lain posisi, mengapa tidak ada sendiri? Dia punya keinginan, dia juga berbakat, kau harusnya mendukung!!"
"Kau lebih tahu posisimu dan Crystal daripada aku! Dan kau jangan buat onar jika tidak mau dirumahkan! Camkan itu!" Rose mengepalkan tangannya. Andrean sedang mengancamnya.
"Dan bersihkan dulu tubuhmu sebelum menemuiku. Hatimu seperti tumpukan sampah!!"sinis Andrean sebelum benar-benar meninggalkan Rose.
"ARGGHHH SIALAN!" teriak Rose mengumpat.
*
*
*
"Mom … mana Uncle Dion?"tanya Lucas, saat mereka berada di meja makan untuk makan malam. Camelia memang belum memberitahu Lucas, Liam, ataupun Kak Abi kalau tugas Dion di Shanghai bertambah dan butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya.
"Iya, Lia. Seharusnya kalian pulang bersama," tambah Kak Abi.
"Uncle Dion tetap di Shanghai. Grandfa kalian menugaskan Uncle Dion menjadi Presdir sementara cabang Shane Group di sana. So, Mommy pulang sendiri," jelas Camelia.
Lucas, Liam, dan Kak Abi mengangguk mengerti. Keduanya kemudian izin pamit ke kamar.
"Kak … hubungi Jordan aku akan berkunjung ke agensinya besok siang," ucap Camelia setelah Lucas dan Liam masuk ke dalam kamar.
"Oh okay." Kak Abi menjawab tanpa banyak pertanyaan.
"Ah ya, Lusa casting adalah pemilihan brand ambassador game. Kau sudah punya persiapan bukan?"
"Yes."
*
*
*
"Apa katamu?" Andrean tertegun di tempat duduknya saat Hans memberitahunya bahwa perusahaan dalam masalah. Ada yang mengacaukan data Starlight Entertainment dan beberapa data penting ada yang hilang. Saat ini, divisi yang bertugas di ruang data tengah sibuk mencoba memulihkan data yang hilang dan menyusun kembali data yang tekah dikacaukan. Karena hal ini, aktivitas Starlight Entertainment dihentikan sementara. "Siapa yang bermain-main denganku?"gumam Andrean dingin saat Hans menunjukkan satu pesan yang ditinggalkan oleh sang pelaku.
Doorprize.
Membaca itu, Andrean langsung teringat pada peringatan Dion. "Dia benar-benar bertindak?"
"Gawat, Tuan!!" Seorang staf masuk dengan wajah panik.
"Ada apa?" Hans bertanya.
"Ada berita miring tentang Nona Rose!"ucapnya dengan menunjukkan berita dan postingan tentang Rose.
Rose Liang, artis temperamental dan perokok dari Starlight Entertainment.
Judul beritanya dan dilengkapi foto.
__ADS_1
Lalu ada satu berita lagi, Rose Liang, diduga pernah melakukan bullying saat di bangku sekolah dan kuliah.
Luar biasa, siapa gerangan yang melakukan hal itu sampai membuat Presdir agensi besar itu tidak bisa berkata apapun selain wajahnya yang menggelap pitam?