
Kau di mana?
Katanya kau akan kembali?
Kapan kau akan kembali?
Sampai kapan aku menunggu?
Dia semakin besar dan sebentar lagi akan melihat dunia ini.
Mereka juga semakin mendesakku?
Aku tak tahu sampai kapan aku akan bertahan, ku mohon … cepatlah kembali….
Kelompok mata Camelia bergerak gusar. Dengan keringat yang mengucur deras. Tak lama kemudian, Camelia terbangun. Nafasnya terengah.
"Mimpi apa lagi?" Camelia mengusap wajahnya kasar. Ia
kembali memimpikan hal yang sama.
"Siapa sebenarnya mereka? Mengapa terus masuk dalam mimpiku?"
Tampaknya ia frustasi. Mengacak rambut kasar.
Camelia memejamkan matanya. Wajah yang samar dengan suara yang serak dan meratap. Dan dengan perut membesar.
Sebentar lagi dia akan lahir?
"Wanita itu sedang hamil tua dan suaminya pergi? Kapan akan kembali? Ke mana suaminya?" Camelia menarik kesimpulan dan menggumamkan pertanyaan.
"Ahh … sudahlah!" Mengerang frustasi. Semakin dipikirkan semakin tak ia dapatkan jawabannya.
Belum selesai kerisauan hatinya mengenai percakapan tadi malam, ditambah dengan mimpi tidak jelas itu.
"CK!" Berdecak kesal.
Ting!
Camelia menoleh ketika mendengar denting notifikasi.
Camelia meraih ponselnya. Melihat jam lebih dulu.
Pukul 04.00 pagi. Menghela nafasnya. Kemudian membaca notifikasi yang masuk.
Mengeryitkan dahinya membaca artikel yang muncul.
Parah! Bahu Camelia Shane Disenggol Sembarangan Pada Acara Perdana Film Starlight , Selebritis Ini Tak Lekas Minta Maaf! Langsung Dikritik Penggemar!
Camelia membaca isi artikel itu. Ada video tentang acara kemarin. Foto selebritis yang menyenggol bahunya kemarin.
"Ah … hal itu rupanya." Camelia mendengus pelan. Meletakkan ponselnya kembali.
"Ceroboh sekali, kasihan dia." Camelia tersenyum miris.
Acara itu acara yang cukup besar, dengan kamera di segala sisi. Jika tertangkap melakukan kesalahan dan tak langsung menyadarinya, akan langsung tersebar dan menjadi bahan kritikan.
Dunia hiburan ini kejam, juga ketat. Satu hal bisa meningkatkan. Namun, jika tidak hati-hati, akan langsung jatuh dan sulit untuk kembali! Camelia telah mengalaminya sendiri. Kini, ia berada di puncak, tak akan melakukan atau meladeni orang yang akan membuat dirinya jatuh.
She's Queen, bertindak seperti seorang Queen.
Camelia tak memusingkan artikel itu.
Turun dari ranjang dan duduk di depan meja belajar. Camelia membuka laptopnya.
Orang jahat berasal dari orang baik yang terdesak oleh kebutuhan dan lingkungan.
Ucapan Tuan Shane melintas pada benaknya. Camelia membuka data diri tentang Rose. Mencari dan membacanya dengan serius.
"Hidup di daerah pinggiran dengan lingkungan yang sangat tidak baik." Satu kalimat mengenai artikel tentang Rose. Camelia mengingat-ingat.
Menghela nafasnya. Tak bisa memungkiri bahwa itu benar. Hidupnya bahagia selama berada di keluarga Liang, sebelum Rose datang. Namun, bagaimana dengan kehidupan Rose?
Dibandingkan dengan dirinya, berbeda jauh.
"Terkadang, suatu hal dipahami setelah waktu yang lama," gumam Camelia.
"Karakter bukan hanya bawaan. Namun, bentukan dari lingkungan. Kata Ibu, kau kembali meminta maaf padaku sebelum kau pergi. Apa kau benar-benar menyesal?"
"Jika aku mengampunimu apakah kau akan tenang? Begitu juga denganku?"
__ADS_1
Mengambil suatu keputusan bukanlah hal mudah. "Tapi, jika tidak, sampai kapan aku memendamnya?"
Hari masih pagi. Pikiran juga masih fresh. Camelia menatap lurus ke depan. "Aku juga tidak akan tenang sepenuhnya."
"Rose … aku memaafkanmu…," ucap Camelia kemudian. Bibirnya menarik senyum tipis. Ada pancaran lega dari wajahnya.
Ting
Camelia menoleh ke arah ranjang saat kembali mendengar ponselnya berdenting.
Menutup laptop kemudian mengambil ponselnya.
Jika kau sudah bangun, hubungi aku, Lia.
Pesan dari Andrean. Camelia kembali melihat jam. Sudah hampir pukul 06.00. Di China, ini juga sudah jam pulang kerja.
Aku sudah bangun.
Camelia membalasnya.
Dan tak berselang lama ada panggilan video masuk, dari Andrean.
"Hai, good morning, Lia," sapa Andrean.
Camelia terkesiap, belum menjawab sapaan itu. Karena, Andrean melakukan video call dengan menggunakan kaos tipis yang basah dengan keringat, membuat tubuhnya yang sixpack dan ideal terlihat.
Sebagai wanita dewasa, dan pernah merasakan tubuh itu, pikiran Camelia travelling sekilas.
"Hei, Lia? Are you okay? Kau melamun?" Andrean menyentak dari seberang sana.
"Eh … tidak. I'm okay. K-kau mengapa video call dengan kaos tipis itu?"tanya Camelia, mengalihkan pandangannya.
"Oh?" Hening beberapa saat. "Rupanya kau melamun karena penampilanku. Haruskah aku membukanya? Aku merasa gerah meskipun sudah memakai kaos tipis ini," ujar Andrean, dengan nada serius.
Camelia melebarkan matanya. "Apa maksudmu? Maksudku gunakan yang lebih tebal lagi!"ketus Camelia, bersungut kesal tapi rona wajah menunjukan sebaliknya.
"Hohoho untuk apa kau merasa malu? Kau sudah melihat yang sesungguhnya, Lia," kekeh Andrean di ujung sama. Menunjukkan wajah menggoda Camelia. Dan menggerakkan kameranya dari atas sampai bawah.
"Hei! Apa yang kau lakukan!"pekik Camelia, kaget dengan apa yang Andrean lakukan.
"Hahaha…." Andrean tertawa puas. Melihat Camelia tersipu malu di sini.
Camelia kembali melihat layar ketika Andrean meletakkan ponselnya. Kemudian dengan gerakan cepat, membuka kaosnya. Alhasil, tubuhnya terpampang jelas di depan mata Camelia, telanjang dada.
Camelia yang kaget, seketika melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Kemudian, ia sendiri juga turut melemparkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di bantal.
Telinganya merah. Wajahnya panas. "Menyebalkan! Aku jadi mengingatnya!"gerutu Camelia. Kemarin itu, kecelakaan. Namun, tak dipungkiri ia ingin. Hanya saja, akal sehatnya masih memimpin. Ada banyak resiko untuk menuruti nafsu itu. Lagipula, mereka belum terlibat dalam hubungan sah.
"Lia? Lia? Kau masih di sana?" Terdengar suara Andrean. Rupanya belum berakhir.
"Lia? Kau marah?" Nada cemas.
"Aku hanya menuruti keinginanmu, berganti pakaian dengan yang lebih tebal." Menjelaskan dengan nada cemas.
"Lihatlah, aku sudah memakai baju."
"Sungguh?" Camelia menyahut.
"Iya. Lihatlah sendiri." Ragu dan pelan, kembali mengambil ponselnya.
Benar. Andrean sudah memakai baju yang lebih tebal.
"Aku membayangkan, betapa indahnya saat membuka mata melihatmu," ujar Andrean, dengan senyum manisnya.
"Aduhh! Mr. Gong, dari mana Anda belajar kata-kata itu?" Camelia mulai relaks dan menjawab kata-kata Andrean.
"Rahasia," jawab Andrean.
"Aku juga sering bertanya - tanya, kapan kita akan bertemu dan bersama untuk selamanya? Betapa bahagianya jika hidup bersama denganmu. Tapi, tidak masalah. Aku sabar menunggu. Aku bisa membahagiakanmu, meskipun jarak kita jauh." Kata-kata Andrean sungguh-sungguh.
"Really? Dengan apa kau membahagiakanku di tengah jarak seperti ini?"
"Seperti yang kita lakukan saat ini. Jujur saja padaku, melihat tubuhku tadi, kau pasti bahagia." Andrean kembali menyunggingkan senyum menggoda.
"CK!" Camelia berdecak.
"Aku juga akan sering mengirimmu hadiah."
"Apa?" Camelia terhenyak. " Kau tidak perlu melakukan itu. Aku …."
__ADS_1
"Itu hadiah. Wujud perasaanku padamu. Aku tahu kau mampu. Tapi, jika dariku, rasanya akan berbeda."
Camelia diam, menimang. "Kau serius?"
"Iya."
"Baiklah kalau begitu." Pasrah. Mengingat watak Andrean, semakin ditolak, semakin menjadi.
"Hari ini, kau ada jadwal?"
"Ada. Dan kau? Berolahraga setelah bekerja?"
"Tentu saja. Aku harus menjaga bentuk tubuhku. Jika tidak, aku takut kau tidak akan mau menerimaku lagi," jawab Andrean, dengan terkekeh pelan. Camelia mendengus sebal.
"Oh iya, apa kau sudah tahu tentang kabar keluarga Liang?"tanya Andrean, nadanya pelan.
"Ya. Aku sudah tahu. Dan aku mohon jangan membahasnya lagi," ujar Camelia. Wajahnya sendu. Andrean mengernyit tipis di sana.
"Apa anaknya baik-baik saja? Maksudku, apakah sangat terpukul?"tanya Camelia, penasaran dengan kondisi Crystal.
"Sudah tidak begitu sedih lagi. Tidak perlu khawatir. Ada aku di sini, tidak akan ku biarkan putriku bersedih lama-lama," jawab Andrean, tegas.
"Baiklah. Aku rasa cukup dulu untuk saat ini. Ya, walaupun tidak akan pernah cukup. Selamat beraktivitas, Lia. Semoga harimu indah. Jangan lupa, ingat aku selalu."
"Narsis!"cetus Camelia. Disambut tawa dan kemudian panggilan video Dengan Andrean berakhir.
Paginya, dan awal harinya semakin terasa baik. Camelia tersenyum lebar. Ia bergegas membasuh wajah untuk kemudian turun ke dapur membuat sarapan.
"Kau sudah bangun, Lia?" Saat keluar kamar, bersamaan dengan Nyonya Shane yang juga baru kelaur kamar.
"Iya, Mom."
"Mau ke dapur?"
Camelia mengangguk. "Ayo membuat sarapan bersama?"ajak Nyonya Shane.
"Ayo, Mom," jawab Camelia.
Camelia dan Nyonya Shane turun ke dapur. Mereka bekerja sama, berperang dengan alat dapur untuk membuat sarapan. Dalam waktu satu jam, sarapan telah terhidang di atas meja, bersama dengan kopi dan juga jus delima. Dan tak lama kemudian, Tuan Shane, Lucas, dan Liam turun ke ruang makan dengan sudah bersiap untuk pergi.
"Sarapan dari dua chef. Pasti rasanya amazing!"decak Lucas, melihat hidangan dan menghirup aromanya. Sangat menggugah selera.
"Hoho … pastinya." Tuan Shane menjawab.
"Ayo-ayo sarapan," ajak Nyonya Shane yang sudah duduk di meja makan. Disusul oleh Camelia.
Setelah sarapan, Tuan Shane berangkat ke perusahaan. Sementara Nyonya Shane, akan pergi nanti.
Camelia kembali ke kamar untuk bersiap. Sementara Lucas dan Liam menunggu Kak Abi di ruang keluarga. Sembari menunggu, Lucas bermain game dan Liam membaca buku.
"Mom kalian di mana?"tanya Kak Abi, saat tiba langsung menanyakan keberadaan Camelia.
"Ada di kamarnya, Aunty, mengapa?"jawab dan tanya Lucas.
"Ada hal kecil," jawab Kak Abi, duduk di sofa, menunggu Camelia saja.
"Hal apa?"
"Kemarin, ada yang menyenggol Mom kalian tapi tak lekas minta maaf."
"Cari mati itu namanya," celetuk Liam.
"Tadi, katanya yang menyenggol itu sudah mengirim pesan permintaan maaf pada Mom kalian. Tapi, sampai sekarang belum dibalas."
"Datang saja langsung," cetus Lucas.
"Apa Mom ada waktu menanggapi hal demikian?" Liam mengangkat wajahnya. "Biarkan saja penggemar yang menyerbu dirinya," lanjutnya.
"Kalau tidak, kirim ke perusahaan. Kelakuannya tidak sopan, apa cukup mengirim pesan teks?" Liam kembali berkata.
"Kau sudah datang, Kak?" Belum sempat Kak Abi membalas, Camelia sudah turun. Ia menggunakan celana jeans dan juga kemeja oversize. Lengkap dengan topi berwarna hitam.
"Oh, kau sudah siap?" Camelia menggangguk. "Apa kau sudah tahu tentang videomu yang beredar?"
Camelia mengangguk. "Apa dia ada mengirim pesan permintaan maaf padamu?" Camelia mengedikkan bahunya.
"Aku lihat dulu." Camelia mengecek media sosialnya.
"Oh ada. Tapi, aku tak mau memikirkannya." Camelia kembali menyimpan ponselnya. "Lagipula, setelah aku maafkan, namanya sudah tercoreng. Jika terlalu cepat, dia akan menganggapku remeh."
__ADS_1
"Baiklah."
Kak Abi tidak mengatakan apapun lagi mengenai hal itu. Kemudian, mereka meninggalkan mansion Shane. Camelia menuju lokasi latihan, sementara Lucas dan Liam, menyelesaikan terkait model.